*** Giana menggerakan kelopak matanya karena merasa angin seolah bertiup lembut ke arah sana. Tidak seperti biasanya, pergerakannya pun kali ini terasa sempit dan terbatas. Membuat Gia merasakan pegal di seluruh badannya. Perlahan, kelopak mata Giana benar-benar terbuka. Pertama kali yang ia lihat pagi ini adalah wajah seseorang yang akhir-akhir ini melekat di benaknya. Gama. Lalu ketika ia sadar dalam situasi seperti apa dirinya saat ini, pekikan adalah jawabannya. “Aaaaaaa!” diikuti tendangan reflex pada Gama, hingga membuat lelaki tu tersungkur ke lantai begitu saja. Menimbulkan bunyi bedebuk dan ringisan darinya. “Kenapa menendangku?” protes lelaki itu. Giana tidak tahu harus membalas apa. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa mereka tidur dalam keadaan saling berpelukan. Membayangk

