Bab 9

2213 Kata
"Nak Heni, sebenarnya... Bapak bukan orangtua kandung nak Putra." Pak Parno menundukkan pandangannya, merasa sedih. "Ah Pak, jika berat rasanya Bapak tidak perlu cerita." Heni panik, gelapan, merasa bersalah. Dinda dan Zahara saling tatap, merasa tidak enak hati juga, tapi mereka lebih mementingkan rasa penasaran. Dinda juga baru tau kalau pak Parno bukan orangtua kandung Putra. "Tidak masalah Nak, ini juga alasan Bapak perhatian pada Dinda. Bapak melihat Dinda seperti melihat Putra dulu." Pak Parno tersenyum tipis, jelas dari sorot matanya dia mengingat kembali lembaran-lembaran lama itu. "Tapi kisah mereka sedikit berbeda." Pak Parno menghela nafas, nampak sudah sangat siap membuka lembaran lama itu kembali. "15 tahun yang lalu, saat Putra masih berusia 6 tahun, dia sudah menjadi yatim piatu. Ibu Putra meninggal saat melahirkannya, jadi dari lahir, putra sudah menjadi anak piatu, saat berusia 6 tahun, dia genap menjadi yatim piatu." "Tapi bukan itu yang membuat Bapak melihat Putra sama seperti melihat Dinda. Bukan." Pak Parno menggeleng, sorot matanya tajam. Heni, Dinda dan Zahara serius mendengarkan. "Setelah genap Putra menjadi yatim piatu, hak asuk Putra diambil oleh kakak perempuan ibunya. Bapak sebenarnya punya hak asuh untuk Putra juga, karena Bapak adalah adik laki-laki kandung dari ayah putra, tapi sayangnya Bapak saat itu di luar negeri, bekerja di sana, jadi Bapak tidak bisa mengurus putra." "Genap Putra berusia 8 tahun, Bapak kembali ke Indonesia, Putra nampak kusut, tidak terurus, Bapak langsung curiga dengan apa yang terjadi pada Putra. Bapak menyuruh orang memata-matai keluarga almarhumah ibu Putra, kakak ipar Bapak. Putra tidak di didik dengan baik, dia tidak disekolahkan, dia dibiarkan seperti anak terlantar, diberi makan sisa. Bapak jelas sangat syok saat tau itu. Tapi sayangnya... Bapak tidak bisa mengambil hak asuh Putra, karena Bapak masih punya kontrak untuk kerja di luar negeri." Pak Parno menundukkan pandangan, raut matanya sayu. Nampak menyesal. Heni, Dinda dan Zahara tak kuasa menghentikan Pak Parno untuk bercerita. "Satu minggu setelah Bapak kembali ke luar negeri, Bapak mendengar kabar Putra sekarat, dia ditabrak mobil, koma. Saat itu Bapak tidak bisa kembali ke Indonesia, karena Bapak sudah menghabiskan jatah cuti. Satu bulan kemudian, Bapak masih belum mendengar kabar Putra sudah siuman, parahnya lagi, wali sah putra, keluarga almarhumah ibunya tidak bisa membiayai rumah sakit Putra lagi. Bapak kesal dan marah saat tau itu. Akhirnya, Bapak memutuskan kembali ke Indonesia, memutus kontrak, memakai uang tabungan Bapak selama ini untuk membayar denda." "Di hari saat Bapak pulang ke Indonesia, Bapak langsung mengambil alih hak asuh Putra. Awalnya sudah jelas kalau pihak keluarga almarhumah ibu Putra menolak, tapi selama Putra dirawat di rumah sakit, Bapak sudah menyuruh orang yang memata-matai keluarga almarhumah ibu Putra itu untuk mengambil foto mereka memperlakukan kasar Putra. Mereka hanya menganggap Putra sebagai gembel, rela mengasuh Putra hanya karena beberapa minimarket yang dipunyai orangtua Putra akan jatuh ke tangan Putra. Tapi karena Putra masih kecil, jadi beberapa minimarket itu akan dijalankan oleh walinya Putra dulu." Pak Parno menggepalkan erat tangannya, sangat marah. "Di banding mereka, Bapak lah yang sebenarnya lebih berhak atas pengendalian minimarket itu, karena jelas minimarket itu milik kakak laki-laki Bapak yang sudah meninggal." Pak Parno menghela nafas, berusaha mengendalikan emosi. "Akibat foto-foto itu, mereka takut, dan langsung menyetujui agar Bapak yang menjadi wali Putra. Satu Minggu setelah itu, Putra siuman, Bapak selalu ada di samping Putra selama Putra siuman, sampai akhirnya Putra diperbolehkan pulang ke rumah." Tapi sayangnya kegilaan keluarga almarhumah ibu Putra tak hanya sampai di situ. Bapak menyekolahkan Putra, dan Bapak tidak tau bahwa sepupu Putra, anak dari kakak perempuan almarhumah ibu Putra juga bersekolah di sekolah dasar yang sama. Dia teman-temannya sering membully Putra, karena itu Putra tidak mempunyai teman, dicemooh, dan tak mau lagi ke sekolah. Putra hanya terus duduk di sudut rumah, memeluk kedua lututnya." 'Ah, aku tidak menyangka pemuda yang cepat tanggap dan tampan itu ternyata cengeng. Yah, aku juga tidak tau harus bagaimana kalau dulu berada di posisinya, mungkin kalau aku tidak sanggup hidup lagi,' bathin Heni. 'Oh benar, Dinda juga dulu dibully waktu SMP karena orangtua tidak pernah datang ke acara sekolah, dan juga ayah Dinda sering gonta-ganti jalan sama perempuan lain yang bukan ibu Dinda. Juga, kata teman-teman yang satu SD dengan Dinda dulu orangtua Dinda sering bertengkar,' bathin Zahara. Zahara yang dari dulu satu SMP dengan Dinda mengetahui benar maksud pak Parno bisa perhatian pada Dinda, karena Dinda memang mirip dengan laki-laki bernama Putra itu. Zahara mengangguk-angguk, berpaham. "Bapak tidak tahan lagi melihat Putra terus di-bully, anak sebaik Putra tidak pantas mendapatkan hinaan dan ejekan itu. Akhirnya Bapak memutuskan pindah kota, mencari suasana yang baru untuk Putra. Bapak kembali menyekolahkan Putra, dan ternyata ada perubahan, Putra jadi sedikit lebih bersemangat. Melihat Putra sudah lebih baik, Bapak memutuskan untuk menjadi guru di sekolah dasar tempat Putra belajar." "Putra anak yang pintar-- tidak, dia jenius! Sama seperti ayahnya, karena usia juga, pihak sekolah memutuskan untuk Putra loncat kelas. Bapak sangat senang saat itu, begitu pun dengan Putra." Saat Putra duduk di bangku kelas 6 SD, disitulah Bapak melihat Dinda. Walau Dinda tersenyum berada di samping teman-teman barunya, tapi jelas sekali dari raut matanya dia seperti kesepian, takut, gemetar. Seolah Bapak melihat Putra dulu di diri Dinda. Awalnya Bapak pikir mungkin Dinda hanya gelagapan dengan suasana baru untuknya, tapi setelah Putra lulus dan Dinda duduk di bangku kelas 2, baru lah Bapak tau ternyata Dinda sama dengan Putra. Bapak tau dari teman-teman Dinda yang mulai menjauhi Dinda, dari ejekan teman-teman Dinda di lorong-lorong sekolah." Dinda memalingkan wajahnya, terbayang masa kelamnya dulu. "Tak apa Bapak cerita Nak?" tanya pak Parno khawatir. Dinda tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Pak, Dinda sebenarnya juga ingin Heni dan Zahara tau siapa dan bagaimana Dinda." Pak Parno tersenyum hangat, bangga pada muridnya dari 10 tahun yang lalu. "Tapi jujur saat itu, Bapak kagum dengan Dinda yang tak pernah menyerah tentang hidupnya, walau tidak punya teman di sekolah, Dinda terus bersinar karena prestasi gemilangnya. Dinda anak yang cerdas, dia baik, ramah pada semua guru selama di sekolah dasar dulu. Karena kehebatan dan keramahan Dinda itu lah, romur-romur buruk tentang dirinya hilang perlahan demi perlahan. Dinda mendapatkan teman-temannya kembali, bahkan lebih banyak lagi. Bapak sangat senang saat itu." "Bapak tidak menyadari, bahwa hari-hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan sampai tahun demi tahun berlalu, perasaan negatif semakin menyelimuti Dinda. Dinda tidaklah setegar yang Bapak lihat, dia benar-benar hanya seorang gadis kecil yang bisa menutupi perasaannya seorang diri." "Bapak... saat itu Bapak tetap mengulang kesalahan yang sama, Bapak tidak sigap mencegah mental Dinda, seharusnya Bapak membantu Dinda dari saat Dinda kelas 1 dulu. Bapak membiarkan Dinda merasakan emosi negatif sedalam-dalamnya, Bapak tidak segera menyelamatkan Dinda saat itu. Bapak tak bisa menjauhkan dan menghentikan semua omongan dan kejadian-kejadian kelam dalam hidupnya yang membuat gadis kecil berusia 11 tahun itu hampir bunuh diri." Suara Pak Parno terdengar bergetar, Pak Parno menggigit bibirnya, dia masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Heni dan Zahara yang baru tau kabar bahwa Dinda hampir saja bunuh diri jelas tersentak kaget, mata mereka melotot sempurna. Dinda mengenggam tangan Pak Parno, menggelengkan kepalanya. Dinda tidak mau melihat Pak Parno memaksakan ceritanya tentang Dinda. Karena semua itu hanya akan membuat Pak Parno menyakiti dirinya sendiri. Heni dan Zahara saling tatap, mereka lebih baik tidak mendengarkan cerita ini daripada melihat Pak Parno menyakiti dirinya begini. "Tidak apa-apa Nak, Bapak sudah tua dan sudah mampu menerima semua pahit manisnya hidup ini. Kalian jangan memasang ekspresi wajah khawatir begini." Pak Parno tersenyum tipis dengan sorot matanya yang lembut. "Dinda... maafkan Bapak ya?" pinta Pak Parno. Dinda menggeleng. "Bapak tidak salah apa-apa Pak, jadi tidak ada yang perlu dimaafkan. Justru Dinda lah yang harus berterima kasih atas kebaikan dan bantuan Bapak selama ini. Kalau Dinda tidak bertemu Bapak, Dinda tidak akan tau bagaimana cerita dengan sekarang." Dinda tersenyum tipis, memeluk gurunya itu dengan penuh rasa terima kasih yang dalam. Heni dan Zahara saling tatap kembali, tersenyum tipis, ikut senang. "Pak, maafkan perkataan Heni tadi ya Pak? Bapak bukan guru yang pilih kasih, Bapak adalah pahlawan hebat, Bapak adalah seorang superhero, terkhusus bagi 2 anak-anak hebat yang menyayangi Bapak." Heni tersenyum lebar, mengatakan kalimat itu dengan tulus. Raut wajah pak Parno berubah, matanya berlinang-linang, raut wajahnya yang tua itu tertutupi karena senyum leganya yang menyejukkan saat di pandang. Ternyata benar, satu kalimat baik yang disampaikan dengan tulus dan ikhlas, bisa mengalahkan perasaan buruk yang di derita seseorang selama hidupnya. Zahara telah ditelepon oleh abinya. Sebelum menunggu abi Zahara datang, mereka melanjutkan obrolan, tentang Dinda. Tapi kini yang menceritakan adalah Dinda. Melihat Pak Parno bisa tersenyum lega tadi, Dinda yakin dirinya juga pasti bisa... memaafkan dirinya sendiri. "Saat itu... aku yang berusia genap 11 tahun, sudah merasakan pahitnya kehidupan, malah lebih pahit dari sekedar kopi tanpa gula. Aku tak menemukan sepercik pun cahaya kebaikan dalam hidupku, aku melihat dunia saat itu begitu gelap, tak ada harapan." Dinda menutup mata, membayangkan kenangannya 5 tahun yang lalu. "Aku melihat ayah menampar ibu, memukuli ibu yang baru saja pulang bekerja. Padahal mereka berdua jarang di rumah, pulang selalu malam, kadang-kadang tidak pulang, sekalinya pulang, aku harus melihat adegan k*******n setiap hari sejak saat itu." "Aku takut melihat ayah yang dengan ganas memukuli ibu. Ibu tidak melawan, dia hanya marah awalnya pada ayah, berseru-seru tentang ayah selingkuh, ayah membantah perkataan ibu bahwa dia tidak selingkuh, tapi ibu bersikeras memojokkan ayah, hingga akhirnya ayah memukul ibu, tanpa belas kasihan." "Aku... tidak tau siapa yang salah saat itu. Aku juga tidak mau tau. Aku tidak peduli." Sorot mata Dinda pilu, Dinda tak kuasa mengingat kembali semuanya. "Adegan itu terus berulang, sampai akhirnya ibu dan ayah benar-benar tidak pulang ke rumah sama sekali. Aku tau ibu pergi minum dengan teman-temannya, karena saat ibu pulang setiap seminggu sekali untuk memberi uang padaku, tubuhnya selalu bau alkohol. Adegan itu terhenti, karena pemainnya tidak ada." Dinda tersenyum tipis, ada sedikit perasaan lega saat itu. "Tapi... aku salah berpikir bahwa tidak adanya kejadian itu lagi adalah cahaya dalam hidupku, nyatanya tidak, justru cahaya itu adalah awal mula dari konflik sebenarnya dalam rumah tangga orangtuaku." Sorot mata Dinda marah, tak bisa memaafkan. "Ibu membawa laki-laki baru ke rumah, ayah awalnya marah, tapi setelah itu tidak lagi peduli. Aku pikir, mereka akan berpisah, dan aku akan menjadi anak broken home, yang dari awal memang tidak pernah merasakan kasih sayang. Nyatanya tidak, mereka tidak pisah, tapi tetap jarang pulang ke rumah, tapi ini lebih parah lagi. Saat ayah pulang, ibu tidak ada, saat ibu pulang, ayah yang tidak ada. Begitu terus, sampai mereka benar bercerai." "Tapi... yang membuat aku sampai depresi saat itu adalah ayah. Saat perjalanan ke sekolah, aku melihat ayah bermesraan dengan perempuan lain, dengan ibu saja dia tidak pernah seperti itu. Ibu mengkhianati ayah, tapi masih saja mengikat ibu sebagai istrinya. Aku benci dia. Benar-benar benci. Sehingga tanpa sadar, saat melihat mobil melintas di jalan pas pulang sekolah, aku terpikir untuk mati saja. Tapi... mati pun tetap sulit bagiku, tidak ada yang mulus dalam hidupku selain nilai-nilai sekolahku, walau aku punya teman-teman di sekolah, mereka hanya bermuka dua, memanfaatkanku untuk memberikan jawaban tugasku pada mereka, di belakangku mereka menggunjingku, mengatai-ngatai orangtuaku." "Aku, yang hanya seorang gadis kecil berusia 11 tahun, mana bisa sanggup bertahan atas semua itu. Bayangkan saja, bagaimana bisa tanaman kecil bertahan diterpa banjir besar? Dia pasti langsung terbawa arus, mati." Dinda menghela nafas, semua orang yang ada di ruangan itu merasakan emosi Dinda. Tapi sayangnya... cerita ini berakhir sementara dulu di sini. Abi Zahara sudah datang, otomasis Dinda dan Heni juga harus pulang. "Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Dinda, Heni dan Zahara bersamaan. Pak Parno tersenyum senang. "Lain kali kalau kalian ada waktu, datanglah kembali mengunjungi laki-laki tua ini." "Pasti Pak!" Heni yang menjawab duluan, tersenyum lebar. Zahara balas mengangguk. Abi Zahara yang ada di atas motor tersenyum tipis pada Pak Parno, mengangguk. Pak Parno balas mengangguk, tersenyum. "Assalamu'alaikum Pak." "Wa'alaikumsalam." Zahara melangkah duluan keluar dari rumah pak Parno setelah bersalaman. Heni dan Dinda yang baru saja membalikkan tubuh langsung terkejut mendengar bunyi sesuatu terjatuh. Dinda dan Heni langsung menoleh ke belakang, mata mereka terbelalak karena kaget melihat pak Parno sudah terbaring di lantai, tak sadarkan diri. Abi Zahara dan Zahara langsung masuk ke dalam rumah, memastikan keadaan pak Parno. Abi Zahara menghela nafas setelah mengecek detak jantung dan nafas pak Parno. "Innalilahi wa innailaihi raji'un." Ketiga gadis itu tersentak kaget. Refleks mereka menutup mulut. "Innalilahi wa innailaihi raji'un." "Pak Parno!" Dinda berseru-seru, histeris. Menangis. Mengguncang-guncang tubuh pak Parno. Heni pun begitu. Abi Zahara segera menghentikan Dinda dan Heni. Zahara memeluk abinya, menangis. Pertemuan pertama Heni dan Zahara pada pak Parno harus berakhir secepat ini. Orang yang merasakan sakit paling dalam adalah Dinda. Apa semua orang yang berharga dalam hidupnya harus pergi secepat ini? Apa Dinda adalah pembawa s**l? Beginilah Dinda men-cap dirinya sekarang. Tapi... yang merasakan sakit paling dahsyat dan lebih dalam lagi saat mengetahui pak Parno sudah tiada bukanlah Dinda, jelas pula bukan Heni yang baru saja mengenal pak Parno-- apalagi Zahara. Dia adalah seorang pemuda malang yang kini sedang tertawa bersama teman-temannya di kampus, tanpa tau apa yang baru saja terjadi. Seseorang yang paling penting dan berharga dalam hidupnya, telah pergi dan tak akan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN