Kenichi Almachzumi (Bab I)

1088 Kata
Langit malam kota Kyoto bertabur putihnya salju, tahun ini menjadi lebih dingin dari tahun-tahun yang sudah terlewati. "Samui ...." Lelaki itu bergumam, giginya menggertak dia sangat kedinginan. Tahun ini menjadi begitu kelabu, pada dasarnya dia tidak menyukai musim dingin, ditambah ini adalah momen terberat baginya. "Hey nak, masuklah. Apa kau sangat ingin pamanmu ini dibunuh oleh ibumu ?" "Chottomatte Ojisan" "Haaaah, sudahlah. Sekarang masuk kerumah, Bibimu sudah menyiapkan air hangat." Perdebatan itu berakhir. Si lelaki masuk dan menuruti perintah pamannya. Hanya butuh beberapa belas menit dia sudah menyelesaikan ritual mandinya, membuat badannya hangat, saat ini paman serta bibi nya tengah sibuk melayani pelanggan seperti biasa. Pamannya membuka toko Ramen Halal di Kyoto. Kadang dia juga ikut membantu meski sang paman melarang keras. "Ojisan, ada yang bisa kubantu ?" "Ken-chan, Bibi sudah siapkan makanan, silahkan makan dulu setelah selesai baru kesini." Jawab sang Bibi. "Baik," Lelaki bernama Ken langsung pergi untuk menyantap makanan, dia sendiri adalah anak yang penurut, sangat penurut. Dia tidak pernah membantah apapun yang Paman dan Bibinya perintahkan, tinggal di luar negeri tanpa kedua orang tua memang berat. Paman dan Bibinya adalah orang yang sangat baik, maka dari itu Ken akan menuruti semua perintah mereka. Saat sedang menikmati makanan sambil menonton tv, Pamannya menghampiri, "Ken, Paman sudah membuat keputusan, sesuai perkataan Ibumu, 2 hari lagi kamu harus pulang ke Indonesia." Dia sudah menduga nya, karena kejadian hari itu pasti Ibunya akan memaksanya untuk pulang. Walau sedikit kecewa tapi dia harus menurut. "Ah, Aku mengerti Paman. Lalu bagaimana dengan sekolahku ?" "Tidak masalah, Paman akan urus semuanya. Lebih baik kau siapkan keperluanmu, kau masih punya waktu seharian besok untuk menikmati keindahan Kyoto." "Haha, bagaimana bisa aku menikmatinya, bukankah Paman ingat kalau aku tidak terlalu menyukai musim dingin." "Baiklah, lupakan semua masalahmu disini. Jangan sampai kau membawanya ke Indonesia. Aku juga tahu kau lebih mencintai Jepang dibandingkan negara ayahmu Indonesia, tapi ini sudah keputusan Ibumu. Ingatlah jika kau kembali kesini kabari paman, kau boleh tinggal disini lagi." "Terima kasih Paman. Sebaiknya aku menyiapkan barang-barangku dari sekarang." Ken beranjak pergi menuju kamarnya, dia menatap sekeliling ruangan yang tidak terlalu besar itu. Jujur Ken lebih mencintai Jepang dibandingkan Indonesia, wajar saja sejak SD dia sudah tinggal di negeri asal Doraemon ini, seluruh budaya dan aspek-aspek kehidupan orang Jepang sudah sangat dihafalnya, sekarang dia harus meninggalkan negara ini dan kembali ke Indonesia, tempat kelahiran sang Ayah, negeri yang sangat dicintai oleh Ayahnya. Dia harus bisa menerima takdirnya. Skip 2 hari berlalu, pikirannya masih berkecamuk, lagu Hitomi no Jyuunin masih setia mengisi harinya. Pagi-pagi sekali dia sudah berada di bandara Kansai. Dari sana dia akan terbang menuju Jakarta. Paman dan Bibi nya menutup sementara toko Ramennya, mengantar keponakan yang sudah mereka anggap anak sendiri. Sang Bibi, Ayame masih saja menangis, padahal kemarin-kemarin dialah yang paling tegar. Ayame jugalah orang yang paling senang saat kedatangan Ken pertama kali. "Bibi, Nakanaide " "Ken-chan, Ikanaide .. " Ken tersenyum, dia memeluk bibinya hangat. "Shinpai suru na, Ken akan sering-sering menelpon. Jaga paman baik-baik, ingatkan dia kalau sekarang sudah tidak boleh meminum sake. Hehe Ken akan baik-baik saja." Ayame tersenyum, rasanya sangat berat sekali. Saat Sayaka, Ibu Ken, menerima permintaannya untuk merawat anak itu, Ayame sangat senang. Ken hadir sebagai hadiah yang sangat istimewa. Ayame sendiri tahu perpisahan ini akan terjadi, berpura-pura tegar juga percuma saja rasanya. "Ken-chan, jika kau ingin kembali maka kembalilah lagi kesini. Disini paman dan bibi akan selalu menerimamu." Ken mengangguk, diapun pergi meninggalkan Paman dan Bibinya, orang tuanya selama di Jepang. "Sudahlah Ayame, jangan menangis lagi. Aku tahu ini berat, tapi Kakakku lebih berhak terhadapnya dibanding kita." Yoshiki berusaha menenangkan istrinya. "Iya aku tahu, maafkan aku Yoshiki, karena aku kita tidak bisa memiliki anak." "Aku mencintaimu Ayame." Meski tersenyum kecut, Ayame sangat tahu jika suaminya itu sangat tulus mengatakannya. Disinilah Ken, duduk dibangku pesawat, hanya diam, lagu Hitomi no Jyuunin lagi-lagi menemaninya, entah sudah berapa kali dia dengarkan, hatinya jelas masih menolak, tapi sebagai seorang anak dia harus berbakti. Paman dan Bibinya selalu berpesan bahwa dia harus berbakti kepada orang tuanya apapun kondisinya. Ken memegang teguh pesan tersebut, dan selalu menjalani sepenuh hati. Karena terlalu banyak pikiran, Ken akhirnya terlelap. Waktu berlalu, saat ini Ken sudah tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, setelah mengambil koper miliknya dia berjalan dan mencari jemputannya. Tak lama, dia bertemu dengan seseorang yang amat dia kenali, wanita yang sudah melahirkan dia ke dunia, wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Walau jarang berkunjung ke Indonesia Ken tidak akan lupa bagaimana wajah Ibu nya. "Kenichi," Begitulah panggil sang Ibu. "Mama..." "Eh, Daijoubu Desuka ?" "Hem, Ken hanya sedikit pusing. Mama apa kabar ?" "Tentu saja Mama baik, sangat baik malah. Akhirnya kamu kembali kesini bersama Mama." "Kupikir Mama lupa hehe." "Kau mengejek Mama ?" "Tidak Ma, kenapa hanya Mama yang datang ?" "Papamu masih berkutat dengan pekerjaannya, Kakakmu juga ada pemotretan. Jadilah hanya Mama yang datang." "Ken mengerti Ma." "Kamu ingin makan dulu atau kita langsung pulang ?" "Langsung pulang Ma." Ken PoV Kami pun pergi dengan mobil jemputan, aku memandangi keluar jendela, kota Jakarta sudah sangat berubah, aku bahkan tidak pernah ingat kalau sekarang sudah seperti ini. Tak lama mobil berjalan, kemacetan sudah datang menghadang, aku ingat yang satu ini, Jakarta selalu macet. Bahkan jalan pulang kerumah aku tidak ingat sama sekali. Sekelebat pikiran, dan rasa malas masih menghantuiku, bagaimana nanti sekolahku disini, aku sengaja tidak mengecek HP karena sudah pasti aku akan diberondong pertanyaan oleh teman-temanku di Jepang. Mobil kami berhenti didepan rumah mewah di kawasan pondok indah, begitu Mamaku menyebutnya. Aksen Jepangku membuatku agak sulit mengucapkan beberapa kata Indonesia, Mamaku sendiri malah sudah sangat lancar berbahasa Indonesia. Sungguh keadaan ini berbeda dengan rumah Paman di Kyoto, rumah sederhana yang di sampingnya ada kedai Ramen yang bahkan sudah kurindukan saat ini. Papaku adalah seorang pebisnis sukses di Jakarta, Papa bahkan sudah punya 2 perusahaan, dan keduanya adalah perusahaan besar, ibuku sendiri memiliki butik yang cabangnya sudah ada sampai Jepang. Aku memiliki kakak perempuan, kami sangat sering berkomunikasi saat aku jauh darinya, dia selalu bercerita bagaimana keadaannya, yang kutahu dia sekarang menjadi selebgram, dia cukup populer di Indonesia, selain menjadi selebgram, Kakakku itu juga seorang Youtuber, bagaimana bisa aku yang pendiam begini memiliki seorang Kakak yang sangat humble dan begitu bersahabat dengan siapapun. Kata Mama semua yang ada pada diriku menurun darinya, termasuk wajah khas Jepang yang kumiliki. ~ To be Continued ~ Indeks Samui = Dingin. Chottomatte Ojisan  = Tunggu sebentar  Paman. Nakanaide = Jangan menangis. Ikanaide = Jangan pergi. Shinpai suru na = Jangan khawatir. Daijoubu Desuka = Kamu tidak apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN