"Tidak ada gunanya seorang penolong yang selalu menghina atau teman yang selalu berburuk sangka." -- Ali bin Abi Thalib.
Sejak kejadian bersama Putra dan Edo dulu, sudah seminggu lebih Dinda tak pernah masuk sekolah. Heni sudah meminta maaf saat itu pada Dinda, dia hanya ingin Dinda segera istirahat sejak itu, tapi tidak tau cara meminta Putra dan Edo pulang dulu tanpa mengusir, jadilah kata-kata untuk meminta Edo menemani Dinda terlontar dari mulut Heni. Berulang kali Heni dan mamanya termasuk Zahara membujuk Dinda itu pergi sekolah, tapi Dinda tak menggubrisnya, sibuk terdiam di pojokan setelah membantu mama Heni membungkus keripik dan membersihkan rumah.
"Heni."
"Apa lo?!" Heni melirik kesal Fauzi yang datang ke bangkunya, menatap malas sepupunya itu kini.
"Gimana keadaan Dinda?" tanya Fauzi canggung.
"Gak perlu lo tau," jawab Heni sambil menutup kotak makanannya, tak lagi berselera.
Zahara hanya diam, melanjutkan mengunyah makanannya. Melirik sekali-kali Heni dan Fauzi.
Fauzi masih berdiri di depan meja Heni, bersikukuh.
"Gue udah bilang kan? Jangan pernah dekati Dinda lagi, apalagi menanyai kabarnya. Lo gak usah sok peduli! Dan jangan pernah sebut nama Dinda dengan mulut kotor lo itu lagi!" Heni berdiri, melotot pada Fauzi.
Zahara menarik tangan Heni, menyuruh Heni untuk duduk kembali. Zahara melempar pandangannya ke Fauzi. "Fauzi... Dinda tidak baik-baik saja." Zahara tersenyum tipis pada Fauzi. "Setelah apa yang kamu lakukan saat itu, Dinda sangat terpuruk, kondisinya lebih buruk daripada saat--"
"Ara!" seru Heni tak percaya Zahara mengatakan semuanya pada Fauzi.
"Daripada saat dia melihat ayahnya dalam kondisi paling b***t. Kamu bisa membayangkannya kan? Jadi jangan pernah muncul lagi di hadapan Dinda, kamu tak ingin melihat Dinda lebih tersakiti kan? Dan satu lagi, jika suatu hari Dinda bisa menerima keadaannya, jika suatu hari yang kita tidak tau apa benar hari itu akan datang, di saat Dinda telah mampu menerima masa lalunya, termasuk kamu dan ayahnya, maka datanglah kembali kehadapannya, minta maaflah, sesalilah perbuatanmu, tapi jangan pernah masuk ke dalam kehidupannya lagi." Zahara menatap serius ke arah Fauzi. Heni terdiam, membenarkan kalimat Zahara. Heni tak masalah jika Fauzi muncul kembali ke hadapan Dinda, tapi dengan syarat saat Dinda mampu menerima masa lalunya itu-- yang pasti Heni dan Zahara pun tak tau apa Dinda bisa melakukannya.
"Pamanku pernah bilang, ada 2 hal yang membuat seseorang kuat, pertama adalah karena dia memang mempunyai tekad yang kuat untuk meraih apa yang dia inginkan, yang kedua adalah karena dia mampu berdamai dengan kehidupan dan kisah-kisah menyedihkannya, yang membakar emosi, menyayat kehidupan." Zahara meneguk minumannya, kembali melanjutkan kalimat yang pernah dia dengar dari pamannya. "Tapi... jika seseorang tidak mampu berdamai dengan kehidupan dan kisah-kisah menyedihkannya, yang membakar emosi, menyayat kehidupan, maka ada 2 kemungkinan yang akan terjadi pada orang itu, pertama dia menjadi orang paling b***t sedunia, dan yang kedua dia hidup, tapi seperti mayat hidup."
"Menyakitkan bukan?" Zahara melirik Fauzi, menatap kosong.
Fauzi terdiam, menunduk. "Maaf... dan terima kasih." Fauzi langsung pergi dari bangku Heni, keluar kelas.
Zahara melanjutkan makannya. Heni menekuk tangan di bawah dagu, melirik pintu kelas, terdiam.
"Ara... aku jadi ingat, apa temannya kak Putra itu sudah minta maaf padamu?" tanya Heni.
"Hmm... maksudmu kak Edo?"
"Yah, orang itu." Heni menghela nafas.
"Ya. Aku tidak tau kenapa dia meminta maaf, sepertinya dia tak ada salah padaku, tapi sudahlah, aku juga tak mau tau." Zahara menutup kotak makannya, kembali minum.
Heni tersenyum tipis. 'Zahara banget ya.'
oOo
Selama sebulan ini Heni memberikan catatannya di sekolah pada Dinda, Dinda menerima catatan Heni, membacanya, tapi tak pernah mencatatnya. Tugas latihan dan pr yang diberikan Heni pada Dinda juga tidak pernah dikerjakan Dinda.
Pihak sekolah sudah memberi Dinda surat peringatan sejak Dinda libur sekolah selama sebulan ini, Dinda tak lagi peduli jika ia dikeluarkan dari sekolah. Saat surat peringatan dari kepala sekolah itu datang, mama Heni sebagai wali Dinda pergi menemui kepala sekolah, meminta pihak sekolah memberi Dinda kesempatan dan cuti, tapi tetap tidak menjelaskan kenapa Dinda jadi seperti itu, jika dijelaskan, maka Fauzi bisa kena hukuman, walau ia memang pantas dihukum, tapi yang paling parah adalah rumor buruk tentang Dinda akan terjadi, Heni melarang mamanya untuk melakukan itu.
Pihak sekolah hanya menduga-duga bahwa Dinda tidak masuk-masuk ke sekolah karena masalah keluarganya, karena ayahnya, karena kematian neneknya yang dulu tinggal bersamanya. Wali kelas Dinda juga sudah datang menemui Dinda, menanyai kabar Dinda, Dinda hanya duduk diam, sama sekali tidak menjawab perkataan wali kelasnya, bahkan mendengarkan pun mungkin tidak.
Heni menghela nafas berat, mengulurkan tangannya sampai ke sisi batas meja, menelungkupkan kepala.
"Ada apa Heni?" tanya Zahara heran, sibuk menyalin nama-nama murid di buku absensi guru-- tadi Zahara dimintai tolong oleh wali kelas.
"Aku capek lihat Dinda yang sekarang."
"Gak ada gitu orang yang bisa mengerti Dinda? Atau orang yang dianggap Dinda spesial?" tanya Zahara yang kini mengganti pena hitam jadi pena merah, kembali menulis.
"Dianggap spesial? Jadi kita gak dianggap spesial dong?!" kaget Heni, langsung duduk tegap.
"Gak gitu, mungkin Dinda gak bisa seterbuka itu sama kita sahabatnya. Aku tau Dinda percaya sama kita, tapi memang ada beberapa hal yang mungkin gak bisa diobrolin sama sahabat kan?" Zahara tersenyum tipis.
Heni diam, memikirkan seseorang itu.
"Jadi... seseorang yang dianggap Dinda seperti keluarga?"
"Yah... bisa dibilang begitu. Selain ayah Dinda."
"Itu orang gak dianggap sama Dinda loh Ra," heran Heni.
"Gak boleh gitu, sebejat-bejatnya ayah Dinda, kita tetap tidak bisa menolak fakta bahwa Dinda adalah darah dagingnya kan?"
Heni mengangguk.
"Seseorang yang sejak kecil sudah mengenal Dinda, seseorang yang tulus perhatian pada Dinda, seseorang yang dihormati dan dihargai oleh Dinda. Ada ya orang kayak gitu?" Heni bergumam sendiri, menatap langit-langit kelas.
Zahara mendadak berhenti mengayunkan pena. Zahara dan Heni saling tatap, terkejut. "Kak Putra!" seru mereka bersamaan.
Di waktu yang sama, saat dosen menerangkan materi di kelas.
Putra tiba-tiba merinding, meraba tengkuk lehernya.
"Ada apa Put?" tanya Edo heran.
"Ah gak ada apa-apa." Putra menggeleng, bingung. Kembali menyimak apa yang sedang diterangkan oleh dosennya.
oOo
Pulang sekolah Zahara langsung berlari kecil menemui abinya.
"Heni, aku duluan ya!" seru Zahara sambil melambaikan tangan.
Heni tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Hati-hati Ara, Abi. Sampai besok."
Abi Zahara tersenyum tipis pada Heni. "Kami duluan ya Heni."
Heni melirik ponsel sekali-sekali sambil menunggu angkutan umum datang. Menyender di pohon besar. Heni dan Zahara sudah menghubungi Putra tepat setelah bel pulang sekolah mereka berbunyi tadi.
"Halo Assalamu'alaikum Kak Putra." Zahara ikut mendengarkan percakapan Heni dan Putra, sudah di-loadspeaker.
"Wa'alaikumsalam Heni. Ada apa? Ada yang bisa Kakak bantu?" Suara Putra terdengar ramah di balik telepon.
"Ehm... jadi gini Kak..." Heni mulai menceritakan semua yang terjadi tentang Dinda dan Fauzi, tentang apa saja yang jadi dampak dari perbuatan Fauzi itu pada Dinda ke Putra dengan rinci dan singkat.
Putra yang berada di balik telepon kaget, ingin rasanya dia memukul Fauzi saat ini, di detik ini juga, karena bagaimanapun Putra sudah menganggap Dinda sebagai adik perempuannya sendiri.
"Saat ini juga Kakak akan berangkat ke rumahmu, Kakak akan bicara dengan Dinda... dan tentu saja setelah itu kakak mau bicara dengan sepupumu. Kamu bisa mengaturnya Heni?" tanya balik Putra.
Heni dan Zahara yang mendengar suara berapi-api Putra saling tatap, takut terjadi hal buruk pada Fauzi nanti, karena Putra marah besar.
Zahara tersenyum tipis pada Heni, mengangguk.
"Baik Kak."
Putra langsung mematikan telepon setelah mengucap salam. Putra yang saat itu berada di kampus langsung pergi ke rumah Heni, menemui Dinda.
"Put, mau kemana?" tanya Heru heran melihat Putra buru-buru.
"Ada hal penting. Maaf, gue gak bisa balik, gue langsung pulang aja." Putra langsung pergi dengan motor-- Putra kini memakai motor almarhum Pak Parno sebagai transportasinya, meninggalkan teman-temannya yang keheranan.