Bab 8

2117 Kata
"Tergelincirnya lidah itu lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki." - (Utsman bin Affan) "ARA!!!" Heni mempercepat larinya, bukan sekuat yang dia bisa, Heni berlari kini tanpa mempedulikan batas fisiknya. Dinda yang mendengar suara Heni meneriaki nama Zahara langsung berbalik. Dinda jelas kaget melihat Zahara terkapar 5 meter darinya, tangan Dinda langsung gemetaran, Dinda mau langsung menolong Zahara, tapi kakinya tidak bisa bergerak, kakinya terasa lebih berat dari saat di kuburan tadi, mati rasa. Heni mengangkat kepala Zahara, menepuk-nepuk ringan pipi Zahara agar tersadar, tapi nihil, Zahara benar-benar pingsan. Heni melirik Dinda yang masih berdiri 5 meter di hadapannya. "Dinda! Panggil ambulance cepat!" seru Heni meneriaki. Dinda menggeleng, tak hanya kakinya yang mati rasa, sekujur tubuhnya ternyata sudah mati rasa dari tadi. Syukur dia masih bisa menggelengkan kepalanya. "Dinda! Hei!" seru Heni panik. Dinda tidak tau harus bagaimana dengan kondisi seperti ini. Dinda hanya bisa berdiri di tepi jalan yang terik itu, tubuhnya benar-benar mati rasa. Heni bingung harus bagaimana saat ini, temannya satu pingsan, yang satu lagi malah berdiri dengan muka pucat di hadapannya. Heni langsung menurunkan pahanya ke aspal, untuk menyandarkan kepala Zahara agar tidak terkena panas aspal jalan. Heni mengedepankan tasnya, hendak mengeluarkan ponsel untuk memanggil ambulance, tapi terhenti karena seorang laki-laki paruh baya dengan motor berhenti di sampingnya. "Ya Allah, Nak! Itu teman kamu pingsan!?" kaget laki-laki paruh baya itu. "Ayo ditolong cepat, rumah Bapak di depan sana, bawa ke sana saja!" Laki-laki paruh baya itu langsung turun dari motornya, mengangkat Zahara. "Ayo Nak!" Laki-laki paruh baya itu mengajak Heni untuk ikut dengannya, meninggalkan motornya di tepi jalan itu. "Dinda!?" kaget laki-laki paruh baya itu saat matanya berpapasan dengan Dinda. "Kamu kemana saja Nak?-- Ah kita harus tolong temanmu ini dulu!" Laki-laki paruh baya itu langsung berlari dengan mengangkat tubuh Zahara, menunda pertanyaannya pada Dinda. Heni langsung menarik tangan Dinda, berlari menyusul laki-laki paruh baya itu. Heni takut Zahara diapa-apain sama bapak-bapak itu. Dinda memang melangkah, tapi dia tidak merasakan bahwa kakinya sedang bergerak. Benar-benar mati rasa. Jika Heni tidak menarik tangannya saat ini, Dinda tak akan bisa ikut berlari. Laki-laki paruh baya itu menyuruh Heni untuk membuka pintu rumahnya, Heni langsung mengangguk, membuka pintu. "Astaghfirullah Pak! Bapak nabrak anak orang!?" kaget seorang pemuda dengan seragam rapi menggelengkan ransel, yang berdiri di belakang pintu-- sepertinya mau keluar. "Enak aja kamu ngomong! Bantu anak ini dulu! Dia pingsan di jalan!" seru laki-laki paruh baya itu pada pemuda yang berdiri di belakang pintu tadi. Jika melihat dari perkiraan usia, kemungkinan besar pemuda ini adalah anak laki-laki paruh baya itu. Pemuda itu langsung mengangguk. Menyusul laki-laki paruh baya yang sedang menurunkan tubuh Zahara ke sofa. Pemuda itu memegang tangan Zahara, begitu pandangan di mata Heni. "Tung--" "Kenapa?" tanya pemuda itu langsung menyela ucapan Heni, dia tanggap sekali. "Ah tidak apa-apa." Heni mengurung niatnya untuk menghentikan pemuda itu memegangi tangan Zahara, karena Heni tau Zahara anti disentuh sama yang bukan mahromnya. Tapi mana tau pemuda ini memang benar bisa membuat Zahara sadar. "Tenang saja Nak, putra Bapak ini mahasiswa kedokteran. Dia hebat kok walau masih tergolong mahasiswa, belum jadi dokter asli." Laki-laki paruh baya itu tersenyum tipis. "Ah iya motor Bapak masih di luar, kalian tunggu saja di sini!" Laki-laki paruh baya itu langsung berlari keluar, meninggalkan rumah untuk mengambil motornya yang tertinggal di tepi jalan. Heni mengangguk. Dinda dari tadi hanya berdiri di depan pintu, merasa sangat bersalah dengan Zahara dan Heni. Heni karena terlalu khawatir pada Zahara sampai tidak memikirkan Dinda yang dari tadi tidak ada di sebelahnya. "Ah, tenang saja, temanmu ini hanya kelelahan. Beberapa menit lagi juga bakal sadar." Setelah memberi penjelasan, pemuda itu menghampiri Dinda yang berdiri di luar, melewati Heni. Heni menghela nafas lega, langsung duduk di sebelah Zahara yang masih terbaring. Heni baru sadar Dinda tak ada, Heni yang baru mau menyusul Dinda mengurungkan niatnya setelah melihat pemuda itu nampak akrab saat menyapa Dinda. Heni tersenyum tipis. "Biarlah, sepertinya dia dan Dinda saling kenal." "Hai Din. Kakak kaget saat tau tengah malam tadi rumahmu kebakaran, untung saja kamu tidak ada di dalam rumah saat kebakaran itu." Pemuda itu menatap Dinda cemas, khawatir dengan keadaan Dinda. Dinda hanya diam, seolah waktu terhenti di Dinda saat ini, dia sama sekali tidak mendengar perkataan pemuda itu. "Dinda... hei... Dinda." Pemuda itu memanggil Dinda berkali-kali, tapi tidak ada reaksi. Pemuda itu menyadari tangan Dinda yang gemetaran, dia langsung meraih tangan Dinda, mengenggam dengan kedua tangannya, menepuknya. "Hei! Kamu kenapa?" Dinda tersontak kaget. "Kak Putra!?" "Aduh, kamu ngelamun ya? Ayo masuk dulu." Pemuda itu menarik tangan Dinda masuk ke dalam rumah. Mulut Heni ternganga melihat mereka. Heni langsung memalingkan wajahnya saat Dinda menolehkan kepala kearahnya, Heni refleks. Dinda menundukkan pandangan, merasa bahwa Heni marah padanya. Padahal tidak. "Ah akhirnya..." Laki-laki paruh baya tadi sudah balik ke rumah, dia sudah memarkir motornya di depan rumah. Menyeka keringat. "Bagaimana Nak? Gadis kerudung itu tak apa-apa?" tanya laki-laki paruh baya itu pada anaknya yang di panggil Dinda dengan 'Kak Putra.' "Gak apa-apa Pak, dia hanya kelelahan, sepertinya fisiknya lemah," jawab pemuda itu dengan sorot mata yakin. "Owh dia hanya kelelahan ya," ucap laki-laki paruh baya itu sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan sorot mata menatap tangan anaknya. Laki-laki bernama Putra itu langsung melepas genggaman tangannya dari Dinda setelah melihat sorot mata bapaknya. Dia baru sadar bahwa tangannya masih menggenggam tangan Dinda. "Kamu gak jadi ke kampus? Sana pergi! Kamu gak dibutuhkan lagi!" seru laki-laki paruh baya itu, kesal putranya sempat-sempatnya memegang tangan anak gadis orang begitu. Di depan dia lagi. "Gak jadi Pak, lagian gak ada yang penting di kampus hari ini," jawab Putra cuek. Tertawa cengengesan. "Owh gak ada yang penting ya? Enak ya kamu! Udah Bapak sekolahin tinggi-tinggi terus bilang gak ada yang penting di kampus? PUTRA! SANA PERGI!" Tanpa disuruh dua kali, Putra langsung menarik tasnya yang ada di sebelah Heni, menyalimi tangan bapaknya. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di rumah, kecuali Zahara, karena Zahara masih pingsan. "Bapak buatin kalian minum dulu ya." Laki-laki paruh baya itu tersenyum pada Heni dan Dinda. "Maaf merepotkan Pak," ucap Heni. "Tidak merepotkan kok, sudah seharusnya kita saling membantu." Laki-laki paruh baya itu balas tersenyum tipis, melangkah ke belakang. Suasana ruangan kini jadi sepi. Dinda dan Heni saling canggung. Dinda tak mau bicara duluan karena Dinda berpikir Heni marah padanya, sedangkan Heni tak tau harus berkata apa pada Dinda setelah melihat Dinda berpegangan tangan dengan Putra tadi. oOo Beberapa menit sudah berlalu, suasana masih canggung. Dinda tak berani menatap Heni, Heni pun begitu, tak berani menatap Dinda. Mereka takut saling salah bicara. Runyamnya bisa semakin merusak persahabatan mereka nanti. "Hei, kenapa diam-diaman begitu? Kayak pasangan lagi berantem saja." Laki-laki paruh baya itu menengahi, tertawa kecil melihat 2 gadis yang ada di hadapannya kini. Menaruh 4 gelas teh panas ke atas meja. Nyali Heni semakin ciut, apalagi Dinda. Laki-laki paruh baya itu kembali tertawa kecil. "Ayo diminum dulu!" ingatnya pada Dinda dan Heni. Dinda dan Heni mengangguk, mengambil jelas yang berada di tengah. Sama. "Ah!" kaget Dinda dan Heni bersamaan. "Kamu saja," ucap Heni langsung mengambil gelas yang lain. Dinda menundukkan pandangannya. "Terima kasih." Laki-laki paruh baya itu langsung menyadari ada yang salah dengan kedua gadis yang ada di hadapannya ini. Dia mencoba bergurau. "Tak baik diam-diaman, bisa jadi ada kesalahpahaman di antara kalian. Sebagai sahabat lebih baik saling terbuka, jangan berpikir negatif satu sama lain." Padahal laki-laki paruh baya ini tidak tau jelas apa permasalahan mereka, tapi nasehatnya seolah menusuk tepat Dinda dan Heni. Insting orang tua memang hebat, atau mungkin karena pengalaman hidup yang sudah banyak. Heni tersenyum tipis. "Tidak ada diam-diaman kok, Pak." Langsung menyeruput tes panasnya. "Satu lagi untuk Zahara, Pak?" tanya Heni menyadari satu gelas teh yang berlebih. "Zahara? Temanmu yang masih pingsan ini?" tanya laki-laki paruh baya itu, melirik ke arah Zahara. Heni mengangguk, mengiyakan. "Iya. Mana tau nanti dia bangun. Kan enggak enak kalau kita saja yang minum teh. Haha." Laki-laki paruh baya itu tertawa kecil, menyeruput tehnya. "Jadi Nak Dinda, saat kebakaran rumahmu kemaren, kamu di mana? Putra sampai masuk ke dalam rumahmu yang kebakaran itu loh, padahal api sudah besar, atap rumahmu seperti sudah terbakar habis, tapi dia bela-belain masuk seperti mau bunuh diri. Dia khawatir kamu masih ada di sana. Tapi syukurlah kamu baik-baik saja, Nak. Kami semua khawatir padamu, apalagi beberapa hari yang lalu kamu baru saja berduka. Yang sabar ya, Nak. Bapak tau kamu gadis yang kuat." Laki-laki paruh baya itu menatap Dinda prihatin. Dinda tersentak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki paruh baya itu. "Pak Parno, benarkah itu!? Dinda minta maaf, benar-benar minta maaf, kalau terjadi apa-apa pada Kak Putra, Dinda tidak tau harus--" "Kita lihat apa yang terjadi sekarang saja. Putra tidak apa-apa Nak, syukurlah sebelum dia sampai di depan pintu, satpam daerah ini sudah memukulnya dengan balok kayu sampai pingsan. Kita harus syukuri itu." Laki-laki paruh baya bernama pak Parno itu tersenyum lega. Heni bergidik ngeri mendengar apa yang baru saja disampaikan pak Parno. 'Seriusan dipukul pake balok kayu? Dan sampai pingsan!? Ya ampun! Seberapa cinta kakak tadi pada Dinda!? Sampai dia tidak peduli pada nyawanya sendiri?' Dinda menghela nafas lega, memasukan setiap kata-kata pak Parno ke dalam kepalanya. Dinda kini menatap Heni, Heni kaget, refleks memalingkan wajah. 'Aduh! Aku kenapa lagi sih!?' seru Heni kesal pada dirinya sendiri. "Din, aku minta maaf." Karena tak enak hati, Heni langsung meminta maaf, padahal Heni tidak salah apa-apa, hanya saja setiap mau berbicara dengannya, Heni malah refleks memalingkan wajah. Pupil mata Dinda membesar, Dinda tersenyum senang, langsung memeluk Heni. "Kamu tidak salah apa-apa Heni, jangan minta maaf padaku. Aku minta maaf padamu. Benar-benar minta maaf, karena aku Zahara jadi seperti ini, maaf aku tidak mendengarkan perkataan kalian." Heni balas memeluk Dinda. "Dimaafkan." Heni tersenyum bahagia. "Lain kali kamu harus dengarin kata-kata kami ya, kalau kamu memang belum siap menerimanya, kamu tidak perlu lari. Kami akan berusaha untuk mengerti kamu lebih baik lagi." "Terima kasih Heni." Pak Parno tersenyum kecil melihat Dinda dan Heni sudah berbaikan, walau memang dari awal mereka tidak ada masalah apa-apa. "Dah kan bagus kalau begitu. Jangan diulangi lagi ya! Kalian sudah dewasa, sudah bisa berpikir matang, jadi selesaikan masalah secara langsung, bukan dengan gengsi." Pak Parno tersenyum lebar, sudah merasa jadi orang tua yang benar. "Terima kasih Pak," ucap Dinda dan Heni bersamaan. "Pak Parno, terima kasih banyak. Dinda sekaligus mau pamit pada Bapak, Dinda tidak akan kembali ke tempat itu lagi. Tak akan untuk selamanya." Dinda menundukkan pandangan, pak Parno seolah mengerti maksud perkataan Dinda. "Tidak masalah Nak, asal kamu bisa bahagia, maka kejarlah kebahagiaanmu itu. Kamu tidak perlu berbalik menatap masa lalu, fokuslah pada apa yang kamu inginkan saat ini. Jika nanti kamu ada waktu, main-main lah ke sini, pintu rumah Bapak akan selalu terbuka untukmu." Pak Parno tersenyum tipis, menepuk ringan pundak Dinda. "Terima kasih banyak, Pak." Dinda mendongkakkan kepalanya, balas tersenyum pada pak Parno. "Pak, boleh Dinda minta tolong satu hal?" "Tentu Nak, selagi Bapak bisa membantumu, pasti Bapak bantu." "Jika ayah Dinda kemari, jangan bilang apa-apa tentang Dinda ya Pak." Pak Parno tersenyum tipis. "Baik Nak, Bapak tidak akan mengatakan apa-apa tentang kamu." "Terima ka--" "Dinda!" Semua tersentak kaget setelah mendengar Zahara berteriak dan langsung duduk di sofa. "Ah... ini di mana?" tanya Zahara bingung. Zahara langsung memeluk Dinda setelah melihat Dinda duduk di sebelahnya. "Din! Aku minta maaf! Aku gak bermaksud buruk kok!" Zahara menangis, air mata keluar dari kedua matanya, Zahara benar-benar merasa bersalah. Dinda melepas pelukan dari Zahara yang menyesakkannya. "Tidak apa-apa Ra, kamu tidak salah kok. Aku juga, aku minta maaf karena langsung pergi tadi. Ra, kamu tidak apa-apa kan?" "Ah aku tadi pingsan ya. Maaf merepotkan kalian ya." Zahara melirik pak Parno, heran. "Ini pak Parno, Ra. Guru aku di sekolah dasar dulu, beliau tetangga aku, beliau juga sangat baik padaku. Pak Parno lah yang tadi menyelamatkanmu." Dinda tersenyum tipis, memperkenalkan pak Parno pada Zahara. "Terima kasih sudah menyelematkan Zahara, Pak." Zahara menunduk, berterima kasih. "Hahaha, tidak masalah Nak. Lagian Bapak hanya membawamu di sini, dan kamu bangun sendiri tanpa diapa-apain." Pak Parno tertawa kecil. "Ayo di minum dulu tehmu Nak, mumpung masih panas." "Ah iya, terima kasih Pak." Zahara mengangguk canggung, langsung mengambil gelas teh yang ada di hadapannya, menyeruputnya. "Pak, Heni mau nanya, kenapa Bapak sangat baik pada Dinda? Bapak pilih kasih ya sama murid?" Heni tertawa kecil, niatnya hanya bercanda untuk mencairkan suasana. Tapi sayangnya pak Parno menanggapi pertanyaan Heni dengan serius. Heni menelan ludah. 'Waduh, gawat!'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN