Bab 10

2127 Kata
Dinda menyeka air mata yang membasahi pipinya, mengeluarkan ponsel dari tas-nya. Mencari nomor Putra, mana tau Dinda masih memiliki nomor telepon pemuda itu. Setelah mengotak-atik ponselnya, Dinda menghela nafas lega. "Syukurlah," gumam Dinda. Nomor telepon Putra masih ada di kontak Dinda. Semoga masih aktif. Teeet... teeet... Belum diangkat. Dinda mencoba menelepon lagi, masih menyeka air mata yang ada di pipinya. Abi Zahara sudah mengabari tetangga Pak Parno dari tadi, kini mereka hanya perlu menunggu kedatangan keluarga Pak Parno satu-satunya, Putra. Kematian Pak Parno memang sudah menjadi takdir yang telah Allah tulis di buku catatan takdir milik Pak Parno. Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa kita tebak, tidak bisa dimajukan, juga tidak bisa ditunda. "Halo?" "Ah, Halo Assalamu'alaikum Kak Putra." Suara Dinda masih terdengar serak, walau air mata Dinda sudah berhenti. "Wa'alaikumsalam. Dinda? Kamu kenapa? Baru menangis?" Suara Putra terdengar cemas di telepon. Dia khawatir pada Dinda. "Kak... maaf... maaf menganggu Kakak." Dinda tidak tau harus mulai dari mana, dia hanya bisa meminta maaf. "Kenapa Dinda?" Putra semakin cemas. Ada apa dengan Dinda yang baru pertama kali meneleponnya dan tiba-tiba meminta maaf, padahal mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Putra tidak tau sama sekali. "Pak Parno, Kak... Pak Parno..." "Bapak kenapa Dinda?" Setelah mendengar nama Pak Parno disebutkan oleh Dinda dengan suara serak seperti baru selesai menangis itu, Putra semakin cemas, mengemas barang-barangnya. Teman-teman Putra heran, menanyai, Putra terlalu cemas, tidak bisa menanggapi. Air mata Dinda kembali keluar, Dinda kembali menyekanya lagi. "Pak Parno... Su... sudah pergi, Kak." "Hahaha, bercanda kamu gak lucu Din," jawab Putra di balik telepon. Tangan putra sudah gemetaran memegang ponsel saat ini. "Aaa.. aku tidak bercanda Kak. Pak Parno... me... meninggal, Kak." Di balik telepon Dinda. Teman-teman Putra kaget melihat Putra terduduk di lantai, ponselnya sudah terjun bebas sejak mendengar kata 'meninggal' dari Dinda. Teman-teman Putra langsung menghampiri Putra. "Ada apa Put?" tanya salah seorang dari teman-teman Putra. Yang lainnya cemas. Putra tidak menjawab, pikirannya langsung kosong. 'Kenapa secepat ini!? Aku baru tadi pamit sama Bapak,' bathin Putra. Tidak ada waktu lagi, Putra langsung menyandang tasnya, bergegas keluar kelas tanpa berkata sepatah kata pun pada temannya. Salah seorang teman Putra yang bertanya tadi juga langsung menyandang tasnya. "Guys, titip absen gue sama Putra ya, sepertinya ada masalah serius. Nanti gue kabarin kalian. Ok?" "Ok! Hati-hati Do!" jawab teman-temannya. Edo langsung berlari menyusul Putra yang sudah sampai di depan gerbang. "Tuh anak cepat banget larinya," gumam Edo yang nafasnya tersengal-sengal. Edo tidak langsung lari ke gerbang, dia berbelok ke parkiran, mengambil motor. "Put! Ayo bareng gue!" Edo melempar helm ke Putra. Tanpa disuruh dua kali Putra sudah duduk di atas motor Edo, memasang helm. Menyuruh Edo cepat pergi ke rumahnya. Sebelum Putra selesai memberi perintah, Edo sudah memutar gas motor, membawa motor dengan kecepatan penuh. Selama di jalan Putra tak bercakap dengan Edo, Putra benar-benar kosong saat ini, dia tak tau mau apalagi, setelah sampai di rumah pun Putra tidak tau harus bagaimana. Orang paling penting dalam hidupnya, sudah pergi, untuk selamanya. Siapa lagi yang akan menyayanginya? Siapa lagi orang yang setiap subuh dan malam selalu mengajaknya shalat berjamaah di masjid? Siapa lagi yang bisa diajaknya tertawa tentang kehidupan? Orang yang memberi warna di kehidupan Putra, kini setelah dia dipanggil kembali ke sisi Tuhan, warna hidup Putra berubah jadi putih abu-abu. Melihat ekspresi dan reaksi Putra dari tadi, Edo tau betul, ini jelas bukan masalah kecil. Edo tak berani bertanya, takut menyinggung temannya itu. Seolah Putra yang dilihatnya kini, bukan seperti Putra yang setiap harinya dia kenal. Putra yang tak pernah menampakkan ekspresi kosong, Putra yang tak pernah diam untuk waktu yang lama, dan Putra yang akan selalu bertanya banyak macam hal padanya. Tetangga sigap membantu di rumah Putra, bendera kuning sudah terpasang. Pemuda-pemuda lain juga sudah menyusun kursi-kursi di halaman depan rumah, sedangkan ibuk-ibuk majelis taklim yang juga kenal dengan Dinda membantu-bantu di dalam. Abi Zahara yang mengatur tetangga-tetangga yang mau membantu. Heni dan Zahara juga ikut membantu ibuk-ibuk majelis taklim di dalam. Dinda masih berdiri di depan halaman, menunggu Putra. Jenazah Pak Parno belum dimandikan, karena menunggu kedatangan Putra, keluarga satu-satunya. "Dinda." Zahara menyodorkan segelas air putih pada Dinda. Dinda menoleh, menolak. "Terima kasih Ra, tapi aku tidak haus." Zahara tersenyum tipis mendengar penolakan Dinda. "Bukan karena kamu haus atau tidak Din. Minum saja, biar kamu lebih tenang. Ibu-ibu majelis taklim yang menyuruhku." Dinda akan merasa tidak enak jika menolak minuman yang dibawakan Zahara atas suruhan ibu-ibu majelis taklim yang sudah bersedia membantu. Dinda langsung mengambil gelas berisi air putih dari tangan Zahara, meneguknya satu tegukan. "Terima kasih Ra." Zahara tersenyum tipis. "Sama-sama." Zahara kembali membantu di dalam, meninggalkan Dinda yang masih menunggu Putra di luar. Berita kematian Pak Parno menyebar dengan cepat setelah adanya pengumuman di Masjid. Bahkan ada beberapa orang yang rela pulang dari tempatnya bekerja untuk takziah ke rumah Pak Parno. Semua guru-guru di sekolah dasar tempat Pak Parno dulu mengajar datang, juga beberapa murid yang pernah diajar Pak Parno dan ada juga murid yang bahkan tidak kenal dengan Pak Parno, karena almarhum sudah pensiun 5 tahun yang lalu, jadi yang tau beliau hanya murid kelas 6 saja. Karangan bunga berdatangan satu persatu. Membuat suasana rumah duka itu jadi ramai. Mata Edo melotot menatap rumah Putra dari kejauhan 20 meter yang ramai, bahkan sampai ada tenda di sana. Edo yang hendak mau bertanya, mengurungkan niatnya. 'Siapa yang meninggal? Bukankah itu rumah Putra? Putra tinggal hanya dengan bapaknya bukan? Atau jangan-jangan...' Banyak pertanyaan bertumpuk di pikirkan Edo, dia pendam sendiri dulu. Dinda melihat Putra yang baru turun dari motor dan sedang melepas helm, Dinda langsung melangkah menemui Putra. "Kak..." Putra tidak menjawab panggilan Dinda. Putra hanya diam dengan kosong melihat sekelilingnya. "Kak Putra." Masih tidak dijawab. "Kak Putra!" Putra tersentak kaget, melirik Dinda yang matanya merah karena kebanyakan menangis, terlebih setiap malam saat sendiri, diam-diam Dinda masih menangis karena teringat neneknya. "Ah iya. Maaf Din, aku harus masuk." Putra langsung berlari ke dalam rumah, melewati beberapa orang yang duduk di kursi. Melewati ibuk-ibuk majelis taklim. Langsung ke belakang, menemui jenazah bapaknya yang siap dimandikan. Dinda dan Edo masih berdiri di luar, tak tau harus bereaksi seperti apa. Edo membaca nama yang tertera di karangan bunga, menghela nafas karena dugaan buruknya benar. "Innalilahi wa innailaihi raji'un." Dinda mengajak Edo untuk masuk, membantu di dalam, karena sepertinya Edo dekat dengan Putra, begitu pikir Dinda. oOo Abi Zahara menepuk pundak Putra. "Kamu anak almarhum?" Putra mengangguk, menyeka ujung matanya. Abi Zahara tersenyum tipis dengan raut mata yang sayu. "Nak, saya orangtua dari salah satu gadis yang bersama bapakmu sebelum mengeluarkan nafas terakhirnya. Izinkan saya membantumu mengurus pemandian dan pemakaman almarhum." Putra hanya mengangguk samar. Mulutnya tidak bisa dibuka, Putra terlalu jauh masuk ke dalam lubang hitam setelah mendengar kabar kematian bapaknya. "Baiklah, bisa kita mandikan jenazah sekarang? Tidak baik dibiarkan lama-lama." Putra kembali mengangguk tepat saat Edo sudah berdiri di belakangnya. Putra, Abi Zahara, Edo dan beberapa bapak-bapak lainnya memandikan jenazah Pak Parno, selesai dimandikan langsung dikafankan untuk nanti disholatkan lalu dikubur. Putra tidak menangis, sama seperti Dinda dulu. Justru saat itu mereka berusaha memendam dan menyembunyikan rasa sakit itu sendirian, sampai nanti saat sudah sendiri, mereka akan mengeluarkan semuanya. Menangis bermalam-malam. Itu tidaklah baik. Apalagi sampai meratapi kepergian seseorang yang sudah dipanggil kembali oleh Allah ke sisi-Nya. Itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Selesai jenazah di sholatkan dan dibawa ke pemakaman untuk dimakamkan. Sebelum itu Abi Zahara memimpin pembacaan doa. Semua memang berlangsung dengan lancar dan baik. Hanya saja tidak untuk Putra yang sudah sampai di puncak keterpurukannya, Putra sudah berada di lubang hitam bagian terdalam. Satu-persatu orang-orang sudah meninggalkan makan. Abi Zahara juga sudah kembali membantu mengurus beberapa hal lagi untuk persiapan acara berdoa nanti malam, dibantu umi Zahara yang bergegas ke sana setelah menerima panggilan dari suaminya. Heni menarik tangan Zahara yang berdiri diam di belakang Dinda. "Ah ada--" "Sttt..." Heni langsung menyela ucapan Zahara. "Kita kembali. Ganti baju lalu kembali ke sini." "Eh tapi--" "Sudah ayo!" Heni langsung menarik tangan Zahara, meninggalkan pemakaman. Kini di makam hanya tinggal Putra dan Dinda. Edo sudah balik ke rumah duka bersama abi Zahara tadi, kotor-kotor karena ikut membantu mengangkat jenazah sampai lubang makam. Edo perlu bersih-bersih, karena teman-teman mereka sudah sampai di rumah duka. "Kak..." Putra hanya diam, tidak menjawab panggilan Dinda. Dinda menundukkan pandangannya. "Dinda pergi dulu." Dinda langsung berbalik, namun langkahnya terhenti karena Putra menarik tangan Dinda. "Tolong... temani aku." Dinda mengangguk, menekukkan lututnya di sebelah Putra. Mereka hanya diam, benar-benar diam. "Bagaimana bapak bisa meninggal secepat ini?" tanya Putra. "Dinda juga tidak tau Kak. Saat Dinda dan teman-teman sudah melangkah keluar mau pergi, Pak Parno jatuh, setelah dicek ternyata beliau sudah..." Dinda menghentikan kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan. Putra tersenyum tipis dengan mata sayu mendengar perkataan Dinda. "Bapak punya sakit jantung Din, jadi kapan saja dia bisa meninggal." Dinda tersontak kaget mendengar perkataan tiba-tiba dari Putra. "Menurut dokter, bapak tidak akan bertahan lebih dari 3 bulan lagi, nyatanya bapak sudah hidup lebih dari 3 tahun sejak dokter berkata seperti itu. Sakit jantung Bapak sangat parah, bahkan bapak masih hidup sampai hari ini saja sudah menjadi keajaiban. Sungguh, nikmat Allah itu nyata." Walau dari mulut Putra keluar hal-hal baik seperti itu, yang membuatnya seolah ikhlas melepaskan kepergian bapaknya, tapi nyatanya di dalam lubuk hati Putra yang terdalam sangat berlawanan. Dia tidak ikhlas bapaknya pergi. Dia sangat-sangat sedih. Dia masih tidak menyangka Allah secepat ini memanggil bapaknya. Kenapa tidak dia dulu saja yang meninggal? Kenapa harus hari ini Bapaknya tiada? Kenapa? Kenapa? Dan kenapa!? Semua pertanyaan itu menghantui Putra. Putra langsung berdiri, menjulurkan tangannya ke Dinda, membantu Dinda berdiri. "Ayo kembali, yang lain sudah menunggu kita." Dinda mengangguk, menerima juluran tangan Putra. Mereka berdua melangkah beriringan kembali ke rumah duka, setelah berpamitan pada Pak Parno. Dinda tidak tau bagaimana cara menghibur Putra, karena Dinda pun belum cukup seminggu ditinggal pergi oleh neneknya untuk selamanya. Dinda memilih diam, karena diam adalah pilihan terbaik. Begitupun dengan Putra, dia tidak tau harus mengajak Dinda mengobrol apa. Obrolan tentang Pak Parno adalah obrolan yang tidak ingin didengar Putra saat ini. Putra juga tau, keluarga satu-satunya yang dianggap oleh Dinda sudah pergi lebih dulu dari bapaknya, yaitu nenek Dinda. Putra tau, Dinda tidak lah menganggap ayahnya sebagai keluarga, ayah Dinda hanyalah seorang laki-laki kasar dan kejam yang ditakuti oleh gadis bernama Dinda ini. Dua orang yang baru saja kehilangan keluarga satu-satunya yang menyayangi mereka dengan tulus itu saling diam. Mereka sama-sama tau, diam adalah keputusan terbaik, agar tidak ada hati yang tersakiti karena sebuah pembicaraan. Teman-teman kampus Putra langsung menggerumuni Putra yang baru saja sampai bersama Dinda di rumah duka. Teman-teman Putra adalah mahasiswa-mahasiswi kedokteran yang baik, pengertian, setia kawan, mereka sama-sama menghibur Putra, menguatkan temannya. Melihat Putra digerumuni, Dinda memilih masuk duluan ke dalam rumah, karena di sana bukanlah lagi wilayah yang bisa dimasuki Dinda. "Hai." Heni melambaikan tangan pada Dinda, dia sedang menyicipi makanan untuk acara mendoa nanti, buatan dari ibu-ibu majelis taklim dan umi Zahara yang setelah datang langsung membantu di dapur. Zahara juga ikut menyicipi-- sepiring. Dinda tersenyum kecil melihat kedua sahabatnya itu, kejadian pilu tadi seolah sudah hilang dari benak mereka. Suasana duka ini seolah tidak terasa untuk mereka. Tapi Dinda lah yang paling tau tentang kedua sahabatnya di banding banyak orang yang datang takziah ini, bahwa kedua sahabat Dinda itu hanya sedang menghibur diri mereka sendiri. Karena Dinda tau, Zahara makan tidak sebanyak itu. Heni pun bukan tipe orang yang akan menyipi makanan sambil berdiri. Mereka lupa kebiasaan mereka masing-masing karena pikiran mereka tidak sedang berada beriringan dengan apa yang mereka lakukan, mungkin kejadian tadi... masih menghantui pikiran keduanya. Setelah selesai menyicipi makanan, Heni menyodorkan pakaian dalam kantung plastik pada Dinda. "Ini, ganti seragammu." Dinda mengangguk, tersenyum tipis. Langsung melangkah ke ruang kosong untuk mengganti seragam sekolahnya ke pakaian yang dibawa Heni tadi. Adzan berkumandang di langit-langit, terdengar begitu merdu karena dibawakan oleh muadzin yang berpengalaman lama menyuarakan adzan. Beberapa orang yang datang bertakziah sudah hilang satu persatu, ke masjid untuk shalat Ashar, beberapa yang lain memilih pulang, mengerjakan shalat Ashar di rumah. "Nak, ayo shalat dulu," ajak umi Zahara pada ketiga gadis itu. Mereka mengangguk, menumpang shalat di rumah tetangga yang dikenal Dinda. Seolah kebakaran di rumah Dinda semalam, terlupakan karena suasana duka ini. Banyak orang yang tau bahwa Dinda adalah orang yang tinggal di rumah yang baru saja dibakar si jago merah semalam, orang-orang lupa bertanya tentang kebakaran tadi malam secara langsung kepada Dinda. Itu cukup bagus untuk Dinda, karena Dinda tak perlu mengarang alasan. Tapi ada satu hal yang ditakuti oleh Dinda kini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN