Astini menghela nafas panjang dan mengakhiri ceritanya. Kemudian mengambil secangkir teh yang sudah di buat Aryo untuk menghangatkan tubuhnya.
Sementara aku termangu dan terdiam. Semua cerita yang barusan ku dengar terekam di ingatanku, seakan akan kejadian itu sudah pernah ku lihat sebelumnya. Atau seseorang pernah menceritakan kepadaku. Tapi aku tidak tau kapan dan dimana. Aahhhhkkkk... tiba tiba kepalaku pusing saat mengingatnya.
"Jadi bagaimana nasip Putri Embun dan Pangeran Tawangulung Asti ?" Tanyaku masih penasaran sembari memegang kepalaku yang terasa pusing.
" Menurut cerita yang ku dengar Putri Embun sudah menitis ke beberapa generasi di alam manusia. Namun sampai saat ini tidak seorang pun yang tau keberadaannya. Sedang kan Pangeran saat ini menjadi harimau putih penguasa kerajaan Alas Kuningan di puncak Gunung Raung. Sesekali dia akan berubah menjadi manusia dan menolong warga yang sedang kesulitan. Sembari terus mencari keberadaan titisan Putri Embun." Jawab Astini menatap diriku dengan tajam dan penuh arti.
"Kisah cinta yang sangat tragis. Yang dari alam manusia terjebak di alam gaib selamanya dan yang dari alam gaib terjebak di dunia manusia. Sungguh kasihan " ucapku menghela nafas panjang sembari meneguk teh dalam cangkir di tangan. Ada rasa pilu dan luka saat mendengar kisah Pangeran Tawangulung. Dadaku terasa sesak ada suatu beban yang ku rasakan di sana. Mataku juga memanas menahan nuliran bening yang berdesakan ingin tertumpah sedari tadi. Berkali kali aku menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan diri. Aku benar benar terhanyut dalam cerita Astini.
Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menusuk sendi sendi ku. Pandanganku menyapu area sekeliling air terjun, ku tatap dalam dalam air yang jatuh mengucur deras seperti tertumpah dari langit. Suara deruh air yang tertumpah terkadang seperti suara seseorang yang sedang berteriak memanggil manggil namaku. Air terjun ini benar benar penuh misteri.
"Benarkah di balik air yang mengalir ke bawah itu ada gua seperti dalam cerita Astini barusan?. Tanyaku dalam hati.
"Alisaaaa......"
Tiba tiba terdengar suara seseorang memanggil namaku lirih aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari asal suara.
"Asti , kau memanggilku barusan ?" Tanyaku, karna sepertinya aku mendengar ada seseorang berkali kali memanggil namaku.
"Tidak , tidak ada yang memanggilmu lisa. Memangnya ada apa ? " ucap Astini sembari terus menyeruput Teh yang ada tangannya.
Sejenak aku pun kembali memastikan pendengaranku dengan mata tertuju pada tebing di tengah tengah air terjun yang mengalir deras ke bawah.
Aku melihat ada seberkas sinar kemerahan yang keluar menembus derasnya air. Dan berputar putar di antara air yang mengalir deras sangat jelas terlihat olehku.
"Astaqfirullaaaahhh, ....apa itu ? "
Aku berteriak ketakutan dan tanganku menunjuk ke arah cahaya merah itu.
"Alisaa, ada apa denganmu ? Tidak ada apa apa di sana ! ."
Ucap Astini sembari menarik tanganku dan menenangkanku dalam pelukannya.
"Sudahlah hari sudah larut, ayok kalian masuk dan istirahat di dalam tenda. Biar aku yang berjaga di sini." Perintah Aryo.
"Tidak apa apa Aa' sendirian di luar?, apalagi udara sangat dingin sekali " ujarku mencemaskan Aryo
"Tidak apa apa teh , saya terbiasa dengan udara dingin. Ayoo, teteh dan Asti masuk sana. Biar saya yang berjaga." Ujarnya sembari tersenyum menenangkan aku.
Aku menganggukan kepala dan segera masuk kedalam tenda yang beralaskan tikar serta dua buah selimut yang sangat tebal.
Astini tidur di sebelahku dan tidak butuh waktu lama sudah ku dengar suara dengkurannya.
Aku mencoba memejamkan mata namun terasa sulit sekali. Pikiranku terus teringat cerita Astini tentang Putri Embun .
Apakah semua cerita itu benar adanya , ataukah hanya cerita legenda saja ? Tanyaku dalam hati.
Sudah lebih dari satu jam aku mencoba memejamkan mata sembari pikiranku menerawang kemana mana .
Sesekali ku dengar suara auman suara macan yang bersahut sahutan dari puncak gunung. Tapi tak ku hiraukan mungkin saja itu suara gesekan angin dari pepohonan yang sangat besar sehingga terdengar seperti suara auman macan.
Lama lama mataku terasa berat, dan kepalaku terasa pusing. Sayup sayup ku dengar suara langkah derap kaki kuda. Semakin lama semakin jelas . Suara itu seperti semangkin mendekati tenda kami.
Suara ringkikan kuda itu terdengar tepat di depan tenda kami." Siapa yang datang ?...Apakah itu kawan Aryo?" Pikirku .
Seketika aku teringat kata kata Astini dan Aryo. Siapapun yang berada di Gunung Raung jika mendengar suara derap langkah kaki kuda pura pura lah tidak mendengar. Karna itu adalah suara prajurit Pangeran Tawangulung yang sedang mencari keberadaan Putri Embun.
"As...As... asti..."
Ku goyang goyangkan tubuh Asti mungkin dia juga mendengar suara itu. Tapi dasar Asti, kalau sudah tidur seperti orang mati sangat susah di bangunkan.
Aku pun pura pura tidak mendengar, tapi suara itu semakin menjadi jadi dan memekakkan telinga. Ku pejamkan mata dan kututup telinga rapat rapat. Namun suara derap langkah kaki kuda itu semangkin terdengar sangat dekat dan sangat jelas.
Suara hiruk pikuk dan derap kaki kuda itu berhenti tepat di depan tenda. Ku perjelas pendengaranku, benar... ini semua bukan mimpi , Ini nyata.
Namun ketika aku membuka mata, suasana sunyi senyap tidak ada suara apapun yang terdengar bahkan suara jangkrik pun tidak ada.
Seketika keringat dingin mengucur membasahi seluruh tubuhku di tengah dinginnya malam. Aku tarik selimut menutupi kepala sampai kaki dengan tubuh meringkuk menghadap Astini yang sedang terlelap tanpa beban.
"Alisaaa....Alisaa..."
Aku kembali tersentak ketika mendengar sebuah suara memanggilku dengan lembut.
"Alisaaa... keluarlah kami datang menjemputmu."
Suara itu sangat jelas . Membuat aku sangat penasaran dan ingin keluar. Aku singkapkan selimut dan menoleh ke arah pintu dan terlihat beberapa bayangan orang yang sedang menunggang kuda berbaris rapi di depan tenda.
Berlahan aku bangkit, rasa penasaran mendorongku ingin keluar dan melihat apa sebenarnya yang terjadi di depan tenda.
Namun ketika teringat pesan Astini membuat aku ragu dan mengurungkan kembali niatku. Dengan napas yang tertahan karna tegang, ekor mataku melirik Astini yang mendengkur dan sedang terbuai di alam mimpi.
"Aliisaaaa......Alisaaaa...Alissaaaa"
Untuk yang ketiga kalinya suara itu kembali memanggilku lirih. Kali ini aku tidak bisa mengendalikan diri lagi. Aku harus memeriksa suasana di luar sana supaya tidak terus dihantui kecemasan seperti ini. Suara itu juga seperti magnet yang menarikku keluar tenda. Di tambah rasa penasaran yang bergejolak di dalam hati.
Seketika aku bangkit dan keluar dari tenda. Alangkah terkejut nya aku ketika melihat sebuah kereta kencana yang sangat indah terparkir tepat di depan tenda. Dan sekitar lima puluh pemuda dengan memakai pakaian jaman dulu setengah bertelanjang d**a dan di balut sebuah selendang berwarna putih melingkar dari bahu ke pinggang.
Mereka semua diam mematung dengan menundukkan kepala. Tatapan mereka semua nanar menatap ke bawah.
"Apa apaan ini, siapa kalian dan sedang apa kalian di sini.?" Tanyaku penasaran
Mereka tetap diam tak menjawab. Seketika rasa takut ku hilang entah dari mana datangnya keberanian yang datang secara tiba tiba ini. Ku alihkan pandangan di tempat Aryo duduk di atas sebuah batu di samping tenda di depan api unggun. Aryo sedang tertidur pulas . Dan tak menyadari kedatangan mereka.
"Aa' ....A' Aryo bangun A' kita kedatangan tamu."
Ku goyang goyangkan tubuh Aryo supaya terbangun namun tidak berhasil . Seperti halnya Astini yang larut di dalam mimpi begitu juga dengan Aryo yang juga terbuai dalam mimpinya. Entah apa yang mereka mimpikan sampai sampai sulit sekali untuk di bangunkan.
Tiba tiba seorang wanita cantik muncul dari balik air terjun dengan mengenahkan gaun merah. Wanita itu melayang mendekat ke arahku.
Badan nya meliuk liuk sangat panjang . Dan ketika wanita itu sudah berada tepat di depanku. Alangkah terkejutnya aku melihat wujud wanita itu. Mataku melotot dan mulutku mengangah tak percaya. Wanita cantik itu berbadan setengah ular. Yang terlihat di hadapanku terasa mimpi. Aku mencubit pipi sembari menatap wanita itu yang terus tersenyum menatapku. Terasa sakit, ini jelas bukan mimpi, ini nyata. Ya tuhan ini sungguh aneh sekali.
Anehnya lagi aku tidak takut sedikit pun dengan semua ini, atau pun dengan wanita cantik berbadan ular itu. Ini terlihat seperti tidak nyata, aku sendiri bahkan tidak mengerti.
Kakiku melangkah perlahan mendekati wanita itu dan berjalan mengelilinginya. Untuk memastikan apa yang terlihat di hadapanku benar dan nyata
Benar ini benar benar nyata. Kali ini ku cubit kembali lenganku untuk memastikan.
"Aduuhhhh... sakit "
Aku memekik kesakitan sembari mengelus lenganku.
Badan wanita itu melingkar di atas sebuah batu tepat di hadapanku dan ekornya bergerak gerak di atas kepalanya.
Dia tersenyum ramah seakan dia mengenalku. Dan kemudian tertawa kecil melihat tingkahku. Perlahan lahan tubuhnya bergerak mendekat dengan kedua tangan yang terbuka.
Seketika aku mundur kebelakang waspada dan pasang kuda kuda lari langkah seribu. Seandainya wanita ular itu mau menggigitku.
"Kamu siapa ? Jangan makan aku ya ? Jangan mendekat.!!"
Aku menoleh sekelilingku dan melihat ke arah para pemuda berpakaian kuno aneh itu. Berharap mereka akan menolongku kalau terjadi sesuatu kepadaku. Namun mereka terdiam seperti layaknya patung.
"Ha...ha...ha...jangan takut adikku. Aku tidak akan pernah memakanmu. Kemarilah mendekat , aku sangat merindukanmu adikku."
"Adiiikkkk sejak kapan aku punya kakak , aku kan anak pertama . Apalagi adik dari seekor wanita berbadan setengah ular. Yang benar aja." Ujarku dalam hati sambil melihat ke belakang mungkin saja orang yang di maksud dengan adiknya itu bukan aku tapi orang di belakangku.
Tapi tidak ada siapa pun kecuali para pemuda aneh di belakangku.
"Adiiik ....si..siapa...akuu? Ma.. maaf sampeyan salah orang.." jawabku terbata bata memberanikan diri menjawab kepada wanita aneh itu.
"Iya Embun adikku, kemarilah aku ingin memelukmu, aku sangat merindukanmu "
Ucapnya sembari terus merayap mendekatiku.
Wanita itu berhenti tepat di hadapanku. Matanya berkaca kaca menatap lekat wajahku. Kedua tangannya berlahan terangkat membelai lembut kedua pipiku. Ada seberkas kerinduan dan kesedihan terpancar dari kedua manik matanya.
"Ohhh, Embun adikku. Maafkan lah aku yang telah membuatmu menderita selama ini. Seandainya waktu bisa ku putar kembali. Aku ingin memperbaiki segala yang telah aku lakukan pada kalian semua."
Aku diam terpaku dan tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Wanita itu kemudian memelukku dengan erat sembari terisak lirih. Entah mengapa aku dapat merasakan kesedihan dan penderitaannya selama ini. Dadaku terasa nyeri seperti ada sesuatu yang tertancap di sana. Tanpa ku sadari air mataku mengalir deras seperti anak sungai.
"Embun adikku, tidak ku sangka kita dapat bertemu kembali setelah sekian lama. Ini adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupku. Walau wajahmu sedikit berubah namun kau masih tetap Embun yang sama. Embun maukah kau memaafkan aku?"