Andai saja aku lebih cepat lima menit saja, mungkin aku tidak perlu melihat wajah Reyhan lagi. Karena pada akhirnya yang kudapatkan hanyalah rasa sakit. Setiap kata yang keluar dari bibirnya, bak jarum yang satu persatu menusuk jantungku. "Aku akan segera pergi jika itu maumu..." kataku terbata karena sedikit kikuk dengan situasi ini. Cepat-cepat aku meraih tasku dan bangkit berdiri. "Permisi..." Tanpa memedulikan tatapan dua pasang mata yang terkunci padaku. Aku melangkahkan kakiku dan ketika aku berjalan melewati Reyhan, sebelah tangannya menangkap lenganku. Sontak kedua mataku membesar dan wajahku menoleh untuk memandang ke arahnya. "Siapa yang menyuruhmu untuk pergi?" Perlahan Reyhan memutar lehernya dan memandangku. "Apa kamu sebegitu inginnya meninggalkan kami?" "Rey..." Aku mene

