Dalam ruangan khusus, saat ini Leon sedang terbaring lemah tidak sadarkan diri. Luka-luka ditubuhnya telah Luise obati dengan teliti. Namun Luise merasa dua tulang rusuk Leon patah, dan sedikit retakan pada bagian kaki pria itu. Luise terus memantau perkembangan Leon. Ia mulai khawatir setekah dua jam pria itu masih tidak sadarkan diri. Alat dalam ruangan itu sangatlah lengkap, tapi hal itu sama sekali tidak bisa menjamin jika Leon akan baik-baik saja. “Luise, bagaimana kondisi Leon?” Alexa duduk disamping Leon dan mengusap kening pria itu lembut. Setiap dekat dan melihat kondisi Leon, Alexa sama sekali tidak mampu untuk menahan air mata yang mengalir dengan begitu derasnya, dan sulit untuk ia kendalikan. “Dua tulang rusuknya patah.” “Pa-patah...?” Alexa menatap Luise den

