“Tadi katanya terserah,” kekeh Adrian seraya mengerling. Rasanya senang sekali melihat wajah Aluna memerah seperti tomat. “Gak macem-macem ‘kan?” Aluna masih mematung. “Enggak, satu macem saja, kok … sini, temani!” Lagi, Adrian menepuk tempat kosong di sampingnya lalu membetulkan bantal untuk sang istri. Akhirnya meskipun hatinya berdentum-dentum tak karuan. Aluna beringsut mendekat. Dia pun duduk di sebelah lelaki yang sudah bergelar suami itu. Tiba-tiba tangan Adrian meraihnya. Jemari kokoh itu menutup jemari mungilnya dan membawanya dalam dekapan. “Makasih ya, Dek. Makasih buat semuanya ….” Aluna yang kikuk dan canggung hanya mampu mengangguk. Rasanya, berada di dekat Adrian selalu membuatnya merasa nyaman, meski deg-degan. Hanya saja, untuk masalah cinta, Aluna tak tahu apak

