Bab 19

1121 Kata
"Buatlah tujuan untuk hidup, kemudian gunakan segenap kekuatan untuk mencapainya, kamu pasti berhasil." -- Utsman bin Affan. Motor Putra mendarat tepat di depan rumah Heni. Putra melangkah ke teras, mengetuk pintu pelan. "Assalamu'alaikum." Tak berapa lama mama Heni datang membukakan pintu, menjawab salam, memperkenankan Putra untuk masuk. "Maaf Tante, Dindanya ada?" tanya Putra langsung, tak berbasa-basi. "Ah Nak Putra cari Dinda ya? Sebentar ya, Tante panggilkan dulu." Putra mengangguk. Mama Heni langsung berbalik, melangkah ke kamar Heni dan Dinda. Selang beberapa detik Dinda keluar dari kamar, menatap kosong Putra sambil terus melangkah. Putra terkejut melihat tatapan kosong Dinda, seperti seseorang yang sudah tak punya tujuan untuk hidup lagi. Putra memukul ringan kepala Dinda dengan sisi samping telapak tangannya, tersenyum tipis. "Tidak apa-apa." Dinda menengah menatap Putra, menyingkirkan tangan Putra dari kepalanya. "Ada apa Kak?" "Temani Kakak jalan-jalan yuk." Dinda melirik mama Heni, mama Heni tersenyum tipis, mengangguk. "Dinda ambil jaket dulu." Dinda balik ke kamar. "Nak Putra, terima kasih ya sudah mengajak Heni pergi keluar, Tante sangat khawatir melihat Dinda tak pernah keluar rumah selama satu bulan belakangan ini, Dinda juga jadi lebih banyak diam, Tante sangat cemas dengan sekolah Dinda, dia tak pernah mengerjakan tugas yang diberikan gurunya lewat Heni. Tante tak bisa tegas dan memarahi Dinda seperti Heni, Tante khawatir jika Dinda tersinggung dan memilih untuk keluar dari rumah ini." Mata mama Heni berkaca-kaca, menatap pintu kamar putrinya dan Dinda. "Terima kasih Tante, terima kasih sudah sangat peduli pada Dinda." Putra tersenyum tipis, sangat senang mendengar perkataan mama Heni yang menunjukkan betapa pedulinya dia pada Dinda yang bukan siapa-siapanya. "Kak." Dinda keluar dari kamar, menutup pintu kembali, menyalimi mama Heni. "Ma, Dinda izin keluar sebentar ya." Mama Heni mengangguk, mengelus lembut kepala Dinda. "Pulangnya jangan malam-malam ya." Dinda mengangguk, melirik Putra. "Ah, kalau begitu kami duluan Tante." Putra ikut menyalimi tangan mama Heni, mengucap salam. Dinda tercengang sejenak melihat motor yang dibawa oleh Putra, Dinda ingat betul itu adalah motor yang dulu dibawa oleh almarhum pak Parno. "Motor Bapak sekarang Kakak yang pakai, Din." Putra menjelaskan, seolah mengerti pertanyaan Dinda dari raut wajahnya. Dinda mengangguk pelan, paham. Dinda tidak tau Putra mau mengajaknya jalan-jalan kemana, Dinda pun malas bertanya. Selama di atas motor Dinda hanya diam, memilih menatap ramainya jalanan. "Bagaimana sekolahnya Din? Lancar?" tanya Putra membuka bicara. Dinda diam sejenak, menggeleng. "Tidak Kak." "Kamu ingat apa yang dulu kita pernah bicarakan di tepi pantai?" sambung Putra, masih fokus melihat jalan di depan. Rambut Dinda mekar terbawa arus angin. Dinda merapikan rambutnya, tidak menjawab pertanyaan Putra. "Saat itu, bukankah kamu yang bilang begini pada Kakak? 'Apa yang terjadi di dalam hidup ini, semua adalah skenario terindah dari Allah untuk kita. Seburuk apapun kejadian yang kita alami, pasti ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari semuanya' Kamu tidak lupa kalimatmu sendiri kan?" Putra menghentikan motornya saat lampu merah, memperbaiki kaca spion, melirik Dinda dari balik kaca spion itu. Dinda tetap diam, tidak menjawab. Putra jadi tersenyum tipis, memperbaiki lagi kaca spion motornya, menunggu lampu hijau. Beberapa menit kemudian mereka sampai di pantai. Putra memarkirkan motor, Dinda langsung turun, menatap sekeliling sambil menunggu Putra selesai. "Ramai Kak," ucap Dinda pelan. Putra mengangguk. "Kita ke sana saja?" Putra menunjuk batu-batu besar di bawah pohon, tempat yang teduh dan hanya ada 3 orang di sana, sepertinya mereka keluarga, ayah, ibu dan anak. Dinda menyejajari langkah Putra, Putra meloncat ke atas lebih dulu, menjulurkan tangannya untuk menaiki batu-batu ini pada Dinda. Sampai di atas Dinda menghela nafas lega. Mereka duduk dengan jarak 2 meter dari keluarga tadi, menghadap lautan. "Pemandangan sore ini lebih indah ya," ucap Putra menikmati rambutnya disepoi angin laut. "Lebih indah malam, sepi, kelam, gelap, bahkan suara ombaknya lebih terdengar," sanggah Dinda, tak setuju dengan perkataan Putra. Putra melirik kaget Dinda, tertawa kecil. "Hahaha, kamu akhirnya bicara juga Din, dari tadi Kakak tanyai tidak menjawab." Dinda menundukkan pandangannya, minta maaf. "Tidak apa-apa. Kalau kamu gak mau cerita sama Kakak ya gak masalah. Kakak hanya khawatir sama kamu yang sekarang." Putra menatap Dinda dengan raut mata sayu, sedih. "Hari terakhir aku datang ke sekolah bulan lalu... aku... aku..." Air mata mengalir membasahi pipi Dinda, Dinda tak kuat untuk mengatakan kalimat bahwa dia dilecehkan dari mulutnya sendiri. Dinda langsung menengadahkan kepala, menutup matanya, menyeka air matanya. Putra mengenggam tangan Dinda, mengelus lembut kepala Dinda. "Tidak apa-apa, kamu hanya perlu percaya pada Kakak, bahwa kamu baik-baik saja." "Dulu Kakak pernah bilang kan? Bahwa roda kehidupan selalu berputar, tidak selamanya kita akan sedih, juga tidak selamanya kita akan bahagia. Kesedihan bertubi-tubi yang kamu dapatkan, amarah yang tak reda, rasa benci yang bertambah, semuanya adalah ujian untukmu Din. Ini pertanda Allah sayang padamu, ini pertanda kamu adalah gadis yang kuat, yang akan bisa melalui semuanya dengan pemahaman terbaik. Bukankah Allah tidak akan memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuan hambanya?" "Tapi... ini terlalu-- "Dinda, jangan pernah meletakkan kata 'tapi' dalam kamus hidupmu. Kata itu hanya akan membuatmu selalu mengelak dari jalan hidupmu," sela Putra. "Sudah 2 kali Kakak mengatakan itu padaku." Dinda memasang wajah cemberut, menghela nafas. Mengalihkan pandangannya dari Putra, menatap ombak lautan. "Din, kamu mau Kakak melakukan apa pada orang itu?" tanya Putra kini serius. Dinda melirik Putra, melotot kaget. "Kakak tidak perlu melakukan apa-apa padanya." "Tidak. Bilang saja, akan Kakak lakukan." "Kalau begitu, maafkan saja." "Apa kamu sudah memaafkannya?" tanya Putra. Dinda menggeleng. "Aku tidak tau, yang aku tau... aku membencinya saat ini. Ta-- namun aku juga benci diriku sendiri yang tak mendengarkan kata-kata sahabatku untuk menjauhi laki-laki itu. Aku pikir semua orang kecuali ayahku itu baik, nyatanya aku salah." "Kalau kamu bilang begitu, Kakak juga tak bisa menuruti permintaanmu untuk memaafkannya, Kakak sudah menganggap Dinda sebagai adik Kakak sendiri. Kakak tidak suka kalau adik Kakak digituin." Dinda tertawa kecil. "Terima kasih Kak, Dinda beruntung punya Kakak seperti Kak Putra. Kalau begitu... pukul dia, tampar, banting sampai tulang-tulangnya remuk." "Dinda?" Putra menatap Dinda dengan tatapan tidak percaya, bisa-bisa Dinda berkata seperti itu dengan santai. "Aku hanya bercanda." Dinda kembali tertawa. "Terima kasih, benar-benar terima kasih." Putra tersenyum tipis melihat Dinda. "Syukurlah." "Mungkin besok, aku akan pergi ke sekolah, walau aku sudah tidak yakin apa sekolah masih memberiku kesempatan. Lagian, aku juga tak mau ke sana lagi." Dinda mengepal erat tangannya, menahan rasa sakit setelah melihat seseorang yang berada 10 meter darinya berjalan bergandengan tangan dengan perempuan lain, meloncat-loncat manja di atas batu-batu pantai. Dinda segera berdiri dari duduknya, menarik tangan Putra. "Kak, kita pergi dari sini sekarang!" seru Dinda cemas. "Ah ba... baiklah." Putra tidak tau apa yang terjadi sampai Putra melirik apa yang kini sedang dilihat Dinda. Setelah tau apa yang terjadi, Putra segera menghidupkan motor, putar balik, pergi meninggalkan pantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN