INDONESIA (Bab II)

1090 Kata
"Pak Soni, tolong urus semua dokumen untuk Kenichi, termasuk urusan sekolah dia yah." Belum juga sampai di dalam rumah Mamaku kembali bicara pada pak supir yang kutahu namanya Pak Soni, aku yang berusaha mengerti mereka sedang mengucapkan apa membuat Mama tersenyum. Begitu memasuki rumah aku sedikit terkejut, sebenarnya ini rumah atau istana, bahkan temanku yang paling kaya di Jepang tidak memiliki rumah sebagus ini, ini semua membuatku bersyukur. Mama menatapku heran. "Kenichi sayang, capek yah ? kenapa gitu banget liatnya ?" "Tidak, Aku cuma heran Ma. Seingatku rumah kita tidak seperti ini." "Papamu membeli rumah ini 1 bulan yang lalu. Terakhir kamu pulang musim semi tahun lalu sayang. Kamu sih pulangnya jarang-jarang. Mau lihat kamar kamu gak ?" Aku merasa tidak enak, kalau sudah begini hatiku jadi agak perih, aku memang orang yang sangat perasa, hatiku terlalu lembut untuk mendengar sedikit saja kekecewaan, sungguh aku ini lelaki yang lemah. "Oke Ma, aku juga ingin istirahat." Mama mengajakku ke lantai 2, letak kamarku bersebelahan dengan kamar kakak perempuanku. Ruangan ini 3x lebih besar dari kamar yang disediakan oleh Pamanku di Kyoto, aku suka kamar ini, cat nya biru dongker warna favoritku, lengkap dengan tembok yang dipasangi peredam suara, ku lihat ada 2 buah gitar bertengger elegan di temboknya, lengkap dengan amplifier yang ukurannya cukup besar. Mataku berbinar, benar-benar Mama dan Papa sudah mempersiapkan semuanya, rayuan ini sangat sulit untuk ku tolak. "Mama, kali ini rayuan Mama dan Papa akan kuterima." "Tentu sayang, kamu akan tinggal disini bersama Mama dan Papa. Tapi kamu tenang saja, kita akan sering pergi ke Jepang untuk menemui Paman dan Bibimu, mereka adalah keluarga mama yang tersisa." Karena lelah kini aku berbaring, Mama meninggalkanku, ada urusan bisnis katanya. Aku hanya menatap kosong langit-langit kamarku yang berwarna senada dengan cat temboknya. Bahkan aku terlalu malas untuk sekedar menutup pintu, "Kenichi, ini handphone baru kamu." Mama kembali datang dan membawa sekotak Handphone lengkap dengan nomor baruku. Aku tidak terlalu mementingkan barang ini, "Lalu ini laptop untuk keperluan sekolahmu, dan itu Mama sudah belikan Komputer untuk kamu main. Mama tahu kamu selalu pergi ke warnet selama di Jepang." Aku bahkan tidak melihatnya, kenapa barang itu luput dari pandangan mataku. Kini aku sudah melihat dengan jelas, seperangkat PC Gaming yang juga aku impikan, aku seperti baru saja dipungut dari panti asuhan, padahal aku adalah anak kandung Mama dan Papa. "Terima kasih Mama, Ken sayang Mama." kataku sambil memeluk Mama. Note : Anggap saja percakapan ini menggunakan Bahasa Jepang hehe, "Sama-sama sayang. Tapi ingat jangan banyak main, oh iya kamu harus mengikuti les bahasa Indonesia mulai minggu depan. Juga kamu akan segera masuk sekolah barumu, disana sekolah bilingual jadi tidak perlu khawatir, cukup gunakan bahasa inggrismu disana oke." "Mama mengejekku ya ? mana bisa aku bahasa inggris Ma ? Lagipula kenapa tidak langsung masuk sekolah yang menggunakan Bahasa Indonesia ?" Tentu saja aku menggerutu, memang Mama pikir aku tinggal di Inggris. "Ken, bukannya nilai Bahasa Inggrismu cukup tinggi ? kenapa kamu bilang begitu ?" Tanya Mama heran. "Ma, iya soal pelajaran Ken tidak masalah, tapi Ken tidak bisa menggunakannya untuk bahasa sehari-hari." "Yasudah, nanti Mama bilang ke Papa. Kamu aktifin dulu handphone nya ya, ada nomor Mama Papa dan Kakakmu disitu. Ada juga w******p nya udah Mama setting, semoga kamu suka ya." "Haik Mama." Aku kembali merebahkan badanku dikasur, mengecek Handphone ku yang tadi diberikan Mama, lalu aku berinisiatif untuk menelpon Kakakku. Cukup lama aku menunggunya menjawab tapi dia belum juga menjawabnya, akhirnya kuputuskan untuk membuka tasku dan merapikan beberapa barang bawaanku dari Jepang. Tak lama Handphoneku berdering, Kakakku menelpon balik, "HALO KEN..." "Halo Kak.." "Stop. Kamu udah di Jakarta jadi jangan pake bahasa Jepang. Coba ngomong Indonesia sama Kakak." "Kakak mengejek ?" Jawabku masih menggunakan bahasa Jepang. "Jemput Kakak dong ! Kakak kangen nih, tapi masih harus syuting dan sesi pemotretan satu lagi. Yah yah mau yaa." "Kak ! Aku harus kemana ? naik apa ? Kakak bisa Share Lokasi nya ?" "Maaf Ken hehe, coba deh kamu minta Pak Soni aja. Beliau tahu kok Kakak dimana. Pokoknya Kakak gak mau tahu, kamu harus dateng. Awas aja" "Mendokusai..." "Oh jadi ngerepotin nih ? yaudah deh gak usah dateng. Byee !!" Begitulah Kakakku, dia pasti akan ngambek. Aku lantas mencari Mama, mau tidak mau dan suka tidak suka aku harus datang menjemputnya. Aku mencari-cari Mama di semua ruangan, rumah ini sangat besar sungguh, aku hampir tidak menemukannya dimanapun. Aku hanya tersenyum ramah apabila bertemu dengan pelayan di rumah kami. Karena lelah akhirnya aku memutuskan untuk menelpon Mama. Hah aku merasa seperti balita. "Kenapa Ken cari Mama ?" "Ano, Kakak minta dijemput Ma." Ucapku membuat Mama kaget. "Biar Mama telpon dia, kamu naik ke kamar terus Tidur." Akhirnya masalah ini selesai, tentu saja aku lebih memilih untuk tidur. SKIP Ken Pov END Ken yang akhirnya memutuskan untuk tidur kini sudah terbangun, cukup lama dia memasuki alam mimpi, sampai akhirnya membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah Kakak perempuannya yang menatapnya dengan muka masam. "Jadi gitu yah, ngadu-ngadu ke Mama. Awas aja kamu." Katanya dengan bahasa Indonesia. "Gomen One-chan." Ken meminta maaf, sambil berusaha mencerna kata-kata sang Kakak. "Huh, untung Kakak kangen. Yasudah, mending mandi deh sana. Mama udah masak nanti kamu langsung ke meja makan. Papa juga udah pulang tuh buat makan bareng kamu." Ken segera bangkit, dan bersiap. Tanpa bicara sepatah katapun. Meja makan sudah terisi penuh dengan masakan, masakan khas Indonesia yang dimasak langsung oleh Sayaka. Ken menatap meja makan datar, dia bingung tidak biasa dengan masakan Indonesia yang kini tersaji di depan matanya. "Kenichi, ayo makan. Jangan cuma diliatin aja." Titan sang Mama "Ken bingung ma. Mau makan apa." "Itu rendang atau ayam bakar, pilih aja yang kamu suka." "Ma, jangan pake bahasa Jepang dong. Kan sekarang Ken bakal tinggal di Indonesia." Lia berkomentar. "Adikmu belum terbiasa Lia." Lia hanya merengut kesal karena sang Papa tidak membelanya. Mereka sekeluarga makan dengan khidmat, Ken yang awalnya ragu, akhirnya memakan rendang dan ayam bakar sekaligus, dia merasa cocok dengan rasanya. Lidahnya sudah bertahun-tahun terbiasa dengan masakan Jepang. Kalau dia tidak makan pasti Mamanya akan sedih. Setelah acara makan malam bersama, Ken sedang duduk bersama Papa nya. Mereka berbicara tentang kelanjutan sekolahnya, tidak ada penolakan dari Ken, kecuali 1 dia ingin bersekolah di sekolah yang biasa saja, dan dia berjanji akan kembali belajar Bahasa Indonesia. Hari-hari berlalu, Ken agaknya sudah terbiasa dirumah ini, kemampuan Bahasa Indonesia nya juga berkembang pesat, meskipun sulit tapi Ken tetap berusaha. Aksen Jepang dalam nada bicaranya masih sangat kental terdengar. ~To Be Continued~ Indeks : Haik = Iya. Mendokusai = Merepotkan. Gomen One-chan = Maaf Kak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN