Bab 11

1105 Kata
"Aku sudah cukup merasa bahagia. Bila aku tak lagi berjumpa denganmu. Bagiku... bahagia itu sederhana, kau jauh dariku saja, sudah jadi kebahagiaan yang amat besar dalam hidupku. Aku tak akan meminta apapun lagi pada Tuhan jika kau telah tiada, untuk selamanya." - Dinda. "Nak, ayo shalat dulu," ajak umi Zahara pada ketiga gadis itu. Mereka mengangguk, menumpang shalat di rumah tetangga yang dikenal Dinda. Seolah kebakaran di rumah Dinda semalam, terlupakan karena suasana duka ini. Banyak orang yang tau bahwa Dinda adalah orang yang tinggal di rumah yang baru saja dibakar si jago merah semalam, orang-orang lupa bertanya tentang kebakaran tadi malam secara langsung kepada Dinda. Itu cukup bagus untuk Dinda, karena Dinda tak perlu mengarang alasan. Tapi ada satu hal yang ditakuti oleh Dinda kini, yaitu ayahnya. Bagaimana jika ayahnya bertanya pada tetangga tentang keberadaannya? Bagaimana jika para tetangga menjawab bahwa mereka baru saja bertemu dengan Dinda, hari ini, kemaren, kemaren lusa, atau sebelum-sebelumnya, saat ayahnya datang kembali ke wilayah ini? Apa berusaha untuk kabur dari masa lalu, kabur dari ayahnya, masih belum cukup untuk membuat Dinda tak akan berjumpa dengan manusia yang paling dia benci di muka bumi ini? Bagi Dinda... kematian ibunya, kematian neneknya, tak luput dari kesalahan ayahnya, ya, dari kesalahan manusia yang paling dia benci, yang paling dia takuti dan yang paling tidak ingin ditemuinya selama-lamanya. "Bibi, terima kasih." Heni dan Zahara menyalimi tangan pemilik rumah setelah selesai shalat dan hendak pamit. Dinda nampak ragu-ragu. Selesai Heni dan Zahara bersaliman, Dinda melangkah ke depan pemilik rumah, ikut salim. "Bibi..." "Ya Dinda? Ada apa?" Pemilik rumah tersenyum tipis pada Dinda, walau mereka tak dekat, tapi mereka berdua saling kenal. "Bi... jika suatu hari Bibi bertemu dengan Ayah, tolong... jangan bilang apa-apa tentang Dinda, apa pun yang Bibi ketahui dan lihat, tolong jangan bilang pada ayah." Suara Dinda terdengar serak, antara takut dan tak enak hati. Pemilik rumah itu tersenyum tipis, mengelus rambut Dinda. "Tenang saja Dinda... semua warga di sini tau siapa ayahmu, kami tak akan mengatakan apa-apa tentangmu pada ayahmu. Kamu tenang saja... tanpa Dinda minta pun, kami akan melakukannya." Dinda mendongakkan kepalanya, kaget. Air mata kembali mengalir untuk kesekian kalinya di pipi gadis cantik yang malang itu, Dinda. Heni dan Zahara saling tatap, tersenyum tipis. Mereka bertiga kembali ke rumah duka, membantu-bantu di sana. Putra masih dikelilingi oleh teman-temannya. Dinda tersenyum senang melihat Putra, seorang kakak laki-laki yang dari dulunya memang sudah baik padanya kini juga mendapatkan teman-teman yang baik. Dinda sangat senang dan bersyukur sekali nasib pertemanan Putra sama dengan dirinya, sama-sama punya teman dan sahabat yang pengertian dan tulus. "Dinda." Heni melambaikan tangan pada Dinda, menyuruh Dinda segera ke tempatnya. "Ada apa Heni?" tanya Dinda heran. Heni tersenyum tipis. "Ayo pulang dulu." "Eh!?" "Nanti kita balik lagi, sudah tidak ada yang bisa kita bantu di sini. Kamu perlu istirahat Dinda, sudah beberapa hari ini aku tau kamu susah tidur, jadi untuk kali ini saja... tolong dengarkan aku." Mata Heni berkaca-kaca menatap Dinda. Tak mungkin setelah melihat Heni begini Dinda menolak. "Kalau begitu aku pamit sama Kak Putra du-- ah tidak perlu, aku tidak ingin menganggu Kak Putra dengan teman-temannya. Kalau begitu kita pamit duluan sama Zahara dan keluarganya." Heni mengangguk cepat, melangkah bersamaku menemui Zahara dan abi umi-nya. Selesai berpamitan kami berdua berjalan kaki ke jalan besar, menaiki angkot untuk ke rumah Heni. 'Aku juga tidak bisa tinggal di rumah Heni terus-menerus, walau mereka nampak tidak keberatan sama sekali kalau aku tinggal bersama mereka, tetap saja aku tak enak hati. Aku harus bisa mencari tempat tinggal sendiri dan tetap melanjutkan sekolah.' Sampai di rumah Heni, mama Heni menanyai tentang segalanya yang terjadi setelah kami keluar dari gerbang sekolah. Heni yang menjelaskan, aku disuruh untuk istirahat di kamar. Hari ini.... anehnya aku bisa tidur dengan nyenyak, apa mungkin karena aku sedang benar-benar lelah? Maghrib aku terbangun, langsung shalat Maghrib. Kami diantar mama Heni untuk ke rumah duka, ikut acara berdoa bersama.' Yang memimpin doa adalah abinya Zahara. Zahara nampaknya sudah pulang, tidak kelihatan batang hidungnya. Teman-teman Putra masih ada di tempat, ikut berdoa. Dinda melirik sekali-kali ekspresi wajah Putra yang kosong. Dinda tau betul, Putra sudah mencapai lubang hitam terdalam di dirinya, karena Dinda pernah berada di posisi itu, bahkan sudah terlalu sering dari kecil sampai kebal sendiri. Orang yang tak mengerti dan mengalami apa yang dirasakan oleh Putra, tak akan bisa menghibur Putra, tak akan bisa membuat emosi Putra lebih baik. Selesai berdoa dan makan bersama, semua orang berbondong-bondong ke masjid setelah acara berdoa selesai dan ditutup, pergi shalat Isya berjamaah. Teman-teman perempuan Putra sudah pergi, sepertinya pulang ke rumah masing-masing. Beberapa teman laki-laki Putra juga sudah pergi, sepertinya juga pulang ke rumah atau kost-an mereka masing-masing. Yang tersisa tinggal 3 orang, termasuk Edo. Mereka bertiga tidak kelihatan mau pulang, mereka akan menginap malam ini di rumah duka, menemani Putra yang sejak malam ini hanya akan tidur sendirian di rumah. Ibu-ibu majelis taklim yang ikut berdoa juga semuanya sudah balik ke masjid. Abi Zahara juga pergi ke Masjid, tinggal umi Zahara yang kini mengajak Dinda dan Heni untuk shalat di rumah ini saja. 20 menit berlalu, Abi Zahara sudah balik dari Masjid, izin pamit bersama istinya. "Terima kasih Pak. Saya benar-benar berterima kasih karena adanya bantuan dari Bapak dan Ibuk." Putra menyalami abi Zahara berkali-kali, benar-benar berterima kasih. Abi Zahara tersenyum tipis, memeluk Putra. "Yang kuat Nak, sabar dan ikhlaskan saja semuanya. In shaa Allah, bapakmu tenang di alamnya kini. Beliau tidak benar-benar pergi Nak Putra, beliau akan selalu ada di hatimu." Abi Zahara menepuk ringan bahu Putra, mencoba menguatkan Putra. Umi Zahara tersenyum tipis. Abi dan umi Zahara juga pamit duluan pada mama Heni, mereka saling kenal. Setelah rumah duka itu lengang, hanya tersisa Putra dan ketiga temannya, Heni dan mamanya ikut pamit. "Kak, Heni sama mama pamit duluan ya! Walau baru pertama kali bertemu Pak Parno, Heni tau almarhum orang yang sangat baik, almarhum sangat sayang pada Kakak, jadi jangan menangis. Karena almarhum tak ingin melihat Kakak sedih." Heni tersenyum tipis, menyeka kedua ujung matanya. Walau berkata seperti itu pada Putra, tapi dia sendiri yang menangis. Putra tersenyum tipis melihat Heni. "Terima kasih Heni. Terima kasih juga Tante." Mama Heni mengangguk, memeluk putrinya yang sedang menangis. "Heni... Mama, malam ini boleh Dinda menginap di sini?" Mama Heni menoleh kaget pada Dinda. Heni langsung memberi kode pada mamanya agar mengizinkan Dinda untuk menginap malam ini di rumah duka itu. "Ah baiklah Dinda, kalau begitu besok pagi Heni dan mama akan mengantarkan baju gantimu." Dinda tersenyum senang, mengangguk cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN