Perjalanan ke Gunung Raung

1556 Kata
Sore itu aku dan Sumiati membantu mbok Darmi memetik pucuk ubi di sekitar area pekarangan rumah untuk di jual Sumiati esok pagi di kedai ibunya. Udara dingin yang berdesir terasa menusuk tulang. Berkali kali aku membenahi syal yang melilit di leher sembari sesekali mendongak ke arah puncak Raung yang penuh misteri. Tiba tiba terdengar deruh suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah. Tak berselang berapa lama suara seorang wanita yangbtak asing memberi salam dan memanggil namaku. "Assalamualaikum... lisa....assalamualaikum ..Alisaa....." Aku dan si mbok pun saling berpandangan untuk sejenak dan kemudian bergegas menemui suara wanita yang memanggilku itu di ikuti Mbok Darmi dan Sumiati dari belakang. Ternyata yang datang adalah Astini temanku. " Waalaikum salam ...Haiiii... As... ya Allah sudah lama kita gak ketemu kangeen nya " Aku pun berhambur memeluk Astini. "Iya lis sudah 2 tahun sejak terakhir kali aku kemedan . Ngomong ngomong kamu tambah cantik saja Lis." "Ahhh... kamu bisa aja As , kamu tuh yang tambah cantik ". "As kenalkan ini mbok Darmi yang punya rumah ini dan ini Sumiati keponakan si mbok. Mbok , ini Astini orang yang kuceritakan kemaren dia datang dari Banyu Wangi " Aku memperkenalkan Astini kepada si mbok dan Sumiati yang sejak tadi berdiri di belakang kami. "Ohhh...nak Astini. Mari masuk kedalam nak. "Ujar si mbok dengan ramah sembari membantu Astini membawa tasnya masuk kedalam "Terimakasih ya mbok" ucap Astini. "Sama sama nak , tidak usah sungkan." Jawab si mbok. Sesampainya di dalam si mbok meletakkan tas Astini tepat di depan kamar. Kemudian si mbok pergi ke dapur membuat teh danmembawa cemilan untuk Astini. " Ya kayak gini lah gubuk si mbok. Nak Astini silahkan istirahat anggap saja seperti rumah sendiri. Di sebelah kamar non Lisa juga ada kamar kosong. Nak Astini boleh tidur di sana . Nanti kalau perlu apa apa panggil saya di kamar belakang." Ucap si mbok sambil menyuguhkan secangkir kopi dan rebusan ubi. "Astini biar tidur bersama saya aja mbok. Banyak yang ingin kami obrolkan lagian sembari melepas rindu , sudah lama kami gak ketemu, ya kan As." Ucapku sembari memeluk sahabatku itu. Astini menganggukan kepalanya mengiyakan ucapanku sembari tersenyum dan membalas pelukanku . Aku dan Astini sudah sangat lama kenal , sejak pertama kali dia datang kemedan dalam rangka Study Banding dari kantornya 5 tahun yang lalu. Saat itu ia di minta bosnya membuat sebuah Artikel tentang misteri yang ada di Danau Toba. Setiap hari kami harus mondar mandir dari kota Medan ke Perapat untuk menyelesaikan artikel itu Astini seorang anak indigo. Dan dengan kemampuannya itu dia bisa dengan mudah berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata dan masuk ke alam gaib. Selepas sholat magrib kami makan malam bersama, setela selesai aku, si mbok , Sumi dan Astini berkumpul di ruang tamu ngobrol saling bertukar pengalaman satu sama lain. Malam itu Sumiati sengaja tidak pulang dan menginap di rumah si mbok. Biar tambah rame ucapnya. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Si mbok pun sudah kelelahan dan mengajak Sumi tidur menemaninya. Sedangkan aku dan Astini pergi ke kamar. Sesampainya di kamar , Astini tertegun dan terdiam sejenak. Hal itu sedikit membuat aku agak gelisah sebab Astini adalah anak indigo. Aku takut kalau dia mengatakan di kamar kami ada hantu kuntilanak ataupun pocong. Sebenarnya aku sejak kecilpun memiliki firasat indra ke enam. Hanya saja kemampuanku berinteraksi dan melihat hal hal gaib itu datang di saat saat tertentu saja. Tidak serta merta setiap saat aku bisa berinteraksi dengan Alam gaib seperti Astini. "Lis aku mencium aroma mawar di kamar ini dan merasakan ada hawa makluk lain yang kuat di sini. "Ucapnya sembari terus mengamati kamar kami. "Ahhh... yang benar kamu As. Aku jadi takut nie. Kalau aroma mawar itu mungkin dari parfum yang ku pakai kali." Ucapku sambil ku pegang ujung bajunya seraya mengikutinya dari belakang. "Bukan Lis, aroma parfum yang kamu pakai aku hafal, bebeda dengan aroma yang tercium saat ini. Rasanya ini parfum dari dunia lain deh Lis . Dan anehnya sepertinya setiap malam kamu di temani makluk ini. Tercium dari aromanya yang kuat tersebar di mana mana." Ucapnya lagi "Kamu jangan membuatku semakin takut dong As. Setiap malam aku hanya tidur sendirian , paling di temani si Awan." Jawabku ketakutan . "Si Awan, siapa dia Lis ?" "Kucingku As, tapi entah kenapa seharian ini sampai sekarang dia juga belum pulang. Biasanya setiap magrib dia akan sudah ada di kamar ini menemaniku menulis novel." "Ohhhh , kucing toh ....ya sudahlah Lis, yok kita tidur, besok biar ada kekuatan untuk melanjutkan perjalanan kita ke Gunung Raung. Aku mempunyai firasat perjalanan kita kali ini akan banyak sekali tantangan." Astini berbaring di ranjang dan aku mengikuti berbaring di sebelahnya. Karna kelelahan beraktifitas seharian tak menunggu waktu yang lama akhirnya kamipun masing masing terlelap di alam mimpi. ***** Keesokan paginya kami sudah selesai dan bersiap melakukan perjalanan ke Gunung Raung. Sembari menunggu kedatangan Aryo aku berjalan mengitari kawasan rumah sembari menikmati sejuknya udara pagi hari. Hawa dingin kembali berdesir dari arah belakang membuat aku terjingkat seketika sembari menoleh dan memeriksa sekeliling. " Meoooww... " tiba tiba entah dari mana datangnya Awan kucingku sudah ada di bawa kaki menggesek gesekan buluh halusnya di antara kakiku. Tingkahnya membuat aku terkejut namum seketika senyumku merekah saat melihat mata indahnya mengerjap ngerjap manja. Seketika kuraih dia dalam pelukan, aku sangat bahagia melihat Awan kembali lagi. "Kucing nakal ,..kemana saja kamu semalaman haaa....kenapa gak pulang ? Kamu tidur dimana ? Aku sangat mencemaskanmu tauu!!!" Ku ciumin kepala si awan yang berbulu halus itu seraya gemes dengan tingkahnya. " Meoowwww...meeoowww..." kucing inipun semakin membuatku jatu hati dengan suara manjanya seakan akan dia sedang menjawabku. "Ya ampun Lisaa..... siapa yang sedang kamu peluk itu? Lepaskan dia.....heyyyy kamu jangan ganggu Lisa.!!!!" Tiba tiba Astini datang dan berteriak mengagetkanku dengan jari menuding ke arah Awan. "As... ada apa? ..kenapa ?....tidak ada siapa siapa di sini Asti..." Tanyaku kebingungan dan ketakutan, ku lihat sekelilingku tidak ada siapa pun. Cuma ada aku dan Awan. Namun tatap mata Astini sangat menakutkan saat melihat kucingku seperti melihat sosok makluk lain . Untuk sesaat Astini terdiam dan kemudian dia menarik nafas panjang menatapku yang tak bergeming dari tempat itu. Dan kemudian menatap kucingku lagi. Aku terus diam terpaku menantikan apa yang akan di ucapkan Astini kepadaku. Astini menghela nafas panjang seraya berkata "Ki Tawangulun maafkan aku tidak mengenalimu." Akupun semakin bingung di buatnya tanpa sadar aku mendekap erat Awan dengan penuh rasa cemas. Astini mendakatiku dan ikut mengelus si Awan. " Sudahlah tidak apa apa, maaf ya Lis sudah membuat mu takut. Aku salah faham tadi. " ucapnya sembari memegang pundakku. "Kamu memang sudah membuatku takut As , kirain ada apa dengan Awan." Ucapku sembari menarik nafas panjang mencoba menenangkan perasaan. Aku dan Astini pun berjalan ke arah teras depan, setelah suasana tegang berangsur angsur hilang.Tak berapa lama Aryo datang dengan mengendarai sebuah mobil Pickup hitam dengan bak belakang terbuka. Dia turun dari mobil dengan mengenakan setelan kemeja berwarna hitam . Tampak gagah dengan postur tubuhnya yang tinggi besar di sertai senyuman dengan lesum pipit di kedua pipinya. "Maaf teh , lama menunggu." Ucap Aryo menghampiri kami. "Ahhh.... tidak lama kok A' ....oh iya A' kenalkan ini Astini temanku , As ini Aryo anak pak dhe Jarwo yang ku ceritakan semalam . Dia akan ikut bersama kita ke Gunung Raung." Mereka berdua saling bersalaman dan bertatapan agak lama seperti berbicara di alam kebatinan. Dasar anak anak indigo tingkahnya selalu membuat orang merinding saja. Ujarku dalam hati. "Eheemmm...eheeeemmm... sudah salamannya di lanjutkan nanti aja. Ayook kita berangkat." Ucapku membuat mereka tersipu dan segera melepaskan tangan mereka. Aku segera mengambil barang barangku dan meletakkan si Awan ke atas kursi. Kulihat Aryo dan Astini memandang Awan dengan tatapan serius. Sesaat tingkah mereka membuatku tidak nyaman. Sebenarnya ada apa dengan mereka. Kenapa mereka bertingkah aneh ketika melihat kucing manis ini. Aku menghela napas panjang sembari membelai kepala Awan dengan lembut tanpa menghiraukan kedua orang itu. "Kamu di rumah saja ya sayang , sama si mbok jangan nakal dan jangan pergi lagi tunggu aku pulang ya manis " aku kembali membelai dan mencium kepala kucingku dengan lembut. "Meooowww ....meeeooww...." Dengan senyum mengembang aku meninggalkannya seraya menghampiri si mbok yang sudah ada di depan sedang berbicara dengan Aryo dan Astini. "Mbok titip si Awan ya....mbok juga baik baik di rumah jangan kecapean. Kami hanya pergi untuk beberapa hari dan akan segera kembali. Kami berangkat ya mbok doakan kami tidak ada halangan apapun " aku mencium tangan si mbok dan memeluk nya seperti ibuku sendiri. "Iya non,...non lisa juga hati hati ya? ...Nak Aryo dan nak Astini titip non lisa , kalian juga harus hati hati. Jangan sampai kejadian yang menimpa ki Atmo suamiku terulang lagi." Ucap si mbok sembari menyeka air matanya Sepertinya kepergian kami ke Gunung Raung membuka luka lama, dan membuatnya teringat kembali akan kepergian Ki Atmo yang hilang di Gunung Raung puluhan tahun yang lalu. "Iya mbok aku akan menjaga mereka. Inshaa Allah semua akan baik baik saja dan kami akan kembali dengan selamat. Lagi pula kami hanya beberapa hari saja di sana." Ucap Aryo menenangkan si mbok. Setelah berpamitan dan memastikan barang barang yang kami butuhkan sudah lengkap dan tidak ketinggalan kami pun bergegas pergi menuju Gunung Raung. Mengikuti suara panggilan hatiku yang selalu ingin pergi kesana. Kami bertiga duduk di depan dan aku sengaja memilih duduk di pinggir pintu supaya lebih leluasa menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN