"Karena yang mengalami, merasakan, dan menjalani adalah kita. Bukan orang lain, bukan siapa-siapa, tapi kita. Jadi... ikutilah kata hatimu, asal kamu tetap berada di jalan yang lurus. Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain, karena semua orang, punya start yang berbeda." -- Meitantei --
"Aduh!" Dinda terperanjat kaget saat tiba-tiba pipinya tersentuh kaleng dingin.
Putra tertawa kecil melihat reaksi Dinda. "Tidak ada minimum panas di mini market. Kakak lupa, ini Indonesia, bukan Jepang. Hahaha."
Dinda ikut tertawa mendengar candaan Putra. Mengambil minum yang disodorkan oleh Putra. "Terima kasih Kak."
Putra mengangguk, tersenyum tipis, menyeruput minumannya.
"Din... sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Putra.
"Di rumah Heni, Kak."
"Owh gadis yang tadi bersama mamanya itu?" tanya Putra.
Dinda mengangguk, mengiyakan.
"Syukurlah Din, kamu dapat teman-teman yang baik." Putra tersenyum tipis dengan raut mata berkaca-kaca menatap Dinda.
"Kakak juga, Kakak juga beruntung dan harus bersyukur punya teman-teman yang baik." Dinda ikut tersenyum, senang melihat Putra nampak lebih baik.
"Hahaha, iya. Eh kamu tau Din... Bapak dulu sering menceritakanmu pada Kakak, setelah Kakak lulus dari sekolah dasar dulu, nama yang paling banyak disebut oleh bapak setiap harinya adalah kamu. Kita saat sekolah dasar dulu tidak saling mengenal, walau kita tetanggaan, hahaha. Karena penasaran, Kakak pergi ke rumahmu diam-diam, kamu tak pernah keluar rumah kecuali untuk pergi ke sekolah. Saat Kakak sengaja pulang lewat rumahmu, Kakak melihatmu selalu membawa sekantong plastik berisi makanan cepat saji dan makanan ringan setiap pulang sekolah. Dulunya Kakak berpikir bahwa kamu memang suka makanan seperti itu."
Dinda tersenyum tipis mendengar perkataan Putra. Ingat masa lalunya dulu.
"Sampai akhirnya Kakak memberanikan diri untuk bertanya padaku bukan? Tentang seberapa sukanya aku pada makanan itu? Sampai 3 tahun lamanya Kakak selalu pulang lewat rumahku. Tapi setelah 3 tahun itu aku jarang melihat Kakak lagi." Dinda menyela, ikut bercerita.
Putra tertawa kecil mendengarnya. "Saat masih SMP, aku selalu pulang sesuai jadwal, tapi setelah masuk SMA, aku selalu pulang sore karena singgah selalu di perpustakaan. Aku ingin masuk kuliah kedokteran agar bisa menyembuhkan penyakit jantung bapak, tapi sebelum aku menjadi dokter, nyatanya bapak sudah lebih dulu dipanggil Tuhan untuk kembali ke sisinya."
"Bukankah Kakak sendiri yang bilang? Bapak hidup sampai di hari ini adalah suatu keajaiban, karena dokter tidak memperkirakan bapak akan hidup sampai bertahun-tahun lamanya. Menurutku... bapak masih bertahan sampai bertahun-tahun itu, karena Kakak. Pasti bapak sangat bahagia melihat Kakak semangat dan rajin berusaha untuk meraih cita-cita Kakak, pasti bapak bahagia melihat Kakak mendapatkan teman-teman yang baik. Karena kebahagiaan itu... adalah obat, Kak, obat terbaik yang tidak dipelajari dan tidak ada di list mata kuliah kedokteran." Dinda tertawa kecil, seolah paham sekali maksud perkataannya sendiri. Seolah semua yang disampaikannya adalah benar, tapi memang.. perkataan Dinda tidaklah salah, sama sekali tidak salah.
Putra menatap Dinda sejenak. "Kamu paling bisa menghibur ya? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah di hatimu itu... ada kebencian yang teramat besar?"
Dinda terperanjat kaget, untuk kemudian tersenyum dengan raut mata yang sayu.
"Ada beberapa hal, yang lebih baik disimpan rapat-rapat sendirian Kak. Karena tidak semua hal, baik untuk dibicarakan."
Putra menepuk ringan bahu Dinda. "Belajar lah untuk memaafkan Din, walau itu sangat sulit, atau mungkin kesalahan orang tersebut amat besar dan tidak bisa untuk dimaafkan. Bapak pernah bilang pada Kakak... Allah saja mau memaafkan hamba-Nya yang selama hidup tidak pernah berbuat kebajikan, setiap dia bernafas, dia selalu berbuat dosa, dia selalu bermaksiat, sampai malaikat Atid kewalahan mencatat semua dosa-dosanya, sedangkan malaikat Raqib tidak pernah mencatat apapun, dia seperti pengangguran."
"Lihat, Allah dengan mudah maafkan hamba-Nya, yang ingin kembali ke jalan-Nya, yang mau bertaubat atas segala dosa-dosanya. Bagaimana kita... yang hanya seorang manusia saja tidak bisa memaafkan sesama manusia? Jika masih berat rasanya.. maka sedikit demi sedikit saja kamu mau untuk memaafkan, maka maafkanlah Dinda. Tak baik membawa kebencian itu selama hidup kita, tak ada berkahnya."
"Apa yang dilakukan keluarga almarhum ibu pada Kakak, tidak pernah membuat Kakak sekali pun membenci mereka. Bukan berarti Kakak bodoh, hanya saja Kakak berpikir... jika Kakak membenci mereka, memangnya Kakak akan lebih baik? Apa untungnya Kakak benci pada mereka? Tidak ada. Kakak juga tidak pernah mempermasalahkan milik Kakak yang diambil dan dicuri oleh mereka, jika mereka mau, Kakak ikhlas. Kakak juga tidak membutuhkan warisan dari ayah Kakak. Bagi Kakak... Bapak sudah cukup. Walau kini rasanya... Kakak tak punya apa-apa lagi, tapi setelah mendengar perkataanmu, Kakak jadi ingat, Kakak punya teman-teman yang hebat, teman-teman yang baik, teman-teman yang tulus menyayangi Kakak. Dan Dinda... juga punya teman yang seperti itu bukan?" Putra tersenyum tipis pada Dinda.
Dinda menundukkan pandangannya dengan raut muka sedih. "Ya... tapi Dinda tidak bisa sekuat Kakak, rasa benci ini... sudah 10 tahun tertanam di hati ini, Kak. Bagaimana bisa dalam 10 detik, atau mungkin 10 menit Dinda mampu untuk memaafkannya?"
"Kamu pasti bisa Dinda. Karena itu kamu. Kakak percaya padamu." Putra memberi semangat pada Dinda, melupakan sedikit demi sedikit perasaan sedihnya yang tersisa.
"Tapi--"
"Dinda, jangan pernah meletakkan kata 'tapi' dalam kamus hidupmu. Kata itu hanya akan membuatmu selalu mengelak dari jalan hidupmu. Waktu akan terus berlalu, nasib dan takdir akan selalu berubah. Roda kehidupan selalu berputar, tidak selamanya kita akan sedih, juga tidak selamanya kita akan bahagia." Putra langsung menyela ucapan Dinda, menjelaskan.
"Saat ini, kita tidak berbicara tentang kehilangan seseorang yang amat kita sayangi, lupakan itu sejenak." Putra berdiri dari duduknya, melompat turun dari batu besar. Berjalan di atas pasir.
Dinda ikut melompat turun, menyusul Putra.
"Kali ini, mari kita buka bab baru, tentang memaafkan. Memiliki rasa benci yang amat besar pada seseorang yang seharusnya disayangi itu tidaklah baik. Karena untuk apa kita membencinya? Bukankah seharusnya kita menyayanginya dan mendoakannya untuk bisa berubah?" Putra menghentikan langkahnya, tersenyum tipis pada Dinda, mengangkat jari kelilingnya. "Berjanjilah pada Kakak, apapun yang terjadi, jangan pernah menyimpan rasa benci itu lagi. Kakak tau, Dinda perempuan yang baik bukan? Apa Dinda tidak ingin bertemu nenek Dinda di surga?"
Dinda menatap lama jadi kelingking Putra. Dinda menggepalkan erat tangannya. Memalingkan wajahnya dari Putra untuk sejenak. "Dinda tidak bisa janji, tapi Dinda akan mencoba."
Putra tersenyum senang, mengangguk cepat. "Itu bagus." Putra mengelus lembut kepala Dinda, mereka sudah seperti kakak adik saja. "Ya udah, sekarang kita pulang. Istirahat."
Dinda ikut mengangguk. "Maaf Kak, niatnya Dinda mau menghibur Kakak, tapi malah Kakak yang menghibur Dinda."
Putra menoleh ke Dinda, kembali tersenyum. "Bukankah sesama muslim itu bersaudara? Dan jika bersaudara harus saling tolong-menolong? Dukung-mendukung, bantu-membantu? Dan Kakak senang, jika Dinda benar-benar mau memaafkan kesalahan orang yang seharusnya Dinda sayangi. Juga, mari... kita sama-sama belajar untuk mengikhlaskan kepergian orang yang amat kita sayangi."
Dinda mengangguk cepat, tersenyum lega.
Dinda dan Putra kembali ke rumah, menaikki motor.
Selama di atas motor, Dinda lebih banyak diam, Putra pun tak memulai percakapan apa-apa. Mereka saat ini butuh ruang dalam hati dan pikiran untuk sendiri. Kali ini mereka tidak saling memahami, hanya saja mereka sedang memikirkan masalah mereka sendiri, terlelap di dalam cerita masing-masing.
Bagi Dinda, melepas dengan Ikhlas, lebih mudah daripada memaafkan seseorang yang tak akan pernah bisa untuk dimaafkan.
Sedangkan untuk Putra, masih sulit rasanya untuk menerima apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Seseorang yang sangat dia sayangi, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya telah pergi untuk selama-lamanya. Ternyata, kehilangan orang yang paling disayangi, lebih menyakitkan daripada kehilangan harta benda.
Akan tetapi...
Dinda mau mencoba untuk mulai memaafkan ayahnya. Seseorang yang seharusnya dia sayangi. Dinda sendiri pun tak tau apa benar dia bisa memaafkan laki-laki itu.
Putra ingin menerima dengan ikhlas takdir ini. Putra bersyukur sampai pagi tadi, dia masih bisa melihat bapaknya. Putra bersyukur, keajaiban 3 tahun itu, benar-benar ada. Tapi apa benar dari lubuk hatinya yang paling dalam, Putra ikhlas menerima takdir itu?
Edo, teman Putra menunggu di luar rumah, duduk bermenung di atas kursi.
Bunyi motor membuat Edo menoleh, Edo langsung berdiri, melangkah ke depan.
"Dari mana?" tanya Edo nampak antusias, memasang sorot mata tajam.
"Luar," jawab Putra pendek.
"Luar mana?" tanya Edo kembali. Edo ingin mendapatkan jawaban yang benar-benar jelas dan tepat.
Putra memasang wajah sebal menatap Edo, pemuda yang terlalu kepo ini, pengen tau banget urusan orang.
"Pantai Kak, cari angin. Kenapa? Kakak marah gak diajak?" Kini Dinda yang bertanya, ikut memasang wajah serius. Niatnya hanya bercanda, mencairkan suasana.
Edo melirik tajam ke Dinda, mendengus.
"Do!" seru Putra nampak kesal.
"Apa?" tanya Putra dengan memasang ekspresi wajah malas.
"Lo jaga sikap dong sama Dinda, jangan gitu." Putra menasehati Edo, Edo kembali mendengus.
"Iya, iya." Edo kini melirik Dinda. "Maaf..."
Dinda mengangguk, heran. Ada apa dengan mereka berdua? Dinda bertanya-tanya dalam hati.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
"Din, kamu istirahat di kamar Kakak saja. Kakak dan teman-teman di luar."
"Eh!? Gadis ini nginep di sini?" tanya Edo kaget.
Putra dan Dinda serentak menoleh ke arah Edo, 2 teman Putra yang sejak tadi main dengan ponselnya ikut menoleh.
"Ya. Kenapa?" tanya Putra.
"Kenapa-kenapa apanya!? Lo gak lihat Put, di sini ada 4 cowok, dan lo bilang gadis ini akan menginap di rumah ini malam ini!? Yang benar saja!" Edo memasang ekspresi kesal. Marah besar.
"Yah tidak akan terjadi apa-apa, jadi tidak masalah." Putra menghela nafas, dia sudah memikirkan ini sejak tadi. "Din... kamu kunci pintu kamar ya." Putra menoleh ke Dinda, tersenyum tipis.
Dinda mengangguk, langsung masuk ke kamar Putra.
"Ya sudah. Sana lo tidur!" seru Putra ke Edo sambil melempar kunci motor.
Edo langsung menangkap kunci motor yang dilempar Putra, menyusul Putra yang melangkah ke belakang.
"Mau kemana Put?" tanya Edo.
"Ngecek pintu belakang doang." Putra melambai-lambaikan tangan, menghilang di ujung belokan.
Edo menghentikan langkahnya, tidak jadi ngekor Putra.
Selesai Putra mengunci pintu belakang, dia kembali ke ruang tamu, menemui teman-temannya.
"Maaf ya, kalau kalian harus tidur di luar."
"Hahaha gak masalah Put. Asal lo gak nyuruh kami tidur di emperan jalan." Salah satu teman Putra menanggapi, tertawa kecil, mencoba mengubah suasana.
Putra tau temannya hanya sedang bercanda, tapi sayangnya sulit untuk Putra tertawa saat ini, apalagi sekedar menanggapi candaan temannya.
Kedua teman Putra itu bernama Heru dan Pito. Yang mencoba bercanda tadi adalah Heru. Pito sibuk dengan game onlinenya. Tidak menanggapi obrolan teman-temannya.
Edo mengambil ponsel Pito. Pito langsung terdiam, tangannya masih dengan mode memegang ponsel, tapi sayangnya ponsel miliknya sudah di tangan Edo.
"Lo datang ke sini mau main game atau apa!?" tanya Edo memasang ekspresi kesal.
"Dua-duanya!" Pito balas berseru kesal, mengambil kembali ponselnya dari Edo. Tidak tercapai, Edo terlalu tinggi darinya.
Pito mendengus sebal. "Lo mau balikin ponsel gue atau mau dengar aib lo gue buka?" Pito memasang ekspresi wajah mengancam, serius.
Edo menelan ludah, langsung mengembalikan ponsel Pito. "Inih!"
Pito tersenyum senang mendapatkan ponselnya kembali.
"Lo apa-apaan sih! Sama aja kek perempuan! Main ancam-ancaman, pake acara buka-buka aib lagi." Edo mendengus kesal. Menatap sinis Pito.
Pito tak peduli, lanjut main game.
"Wei Do, kalau ada perempuan yang dengar kalimat lo tadi, lo bakal mampus loh," sahut Heru yang sedang mencolokkan charger ke saklar yang ada di dinding.
"Apaaan, memang benar kok." Edo menggerutu.
"Gak semua perempuan seperti itu Do, jangan pernah suudzon apalagi sampai menyebutkan golongan atau orang-orang tertentu. Yang buruk menurut lo belum tentu buruk. Yang baik menurut lo juga belum tentu sebaik itu." Putra menasehati, mengambil selimut yang sudah terletak di atas karpet tempat mereka semua duduk.
Edo melirik sebal Putra.
"Lo ngomong baik-baik terhadap perempuan karena lo belum tau aja sikap mereka semua kayak gimana. Kalau udah tau bakal skakmat lo!" balas Edo.
Heru menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Edo pada Putra. Pito masih sibuk dengan ponselnya, nampak tidak peduli. Sedangkan Putra hanya tersenyum tipis, membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu mengambil Al-Qur'an yang ada di atas meja.
Melihat Putra sedang tadarus, Heru yang bingung mau ngapain lagi ikut tadarus. Pito mencari tempat untuk menyudut, tidak ingin menganggu teman-temannya yang sedang membaca Al-Qur'an. Edo hanya duduk diam, manyun.
oOo
"Ah, maaf--"
Dinda yang baru keluar kamar bertabrakan dengan Edo yang hendak ke kamar mandi untuk mencuci muka, pukul satu malam.
Edo melihat Dinda dengan ekspresi kesal. "Kalau jalan tu pakai mata dong!" seru Edo.
"Gimana jalan pakai mata, orang di mana-mana jalan pakai kaki," jawab Dinda. Pikiran Dinda sedang kacau karena baru bangun tidur, hendak ke kamar mandi karena ada panggilan alam, jadi jawabnya asal-- walau faktanya jalan memang pakai kaki. Tetapi sayangnya Dinda apes malam ini karena harus menabrak pemuda yang entah kenapa sangat membenci perempuan.
"Jangan ngelucu deh!" seru Edo.
"Siapa yang ngelucu sih!" Dinda balas berseru, dia sudah sangat kebelet. "Udah ah! Dinda maafin Kakak! Minggir sana, Dinda udah kebelet nih." Dinda langsung berlari ke kamar mandi.
Edo masih berdiri di depan pintu, nampak sedang berpikir. 'Oh benar juga ya, orang di mana-mana jalan pakai kaki.' Edo masih memikirkan jawaban Dinda tadi, pikiran Edo juga kacau karena dia baru bangun. "Eh emangnya gue salah apa?! Gue gak perlu maaf dari lo!"