Bab 17

1044 Kata
"Menjauhi dosa itu lebih ringan daripada menanggung rasa sakit dari sebuah penyesalan." -- Umar bin Khattab. Heni memutuskan menelepon mamanya, minta dijemput dengan mobil. "Dinda..." Heni memanggil pelan nama Dinda, memegang tangan Dinda. Dinda melirik Heni yang tersenyum tipis dengan sorot mata sayu padanya. Dinda segera memperbaiki posisi duduknya, menyeka air matanya. "Maaf... seharusnya aku dulu menuruti perkataan Heni." Dinda menunduk, merasa bersalah. Heni hanya diam, tidak menjawab. Menatap datar mata Dinda yang sudah bengkak akibat menangis sedari tadi. Heni sama sekali tidak menyalahkan Dinda, malah sekarang Heni sedang berpikir apa yang harus dia perbuat agar Fauzi bisa jera. Sampai mama Heni datang, ketiga sahabat itu hanya saling diam, tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Mama Heni heran melihat putrinya dan kedua gadis itu berjalan beriringan dengan pandangan tertunduk, lebih heran lagi saat melihat mata Dinda yang sembab. Mama Heni menunda pertanyaan untuk Dinda, takut merusak suasana, nantinya malah canggung. "Ara, abi gak jemput?" tanya mama Heni penasaran kini pada Zahara. Ara menggeleng. "Tadi jemput kok Ma, cuman tadi Ara minta abi balik duluan." Zahara tersenyum tipis, melirik Dinda dan Heni. "Oh ya udah, mau mama antar sekalian?" mama Heni menawarkan, tersenyum senang. Zahara melirik Heni yang mengangguk dengan senyum tipis. oOo Setelah sampai di rumah Zahara, mama Heni memutar setir, tujuan terakhir adalah ke rumahnya, pulang. Zahara melambaikan tangan sampai mobil menghilang dibelokan g**g. "Dinda... kamu kenapa Nak?" tanya mama Heni setelah suasana sejak dari gerbang tadi mulai membaik karena selama di perjalanan menuju rumah Zahara mereka banyak mengobrol ringan tentang sekolah. "Hmm, kenapa apa Ma?" tanya Dinda pura-pura tidak tau. Mama Heni hanya tersenyum tipis, tidak jadi bertanya. Dia tau Dinda tidak mau menjelaskan. Sampai di rumah, mereka sudah ditunggui oleh putra dan Edo yang datang dengan buah tangan. Heni melompat turun dari mobil disusul Dinda. Edo melirik Dinda, kaget sejenak saat melihat mata sembab Dinda, untuk kemudian memalingkan wajahnya, mendengus. Heni sama sekali tidak tertarik dengan Edo, dia hanya melihat Putra yang duduk di teras sambil melambaikan tangan padanya dan Dinda. "Eh Nak Putra, Nak Edo, ada apa mampir ke sini?" tanya mama Heni menyapa. "Mau silaturahmi aja Tante." Putra tertawa kecil, menyerahkan buah tangan yang dibawanya pada mama Heni. "Ini Putra ada bawa buah tangan Tante, mohon diterima." "Aduh nak Putra, gak usah repot-repot. Ayo masuk dulu." Heni yang sudah membuka pintu masuk duluan, langsung ke kamarnya bersama Dinda. Dinda menemani mama Heni duduk di ruang tamu bersama Putra dan Edo setelah tadi cuci muka, sedangkan Heni sedang membuat minuman di dapur. "Tante... terima kasih karena sudah membantu Putra selama ini, padahal kita tak ada hubungan apa-apa, tapi Tante sudah banyak menbantu." Mama Heni tersenyum, melirik Dinda yang diam dengan pandangan tertunduk. "Nak Putra, Tante juga senang bisa membantu Nak Putra saat itu, juga terima kasih karena sudah menjaga Dinda." Putra melirik Dinda, ingin bertanya sedari tadi kenapa Dinda menangis, ada hal buruk apa lagi yang terjadi, Putra menduga-duga apa Dinda bertemu dengan ayahnya atau bukan. Namun mulut Putra bungkam, berat bertanya yang nantinya bisa jadi membuat Dinda semakin sedih. "Woi, lu nangis kenapa? Itu mata kayak habis disengat lebah aja." Edo yang mulutnya sudah gatal sejak tadi melontarkan pertanyaan, masih melihat Dinda dengan tatapan kesal. Putra dan mama Heni melotot kaget melihat Edo yang begitu to the point. Heni yang baru datang dan melihat situasi aneh ini terdiam, melirik sekeliling. Karena melihat mamanya dan Putra yang menatap kaget ke arah Edo yang kini juga sedang melihat Dinda, Heni seolah langsung paham dengan apa yang telah terjadi. Heni meletakkan keras nampan berisi minuman dan kue yang dibawakan oleh Putra tadi ke atas meja. Semuanya tersentak. "Ini minum dulu Kakak-kakak." Putra mengangguk, menyeruput minuman. Edo hanya mendengus karena merasa diacuhkan oleh Dinda, kemudian ikut menyeruput minumannya. "Oh iya kak Edo." Heni tersenyum lebar, cengengesan melihat Edo. Edo menelan ludah, punya firasat akan terjadi hal buruk padanya. "Karena kak Edo punya pengalaman, Heni boleh minta tolong gak?" Firasat Edo benar, gadis yang kini berdiri di hadapannya ini meminta pertolongannya dengan nada lembut, padahal sebelum-sebelumnya Heni melihat dan berbicara dengannya, ketus, tidak ada baik-baiknya. "Ah iya, Ma, bisa Heni minta tolong? Tadi Heni menghangatkan kembali gulai Mama. Sekarang kayaknya udah selesai, tolong ya Ma, matiin kompor." Mama Heni tersenyum tipis, sudah tau betul isi otak putrinya. Mama Heni langsung pergi meninggalkan ruang tamu. "Yah, sebenarnya Heni lebih suka minta tolong kak Putra sih, tapi yah, karena Kakak punya sedikit kemiripan dengan anak guk-guk di g**g sana, jadi Heni berharap Kakak mau menemani Dinda keluar." Pupil mata Edo membesar, kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Heni. Putra pun juga kaget, terlebih Dinda yang ingin membungkam mulut sahabatnya itu. "Yah... mengobrol seadanya." Heni melirik Dinda, tertawa kecil. Dinda mengernyitkan keningnya, masuk ke kamar. Heni menghela nafas, menempelkan keningnya ke sisi meja. Putra dan Edo saling tatap, tidak paham dengan apa yang terjadi. "Udah? Kakak berdua gak mau pulang?" tanya Heni dengan nada suara yang kecil. "Tadi lo nyuruh gue temani tuh cewek, sekarang nyuruh pulang?!" kesal Edo. "Berisik ah!" Heni balas menaikkan nada suara. "Gue bilang gitu biar Dinda masuk kamar, lagian mana sudi gue nyuruh kakak bemani Dinda, kan udah gue bilang kakak sama dia mirip." "Heni... apa yang terjadi?" tanya Putra benar-benar penasaran. Heni menggeleng. "Ini privasi," jawab Heni singkat. Edo langsung berdiri dari duduknya. "Ya udah lah Put, kita pulang aja, ngapain urusin tuh 2 bocah!" Edo berseru kesal. Putra menghela nafas. "Heni... bisa Kakak minta alamat temanmu yang satu lagi? Kakak ingin menemui bapaknya." Heni mengangguk, mengambil kertas dan pulpen yang ada di atas meja, menuliskan alamat rumah orangtua Zahara, menyerahkan pada Putra. "Kak." Heni melirik Edo. "Jangan lupa minta maaf sama Ara." Heni menatap datar, langsung berdiri dari duduknya. Edo memalingkan wajah, tidak menjawab ucapan Heni. "Udah mau pulang Nak?" tanya mama Heni yang baru muncul dari belakang. "Ini mau ke rumah teman Heni, Tante." "Oh mau ke rumah Ara. Ya udah hati-hati ya." Mama Heni tersenyum tipis, menerima saliman Putra dan Edo. Setelah Putra dan Edo keluar, Heni langsung ke kamar, menemui Dinda. Mama Heni hanya terdiam melihat Heni yang langsung berlari ke kamar, menghela nafas. "Anak itu, gak beresin ini dulu, malah nyelonong pergi aja," gumam mama Heni sambil meletakkan semua gelas di atas nampan untuk dicuci.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN