Tingkah aneh Aryo

2269 Kata
Braaaakkk....." aku di kejutkan oleh suara sesuatu yang terjatuh dari atas genteng rumah. Aku terduduk dan uusap mataku "Dimana aku ? " tanyaku dalam hati. Kepala terasa pusing dan badan terasa rebuk redam . Netraku melihat sekeliling ternyata aku masih berada di kamar dengan masih memakai mukenah dan si meow yang tertidur dalam pelukanku. Lagi lagi aku bermimpi aneh. Dalam mimpi aku bertemu dengan pemuda berbaju kuning itu lagi . Apa karna aku memikirkan dia, makanya selalu terbawa mimpi. Ternyata selepas sholat magrib tadi aku ketiduran sambil memeluk si meow. Kulihat jam didinding kamar sudah jam 2 pagi. "Ya Allah aku belum sholat Isya. Haduuhhh gimana ini ?....mana kamar mandi mbok Darmi di luar lagi" Aku terduduk dan ragu ragu mau keluar. Walaupun aku penulis novel misteri dan terkadang bisa melihat hal yang tak kasat mata . Namun sebenarnya aku adalah seorang penakut. Bahkan akupun tidak tau apa sebenarnya yang harus aku takutkan . Tiba tiba si meow melompat ke pangkuanku sembari mengendus enduskan hidungnya ketangan. Seakan dia tau apa yang ku pikirkan dan bersedia menemaniku. "Ada apa sayang. Kamu mau menemaniku ? "Tanyaku sembari mengelus lembut kepala si meow. "Meeeooooowww...." si meow pun menjawab seperti tau apa yang ku katakan "Heeeeemmmm, tapi bagus juga, biarlah aku di temani si meow dari pada aku tidak sholat ". Ujarku. Sembari membuka mukena yang ku pakai dan menggulung rambutku yang panjang. Ku bopong si meow keluar menuju kamar mandi di belakang rumah mbok Darmi. Sesampainya di kamar mandi ku ketakkan si meow di depan pintu supaya bisa mengawasiku dan akupun segera mengambil air wudhu. Rasanya aneh aku tidak merasakan takut lagi, seakan akan si meow adalah manusia dan sedang melindungiku. Aakhh mungkin itu hanya sugestiku saja. Selesai berwudhu aku tersenyum sembari membopong si meowku. Lama lama aku semakin jatuh hati pada si meow cantik ini, mata biru indahnya sedari tadi mengawasi ku tanpa berkedip. Jujur saja aku bukan tipe pecinta kucing . Bahkan tidak pernah tertarik untuk memelihara kucing . Namun setelah bertemu dengan si meow aku merasa jatuh hati dan ingin merawatnya . Seperti ada ikatan antara aku dan si meow ini. Sesampainya di kamar aku meletakkkan si meow ke atas tempat tidur dan memakai mukena untuk selanjutnya menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Selesai sholat isya ku lanjutkan sholat tahajut dan ku sempatkan membaca beberapa ayat Alkahfi . Setelah selesai aku pun berbaring di sebelah si meow yang sedari tadi memandangku dan setia menunggu sampai selesai sholat. Ku letakkan di meow ke atas d**a sembari mengusap lembut kepalanya. Pikiranku melayang mengingat mimpiku barusan. Kenapa aku mimpi aneh lagi. "Siapa ke tujuh gadis berpakaian Peri itu ? Siapa sebenarnya Putri Embun? Kenapa aku selalu memimpikannya Dan pemuda itu? pemuda misterius yang beberapa kali ku lihat, kenapa dia bisa datang dalam mimpiku, dan kalau di perhatikan wajahnya terasa tidak asing. Rasanya aku mengenalnya . Tapi dimana ?. Beberapa pertanyaan terus berkecamuk di hatiku. Aaahhhkkkk... mungkin ini hanya kebetulan saja karna aku terlalu banyak berkhayal. Ujarku dalam hati. Ku pejamkan mata dan mencoba melupakan mimpiku barusan . Namun saat mataku terpejam, wajah pemuda itu terbayang jelas di pelupuk mataku. Ada perasaan aneh yang menjalar di hati. Terbayang saat aku sedang tertidur di pelukannya. Terasa nyaman dan damai sekali. Tidak tau kenapa rasanya saat ini aku begitu merindukan dia. Awan , namanya awan. "Meeeoooowww...meoooowww..." Sontak suara si meow membuyarkan segala khayalanku. Aku membuka mata sembari menatap si meow yang berbaring di atas dadaku . Ku pandang wajah imutnya matanya bersinar penuh dengan kelembutan menatap mataku, bibir si meow mengendus endus bibir ku sembari lidahnya menjilati lembut bibir ku. Sesaat aku memejamkan mata sembari tanganku mengelus lembut bulunya yang sangat halus. Membiarkan meow meneruskan aksinya Mata si meow benar benar indah dan mirip mata manusia. Mata itu mengingatkan ku pada Awan pemuda dalam mimpiku . Mata berwarna biru muda yang selalu menatapku dengan penuh kerinduan. " Meoww matamu sangat indah dan mirip mata Awan. Bagai mana kalau kamu ku beri nama Awan. Apa kamu suka meow ? " tanyaku pada si meow sembari terus membelai kepalanya. "Meooowww...meooowww..." kucing cantik itu menggerak gerakkan kepalanya di d**a sembari menjilati wajahku. Seakan akan dia menyetujui apa yang aku katakan. "Ha...ha....ha...Awaaaann...awaannn... kamu suka nama itu ya..baguslah kalau begitu....ha..ha..ha.... dasar kucing nakal . Ayolah kita tidur nanti kesiangan lagi " ucapku sembari memeluk kucing cantik itu dengan erat dalam pelukan ku. Sembari memejamkan mata, tangan kiri memeluk Awan dan tangan kanan kuletakkan untuk menyanggah kepalaku. Namun ada sesuatu yang mengganjal di bawa bantal yang membuat aku kurang nyaman. Seketika aku duduk dan memeriksa apa gerangan yang ada di bawah bantal. Saat mengangkat bantal itu, sontak mataku terbelalak tidak percaya, ketika mata ini melihat seikat mawar terletak di sana. "Mashaa Allah !!!.......apa ini ??... kenapa bisa...." teriakku Tanganku gemetar mengambil bunga itu, ku periksa dengan seksama , ini benar benar mawar yang ada dalam mimpiku. Mawar yang aku bawa saat berjalan menyusuri jalan setapak di dalam mimpi itu. Perasaan takut seketika menyergap dan membuat tubuhku bergetar. Aku lemparkan bunga itu ke sudut ruangan dan ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku yang basah akibat keringat yang bercucuran. Ku dekap erat erat si Awan di dalam pelukanku dengan selimut yang menutupi kepala sampai kaki. Untung saja kucing manis itu menurut seperti tau perasaanku. Aku mencoba memejamkan mata dengan membaca selawat nabi sembari mendekap tubuh lembut kucingku. Sampai tak sadar aku terlelap dalam ketakutan hingga pagi menjelang. ****** Selesai sholat subuh aku kembali membuka laptop diatas meja. Jari jemariku mulai menari nari di atas keyboard laptop di temani Awan kucing cantikku. Sebenarnya aku mau bilang kucing ganteng sebab dia berkelamin jantan. Tapi kucing ini memang cantik dan menggemaskan hi...hi..hi.. Pikiranku mulai memasuki alam khayalan untuk berimajinasi dengan lincah nya jari jemari ini terus menari nari mengikuti irama dalam alam khayalanku. Aku melanjutkan tulisan yang menceritakan kisah seorang putri cantik jelita yang di bunuh kakak keduanya karna cemburu adiknya akan di nikahi oleh orang yang ia cintai. Berbagai cara di lakukan untuk merebut calon suami sang adik, tapi rencananya tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya dia gelap mata dan tega mengingkirkan adiknya dengan cara yang keji. Mereka adalah tujuh bersaudara. Dengan karakter yang tidak sama. Masing masing menguasai kekuatan unsur alam yang berbeda beda. Kakak yang pertama sangat lembut dan baik hati. Dia selalu menjaga dan melindungi adik beradiknya seperti layaknya seorang ibu. Dia selalu menggunakan gaun putih. Dan menguasai kekuatan malam bernama putri Gayatri Kakak yang kedua sangat tempra mental dan pemarah serta di penuhi rasa cemburu dan ambisi. Dia selalu menggunakan pakaian berwarna merah dan bernama Putri Kencana Sari dia mahir dalam mengendalikan api Kakak ketiga sangat cantik dan bijaksana dia selalu menggunakan pakaian serba kuning dengan mahkota bertahta emas. namanya Putri Cahaya. Dan dia mahir mengendalikan cahaya Putri ke empat sangat pendiam tetapi ahli dalam ilmu ke tata usahaan itu sebabnya ayah mereka mempercayakan harta kerajaan mereka untuk di kelola olehnya. Dia selalu mengenahkan pakaian hijau dan bernama Putri Nawangsih. Putri ke lima memiliki ke anehan sejak lahir. Tidak seperti saudari saudarinya yang miliki rambut berwarna hitam .Dia memiliki rambut berwarna perak berkilau sejak di lahirkan . Dia sangat cerdas, lembut dan bijaksana. Selalu membawa kedamaian dan kenyamanan di manapun ia berada. Itu sebabnya dia di beri nama Putri Embun yang memiliki kekuatan mengendalikan air dan angin. Putri yang terakhir adalah putri kembar. Mereka sangat cantik lincah dan enerjik serta ahli dalam ilmu perang. Memakai pakaian serba biru Wajah mereka sama yang membedahkan hanya mahkota yang mereka pakai. Putri Cempaka biru memakai mahkota emas putih berbentuk bunga cempaka bertahtakan permata biru. Sedangkan Putri Selasih sang adik memakai mahkota emas kuning bertahtakan permata merah delima. Ke tujuh putri saling menyayangi satu sama lain. Mereka seperti tujuh badan satu jiwa. Sampai suatu hari mereka bertemu dengan seorang pangeran tampan dan berwibawa bermata indah dari kerajaan Majapahit yang bermaksud melakukan kerjasama dengan kerajaan Sendang Wangi milik ayahanda mereka. Saat pertama kali bertemu dengan sang pangeran Kencana Sari sudah menaruh hati dan ingin mendapatkan sang pangeran , namun gayung tidak bersambut sang pangeran malah jatuh cinta dengan adik ke empatnya Putri Embun. Dari sinilah mala petaka itu di mulai. "Kriiiingggg...kriiinggg..." imajinasiku terhenti seketika saat hp di sebelahku berbunyi dengan nyaring. Seketika ku hentikan jari jemariku sembari meraih hp yang tergeletak di sebelah laptop. Terlihat nama Astini tertera disana, ia adalah temanku yang ada di Banyu Wangi yang menelpon. "Halo asalamualaikum . Apa kabar As" sapa ku dengan bibir tersenyum. "Waalaikum salam Alisa, alhamdulillah baik. Lis, hari ini kamu jangan kemari ya, biar aku saja yang kesana kebetulan hari ini aku dapat tugas dari kantor meliput kisah nyata dari salah satu warga yang melakukan pesugihan di desa Rowo Sari. Tadi sudah ku konfirmasi, beliau bersedia di wawancarai dan di tulis kisah hidupnya dengan syarat nama dan tempat di samarkan ." Ujar Astini temanku yang juga bekerja di kantor majalah Misteri di Banyu Wangi. "Oh... iya As. Jam berapa nanti kamu sampai kemari. " tanyaku "Mungkin sore Lis, sebelum magrib aku sampai di tempatmu. Ya sudah aku mau bersiap dulu sembari menyelesaikan pekerjaan yang belum kelar. Assalamualaikum " Ucap Astini menutup telponnya. "Waalaikum salam " Jawab ku sembari meletakkan hp di atas meja untuk kemudian melanjutkan mereviw kembali tulisan yang baru selesai ku ketik dengan seksama. Seketika ku sadari ada yang aneh dengan tulisanku . Nama nama tokoh di tulisanku kenapa bisa sama dengan nama nama yang ada di mimpiku. Apakah ini kebetulan saja . Atau apakah aku terinspirasi dari mimpiku sendiri. Aaaaahhhh ....sudahlah semua ini membuat kepalaku pusing. " Tookk...tookkk.....non Lisa ini ada nak Aryo datang. " suara mbok Darmi yang mengetuk pintu membuat aku tersentak dari lamunan. "Iya mbok " jawabku sembari menutup laptop dan beranjak keluar untuk menemui Aryo. Tak lupa ku raih si Awan dan kugendong ikut bersama. "Ehhh... Aa' Aryo apa kabar A' " tanyaku dengan ramah melihat Aryo yang duduk di ruang tamu. " Alhamdulillah Teeh saya baik. Oh iya bapak dan ibu titip salam dan ini ada titipan dari ibu, tadi ibu buat kue lupis dan cenil jadi saya di suruh antar buat teeh Lisa." Ucapnya sambil memberikan rantang itu padaku. "Waduhhh... jadi merepotkan... terimakasih ya a' kebetulan ini makanan kesukaan saya." Jawabku sembari menerima rantang dari tangan Aryo. Aryo memandangiku seraya tak berkedip kemudian memandang Awan yang ada dalam pelukanku. Dia begitu terkejut saat melihat Awan yang sedang ku dekap sembari berdiri seperti orang yang ketakutan. "Ki Tawangulun" ucapnya tercekat sembari menunjuk ke arah kucingku. " Ada apa Aa'? , Apa yang Aa' maksud, ada apa dengan kucingku ?. Tanyaku kebingungan melihat tingkah Aryo. Dia terdiam sesaat dan tidak menjawab pertanyaanku. Membuat aku semangkin merasa takut, Aryo terus menatap mata Awan dan demikian juga Awan menatap tajam mata Aryo, mereka terlihat seperti sedang berinteraksi melalui kebatinan. Aku yang kebingungan melihat tingkah Aryo menatapnya dan Awan kucingku secara bergantian dengan perasaan gusar. Sejurus kemudian Aryo menarik nafas panjang dan duduk kembali. "Maaf teh tidak apa apa. Kucing teteh sangat istimewa." Ucapnya sambil memandang kucingku. Tapi sudah tidak dengan tatapan takut atau terkejut lagi. akupun menarik napas lega sembari mengelus d**a. "Ohhh... namanya Awan A' dia mendatangiku saat pertama kali sampai ke desa ini." Jawabku seraya mengusap kepala si Awan dengan lembut. Aryo terdiam, Aryo adalah pemuda yang istimewa menurut cerita Sumiati dia juga mempunyai indra keenam dan bisa melihat hal hal yang tak kasat mata seperti pak dhe Jarwo ayahnya. "Oya teh kapan rencananya teteh berkunjung ke Telunjuk Raung ?" Tanya nya seketika. " Rencananya besok A' , sore nanti temanku Astini dari Banyu Wangi akan datang, dia akan ikut bersama kita kesana. " jawabku. "Kalau begitu besok pagi biar saya jemput teteh kita naik mobil bapak saja. Biar cepat." Ujarnya. "Terimakasih ya Aa' , saya jadi tidak enak sudah merepotkan Aa sekeluarga." Jawabku sungkan. " Tidak apa apa teteh, pokoknya kapan pun teteh membutuhkan saya, saya siap membantu. Tugas saya adalah melindungi teteh selama ada di sini ." Ucapnya sembari memandang ke arah Awan kucingku. "Terimakasih sekali lagi ya Aa'" " Sama sama teh, ya sudah saya pamit ya teh, mau ke kantor desa ada yang akan saya kerjakan di sana. Mbookkk.... saya pamit ya ..." Teriak nya sembari melongok ke dapur. Aryo berdiri dan beranjak keluar sambil sedikit berteriak berpamitan sama mbok Darmi yang sedang berada di dapur . "Terimakasih ya A' dan sampaikan salam dan terimakasihku sama pak dhe dan buk dhe " ucapku sambil mengantar Aryo keluar. Aryo mengangguk sembari tersenyum tipis seraya menaiki sepeda motor ninja miliknya dan meninggalkan rumah mbok Darmi menuju kantor desa tempat dia bertugas. Seperginya Aryo aku melangkah mendatangi mbok Darmi di dapur yang sedang berkutat dengan periuk dan kuali "Mbok saya mau minta ijin boleh " "Ijin apa non?" "Sore nanti temanku Astini mau datang dari Banyu Wangi, dan menginap di sini dalam beberapa hari. Boleh kah mbok ?. Tanyaku memelas. "Tentu saja boleh non . Saya malah senang biar rame. Bertahun tahun hidup sendiri sekarang ada yang menemani . Anggap saja kayak rumah sendiri non " ucap mbok Darmi sembari tersenyum bahagia. "Ya allah , terimakasih ya mbok, mbok sangat baik sekali . Aku sayang sama mbok. " Akupun memeluk mbok Darmi dari belakang sembari menciumi pipinya layaknya ibuku sendiri. Mbok Darmi nampak sangat bahagia dengan tingkahku. Dia tidak memiliki siapa siapa di rumah ini. Tentunya dia sangat merinduhkan kasih sayang dari keluarga. Diam diam ekor mataku melihat dia menyeka air matanya perlahan. Aku memerhatikan dari belakang sambil terus ku peluk tubuh tuanya. Kurasakan kesedihan di hatinya dan kesepian sepanjang hidupnya. Seandainya bisa ku temukan dan ku bawa pulang suami mbok Darmi pasti dia tidak akan kesepian lagi, pikirku. Mbok Darmi tetap yakin suaminya masih hidup, sehingga seumur hidupnya di habiskan untuk menanti kepulangan sang suami yang tidak pernah ada kabarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN