Suara musik nisa sabyan mengalun merdu dari tipe recorder mobil Aryo mengiringi perjalanan kami. Aku dan Astini bernyanyi mengikuti lirik lagu yang terdengar dari tipe recorder dengan riang sesekali menggoda Aryo yang tampak malu malu di antara kami bertiga.
Sembari menyetir sesekali Aryo melirik dan tersenyum melihat tingkah kami. Dan sesekali juga terlihat Astini menggoda dan mencandain Aryo. Aryo hanya tersenyum dan tersipu dengan ulah Astini. Gadis indigo yang sangat periang.
Tanpa terasa mobil kami terus masuk kedalam hutan Gunung Raung mengikuti jalan setapak yang becek menuju Air Terjun Telunjuk Raung.
Sampai akhirnya Aryo menghentikan mobilnya, tak terasa kami sudah sampai di wilayah Air Terjun telunjuk Raung. Hanya saja kami harus berjalan kaki untuk menuju ke titik Air Terjun itu.
"Asti, teh Lisa , kita sudah sampai. Mobil harus kita tinggal disini sebab tidak bisa masuk kedalam jalannya kecil dan curam jadi kita harus jalan kaki. Ndak apa apa kan?." Ucap Aryo
Kami mengangguk bersamaan mendengar ucapan Aryo dan segera turun dari mobil mengambil perlengkapan yang di butuhkan dari bak mobil belakang. Beberapa Ransel yang berat berisi tenda di bawa Aryo sedangkan ransel yang berisi makanan dan pakaian aku dan Astini yang membawanya.
Kami terus masuk ke dalam hutan yang dingin dan lembab menyusuri jalan setapak yang becek . Sesekali kakiku terpeleset oleh genangan air yang ada di sepanjang jalan. Dengan sabar Astini memapahku membantuku berjalan.
Di sepanjang jalan ku lihat panorama alam di sekeliling yang sangat asri di iringi suara tetesan embun dan kicauan burung yang saling bersahutan. aku merasakan perasaan yang aneh. Rasanya tempat ini tidak asing bagiku dan sangat familiar. Tapi di mana kulihat tempat ini, ini adalah pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Namun tempat ini terasa sangat aku kenal. Jantungku semakin berdebar tak menentu seakan akan aku akan bertemu dengan seseorang namun aku sendiri sangat tidak mengerti dengan perasaan ini.
Kami terus berjalan menerobos lebatnya hutan. Samar samar terdengar suara gemerisik air terjun yang semakin jelas. Menandakan tempat tujuan kami sudah ada di depan mata.
"Teh,....sebentar lagi ...kita sampai.... Air Terjunnya sudah ada di depan. "Ucap Aryo terbata bata dengan nafas yang tersengal sengal. Aku hanya bisa mengangguk sembari mengatur napas yang juga tidak beraturan. Jalan yang menurun dan terjal membuat tenaga kami terkuras habis.
Kami kembali berhenti sesaat untuk mengatur napas yang memang kejar kejaran tak menentu, akibat medan yang kami lalui sangat terjal. Walaupun udara sangat dingin namun keringat kami terus bercururan membasahi pakaian yang kami kenakan.
Setelah beristirahat sebentar , kami meneruskan perjalanan, Aryo yang memimpin di depan sementara Astini dengan sabar menuntunku yang berjalan terseok seok, karna ini untuk pertama kalinya aku berjalan jauh dengan medan yang cukup curam dan terjal.
Setelah sekian lama berjalan menuruni lembah yang cukup terjal akhirnya kami sampai di Lembah Air Terjun Telunjuk Raung.
Aku terdiam terpaku melihat alam di sekeliling. Sangat sangat asri dan indah. Kupandang ke atas dan terlihat indahnya air terjun yang seperti tumpah dari langit biru dengan Awan yang menari nari di atas sana.
Sementara Aryo dan Astini duduk beristirahat di atas sebongkah batu besar meneguk sejuknya air dari bebatuan sembari memandangi diriku yang masih terpanah dengan keindahan alam di hadapanku.
"A' Aryo , apa kamu merasakan apa yang aku rasakan ?" Tiba tiba Astini bertanya kepada Aryo seraya berbisik sembari menatapku tajam.
"Iya As, aku merasakannya. Kita harus hati hati dan waspada tidak boleh lengah dan jangan pernah jauh dari Lisa." Jawab Aryo
"Kita buat kemah di sini saja. Biar aku yang menyiapkannya . Kamu awasi terus teh Lisa jangan lengah "
Astini pun menganggukan kepalanya. Sembari menarik nafas panjang mengawasi daerah sekelilingku dengan seksama. Seperti nya ada yang di sembunyikan oleh kedua orang indigo itu kepadaku. Namun aku tidak berani bertanya. Apapun yang mereka pakukan pasti demi kebaikan kami semua.
Aryo segera bergegas mengeluarkan perlengkapan berkemah dan mencari tempat yang strategis di sekitar pinggir air terjun untuk mendirikan kemah. Suasana saat itu sudah hampir gelap dan matahari juga hampir terbenam.
Pandanganku terus berkeliling menyapu tempat itu dengan perasaan takjub tanpa berhenti memuji kebesaran Allah yang sangat luar biasa.
Tiba tiba netraku tertuju pada sebuah batu besar yang berdiri kokoh di bawah air terjun itu.Tempat ini persis seperti yang ada di dalam mimpiku. Saat aku bertemu dengan ketujuh putri misterius itu.
Ya..... benar tepat diatas batu itulah Putri Embun muncul, dan di sekitar bebatuan itu ke tujuh kakak beradik saling bercanda dan bercengkrama.
Dengan wajah yang hampir tak percaya aku terus mengamati tempat itu dengan seksama. Netraku tak berkedip dengan mulut mengangah.
"Tidakkkk....ini tidak mungkin kebetulan. Ya Allah....aku benar benar berada di tempat yang berada di dalam mimpiku. Atau kah aku sedang bermimpi lagi ?."
Tiba tiba sekelebat bayangan berwarna merah melintas tepat di hadapanku. Membuat aku terhuyun dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Seketika kepalaku sangat sakit tubuh terasa lemas dan hampir membuat aku terjatuh. Untung saja Astini yang dari tadi terus mengawasiku berlari dan menopang bobotku dari belakang.
" Liiisss... kamu kenapa ? Aa' ...toloongg..." Astini berusaha menahan tubuhku supaya tidak terjatuh ke air. Aryo yang melihat hal itupun segera berlari menghampiri kami dan segera membopongku menuju tenda yang sudah selesai di buatnya.
Astini bergegas mengambil air dari aliran air di sebelah tenda kami dengan bekas tempurung kelapa yang dia temukan di sebelah bebatuan dan meminumkan air itu kepadaku setelah terlebih dahulu dia membacakan sesuatu di air itu.
"Aku sudah menduga hal ini akan terjadi . Kita harus lebih berhati hati menjaga teh Lisa. Dan jangan sampai hal yang tidak kita inginkan terjadi atasnya" Ucap Aryo kepada Astini. Mereka saling berpandangan di iringi anggukan Astini atas ucapan Aryo.
Tak berselang berapa lama aku berangsur angsur sadar. Kulihat Aryo dan Astini di sebelahku dengan raut wajah cemas penuh ke khawatiran.
"Apa yang terjadi kepadaku ? Maaf ya A' , Asti , sudah menyusahkan kalian ." Ucapku mencoba duduk sembari memegangi kepala yang terasa berat.
"Tidak apa apa Lis, kamu hanya kecapean karna tak terbiasa berjalan jauh." Ucap Astini sembari membantuku untuk duduk.
"Sebaiknya kamu beristirahat sejenak Alisa, umtuk memulihkan kesehatanmu seperti sedia kala" ucap Astini lagi sembari menyeka keringat dari keningku yang terus bercucuran.
Benar yang di ucapkan Astini. Teh Lisa sebaiknya beristirahat dulu. Setelah membaik baru kita atur rencana selanjutnya" Ujar Aryo menimpali ucapan Astini.
Aku mengangguk kemudian merebahkan tubuh mencoba memejamkan mata. Dan benar saja tidak menunggu waktu lama aku kembali terlelap. Rasa letih berjalan jauh dan udara dingin yang menusuk tulang membuatku cepat terhanyut dalam dunia mimpi.
Setelah beberapa lama beristirahat aku pun kembali membaik seperti sedia kalah. Hari sudah semakin gelap, di luar sana suara binatang malam saling bersahutan daun dan ranting pohon yang saling bergesekan tertiup angin membuat suara seperti segerombolan orang yang saling berbisik bisik. Serta hawa dingin yang semakin menusuk tulang membuat suasana tempat ini terasa semakin menyeramkan.
Setelah sholat berjamaah dengan Aryo sebagai imamnya, kami melanjutkan makan malam dengan bekal yang kami bawa dari rumah di depan tenda dengan api unggun sebagai penghangat. Tak lupa Aryo menggantung ceret berisi air dengan di topang kayu di atas api unggun
"Gerrr.....diiigiiinnn...."ucapku dengan memasukan tangan kedalam saku jaket tebal yang aku pakai di iringi suara gemerutuk gigi yang saling bergesekan menahan hawa dingin yang terasa menusuk tulang.
Selesai makan malam kami mengelilingi api unggun sembari mengobrol di iringi suara deruh air terjun yang jatuh dari atas tebing menghantam batu batu besar di bawahnya.
" A' apa benar jika orang minum dan berendam di air terjun ini akan awet muda?." Tanyaku sembari mendekatkan kedua tapak tangan di atas api unggun.
" Iya benar teh... tapi harus ada ritual dan persyaratan yang di jalani orang tersebut."
"Ritual apa itu A'? " tanyaku penasaran.
"Ritual pemanggilan Putri Kencana Sari sang penunggu air terjun ini. Kalau persyaratannya di terima maka sang Putri akan datang." Aryo berhenti sesaat sepertinya dia ragu untuk meneruskan ceritanya.
Kemudian dia memandang Astini seperti meminta pendapat Astini apakah dia harus meneruskan cerita ini atau tidak. Sepertinya Astini faham akan tatapan Aryo dia pun menganggukkan kepalanya. Setelah menarik napas panjang Aryo pun melanjutkan ceritanya.
" Orang yang akan melakukan ritual pemanggilan harus melakukan tepat saat bulan purnama, dan harus menyiapkan kembang tujuh rupah dan secangkir darah ayam cemani sebagai sesaji untuk Putri Kencana Sari.
Kemudian letakkan sesaji itu pada batu yang terletak di ujung sana dan bersemedi sambil menunggu kedatangan sang putri.
Jika orang itu benar benar yakin akan niat dan keinginannya serta persyaratannya juga di terima maka sang putri akan datang dan memberikan air dari tangannya untuk di minum. Kemudian menyuruh orang itu membasuh wajahnya dengan darah ayam cemani yang dia bawa setelah itu menyuruh orang tersebut berendam ke dalam air terjun sampai pagi hari.
Setelah berhasil menjalani ritual tersebut. Maka orang itu akan selalu terlihat mudah. Walaupun sudah berumur. Tapi ada pantangan atau perjanjian lain yang harus di patuhi." Ujar Aryo
"Pantangan dan Perjanjian apa itu Aa ? dan siapa putri Kencana Sari itu?, sepertinya aku pernah dengar nama itu." Tanyaku lagi semakin penasaran.
"Tentu saja kamu pernah dengar lis. Dan kamu juga akan segera tau siapa putri kencana sari itu." Ucap Astini menyambung pembicaraan kami.
" Pantangannya tidak boleh makan darah. Dan makan sate yang masih tertusuk. Jadi kalau umpamanya jari terluka secara refleks kita akan menghisap darah yang keluar supaya berhenti, naaah....itu pantang dan sangat dilarang dalam ritual ini. Atau kita makan daging mentah yang tidak di masak dan tanpa sadar masih ada darah merah di dalamnya itu juga pantang.
Jika orang itu makan sate harus di lepas dari tusuknya tidak boleh di makan langsung. Jika mereka melanggar pantangan maka wajah mereka secara berangsur angsur akan berubah menjadi tua rentah walaupun umur mereka masih belia."
Sedangkan perjanjiannya , siapapun yang meminta ilmu awet mudah kepada Putri Kencana Sari, saat mereka mati maka mereka akan menjadi pengikut putri Kencana sari." Ucap Aryo mengakhiri ceritanya.
Aku termangu mangu mendengarkan Aryo menerangkan tentang ritual awet mudah yang di lakukan oleh orang orang yang ingin cantik dengan cara instan.
"Tapi Aa' itu adalah perbuatan musrik yang di larang agama" ucapku lagi
" Iya lis, tapi di dunia ini banyak manusia manusia yang ingin cantik dengan cara instan begitu juga yang ingin kaya dengan cara instan tanpa usaha dan tanpa bekerja . Mereka akan memuja ke puncak Gunung Raung untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan" Ucap Astini menambahkan cerita Aryo.
" Jadi selain untuk awet muda bisa untuk pesugihan juga toh di Gunung Raung ini." Tanyaku yang semakin tertarik dengan misteri yang ada di Gunung Raung.
" Iya lis, hanya saja tempatnya berbeda. Kalau untuk pesugihan lokasinya berada di puncak gunung Raung, tepatnya di Pondok Angin, tempat istana Alas Kuningan berada. Dan ritual yang dilakukan juga berbeda.
Di sana lah singgah sana Ki Tawangulun berada sang macan putih penguasa Gunung Raung. Itu sebabnya di beri nama Gunung Raung sebab di saat tertentu atau malam tertentu masyarakat sekitar akan mendengar suara rauman sang macan putih"
Kali ini Astini yang bercerita kepadaku menggantikan Aryo yang sedang menuangkan teh hangat untuk kami.
" Nah ada satu lagi pantangan yang tidak boleh di langgar oleh para pendaki atau pengunjung di sini. Jika mereka mendengar langkah derap kaki kuda yang sangat ramai. Pura puralah tidak mendengar. Karna jika mereka menoleh atau mencari suara derap langka itu, maka mereka akan di bawa ke istana Alas Kuningan oleh pasukan Ki Tawangulun dan tidak akan pernah kembali lagi.
Itu sebabnya banyak pendatang atau pendaki yang hilang dan tidak pernah di temukan. Mereka di bawa ke Alas kuningan untuk kemudian menjadi penghuni di sana."
Aku semangkin antusias mendengar cerita Astini dan penasaran tentang siapa Ki Tawangulun itu.
"Tapi As , kenapa mereka membawa orang orang yang mendengar suara derap langkah itu ?. Tanyaku lagi.
" Konon mereka di tugaskan untuk mencari keberadaan Putri Embun yang sudah menitis ke dunia manusia. Tapi tidak semua manusia bisa mereka temui. Hanya orang orang tertentu saja.
Itu sebabnya orang orang yang bisa mendengar suara langkah kaki mereka yang di bawa dan di tanyai , apakah mereka mengenal Putri Embun, jika mereka mengenal dan menunjukkan keberadaan Putri Embun maka mereka akan melepaskannya namun jika mereka tidak mengenal Putri Embun maka mereka akan di kurung selamanya di dunia mereka."
" Itu sebabnya jika kamu mendengar derap suara langkah kaki kuda atau pun mendengar suara Rauman dari puncak gunung sebaiknya berpura puralah tidak tau dan tidak mendengar. Ingat pesanku ini ya Lis " ucap Astini dengan nada serius mengingatkanku.
" Iya As, akan aku ingat. Tapi apa hubungannya antara Ki tawangulun dan Putri Embun " tanyaku lagi.
Aku tidak bisa berhenti bertanya, rasa penasaran membuatku ingin tau cerita selengkapnya. Dan Astini pun memahami sifatku yang serba ingin tau serta penasaran akan suatu hal yang membuatku tertarik.