"Merasa lemah dan menyedihkan adalah ketika kita tidak mampu untuk melepas seseorang yang kita sayangi dengan ikhlas. Mengapa kita tidak bisa? Bukankah semuanya hanya titipan? Bukan milik kita, itu milik Allah SWT." -- Meitantei --
Setelah mobil yang dikemudikan mama Heni menjauh, Dinda menatap Putra.
"Kak, Dinda boleh menginap di sini malam ini kan?" tanya Dinda ragu-ragu.
Putra mengangguk, samar. Di rumah ini ada 4 laki-laki, perempuan hanya Dinda seorang, walau tau tidak akan terjadi apa-apa, karena Putra sangat tau teman-temannya, tapi Putra mencemaskan rumor yang akan beredar dari tetangga nantinya.
"Kakak tidak perlu khawatir, tidak akan ada rumor apa-apa. Apalagi dalam suasana duka seperti ini, tetangga kita tidak seburuk yang Kakak duga." Dinda tersenyum tipis, seolah tau apa yang sedang dipikirkan Putra.
Putra tertawa kecil, baru kali ini setelah mendengar kabar kematian Pak Parno, Putra bisa tertawa.
"Ada yang ingin Dinda bicarakan dengan Kakak." Dinda tersenyum tipis, mengajak Putra untuk segera masuk kembali ke dalam, di luar terlalu dingin dan banyak nyamuk.
Putra tersenyum tipis, balas mengangguk, mengikuti langkah Dinda ke dalam rumah.
Teman-teman Putra yang sedang tadarus melirik mereka untuk sejenak, kemudian melanjutkan tadarus mereka.
"Tak enak di sini Kak, kita di halaman belakang saja."
Putra kembali mengangguk, meminta Dinda untuk menunggunya sebentar. Putra langsung melangkah cepat ke kamarnya, membawakan selimut untuk Dinda.
"Eh, Kakak bagaimana?" tanya Dinda khawatir.
"Tenang saja, Kakak kebal kok."
Dinda awalnya ragu, tapi melihat Putra begitu yakin Dinda jadi menghela nafas, menerima selimut pemberian Putra, melangkah ke halaman belakang lewat pintu belakang. Setelah sampai di luar, Dinda langsung menyelimuti tubuhnya.
"Kakak serius tidak apa-apa? Nanti Kakak sakit loh karena kedinginan," cemas Dinda.
Putra tersenyum tipis, mengelus lembut kepala Dinda. "Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir."
Dinda mengangkat kedua bahunya. Sudahlah, terserah Putra saja, Dinda kelihatan tidak mau tau lagi.
"Kak... menangislah jika itu bisa meringankan beban di hati Kakak, marahlah jika bisa membuat Kakak melampiaskan emosi negatif Kakak, dan berteriaklah, jika itu bisa mengangkat semua kesedihan Kakak. Kakak tidak perlu menutupi perasaan Kakak." Dinda memerengkan kepalanya 60° tersenyum tipis menatap Putra.
"Kak... hidup kita tidaklah seindah bintang-bintang di langit. Yang menerangi malam karena kerlip cahayanya, yang sangat cantik lagi disukai orang-orang. Kita dan bintang itu, ibarat langit dan bumi, jauh sekali perbedaannya. Dari kecil, apa itu kebahagiaan? Apa itu kasih sayang? Kita tak pernah merasakannya." Dinda menengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang, tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi... masa kecil Kakak masih lebih baik dariku, walau tidak sebaik yang aku pikirkan juga. Tapi setidaknya, dari usia 8 tahun, Kakak merasakan apa itu kasih sayang, dari seorang bapak yang tulus menyayangi Kakak sebagai putra sekaligus kemenakan satu-satunya. Walau sebelum itu, masa kecil Kakak lebih buruk dariku. Tapi bukankah Kakak kembali menemukan seseorang yang sangat berarti? Yang menyayangi Kakak lebih dari menyayangi dirinya sendiri."
"Kakak menemukan orang itu dengan cepat, seolah cobaan buruk di hidup Kakak sudah kandas, walau aku tak bisa membayangkan hal-hal yang terjadi sebelum itu. Tapi bukankah semua orang tau? Kebahagiaan sejati, datang dari hal-hal buruk yang pernah terjadi? Dan Kakak, bisa melalui semua masa-masa itu dengan baik. Aku tau... bagi Kakak, almarhum pak Parno adalah segalanya. Kematian pak Parno, membuat Kakak kehilangan jati diri Kakak sendiri. Luarnya memang tidak terlihat, tapi apa yang ada di dalam hati Kakak, aku tau, karena aku sering kali merasakannya. Sampai kebal." Dinda kembali tersenyum, tipis. Mengulang kalimat 'kebal' Putra.
Putra tidak memotong pembicaraan Dinda dari tadi, dia hanya menundukkan pandangannya dan sekali-sekali mendongkakkan kepalanya menatap bintang-bintang.
"Apa yang terjadi di dalam hidup ini, semua adalah skenario terindah dari Allah untuk kita. Seburuk apapun kejadian yang kita alami, pasti ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari semuanya."
Dinda kembali mendongkakkan kepala, menatap bintang-bintang. "Hahaha. Lucu bukan? Aku yang selama ini selalu saja terpuruk atas semua yang terjadi dalam hidupku, malah berusaha menghibur dan sok menasehati Kakak." Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangan, terdiam.
"Tidak. Sama sekali tidak Din. Dibanding siapapun, Kakak juga mengerti dirimu, pasti berat bukan menanggung semuanya sendirian? Tempat untuk kamu bersandar dan mengukir hari-hari yang indah untuk diceritakan pada orang yang kamu sayangi itu sudah tidak ada, orangnya tak akan pernah kembali lagi. Kematian... mengajarkan kita untuk melepas, menerima dan mengikhlaskan."
Dinda menoleh pada Putra, tersenyum lega. "Kak, sepertinya Kakak telah berhasil keluar dari lubang gelap itu."
Putra memalingkan wajahnya. "Tidak sepenuhnya, aku masih belum bisa menerima semuanya dengan ikhlas."
"Kak, ke pantai yuk!" ajak Dinda tiba-tiba, bersemangat.
"Eh, malam ini?" kaget Putra.
Dinda mengangguk. "Iya "
Putra nampak diam sejenak, berpikir. "Baiklah, aku ambil jaket dulu ya."
Dinda kembali mengangguk, menunggu Putra.
Setelah 2 menit, Putra kembali dengan jaket yang sudah dia kenakan, Putra juga menyodorkan satu jaket untuk Dinda. "Ini Din, pakailah dulu, biar Kakak yang meletakkan selimut ini ke dalam."
Dinda mengangguk, menyerahkan selimut ke Putra, langsung memasang jaketnya.
Putra dan Dinda pergi ke pantai dengan menaiki motor, karena jarak pantai dari tempat mereka cukup jauh.
20 menit perjalanan, mereka sampai di pantai. Dinda lebih dulu melompat turun dari motor, berlari ke pasir pantai yang terkena terjangan ombak.
"Hati-hati Dinda!" sorak Putra berseru cemas. Ombak malam biasanya tak menentu ketinggiannya, jika mereka berdua tenggelam, tidak akan ada orang yang tau.
"Tenang saja Kak!" sorak Dinda kembali. Suara ombak terdengar sangat keras, ditambah angin malam yang begitu kencang dan dingin, membuat mereka perlu berteriak satu sama lain.
Setelah memarkirkan motor, Putra menyusul Dinda. Memastikan Dinda tidak akan apa-apa berdiri di sana.
"Kak! Sekarang saatnya berteriak, berteriaklah! KELUARKAN SEMUA UNEK-UNEK KAKAK!" seru Dinda keras, menghadap ke ombak pantai.
Putra tertawa kecil melihat Dinda. Putra tak mau kalah, ikut bersorak.
"BAPAK! PUTRA HARAP BAPAK TENANG DI SANA! TIDAK PERLU MENCEMASKAN PUTRA DI SINI! PUTRA PASTI AKAN BAIK-BAIK SAJA!!! TERIMA KASIH BANYAK ATAS SEMUANYA, BAPAK!!!"
Angin malam membawa teriakan Putra ke lautan luas sana, bergema, mengalahkan suara ombak.
"TUHAN! KENAPA ENGKAU MENGAMBIL BAPAK SECEPAT INI DARIKU!? KENAPA HARUS TIBA-TIBA BEGINI!? AKU MASIH INGIN BERSAMA BAPAK!!!"
"TAPI JIKA MENGAMBIL BAPAK HARI INI MEMANG SUDAH KEPUTUSANMU, AKU AKAN BAIK-BAIK SAJA. KARENA AKU YAKIN ENGKAU MEMANGGIL BAPAK KEMBALI KE SISIMU DALAM KEADAAN SIAP! TERIMA KASIH TUHAN! TERIMA KASIH SUDAH MENGIZINKANKU MENGENAL BAPAK!"
Air mata mengalir membasahi pipi Putra, Putra langsung menyekanya. Walau sedikit, perasannya sudah lebih ringan. Dinda memeluk bahu Putra, menenangkannya.
Setelah keadaan Putra nampak lebih baik, Dinda mengajak Putra untuk kembali ke rumah. Putra langsung mengangguk, tapi Putra izin beli minum dulu di mini market seberang yang jaraknya 10 meter dari posisi mereka berdua berdiri saat ini, kerongkongan Putra terlanjur kering.
Dinda mengangguk, tapi menolak ikut.
Setelah Putra menjauh dari bibir pantai. Dinda menatap sekelilingnya. Tidak ada orang.
"AYAH! DINDA BENCI AYAH! SANGAT-SANGAT BENCI! DINDA HARAP AYAH LENYAP SAJA DARI DUNIA INI! DINDA TAK INGIN MELIHAT WAJAH AYAH LAGI! DAN DINDA TAK AKAN PERNAH MEMANGGIL AYAH SEBAGAI AYAH DINDA LAGI!"
Dinda berbalik, langsung menyenderkan tubuhnya ke pohon-pohon di atas batu. Menghela nafas lega.