"Allah selalu ada di hati dan pikiran kita. Dia tak akan pernah meninggalkan kita. Semuanya kembali kepada diri masing-masing dari kita. Apa kita selalu mengingat Allah dalam hal dan situasi apa pun? Coba tanyakan pada diri kita sendiri, apakah ada Allah di hati kita?"
Keluar dari kamar mandi, Dinda berpapasan lagi dengan Edo.
Dinda mendengus setelah melihat Edo, dengan cepat Dinda langsung kembali ke kamar, tidak sudi menyapa Edo. Bisa ribet urusannya entar.
Edo juga tak banyak cakap, langsung masuk ke kamar mandi setelah Dinda keluar.
Sedangkan di ruang tamu, Putra, Heru dan Pito tengah bersaing siapa yang ngoroknya paling keras. Dan sudah jelas, pemenangnya adalah Heru.
Pito menyingkirkan tubuh Heru yang tidur tepat di sebelahnya dengan kaki. Kening Pito berkerut, mengucek matanya, dia belakangan ini sudah jarang tidur karena asik main game biar naik level. Nah, kini sekalinya tidur langsung ada suara-suara yang menganggu, lebih menganggu dari suara bisikan setan, bagi Pito malam ini.
Pito melirik sekeliling, tidak melihat keberadaan Edo.
Ponsel Pito masih di-charge, Pito jadi bingung mau melakukan apa. Suara gorokan dua temannya itu sangat menganggu, ditambah gorokan Heru yang terdengar seperti sangkakala malaikat Israfil.
Edo baru saja balik dari kamar mandi, langsung meraih ponselnya dan duduk di atas sofa. Tidak peduli pada teman-temannya yang tidur di bawah. Edo juga tidak mempedulikan suara gorokan teman-temannya.
Pito langsung berdiri, karena tidak ada kerjaan, Pito berniat menganggu Edo.
Pito menjinjit, melangkah pelan-pelan.
"Haaah..." Edo menghela nafas-- seperti orang dengan beban hidup sangat berat saja.
Pito mengintip apa yang sedang dilakukan Edo dengan ponselnya. Ternyata Edo sedang membaca chat-chat lamanya dengan seseorang yang nomornya tidak disimpan oleh Edo, tapi chatnya masih ada. Edo sedang bernostalgia.
Pito nyengir, Pito tau itu chat Edo dengan mantan pacarnya yang baru putus 1 bulan lalu. Mungkin alasan Edo benci dengan perempuan adalah karena pacarnya itu.
Mata Pito tanpa sengaja melirik buku yang ada di atas tas Heru, buku dari Panji Ramdana yang berisi qoutes dan proses-proses cinta. Pito langsung mengambilnya.
"Sebenarnya... aku ingin segera menepikan rindu. Mengurai kembali rasa bahagia bersamamu. Bercanda dan tertawa ria. Menutup lipatan malam dengan taburan wangi bunga. Bukan menyelusup sepi seperti malam ini, malam yang hening tanpa hadirmu. Tanpa sapamu. Tanpa pesanmu. Tanpa harap darimu."
Edo melipat keningnya, menatap Pito dengan raut muka kesal. Kata pertama Pito membuat Edo langsung tersentak kaget, mematikan ponselnya. "Napa lo? Jangan sok puitis! Udah sana tidur."
"Amboy-amboy, ada yang belum bisa move-on niiiih." Pito tertawa kecil, senang banget lihat temannya kesal.
"Hus sana-sana! Jauh-jauh! Jauh-jauh!" Edo melambai-lambaikan tangannya, mengusir Pito.
Putra terbangun mendengar percakapan mereka, ditambah gorokan Heru juga. Kalau Heru mah, sudah jelas, tenang damai sentosa bersama mimpi indahnya. Saat ini Heru sedang bermimpi terbang bersama burung cendrawasih, yang konon katanya burung dari surga. Heru yang jadi bidadara surganya. Ya, ini mimpi, cuman mimpi, dan akan tetap jadi mimpi.
"Kalian kenapa ribut?" tanya Putra sambil mengucek matanya. Putra menatap jam dinding, masih pukul setengah dua. Putra beranjak dari tempatnya, ke kamar mandi.
"Mau kemana Put?" tanya Edo.
"Ke kamar mandi." Dengan langkah sempoyongan Putra berjalan ke kamar mandi, mau menyelesaikan panggilan alamnya sekaligus mengambil wudhu untuk tahajud.
Edo dan Pito lanjut meribut, sedangkan Heru masih terbang bersama burung cendrawasih.
Putra selesai berwudhu, langsung membentangkan sajadah. Shalat.
Saat Putra kembali dari kamar mandi, Edo dan Pito diam, tidak lagi ribut. Pito sudah puas meledek Edo, Edo sudah lelah untuk marah. Baru bangun, tapi tenaganya untuk marah-marah sudah habis. Pertama karena bertabrakan dengan Dinda tadi, kedua karena diledek Pito.
Selesai berdoa Putra melipat sajadah. Melangkah ke teman-temannya.
Edo dan Pito tercengang melihat Putra.
"Hmmm... ada apa?" heran Putra.
"Put..." Pito hanya bergumam, tidak mampu bertanya.
"Lo nangis, Put," ucap Edo yang masih tercengang.
Putra tersentak kaget setelah mendengar ucapan Edo. Putra merasa pipinya dingin dari tadi, Putra meraba wajahnya, basah.
Putra refleks langsung membalikkan badannya, menyeka air matanya. Putra sendiri tidak tau sejak kapan air matanya keluar. Kenapa bisa dia menangis?
Edo dan Pito saling tatap, terdiam.
Gorokan Heru tidak membuat sepenuhnya suasana itu hening. Terkadang... gorokan Heru yang kerasnya minta ampun itu ada manfaatnya juga-- walau mudharatnya yang lebih banyak.
Putra melangkah ke depan, membuka pintu.
"Mau kemana Put?" tanya Edo, bersorak agar terdengar oleh Putra.
"Cari angin sebentar." Putra tersenyum tipis, langsung menutup pintu.
"Pito," panggil Edo.
"Ye? Ape?" tanya Pito dengan dialek khas-nya, mata Pito masih terarah ke pintu yang ditutup Putra barusan.
"Temani Putra gih."
Pito mengernyitkan kening, langsung berlari keluar menyusul Putra. Bukan karena ini suruhan Edo, Pito memang sudah berniat mengejar Putra saat Putra mulai menutup pintu.
Edo menghela nafas. Dia sebenarnya mau menemani Putra, tapi suasana hatinya saat ini sedang tidak mendukung. Edo takut dia nantinya salah bicara pada Putra. Edo menghidupkan ponselnya kembali, selesai memasukkan kata sandi.
"Kak."
Edo terperanjat, kaget. Ponselnya langsung terjatuh ke lantai. Edo melirik kesal ke arah Dinda yang baru keluar dari kamar.
"Apa!?" seru Edo.
"Ih! Marah mulu sih, Kakak memangnya punya dendam kesumat apa sama aku!?" seru Dinda ikut kesal. Dinda melangkah ke depan, berniat mengambilkan ponsel Edo yang terjatuh.
Saking buruknya suasana hati Edo, dia sampai tidak sadar bahwa ponselnya baru saja terjatuh.
Tanpa sengaja Dinda membaca chat yang ada di ponsel Edo saat menekukkan lututnya untuk mengambil ponsel itu. Edo masih tidak menyadarinya karena kesal melihat Heru yang gorokannya makin keras saja. Semakin keras gorokan Heru, itu artinya mimpinya semakin indah. Heru saat ini tengah menari bersama bidadari-bidadari surga. Entah kapan pemuda satu itu sampai di surga. Amalnya aja masih mentah. Yah, namanya juga mimpi.
Mata Dinda melotot membaca pesan di balok chat terakhir dalam tampilan ponsel, Dinda jadi penasaran, dia men-scroll chat-an di ponsel Edo tanpa izin. Refleks.
Tiga detik kemudian Edo langsung merebut ponselnya dari Dinda. "Kok ponsel gue sama Lo!?" Edo melotot tajam, marah. "Ah, lo baca isi chatnya ya!? Ngaku lo!" Edo kini benar-benar marah, Heru sampai terbangun dari mimpi indahnya. Heru mendengus sebal, dia sudah kembali ke dunia, padahal baru saja merasa senang karena berada di surga-- surga dalam mimpinya.
Tangan Dinda langsung gemetaran, takut. "Aaa... apa sih, aku mau ambilin ponsel Kakak yang jatuh aja kok. Aku... gak aaa... ada baca isi chat Ka... kak."
Mata Edo melotot sempurna, dia tau Dinda berbohong.
"Lo benar-benar ya--" Sebelum tangan Edo melayang ke wajah Dinda, Heru sudah lebih dulu melayangkan tamparannya ke Edo.
"Jadi gini sikap lo ke perempuan!?" Heru marah. 1,5% karena Edo mau menampar Dinda, 98,5% karena mimpi indahnya terganggu. "Do! Lo bener-bener gak ada akhlak ya? Dia cuma mau ngambilin ponsel lo! Dan gini cara lo berterima kasih, hah!?"
Edo menatap Heru dengan sorot mata tajam berapi-api. Marah besar. "Dia yang gak ada akhlak!" Edo menunjuk Dinda, Dinda langsung mundur, takut. "Siapa suruh dia baca chat gue!? Dan kenapa gue harus berterima kasih pada dia yang seenaknya ngambil ponsel orang!?"
"Gadis ini kan tidak sengaja membacanya saat mau ambil ponsel--"
"Gak sengaja apanya!? Dia jelas sengaja baca chat gue! Gue lihat sama mata kepala gue sendiri dia nge-scroll chat gue!" Edo masih marah. Tidak mereda sedikit pun amarahnya. Dia benar-benar telah dikuasi oleh emosi.
"Memangnya isi chat lo apaan sih!? Baperan banget jadi cowok!" Heru langsung merebut paksa ponsel Edo.
Dengan cepat Edo mengambil kembali ponselnya dari tangan Heru. "Lo kenapa rebut ponsel gue!?" seru Edo yang kini amarahnya semakin meluap-luap.
Sedangkan di luar sana, Pito masih mengejar Putra yang jalannya cepat kayak angin badai. Tak terkejar.
"Put!" Nafas Pito tersengal-sengal. Maklum kalau Pito tenaganya rada-rada tidak sesuai dengan realita tenaga laki-laki pada umumnya. Pito itu anak rumahan yang nolep. Kuliah hanya karena suruhan orangtuanya, karena tidak mau berurusan banyak dengan orangtuanya, Pito memilih kuliah di luar kota, tinggal di asrama, agar bisa nolep sepuasnya.
Putra tidak menghiraukan sekitarnya, hanya terus melangkah ke depan. Putra tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa dia menangis? Kenapa dia tidak menyadarinya? Bukankah Putra sudah belajar untuk menerima dan mengikhlaskan semuanya? Jadi, kenapa?
Apa menerima takdir itu tidak segampang kalimat-kalimat indah di luar sana? Apa mengikhlaskan kepergian orang yang sangat dia sayangi tidak segampang yang dia pikirkan?
Putra mampu menasehati Dinda agar mau memaafkan orang yang seharusnya dia sayangi, tapi Putra tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang masih sulit untuk menerima dan mengikhlaskan takdir hidup ini.
"Put..." Pito akhirnya berhasil menyusul Putra, menepuk ringan bahu Putra. "Haaah... haaah... jalan lo cepat amat sih...." Pito masih menyesuaikan nafasnya.
Putra tersentak kaget melihat Pito. "Aaa... ada apa lo nyusul gue To?" tanya Putra kaget.
"Tadi gue lihat lo nangis jadi takut ada apa-apa entar." Pito membungkukkan punggungnya, memegangi kedua lutut.
"Mata gue perih aja kok tadi. Gak usah disusul lah, orang gue cuman mau nyari angin doang," jawab Putra ngasal. Dia malu kalau harus mengakui bahwa dia benar-benar menangis.
Pito tidak ingin melanjutkan pembahasan, dia tau Putra sengaja berbohong demi harga diri. "Ya sudahan ajalah cari anginnya. Balek yuk!" ajak Pito dengan dialek khas-nya lagi.
"Ya udah, lo duduk aja dulu, gue tungguin. Itu tampang lo kek orang mau mati." Putra tertawa kecil, menepuk-nepuk bahu Pito. Duduk di atas aspal yang masih anget-anget.
Pito jelas langsung duduk, tidak akan menolak. Pito sangat kelelahan mengejar Putra.
oOo
Heru menepuk keningnya melihat tingkah temannya yang satu ini. "Minta maaf sama gadis ini!" seru Heru pada Edo.
"Kenapa gue yang harus minta maaf!?" balas Edo berseru kembali pada Heru.
"Sudah Kak..." Dinda menundukkan pandang, merasa sangat bersalah. "Kak Edo... Dinda minta maaf sudah megang ponsel Kakak, Dinda cuman mau ngambilin ponsel Kakak yang terjatuh aja kok. Dinda juga minta maaf... maaf... Dinda baca chat-nya."
Edo melipat kedua tangannya di depan perut. "Gak! Gue gak akan maafin lo!" Edo berseru sebal, menggerutu.
"Do!" seru Heru.
"Tidak apa-apa Kak Heru. Kalau memang kak Edo gak mau maafin Dinda, orang memang Dinda yang salah." Dinda tersenyum tipis, melihat Heru dengan raut mata yang sayu.
"Apa ada cara agar Kakak mau maafin Dinda?" tanya Dinda pada Edo.
Edo hanya diam, memalingkan wajahnya.
Dinda menghela nafas. "Kakak salah jika menilai semua perempuan dari seorang perempuan yang pernah ada di hati Kakak. Maaf kalau Dinda lancang... berhentilah buta karena cinta! Buka mata Kakak baik-baik!" Dinda menaikkan nada suaranya, melihat Edo dengan mata sayunya.
"Lo jangan pernah sok tau!" Edo berseru kesal, melangkah keluar rumah.
Dinda mau mengejar Edo, tapi langsung dihentikan oleh Heru. "Biarkan saja dia seperti itu, dia pasti saat ini sedang mikirin kata-kata lo tadi." Heru tersenyum tipis pada Dinda. Menyuruh Dinda untuk balik ke kamar.
Edo menghempas punggungnya di kursi yang ada di teras rumah. Menutup kedua matanya dengan lengan tangan kiri. "Haaaah..." Edo menghela nafas berat.
Setelah memastikan Dinda masuk ke dalam kamar kembali, Heru langsung keluar rumah, menyusul Edo.
"Kenapa lo ikutin gue?" tanya Edo sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Siapa yang ngikutin lo? Gue gak enak aja kalau di dalam berduaan sama gadis itu." Heru menyenderkan punggungnya ke kursi yang ada di teras, duduk tepat di sebelah Edo.
"Lo masih belum bisa move-on dari mantan lo?" tanya Heru memulai topik, padahal Heru tau betul, itu topik sensitif bagi Edo. Tapi Heru tak peduli, siapa suruh Edo menyakiti hati seorang perempuan.
Edo tidak menjawab.
"Dia masih jadian sama pacar barunya itu?" Heru kembali bertanya, memanas-manasi Edo. Karena tadi dia belum dapat respon. "Oh bukan pacar baru lagi ya? Mereka kan udah 2 bulan pacaran, aneh ya, kalian aja putusnya 1 bulan yang lalu," sambung Heru makin panas.
Edo mengernyitkan keningnya, menggepalkan tangannya, mau menonjok Heru. Edo membuang nafas, mengundurkan niatnya untuk membuat keributan lagi. Dia cukup mempekakkan telinganya untuk tidak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Heru saja.
Setelah masuk kamar, Dinda mengambil mukenah, membaca ayat suci Al-Qur'an. Dinda sudah tidak bisa tidur lagi malam ini. Lebih baik mendoakan pak Parno dan mencari amal ibadah.
"Lo... gak akan jadi homo kan Do?"
Edo kini melotot tajam menatap Heru setelah mendengar pertanyaan tidak mengenakkan tadi. Fix, dia gagal mempekakkan telinganya.
Heru tertawa kecil melihat reaksi Edo. Heru sudah puas.
"Do!" Heru menyikut lengan Edo, tersenyum tipis, "suatu hari nanti, gue yakin, akan ada perempuan yang mampu mengubah pandangan lo terhadap setiap perempuan di muka bumi ini."
Edo memalingkan wajahnya, tidak mengindahkan ucapan temannya sendiri, Heru.
"Assalamu'alaikum." Putra melepas sendalnya, langsung naik ke teras rumah. Pito tertinggal 2 meter di belakang Putra.
"Wa'alaikumsalam," jawab Edo dan Heru samaan.
"Lah? Kalian kenapa di luar? Apa terjadi sesuatu?" tanya Putra nampak penasaran. Putra melirik Edo, jelas terlihat ekspresi Edo yang masih kesal.
"Gak ada Put, aman kok." Heru yang menjawab.
Putra tau Heru berbohong, pasti telah terjadi sesuatu saat dia pergi tadi. Dan mungkin... Dinda adalah penyebab Edo bisa kesal.
Putra mengajak teman-temannya masuk kembali ke dalam rumah, banyak nyamuk di luar.