"Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya." -- Ali bin Abi Thalib.
Pukul 6 pagi Heni diantar mamanya sudah sampai di depan rumah Putra, mama Heni membawakan banyak makanan untuk mereka makan, lantas pulang setelah menyerahkan makanan untuk sarapan pada Dinda, Putra dan teman-temannya.
"Ayo sarapan bareng kami Heni!" Heni mengangguk, menerima ajakan Putra.
"Wah kelihatannya enak." Heru mendekat, menarik tangan Edo. Pito menyusul sambil memainkan ponselnya.
"Memang enak Kak!" Heni menyengir, tertawa senang.
Jadilah pagi ini mereka berenam sarapan bersama, melupakan kesedihan dan kemarahan untuk sejenak demi menikmati hidangan nikmat ini.
Selesai sarapan Dinda dan Heni menyuci piring di belakang, Heru masih menggoda Edo, Putra melanjutkan tadarus, Pito pun ikut tadarus bersama Putra, disusul oleh Heru dan Edo setelah bosan bertengkar.
Dinda mengganti seragamnya, pamit pada Putra dan kawan-kawannya, pergi ke sekolah bareng Heni.
"Mau Kakak antar?" tanya Putra menawarkan diri.
Dinda dan Heni tersenyum tipis, menggeleng ringan. "Gak usah Kak, mau olahraga pagi biar fresh. Hehe."
Putra mengangguk, tertawa kecil. "Hati-hati ya."
"Kak," panggil Heni.
"Ya?"
"Boleh kami ke sini nanti habis pulang sekolah?" tanya Heni ragu-ragu.
Putra mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Tentu boleh. Yang penting sekarang, kalian fokus belajar dulu di sekolah!"
oOo
Selama jam pelajaran, Fauzi mencuri-curi lirik ke Dinda, Heni sampai geram, menahan amarahnya sejak tadi agar tidak keluar.
"Din, makan siang di luar yuk!" ajak Heni bersemangat, mau Dinda jauh-jauh dari Fauzi yang terlihat sedang mencari celah untuk mendekati Dinda.
"Eh? Aku masih kenyang Heni, aku di kelas aja." Dinda tersenyum tipis, menolak.
Heni duduk kembali di kursinya. "Sama, aku juga masih kenyang." Heni melirik Fauzi, mencibir.
Fauzi mendengus, pergi dari kelas.
Zahara menghampiri Dinda dan Heni yang memilih tidur di meja mereka masing-masing, melihat kedua sahabatnya sudah seperti orang lemah dan malas begitu, Zahara jadi menghela nafas. Mengambil snack di dalam tas yang dibawanya dari rumah.
"Kalian pasti gak bakal makan kan? Jadi aku bawa snack nih, mau?" Zahara memukul snack ke Dinda dan Heni, membuat dua gadis itu menegakkan kepalanya dari meja.
Heni langsung menerimanya tanpa basa-basi. Dinda ikut memakan snack yang dibuka Zahara.
"Gimana kakak itu Din?" tanya Zahara.
"Kakak mana?" tanya Dinda bingung.
"Hmm... kalau gak salah namanya Putra?"
"Oh kak Putra, aku gak bisa mastiin sih, tapi kayaknya udah lebih baik." Kini Dinda mengambil snack yang dipegang Heni, karena rasanya berbeda.
"Syukurlah." Zahara mengangguk, ikut mengambil snack di tangan Heni.
"Din... maaf kalau kamu merasa gak enak ditanyain begini, tapi aku beneran penasaran dengan kamu yang mencoba bunuh diri saat itu." Heni sudah mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya tentang ini.
Zahara menghentikan mengemil cemilan, menatap datar ke arah Heni.
"Gak apa-apa kok." Dinda tersenyum tipis, mengambil minum dalam tasnya. Menghela nafas.
"Aku tau kalian sudah tau alasan kenapa kedua orangtuaku sering bertengkar sampai akhirnya mereka bercerai. Tentang laki-laki tua yang selalu gonta-ganti pasangan itu, pun tentang ibuku yang meninggal karena bunuh diri." Dinda tersenyum tipis, menundukkan pandangannya dengan raut mata sayu.
Heni merasa bersalah, hendak meminta Dinda untuk berhenti, namun Zahara menggeleng pada Heni, ini bukan waktu yang tepat untuk menyuruh Dinda berhenti.
"Dan aku yang sering kali melihat dia bermesraan dengan wanita lain, bahkan sampai di jalan saat aku pulang sekolah, akhirnya, aku terpikir untuk mati saja. Tapi... mati pun tetap sulit bagiku, tidak ada yang mulus dalam hidupku selain nilai-nilai sekolahku, walau aku punya teman-teman di sekolah, mereka hanya bermuka dua, memanfaatkanku untuk memberikan jawaban tugasku pada mereka, di belakangku mereka menggunjingku, mengatai-ngatai orangtuaku."
"Aku, yang hanya seorang gadis kecil berusia 11 tahun, mana bisa sanggup bertahan atas semua itu. Bayangkan saja, bagaimana bisa tanaman kecil bertahan diterpa banjir besar? Dia pasti langsung terbawa arus, mati."
"Saat itu, sebuah truk hendak lewat di depanku saat aku mau menyebrang jalan, aku tak tau apa yang merasukiku, aku memutuskan untuk melompat ke jalan, menabrakkan diriku sendiri ke truk itu." Dinda menutup mata, membayangkan kisah kelam itu dulu.
"Kalian tau kan? Truk itu besar, dan kendaraan sebesar truk itu pasti akan membuat nyawaku melayang jika tertabrak, atau luka paling kecil adalah cacat, tapi lihat? Aku baik-baik saja sampai saat ini." Dinda menatap Heni dan Zahara, tersenyum tipis pada kedua sahabatnya itu. "Selangkah lagi sampai aku ditabrak truk, almarhum pak Parno menarik tanganku, membuat kami terjatuh di trotoar bersamaan." Dinda menengadahkan kepalanya menatap ke langit-langit kelas, Heni menyimak dengan baik, Zahara mengunyah pelan cemilannya.
"Sopir truk sampai menghardik aku, pak Parno lah yang maju ke depan, meminta maaf pada sopir truk, setelah itu beliau menamparku, sakit. Itu pertama kalinya, sekaligus terakhir kalinya seorang guru memarahiku sampai menampar. Beliau menangis, memelukku, mengucapkan maaf berulang kali. Aku tidak tau mengapa pak Parno sampai meminta maaf sebegitunya padaku, sampai kemarin, aku jadi tau semuanya. Beliau sangat menyayangiku, beliau ingin aku mendapatkan kehidupan yang layak, yang baik, dan yang berwarna. Tapi... tak semudah itu bukan? Ini bukan novel, bukan komik, bukan film, bukan cerita fiksi, ini adalah kisah hidupku, nyata di duniaku. Tak akan ada perubahan besar yang tiba-tiba, tak akan yang namanya super hero. Namun, aku percaya, di masa depan nanti, yang aku tidak tau kapan terjadi, tapi itu pasti, aku akan bisa merubah hidupku, mewarna kisah-kisahku dengan baik, karena aku masih punya kalian." Dinda tersenyum lembut pada Heni dan Zahara, Heni dan Zahara langsung memeluk Dinda, mereka menangis mendengar kalimat terakhir tadi.
"Aku juga, aku akan selalu ada untuk Dinda." Suara serak Zahara membuat Dinda tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih Ara, Heni."
Heni tak mampu berkata-kata, Heni tak mampu menahan air matanya untuk berhenti. Dia terisak, wajahnya sudah basah semua karena tangisannya.
oOo
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dodi tak sekalipun menghampiri Dinda, dia langsung pergi bersama teman-temannya. Dinda bahkan nampak tak peduli dengan Dodi yang sekarang-sekarang ini tidak lagi dekat-dekat dengannya, seakan Dinda sudah lupa dengan Dodi.
Heni pun tak membahas tentang Dodi, tapi tetap tidak melonggarkan kewaspadaannya sekalipun jika Dodi sampai mendekat tiba-tiba.
"Kalian mau ke rumah kakak itu kan? Aku lupa namanya hehe. Aku sudah mengabari abi untuk menjemput 1 jam lagi di rumah kakak itu." Zahara menyengir, ikut ingin ke rumah Putra bersama Dinda dan Heni.
"Putra. Lain kali jangan lupa lagi sama nama orang, entar kamu jadi kebiasaan Ra." Heni menjelaskan, memeriksa lacinya.
"Oh iya kak Putra." Zahara mengangguk, menggumamkan nama Putra berulang kali.
Heni bergidik ngeri. "Ara! Jangan gitu, kamu jadi kayak orang sedang baca jampi-jampi."
Zahara memasang wajah cemberut, kesal pada perkataan Heni.
"Udah-udah, jika Ara lupa Heni pasti selalu ngingetin kok." Dinda tertawa kecil, mendorong kursinya ke bawah meja, mengajak kedua sahabatnya keluar kelas.
Mereka bertiga berjalan kaki sampai ke rumah Putra, bercerita banyak hal selama di perjalanan.
Pintu rumah Putra terbuka lebar, ketiga gadis itu membuka sepatu, melangkah masuk, mengucap salam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Keempat bujangan itu menoleh, menjawab salam. Putra dan Heru menghentikan bacaan Al-Qur'annya, Pito melirik sejenak dan kembali fokus pada ponselnya, Edo yang sedang berkecamuk dengan buku-buku tebal mendengus.
"Masuk saja Dinda, Heni dan Zahara." Putra melempar senyum, mempersilahkan ketiga gadis-gadis itu masuk.
Edo dan Dinda saling melirik, sama-sama mendengus. Heru yang melihat mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Putra kembali fokus pada bacaannya.
Zahara mengeluarkan Al-Qur'an dari dalam tasnya, ikut membaca yasin untuk sampai pada almarhum pak Parno. Heni melirik sekeliling, memanggil pelan Edo yang nampak tidak fokus dengan kegiatannya. "Kak, ada Al-Qur'an lain?" bisik Heni pelan.
"Itu, di atas lemari." Edo menunjuk lemari yang berada di belakang, membalik lembaran buku tebalnya.
"Terima kasih Kak." Heni langsung berdiri, mengambil Al-Qur'an satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Dinda.
Edo hanya diam, tidak menjawab. Mengernyitkan kening dan buku bacaannya.
Jadilah ruangan itu kini ramai oleh suara keras dan pelan dari semua orang yang ada di ruangan itu, kecuali Edo dan Pito yang sibuk masing-masing dengan urusannya.
Tak berselang lama, abi Zahara datang, membawa 8 bungkus nasi padang untuk makan siang. Jadilah mereka berdelapan makan siang bersama, menghentikan sejenak kesibukan masing-masing, setelah itu shalat zhuhur berjamaah di rumah Putra, tentulah abi Zahara yang menjadi imam.
Selesai shalat zhuhur dan berdoa, Zahara dan abinya pamit pulang duluan.
"Terima kasih banyak sudah membantu saya lagi Pak." Putra tersenyum tipis, menyalimi abi Zahara.
"Tidak masalah nak Putra, sesama manusia memang harus saling tolong-menolong." Abi Zahara menepuk-nepuk ringan bahu Putra, tersenyum takzim.
Ketiga teman Putra juga berterima kasih sudah dibawakan makanan, ikut menyalimi abi Zahara.
"Ya sudah kalau begitu Din, Heni, kakak-kakak semuanya. Ara dan abi pamit dulu. Assalamu'alaikum." Zahara memeluk Dinda dan Heni.
"Wa'alaikumsalam."
Zahara melambaikan tangan pada semuanya. Motor yang dikendarai abi Zahara menghilang setelah sampai dibelokan.
"Ngapain lambai-lambai tangan di atas motor segala sih, kayak seleb aja," gerutu Edo, sibuk dengan ponselnya kini.
Heru langsung membungkam mulut Edo, tertawa canggung pada Dinda yang bengong dan Heni yang nampak marah mendengar ucapan Edo.
"Kak, coba ulangi lagi ucapan kakak deh!" seru Heni marah.
Dinda menyeringai menatap sahabatnya itu, melirik malas pada Edo yang memberontak dibungkam Heru. "Heni, tolongin aku cuci gelas di belakang aja yuk!" Dinda langsung menarik tangan Heni ke dapur, tak ingin memperpanjang masalah baru.
Putra menghela nafas, bersyukur tidak terjadi pertengkaran di sini.
"Do, lain kali mulut lo tu harus dijaga. Orang gak salah apa-apa lo komentarin, apalagi itu anak dari orang yang sudah membantu gue tanpa pamrih. Sekali lagi gue liat lu kagak gitu, awas aja!" Putra memberi nasehat pada Edo dengan nada mengancam, kembali masuk ke dalam rumah diikuti oleh Pito yang masih sibuk dengan gamenya.
"Ah!" Edo berhasil lepas dari bungkaman Heru. "Apa-apain sih?! Sampai Putra nyalahin gue segala!"
"Ya lo emang salah, gak pernah bener. Lemah amat jadi cowok, katanya mahasiswa kedokteran, diselingkuhin cewek aja udah gila, gak bisa mikir." Heru masuk ke dalam, menutup setengah pintu. "Ingat, masih banyak ikan di laut," sambung Heru.
Edo kalah debat, tak mau cari masalah lagi yang akan membuat Putra marah nantinya.
"Kakak itu resek banget sih! Dia udah gila ya?!" Heni mengomel-omel sambil membersihkan piring yang sudah disabuni dengan air.
"Haha. Biarin aja, lagi banyak masalah kali dia." Dinda mengeringkan piring-piring yang sudah dicuci oleh Heni, meletakkan ke atas rak.
"Ya gak bisa dibiarin dong Din! Dia ngata-ngatain Ara gitu tadi!" Heni masih kesal, belum reda emosinya. "Masa masalah pribadinya sampai nyakitin orang yang gak ada sangkut pautnya. Pengen banget aku berkata kasar sekarang!"
"Kasar." Heru yang datang dari belakang menyambung, tertawa kecil pada Heni dan Dinda. "Heni ya? Maafin teman Kakak tadi ya, dia emang lagi koslet sejak diselingkuhin ceweknya." Heru kembali tertawa, mengambil gelas dari rak, menuangkan air putih, meneguknya.
"Gak! Yang minta maaf itu harusnya dia! Bukan Kakak! Satu lagi, kenapa Kakak minta maafnya ke aku? Suruh teman Kakak itu minta maaf sama Zahara!" Heni selesai mencuci piring, membantu Dinda membawa piring ke rak.
"Hahaha. Iya-iya, nanti Kakak suruh dia minta maaf sama temanmu yang namanya Zahara tadi." Putra kembali menuangkan air putih ke dalam gelas, membawanya ke ruang depan. "Kakak ke depan dulu ya."
Heni hanya menatap datar Heru, Dinda tersenyum tipis, mengangguk.
"Udah Heni, ayo pulang, kita udah selesai."
"Gak, aku mau marahin kakak resek itu dulu, dia gak bisa dibiarin." Heni melangkah ke ruang depan, bertabrakan dengan Putra yang mau ke dapur.
"Aduh!" Heni memeganginya kepalanya, sakit karena terbentur d**a Putra.
"Ah maaf Heni, Kakak gak liat. Kamu gak apa-apa kan?" Putra memegangi lengan Heni, menatap cemas.
Heni langsung menepis tangan Putra. "Ah gak apa-apa Kak, cuman sakit sebentar aja."
Putra menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu." Tersenyum tipis.
Heni terdiam sejenak melihat Putra, pikirannya langsung teralihkan setelah melihat Edo berjalan mendekat.
Heni langsung melewati Putra yang berdiri di hadapannya, mau menyosori Edo, namun Putra langsung menghentikan Heni, menarik tangan Heni agar tidak menghampiri Edo.
Putra menatap lembut Heni. "Heni, maafin Edo ya, Kakak bakal suruh dia minta maaf segera pada Zahara. Jadi tolong... kali ini saja, maafkan dia, Kakak jamin gak bakal terulang lagi." Putra melepas genggamannya dari tangan Heni, menatap Heni dengan muka memelas.
Dinda yang melihat Putra dan Heni bercakap-cakap tidak mau menganggu, Dinda tau Putra bakal menghentikan Heni. Dinda meneguk air putih yang sudah disiapkannya, tiba-tiba kepikiran janji dengan Fauzi.
"Baiklah, ini karena Kakak yang minta. Tapi aku tegaskan, setelah ini gak bakal ada toleransi lagi!" Heni menengadahkan kepalanya melihat Putra, sorot mata Heni sangat serius.
"Hmm... ada apa kalian berdua-duaan menghambat pintu gini?" Edo melewati Heni dan Putra dengan santai, melirik sejenak Dinda dan kembali mendengus, langsung melangkah ke toilet.
Heni menggepalkan tangannya, mau menonjok tapi sudah janji pada Putra.
Dinda dan Heni langsung bersiap-siap untuk pulang, sekalian pamit pada kedua teman Putra, yaitu Pito dan Heru.
"Kak Edo masih belum keluar dari toilet Kak?" tanya Dinda bingung.
"Udahlah Din, gak usah pikirin tuh orang. Kita pulang aja." Heni masih kesal.
"Tapi gak enak dong Heni, entar ya aku samperin dulu." Dinda langsung melangkah kembali ke ruang belakang.
"Dinda!" seru Heni hendak mengejar.
"Tunggu Heni! Biarin aja Dinda bicara sama Edo," tegas Putra.
"Eh tapi Kak--"
Putra tersenyum tipis, Heni langsung bungkam, menghela nafas pasrah.