Leon semakin mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Semakin ia mendengar isak tangisnya, semakin nyeri itu terasa kian menjalar dalam hatinya.
Andai saja waktu bisa Ia putra kembali, sudah dapat dipastikan Ia akan menemui Alexa lebih dulu dan menyelamatkannya dari pria-pria seperti Rey dan Heru.
Leon memegang lengan Alexa dan menjaga jarak dengan gadis itu. Ia menatapnya dengan lekat. Mata Alexa merah karena terlalu lama menangis, masih terlihat jelas sisa-sisa air mata di wajahnya.
“Sssttt... Jangan menangis lagi!” Leon mulai menyekai sisa air mata di wajah cantik Alexa. “Jangan sia-sia kan air mata mu yang berharga ini. Cukup! Kuatlah mulai sekarang. Kubur semua luka lama mu dan hiduplah dengan baik. Ada aku di sini, bersama mu, selamanya.”
Tangan kekar itu menangkup kedua pipi Alexa yang merah merona. Terlalu lama dalam pelukan Leon cukup membuat itu kepanasan, di tambah lagi dengan sikap pria itu yang begitu lembut dan manis. Tidak bisa Ia pungkiri, jika saat ini hatinya menghangat.
Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain, membuat jantung mereka berdegup kencang . Untuk saat ini mereka berdua sama sekali tidak bisa mengontrol degup jantung masing-masing. Napas Alexa tiba-tiba memburu saat Leon tanpa sadar mulai mengikis jarak yang ada di antara mereka. Semakin lama, jarak itu hilang dan akhirnya kedua bibir itu bertemu, menempel sempurna.
Spontan, Alexa menutup matanya dan menerima ciuman Leon. Ini bukan kali pertama mereka seperti ini. Jika di hitung, ini adalah kali ke tiga mereka hanyut dalam perasaan yang berbeda. Leon juga adalah pria yang sudah mencuri first kiss miliknya dan entah kenapa Alexa merasa merindukan momen itu.
Leon mulai melumat bibir manis itu dengan penuh kelembutan. Kepala Leon bergerak, dan tanpa di duga Alexa mengikutinya dengan baik. Bahkan Alexa membuka diri dan membiarkan Leon bermain dalam dirinya.
Lenguhan lembut terdengar saat Leon memaksakan lidahnya menjelajah, membelit lidah Alexa dan bergerak lincah setelahnya. Entah bagaimana, tapi sekarang Alexa tiba-tiba sudah berada di pangkuan Leon dengan pagutan bibir yang belum terlepas.
“Tuan, nona... Tuan Aji ingin bertemu—Maaf, saya permisi!” Cla merasa menjadi orang paling bodoh karena Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebi dulu. Seharusnya ia tahu, jika pasangan pengantin baru pasti sedang dalam masa penuh kemesraan.
Sadar jika Cla sudah memergoki mereka berdua. Alexa langsung berjingkat dari pangkuan Leon dengan wajah semerah kepiting rebus. Alexa benar-benar salah tingkah dengan apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. Dengan begitu bodohnya, ia justru menikmati ciuman mereka dan berakhir dengan rasa berbeda, bahkan berharap lebih.
“Maafkan aku Alexa! Aku tidak berniat untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu—Aku benar-benar menyesal,” lirih Leon.
Pria itu saat ini benar-benar merasa kacau. Bagaimana bisa Ia lupa untuk mengontrol dirinya sendiri saat berhadapan dengan Alexa. rasa bersalah mulai timbul. Leon takut jika Alexa mengira jika Ia sama saja dengan Rey.
“Tidak apa-apa! Bukankah aku milikmu?” Alexa berkata demikian tanpa berani menatap Leon.
Setelah itu Alexa berlari kecil menuju kamar mandi dan mengurung diri di sana sampai jantungnya kembali normal.
“s**t!! Kenapa aku sampai mencium dan membawanya ke atas pangkuan ku?” Leon mengacak rambutnya kasar, ia frustasi dengan apa yang sudah terjadi padanya dan Alexa.
Leon tidak bisa tinggal lebih lama lagi dalam kamar Alexa. Ia segera kembali ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Sesuatu di bawah sana sudah menegang hebat dan akan sangat sulit untuk menidurkannya kembali.
Dengan tangan kekarnya, Ia mulai menyentuh adik kecilnya yang sudah menjulang itu. Leon sedikit mendesah saat fantasinya bermain dengan begitu liar. Ia membayangkan jika Alexa yang saat ini sedang menggoda dirinya dan melakukan hal yang sudah Ia bayangkan kenikmatannya. Tidak berselang lama terdengar erangan keras dari dalam kamar mandi, dan suara shower terdengar kemudian.
***
Malam pun tiba, semua orang saat ini sudah berkumpul di meja makan termasuk Leon dan Alexa.
Tidak ada yang mau memulai percakapan malam ini. Pengantin baru itu terlihat canggung satu sama lain, bahkan mereka menghentikan gerakan tangan mereka saat ingin mengambil lauk yang sama. Apa yang terjadi tentu saja membuat Aji merasa ada yang aneh, tapi ia tahu pasti apa itu.
“Kalian sudah bekerja keras ‘kan? Jadi makanlah yang cukup,” ujar Aji dengan tersenyum nakal.
Rona di pipi Alexa semakin terlihat jelas saat mendengar perkataan Aji. Ia malu, tentu saja. Meskipun mereka tidak sampai pada titik itu, tapi apa yang tarjadi sore ini benar-benar membekas dalam ingatan gadis itu. Kelembutan Leon benar-benar membuat Alexa melayang dan merasa rela jika Leon melakukan lebih dari sekedar menciumnya.
Tidak ada paksaan sedikit pun dari Leon dan itu semakin membuatnya hanyut dan ikut larut dalam permainan bibir yang Leon berikan. Tanpa sadar, Alexa tersenyum dengan menatap piring yang sudah berisikan nasi dan lauk yang cukup banyak. Ia tidak menyadari jika sejak tadi Aji meminta Leon untuk mengisi piringnya dengan apa yang sebelumnya ingin Ia ambil.
“Tadi siang kalian pergi kemana saja?” tanya Aji secara tiba-tiba.
“Eh, iya pa?”
“Papa tanya, tadi siang kita kemana saja,” ulang Leon.
Alexa tersenyum canggung pada Leon dan menatap Aji.
“Alexa sama Leon main ke kafe pa, makan ice cream,” jelasnya singkat.
“Apa papa tahu, menantu papa ini memesan banyak ice cream dan aku yang harus bertanggung jawab menghabiskan semuanya!” timpal Leon cepat. Ia benar-benar tidak ingin tinggal diam saja.
Alexa hanya mendelik pada Leon dan kembali melanjutkan makannya. Reaksi terkejut jelas terlihat saat ia melihat piringnya sudah sangat dipenuhi dengan lauk. Ia memang menyukai semua itu, tapi bukan berarti Ia bisa menghabiskan semuanya.
“Kita suami istri ‘kan?” Alexa menyikut lengan Leon. Pria itu mengangguk sebagai jawaban. “Jadi kalau begitu kita harus berbagi!”
Dengan cepat, Alexa memindahkan beberapa lauk yang ada dipiringnya pada piring Leon yang nyaris bersih. Pria itu hanya bisa menganga tidak percaya saat piringnya sudah kembali teisi penuh.
“Alexa...” suara Leon sedikit tertahan.
“Aku tidak bisa makan sebanyak itu, Leon, jadi bantu aku ya...” Alexa mengedipkan sebelah matanya tanpa ragu.
Diam-diam Aji hanya geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya. Ia tidak pernah menyangka, jika ia bisa melihat sebuah kebahagiaan yang awalnya sangat tidak mungkin. Aji benar-benar bersyukur, karena Ia masih mendapatkan sebuah kesempatan untuk bahagia.
“Sudah-sudah! Kalian habiskan makanan itu berdua dari satu piring yang sama. Papa sudah kenyang melihat kemesraan kalian,” kata Aji dengan berlalu pergi meninggalkan meja makan.
Pria paruh baya itu tidak benar-benar pergi, Ia diam di salah satu sudut dan memperhatikan anak dan menantunya yang masih berdebat gara-gara makanan.
“Aku nggak mau tahu! Kamu harus bantu aku makan.”
“Ayolah Ale, apa kamu ingin melihatku jadi pria gendut?”
“Bodo amat!”
“Kalau begitu kita harus menjadi gendut bersama-sama, Ale ku sayang,” Leon mencubit pipi Alexa pelan.
“Jangan panggil aku Ale, oke!!”
Leon tertawa melihat reaksi alexa yang tidak suka dengan panggilan barunya. Tapi lain Alexa, lain juga Leon.
Pria itu justru sangat menyukai panggilan barunya untuk Alexa. Ia merasa panggilannya sama sekali tidak buruk dan Ia akan tetap memanggil istrinya dengan nama Ale.
“Ale, Ale, Aleeee... Ale istriku.”
Kesal, akhirnya Alexa menyumpal mulut Leon dengan ayam yang cukup besar, sampai pria itu terkejut luar biasa. Dengan cepat ia mengeluarkan ayam dari mulutnya dan langsung memanggil Alexa dengan sedikit berteriak layaknya orang tidak waras.
“Ale, istri ku! Jangan tinggalkan aku...”
“Dasar tidak waras!”
***
Sejak pertemuan pertamanya dengan Alexa dan Leon, Rey sama sekali belum menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Ia masih kesal dengan sikap Lingga yang sama sekali tidak peduli dengan perasaannya. Sejak lama, Rey mencintai Alexa, tapi gadis itu selalu menolaknya. Dan sekarang Lingga juga tidak mendukungnya.
Malam ini Rey memilih untuk tidur di apartemennya, Ia malas untuk berhadapan dengan keluarganya. Malam ini ia akan bersenang-senang dan membayangkan bagaimana jika Ia bisa tidur bersama Alexa. Rey hanya bisa mendesah saat membayangkan hal itu.
“Alexa ku sayang... Aku yakin milik mu akan sangat terasa nikmat,” gumamnya dengan menutup mata, membayangkan kemolekan tubuh adik tiri nya yang sudah pernah ia lihat saat gadis itu sedang mandi dalam kamarnya.
Tapi saat ia berusaha untuk membayangkan kenikmatan itu, muncul bayangan Leon dalam benaknya yang sedang tertawa bahagia bersama Alexa. Keduanya terlihat sangat bahagia, bahkan Rey melihat semua kenyataan itu. Saat itulah Ia semakin membenci Leon.
“Leon! Anak sialan itu tidak pantas bersama Alexa ku.”
Rey bangkit dan langsung bersiap untuk pergi ke klab malam. Ia tidak ingin terus membayangkan Alexa dan Leon, karena malam ini lebih baik Ia pergi dan mencari cara untuk menemukan dimana gadis itu berada. Setelah itu Ia akan bisa mengambilnya dari tangan Leon.
“Kau adalah milik ku Alexa!”