*** Giana tidak memiliki pilihan lain selain keluar dari peresmbunyian di kamar mandi setelah setengah jam lamanya sejak Gama memberinya handuk. “Tenang, yang harus kamu lakuin hanya ambil baju terus balik lagi ke sini!” Gia menyemangati dirinya sendiri. Giana menghela napasnya sejenak sebelum membuka pintu. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah Gama yang menatap remeh ke arahnya. Lelaki itu dengan tidak sopan menelanjanginya menggunakan tatapan setan. Membuat Giana tidak nyaman. Gia tahu betul Gama ingin mengerjainya, menakutinya dengan tatapan seperti itu. Sialnya, Giana betul-betul merasa ketakutan. “Kenapa?” tanya Gama dengan santai. Punggungnya yang bersandar di sandaran tempat tindur bergerak. Ia tak segan menatapi bagian tubuh Gia yang tidak memiliki penutup. “Jaga matamu

