Jantungku terus berdegup kencang dan terasa mau melompat keluar. Kenapa bisa gadis berambut perak itu muncul disini. Dan wajahnya itu kenapa bisa persis seperti wajahku. Aku merabah wajahku sendiri dan bercermin di air yang ada di bawa kaki ku. Aku benar benar tidak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini.
Tapi gadis itu benar benar terlihat sangat cantik dan menawan. Dia berjalan ke depan meliuk indah tanpa menyentuh tanah. Keanggunan yang terpancar benar benar memikat hati. Pakaian yang di kenakan seperti menari nari tertiup angin. Benar benar seperti peri dalam negri Dongeng.
"Siapa ke tujuh gadis ini ? Dan kenapa bisa ada di tempat ini ?? Daaann....gadis berambut perak itu kenapa wajahnya sama persis seperti wajahku, Apakah ini kebetulan belaka."
Aku terus bertanya dalam hati dengan rasa semakin penasaran. Tanpa sadar aku terus mengendap endap maju kedepan mendekati mereka.
Tiba tiba tanpa sengaja aku menginjak sebuah ranting kering di bawah kakiku.
"Kreeekkkkkkkk." Seketika aku terpaku tak bergerak. Suara nyaring patahan ranting itu mengejutkan ketujuh Putri misterius di depan ku. Mereka pun tak kala terkejutnya denganku secara serempak mereka memandang ku dengan tatapan tajam.
Kedua kaki ku mundur kebelakang perlahan lahan dengan salah tingkah sembari pasang kuda kuda lari langkah seribu. Sementara ketujuh gadis itu tetap diam tak bergerak kecuali si gadis berambut perak yang dipanggil Putri Embun itu.
Dia tersenyum lembut penuh keramahan dengan mengulurkan tangannya mendekat dan ingin meraihku. Wajah ayunya nampak bersahabat dan penuh cinta tanpa ada kemarahan sedikit pun, berbeda dengan gadis bergaun merah yang bernama Kencana Sari. matanya merah menyala penuh amarah menatap tajam kearahku. Membuat buluh kudukku berdiri dan hatiku menciut ketakutan. Putri Embun berdiri tepat di hadapanku kedua tangannya menyentuh pergelangan tanganku. Tangan halusnya nya terasa dingin sampai menembus pembuluh darahku Jantungku semakin berdebar tak menentuh hingga napasku tersengal sengal.
"Jangan takut cah Ayu, aku adalah kamu"
Sebuah suara lirih terdengar dari bibir Putri embun, yang aku sendiri tidak tau apa maksudnya. Gegas mundur kebelakang begitu ada kesempatan aku ambil lari langkah seribu sekencang kencangnya menjauhi tempat aneh itu. Semakin jauh semakin bagus pikirku.
Kaki ku terus berlari tak tentu arah menerobos lebatnya hutan belantara yang tak ku kenal. Semakin dalam semakin gelap. Aku terus berlari tak peduli sudah berada di mana. Yang ada di pikiranku saat itu pergi menjauh dari ke tujuh putri misterius itu.
Langkah kakiku mulai gontai dan terasa berat. Nafasku pun memburu tak beraturan karna lelah berlari yang entah sudah sejauh mana aku pun tak tau.
Aku berdiri bersandar di sebuah pohon yang sangat rimbun di tengah gelapnya hutan belantara. Dengan nafas yang ngos ngosan ku lihat sekelilingku terasa sunyi mencekam .
"Sampai di mana aku ? Apakah aku tersesat." aku kebingungan sambil terus melihat kesekelilingku berusaha mencari jalan keluar dari hutan itu. Namun yang ada hanyalah pepohonan pepohonna yang sangat besar dan rimbun mengelilingi sekitarku.
Rada panik dan takut mulai menderahku . "Ibuu.... dimana kamu bu ? Aku takut sekali..." jeritku dalam hati sembari meremas kedua jemari tanganku.
Seperti biasa saat aku sedang panik dan ketakutan aku pasti akan teringat wajah ibuku. Seandainya ibuku di sini pasti dia akan memelukku untuk menenangkanku.
Kedua mataku memanas menahan kristal bening yang berdesakan ingin tumpah dari kedua kelopak mataku, sekuat tenaga kuntahan tidak ada artinya menangis saat saat seperti ini. Aku harus bisa mencari jalan keluar dari hutan ini.
Di tengah kepanikan aku terus melangka menerobos gelapnya hutan belantara dengan perasaan takut dan khawatir.
Tiba tiba aku melihat sekelebat bayangan pria berbaju kuning dengan topi bambu yang tempoh hari aku lihat. Hidungku juga mencium harum aroma mawar yang begitu wangi.
Aku mengikuti pria itu berharap pria itu bisa membawaku keluar dari hutan ini. Sesekali pria itu berhenti saat aku tertinggal jauh di belakang seperti sengaja menungguku agar tidak kehilangan jejaknya.
Aku terus berlari mengejarnya. Sesaat langkahku terhenti ketika samar samar terdengar suara musik gamelan mengalun merdu.
Aku kembali berjalan ke arah pria itu namun tiba tiba pria misterius itu tidak ada di hadapanku.
Seketika aku panik berlari kesana kemari mencari pria itu. Suara gamelan terdengar semakin lama semakin jelas.
Akhirnya aku putuskan untuk mengikuti suara gamelan yang semakin kuat terdengar. Pasti itu suara gamelan warga yang sedang hajatan. pikirku.
Aku berlari dengan mengumpulkan kekuatan yang tersisa mengikuti arah suara gamelan itu.
Sampai akhirnya aku melihat sebuah pasar tradisional. Ternyata suara musik yang mengalun indah itu berasal dari pasar ini.
Aku berjalan dan melihat sekeliling pasar. Sangat ramai dengan warga yang berjualan ataupun warga yang sedang berbelanja. Walau tak satupun warga di situ menghiraukan kedatanganku.
Aneka makanan yang lezat terpampang di atas meja yang tersusun rapi di pinggir jalan. Kulihat aneka jenis hewan panggang pun tersedia di tempat ini
Tapi ada pemandangan yang agak janggal kurasakan. Kok bisa ya ada pasar di tengah hutan ? dan para warga yang berada di tempat ini semua menggunakan pakaian adat kuno.
Dan uang yang mereka gunakan juga uang kepeng. Uang jaman tempoh dulu. Dengan rasa penasaran aku terus berjalan mengelilingi pasar itu.
Mungkin ini untuk melestarikan kearifan budaya lokal mereka. Makanya pasar ini berada di tengah hutan, dan di desain seperti pasar jaman tempoh dulu. Serta uang yang mereka gunakan untuk transsaksi juga menggunakan uang kepeng" Ujarku dalam hati.
Seketika tercium olehku harum ayam panggang yang membuatku sangat lapar. Dan anehnya para warga yang tadinya tidak menghiraukan keharldiranku kini mereka serempak menatapku sembari tersenyum dan berbisik bisik . Mungkin mereka heran melihatku karna ini pertama kali aku ke pasar ini. ujarku dalam hati.
Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Ahhhh masak bodoh lah pikirku, yang penting bagaimana caranya mendapat makanan untuk mengisi perutku yang lapar sementara aku tidak memiliki uang untuk membeli makanan di pasar ini.
Rasa lapar semakin membuat cacingku menari nari di dalam perutku. Tiba tiba ada beberapa warga menghampiriku dengan menawarkan sepotong paha ayam bakar dan air yang di tempatkan dalam potongan bambu.
Sepertinya mereka tau kalau aku sedang kelaparan. Tanpa bicara mereka menyodorkan makanan itu padaku. Serta merta aku menerima makanan itu. Karna kelaparan serta merta ku masukan makanan itu kemulutku.
Namun tiba tiba sebelum potongan paha ayam itu tergigit olehku, sebuah tangan kekar menarik dan menghentikanku dari arah belakang.
Bebeberapa warga yang sedang berkerumun menyodorkan makananya kepadaku tiba tiba mundur kebelakang segera meninggalkanku seperti orang ketakutan.
Karna rasa lapar yang sangat aku berusaha menarik tanganku supaya terlepas dari genggaman tangan orang di belakangku. dan segera kembali menyantap paha ayam itu.
Namun tangannya begitu kuat tak mau melepaskanku. Akupun merasa kesal dan membalikkan badanku hendak memakinya.
Namun aku begitu terkejut saat ku lihat siapa yang memegang tanganku.
"Aaaahhhhhhkkkk.....kamu...." aku memekik tertahan.
Ternyata dia adalah pemuda berbaju kuning dan bertopi bambu. Pemuda itu kemudian melepaskan genggaman tangannya seraya mengambil paha ayam dan air pemberian warga dari tanganku dan meletakkanya ke atas meja pedagang di sebelahnya.
"Heeeyyyyy... berikan kepadaku itu punyaku " teriakku yang kelaparan dan berusaha mengambil kembali makananku
"Jangan. Itu bukan makananmu . Makanan itu tidak layak kamu makan. Ayok ikut aku , akan ku berikan makanan yang layak kamu makan." Suara lembut dan berwibawa yang keluar dari bibir pemuda itu serta merta membuatku diam dan menurut saat dia menggandeng tanganku meninggalkan pasar itu.
Sekejap saja kami sudah keluar dari kerumunan pasar dan sampai di sebuah pohon apel yang berbuah sangat lebat di sebelahnya terdapat sungai yang mengalir jernih.
Pemuda misterius itu mendudukanku di bawa pohon apel . Kemudian melangkah menuju sungai kecil di sebelahnya. Dengan menyatukan kedua tangannya dia mengambil air sungai di telapak tangannya dan kembali menghampiriku.
"Ini minumlah supaya kamu tidak kehausan " ujar pemuda itu sambil menyodorkan air di telapak tangannya ke mulutku.
Akupun segera menyesap air itu tanpa pikir panjang karna aku memang sedang kehausan. Tanpa sadar ku habiskan air itu tanpa tersisa. Pemuda itu tersenyum melihat tingkahku.
Tentu saja hal itu membuat aku malu dan salah tingkah. Ya tuhaann....senyuman yang sangat menawan ! ....Ujarku dalam hati. Kemudian dia berdiri memetik sebuah apel dan memberikannya kepadaku.
Tanpa ragu aku meraih apel di tangannya dan segera melahap , rasa lapar membuat aku kehilangan rasa malu. Aku makan seperti ingin menelan apa yang ada di tanganku sampai hampir tersedak
"Pelan , pelan " ujar pemuda itu dengan lembut. Dia duduk di sebelahku sembari mengusap ngusap punggungku kemudian tangannya menyentuh bibirku mengambil sisa remahan apel yg menempel sambil tersenyum. Lagi lagi senyumannya membuatku terlena. Aaahhkkk dasar Alisa
Seketika aku diam terpaku. Wajahku memanas dan memerah. Ya tuhaannn.... perasaan apa ini. Baru pertama kali dalam hidupku sedekat ini dengan laki laki.
Rasa laparku pun menjadi kenyang seketika . Bahkan aku tidak sanggup lagi menghabiskan sisa apel yang tinggal sedikit lagi di tanganku.
"Kenapa berhenti ? Ayo habiskan , katanya lapar " ujar pemuda itu sambil tersenyum lembut kepadaku .
Akupun tersipu sambil menundukkan kepalahku. "Sudah kenyang , terimakasih ya " jawabku singkat
"Siapa namamu cah ayu ?" Tanya nya lagi sembari matanya terus menatapku. Seolah olah dia mengenalku tapi tetap bertanya siapa namaku.
"Namaku Alisa "jawabku
Kemudian ku beranikan memandang wajahnya. Walaupun dadaku rasanya berdebar debar tak menentu dan wajahku memanas karenya. Tapi begitu melihat wajahnya yang teduh, lembut dan menawan aku kembali menundukkan kepalaku tak kuasa memandang kharismnya yang luar biasa.
Ku kumpulkan kekuatanku untuk bertanya kepadanya. "Kalau boleh tau nama Aa' siapa ?sepertinya kita sudah beberapa kali ketemu." Tanyaku
Dia tetap tersenyum dan terus memandangku. Sepertinya tau kalau aku sedang salah tingkah dan nervous.
"Namaku Awan , aku asli dari sini. Dan iya kita sudah sering bertemu."jawabnya.
"Oh iya , aku panggil kamu dek Lisa bolehkah ?" Tanyanya lagi.
"He eh" jawabku singkat , sambil memandang hamparan rerumputan yg hijau dan tertanam rapi. Serta tingginya gunung Raung yang gagah menjulang menambah kesan exsotis tempat ini.
Di tambah suara air sungai yang mengalun bak irama yang syahdu serta merdunya suara burung burung yang berterbangan semakin membuat betah siapapun yang berada di tempat yang sangat indah ini.
Desiran angin membuat rambutku berterbangan sehingga sebagian menutup wajahku. Tanpa ku duga pemuda itu membelai wajahku sembari menyibakkan rambutku dengan lembut.
Seketika wajah kami saling berhadapan dan bertatapan. Wajahku memerah dan jantungku berdegup kencang tak menentu.
Kuperhatikan wajahnya baik baik . Mata yang indah dengan alis yang tebal tersusun rapi, wajah dan kulitnya putih bersih . Nampak seperti terawat. Tidak seperti kulit seorang petani. Raut mukanya nampak gagah dan berwibawa . Siapa pemuda ini ?. Aku terus bertanya dalam hati.
Angin yang sepoi sepoi terus menerpa wajahku . Membuat aku benar benar mengantuk rasanya mataku ini sulit untuk di buka.
"Tidurlah dek Lisa , nanti aku akan mengantarmu pulang." Ucap pemuda itu sambil meletakkan kepalaku di dadanya. Akupun menurut takbkuasa menahan kantukku dan tertidur lelap dalam pelukannya. Ada perasaan damai dan nyaman ku rasakan.
Pemuda itu membelai kepalaku perlahan sambil mendendangkan sebuah lagu jawa yang sangat indah terdengar di telingaku.
Terkadang terdengar sangat sedih dan menyayat hati. Seperti seseorang yang sangat merindukan kekasinya dan tidak bertemu sekian lama.
Walaupun aku tidak tau artinya. Namun entah kenapa aku merasakan sedih yang luar biasa mendengar dendang pemuda ini. Tak terasa air mata metetes di pipiku sambil terus memejamkan mata dalam pelukan pemuda misterius ini. Sampai aku benar benar terlelap.