Bab 16

1192 Kata
"Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan." -- Umar bin Khattab. Dinda dan Heni langsung bersiap-siap untuk pulang, sekalian pamit pada kedua teman Putra, yaitu Pito dan Heru. "Kak Edo masih belum keluar dari toilet Kak?" tanya Dinda bingung. "Udahlah Din, gak usah pikirin tuh orang. Kita pulang aja." Heni masih kesal. "Tapi gak enak dong Heni. Bentar ya, aku samperin dulu." Dinda langsung melangkah kembali ke ruang belakang. "Dinda!" seru Heni hendak mengejar. "Tunggu Heni! Biarin aja Dinda bicara sama Edo," tegas Putra. "Eh tapi Kak--" Putra tersenyum tipis, Heni langsung bungkam, menghela nafas pasrah. "Napa lo masih di sini?" tanya Edo ketus. "Hahaha. Kak, Dinda sama Heni mau pulang dulu ya." Dinda tersenyum tipis, memasang wajah bersahabat. "Ya kalau mau pulang, pulang aja, kenapa pakai acara ngomong sama gue segala sih." Edo melangkah melewati Dinda yang tadi berdiri di hadapannya. "Ya karena kita ngehargai Kakak. Lebih baik kan daripada nganggap kakak gak ada?" Langkah Edo terhenti, Edo melirik kesal ke Dinda, menghela nafas. "Ya, hati-hati di jalan." Melanjutkan langkahnya ke ruang depan, melewati Putra dan Heni yang tak memalingkan mata mereka dari Edo. Dinda tersentak kaget, begitu pun dengan Heni yang mendengar, sedangkan Putra hanya tersenyum, lega. "Semuanya baik-baik saja kan?" Putra tersenyum tipis pada Heni. Heni mengangguk pelan, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Edo tadi. Dinda dan Heni lanjut pamit pada Heru dan Pito, mereka berdua berjalan sampai jalan besar untuk menaiki angkutan umum, pulang ke rumah Heni. oOo Sudah seminggu berlalu sejak kematian pak Parno. Putra kembali menjalin hidup seperti biasanya, berangkat ke kampus, fokus dengan pendidikannya, walau memang kini Putra merasa kesepian. Dinda tetap dengan rutinitasnya, masih tidak enak hati jika terus jadi beban untuk keluarga Heni. Setiap melangkah ke sekolah pun Dinda cemas dan khawatir, takut jika ayahnya menghampirinya ke sekolah. "Dinda!" panggil Fauzi saat Dinda mau ke ruang perpustakaan untuk mengantar buku. Dinda menoleh, melirik Fauzi. "Ya, ada apa Fauzi?" "Ah, sini aku tolong bawain." Fauzi mengambil dua pertiga dari buku-buku yang dibawa Dinda. "Terima kasih." Dinda tersenyum senang, tangannya tidak lagi berat membawa banyak buku. Melihat Dinda tersenyum, Fauzi ikut senang. "Dinda... soal jawabanmu itu..." ucap Fauzi canggung, kalimatnya tidak sampai. Dinda mendorong pelan pintu perpustakaan, meletakkan buku-buku yang dibawanya ke dalam rak yang sesuai. Dinda menoleh sekeliling, tidak ada orang di perpustakaan selain penjaga perpus yang sibuk membaca. "Fauzi..." Dinda menunjuk meja di samping rak buku terakhir, mengajak Fauzi duduk di sana. "Maaf... saat ini, aku tak ada lagi pikiran untuk berpacaran, atau menyukai seorang lawan jenis." Dinda menatap Fauzi dengan tatapan bersalah. Bahkan, Dinda lupa dengan janjinya pada Fauzi untuk memberi jawaban dalam satu minggu, ini sudah lebih dari seminggu. "Jadi, aku tak bisa memberimu kesempatan apa-apa. Dan... aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu sampai saat ini." Mata Fauzi membulat sempurna, kecewa berat atas apa yang baru saja didengarnya. Perempuan yang sangat dia cintai telah menolak cintanya, perempuan yang ingin dia lindungi dengan tulus memilih menyakiti hatinya. Bagai kepayang yang telah hilang kesadaran, Fauzi meremas pipi Dinda, mendekatkan wajahnya ke Dinda, Dinda memberontak, tapi tak punya cukup kekuatan untuk menyingkirkan Fauzi. Air mata mengalir membasahi pipi Dinda, sebelum bibir Fauzi mendarat di bibir Dinda, Heni datang, menarik keras rambut sepupunya itu, langsung menampar Fauzi. Zahara yang berada di belakang Heni gemetar ketakutan melihat apa yang baru saja terjadi, Zahara segera menghampiri Dinda, memeluk Dinda yang menangis terisak. Penjaga perpustakaan tidak tau dengan apa yang terjadi saat ini, ia masih sibuk dengan buku bacaannya. Heni melirik penjaga perpustakaan, melirik Zahara yang tengah memeluk Dinda. Melotot pada Fauzi. "Keluar lo dari sini sekarang!" seru Heni dengan nada pelan, takut penjaga perpustakaan memarahi mereka jika ribut. "Cepat keluar!" Fauzi hanya diam, menundukkan pandangannya. Melirik Dinda. "Woi anj*ng!" Untuk pertama kalinya Heni melontarkan u*****n pada Fauzi. Fauzi tetap diam, tidak ada respon apa pun darinya, sorot matanya sayu, pipi kirinya memerah karena ditampar Heni tadi. Heni langsung menarik lengan Fauzi, menyeretnya keluar dari perpustakaan tepat saat bel pulang sekolah juga berbunyi. Heni masih menarik lengan Fauzi, melangkah ke kelas. Sampai di kelas tidak ada lagi teman-temannya, semua sudah pulang, tidak ada yang piket karena besok sekolah akan mengadakan gotong-royong membersihkan kelas dan halaman sekolah. "Lo sadar kan dengan apa yang baru saja lo lakuin?!" Heni mulai berteriak, memastikan pintu kelas sudah tertutup. Duduk di atas meja, menatap kesal Fauzi yang bersender di dinding kelas. "Gue udah bilang berkali-kali kan? Untuk jangan pernah lo dekati Dinda! Dan lo tau sendiri, hal b******n yang lo lakuin kembali terjadi!" "Bilangnya lo tau gimana hidup Dinda, lo tau gimana keluarga Dinda! Dan apa yang lo lakuin pada Dinda sekarang?! Lo bilang lo cinta sama Dinda! Lo peduli sama dia! Itu bentuk cinta dan peduli lo sama Dinda?! Melecehkannya?! Membuat dia mengingat trauma terbesarnya?!" Heni meremas bahu Fauzi, marah besar dengan sepupunya itu, Heni menarik dasi Fauzi. "Lo liat gue! Jangan nunduk." Heni menangis, memukul d**a Fauzi berkali-kali. Heni tak tega dan tak kuat melihat bagaimana kondisi Dinda yang sekarang, apa lagi yang membuat Dinda sampai menangis seperti tadi adalah sepupunya sendiri. "Anj*ng lo Zi..." Suara Heni serak, lelah karena berteriak. "Maaf..." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Fauzi. "Fauzi... jika terjadi apa-apa pada Dinda nanti, gue gak akan nganggap lo sebagai sepupu gue lagi." Heni menyeka air matanya, menatap datar mata Fauzi yang masih menundukkan pandangannya. "Satu permintaan terakhir gu-- bukan, tapi ini perintah. Jangan pernah lo muncul di hadapan Dinda lagi!" Heni mengambil tasnya dan kedua tas sahabatnya, melangkah meninggalkan kelas. Fauzi menarik tangan Heni. "Tolong... sampaikan permintaan maaf gue ke Dinda, gue gak bermaksud--" Heni langsung menepis tangan Fauzi, meninggalkan Fauzi sendirian di dalam kelas dengan sebongkah penyesalan dan rasa bersalah. Di perpustakaan, Zahara masih memeluk Dinda, menenangkan Dinda, mengatakan 'tidak apa-apa' berulang kali pada Dinda, mengatakan semuanya 'akan baik-baik saja' ratusan kali, tapi Dinda tidak mendengar, masih takut dan trauma akan perlakuan Fauzi tadi. Heni yang sedang berlari menuju perpustakaan, mendengar ponsel Zahara yang ada di dalam tas berbunyi, ada telepon dari abi Zahara, Heni mengabaikannya, mempercepat larinya ke perpustakaan. Petugas perpustakaan kaget saat Heni melewatinya tiba-tiba, kemudian petugas itu kembali sibuk dengan bukunya, mengabaikan apa yang telah terjadi di ruang perpustakaan, petugas itu sama sekali tidak tertarik. Heni menyampaikan pada Zahara bahwa tadi ponsel Zahara berbunyi, Zahara mengambil tasnya, menelpon balik abinya. Heni melirik Dinda yang masih terisak di bahu Zahara, Heni menundukkan pandangannya, merasa ikut bersalah, karena bagaimanapun yang membuat Dinda sampai seperti ini adalah sepupunya sendiri, walau sudah berulang kali Heni memperingati Fauzi, walau sudah berbagai macam cara dilakukan Heni untuk menjauhi mereka, siapa yang akan menyangka bahwa hal buruk yang dipikirkan Heni akan benar terjadi. Zahara sudah selesai menelepon abinya, mengatakan bahwa dia ada urusan di sekolah, tanpa menjelaskan apa urusannya, meminta abinya untuk pulang duluan. Abi Zahara langsung mengerti, tak banyak bertanya, ia amat sangat percaya pada putrinya, apalagi di seberang telepon abi Zahara mendengar suara isakan tangis. Mungkin nanti, setelah sampai di rumah, Zahara akan menjelaskan alasan kenapa dia tidak bisa pulang duluan bersama abinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN