Pagi hari, Dinda memulai hari seperti biasanya, duka di hati Dinda memang masih ada, tapi dia tidak boleh terus seperti ini, tak boleh terlalu lama terlelap dalam kesedihan akan kepergian nenek Dinda untuk selamanya.
Dinda dan Heni sudah keluar dari rumah, rapi dengan seragam pramuka mereka. Heni bersaliman pada mamanya, mencium tangan. Dinda ikut sesudah Heni selesai salim.
"Kami berangkat dulu ya Ma!" Heni melambaikan tangan pada mamanya, diikuti oleh Dinda.
"Iya, hati-hati ya kalian." Mama Heni balas melambaikan tangan, tersenyum tipis. Mama Heni awalnya sempat khawatir karena Dinda tiba-tiba memutuskan untuk berangkat sekolah hari ini, padahal semalam Dinda baru saja melakukan hal berbahaya. Namun melihat Dinda baik-baik saja, mama Heni akhirnya mengizinkan.
"Heni," panggil Dinda.
"Ya Din? Ada apa?" Heni menoleh pada Dinda. Tersenyum.
"Nanti habis pulang sekolah aku pinjam catatan kamu ya," ucap Dinda.
"Oh ok!" Heni pagi ini sangat bahagia karena Dinda mau balik ke sekolah. Heni juga sudah mengabari Zahara bahwa Dinda akan berangkat kembali ke sekolah, tapi Heni tidak mengabari pada Zahara bahwa Dinda baru saja membakar rumahnya tadi malam.
Tit... tiiiit...
Heni menarik tangan Dinda dengan cepat setelah mendengar bunyi klakson motor yang ada di belakang mereka. "Ayo Din! Nanti kita telat." Heni langsung menarik tangan Dinda, berlari.
"Eh?" Dinda terseret oleh Heni. Dinda tau di belakang mereka ada Fauzi, tapi mau bagaimana lagi, kaki Dinda lebih memilih mengikuti Heni.
"Heni! Lo kenapa langsung bawa Dinda pergi sih!?" Fauzi berseru kesal ke Heni, memberhentikan motornya di depan Heni dan Dinda.
Heni berkacak pinggang, memalingkan wajahnya, mendengus sebal.
"Aduh maaf Fauzi." Malah Dinda yang meminta maaf.
"Ah, aku tidak masalah kok Din, kenapa kamu yang minta maaf? Kamu tidak salah apa-apa kok." Nada bicara Fauzi langsung lembut. "Kamu udah gak apa-apa Din?" tanya Fauzi memang ekspresi wajah khawatir.
Dinda tersenyum tipis, dia baik-baik saja. Heni malah mengernyitkan kening, kesal. Melihat wajah Fauzi saja sudah membuat emosi Heni naik, apalagi sampai mendengar suaranya, haduh. Heni selalu berusaha untuk menahan emosi dirinya selama ini.
"Dinda, karena kamu baru baikan, berangkat sama aku saja, entar kalau naik angkutan umum malah ada apa-apa." Fauzi mengajak Dinda untuk berangkat ke sekolah dengan naik motor bersamanya.
"Justru kalau berangkat sama lo yang ada apa-apanya!" Heni berseru kesal. Melotot tajam pada Fauzi.
"Heni! Lo kenapa sih selalu berpikiran buruk pada gue? Apa gue sebusuk itu di mata lo!?" Fauzi balas berseru, tapi suaranya tidak selantang Heni.
"Sudah-sudah!" Dinda memegangi kepalanya yang sakit, pusing karena mendengar mereka berdua berdebat. "Heni, maaf ya, aku berangkat sama Fauzi saja." Dinda tersenyum tipis, merasa bersalah.
"Din!" Heni berseru tidak percaya. Dia sangat tidak menyukai keputusan Dinda.
"Ya udah Din, ayo naik, ini helm-mu." Fauzi sudah langsung siap, semangat 45. Melirik Heni, tersenyum mengejek. Fauzi memang telak.
Heni bersungut-sungut melangkah ke jalan besar, orang-orang yang lewat sampai menjaga jarak jalan dari Heni. Takut kenapa-napa.
"Makasih ya Din," ucap Fauzi di atas motor.
"Untuk apa?" tanya Dinda heran.
"Makasih udah pilih gue." Fauzi tersenyum lebar. Sangat senang.
"Aku hanya takut hubungan kalian sebagai sepupu hancur, itu saja. Aku tak ingin melihat kalian terus berantem seperti tadi, sangat tidak bagus." Dinda menjelaskan dengan nada suara yang lembut, seolah Dinda lupa masalah hidupnya saja lebih berat dari sekedar perdebatan Fauzi dan Heni.
"Maaf membuat kamu jadi merasa tidak enak, Din. Lain kali aku tidak akan begitu lagi." Fauzi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Terkadang aku senang juga kok melihat kalian berantem, lucu." Dinda tertawa kecil.
Fauzi senang mendengar Dinda tertawa, walau Fauzi agak menyesal karena tidak bisa melihat Dinda tertawa, seandainya dia tidak sedang di atas motor saat ini, pasti Fauzi akan menjadi orang yang pertama kali melihat Dinda tertawa setelah nenek Dinda meninggal dunia.
"Din," panggil Fauzi saat sampai di g**g sebelum gerbang sekolah.
"Ada apa Fauzi?"
"Mau sarapan dulu gak?" tanya Fauzi.
"Hmm, kamu belum sarapan?" tanya Dinda heran.
"Belum. Kamu bagaimana?" tanya Fauzi balik.
"Aku udah sarapan bareng Heni dan keluarganya tadi."
"Kalau gitu mau temani aku sarapan di kantin gak?" ajak Fauzi.
"Eh? Kamu gak bisa sendiri?" tanya Dinda polos.
Fauzi gelapan, tak tau bagaimana menjawab pertanyaan Dinda. Jika Fauzi dengan gadis lain, dia bisa ngeles seperti biasanya, ngungkapin kata-kata gombal. Seperti, 'Aku maunya kalau ada kamu' atau 'Gak, harus ada kamu dulu baru bisa' atau lagi 'Akan lebih enak sarapannya kalau sambil natap mata indah kamu' tapi dengan Dinda entah kenapa Fauzi tidak bisa.
Motor Fauzi sudah masuk gerbang sekolah, langsung ke parkiran.
Setelah mantap memarkirkan motor, Dinda melepas helm, menyerahkan kembali pada Fauzi.
"Nanti mau pulang sama aku aja?" tanya Fauzi.
"Gak usah, terima kasih Fauzi. Aku sama Heni saja." Dinda menggeleng ringan. "Ah, aku duluan ya." Dinda membalikkan badannya, siap ke kelas. "Oh iya, jadi aku temani sarapan?" tanya Dinda, baru ingat.
"Eh? Tidak perlu, kamu langsung ke kelas saja, nanti Heni nyariin kamu." Fauzi akhirnya tidak jadi mengajak Dinda, terlanjur gelapan tadi. Tapi Fauzi senang karena Dinda sepertinya mau menemani Fauzi untuk sarapan.
Sampai di kelas, Zahara langsung memeluk Dinda, sangat erat. Mata Zahara berkaca-kaca, Zahara senang Dinda sudah mau kembali sekolah.
"Ah iya Din, Heni mana?" Zahara menatap sekeliling, tidak ada Heni.
"Ah, tadi aku berangkat bareng Fauzi, jadi sepertinya Heni masih dalam perjalanan." Dinda nampak bersalah.
Zahara sempat kaget mendengar jawaban Dinda, tapi Zahara cepat mengubah ekspresinya. Tersenyum tipis. "Kamu udah gak apa-apa kan Din?" Zahara tersenyum tipis, menatap sayu sahabatnya itu.
Dinda balas tersenyum. "Seperti yang kamu lihat, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kalau begitu, kamu tau kan seberapa cemasnya aku saat kamu tidak masuk selama 3 hari ini?" Zahara mengenggam tangan Dinda. "Din, kamu sudah ke makam nenekmu setelah dimakamkan waktu itu?" Zahara bertanya ragu-ragu, takut suasana hati Dinda jadi buruk.
Dinda menggeleng ringan. "Belum, aku belum siap, Ra." Air muka Dinda berubah sedih, Zahara langsung jadi merasa bersalah karena sudah bertanya hal yang buruk untuk Dinda.
Dinda yang menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa kok Ra, kamu tidak perlu merasa bersalah begitu." Dinda menepuk ringan bahu Zahara. "Nanti mau menemani aku ke makam nenek?"
Ekspresi Zahara langsung berubah senang, Zahara mengangguk cepat. "Tentu, aku akan kabari Abi untuk tidak perlu menjemput."
Dinda tersenyum senang, mengangguk.
Walau senang, tetap saja Zahara merasa bersalah. Karena Zahara awalnya berniat menghibur Dinda, tapi malah Dinda yang menghiburnya.
oOo
5 menit sebelum bel masuk berbunyi, Heni baru sampai di kelas, menghela nafas berat saat duduk di bangkunya.
"Heni, maafin aku ya," ucap Dinda, masih merasa bersalah.
"Selow aja lah Din, gak apa-apa kok. Aku yakin kamu punya alasan buat milih Fauzi tadi." Heni tersenyum tipis, melirik meja Fauzi. "Dan sekarang tuh anak kemana?" tanya Heni kebingungan.
"Katanya sarapan, di kantin."
"Lah? Masa dia gak ngajak kamu?" tanya Heni lagi, masih heran, kini ditambah kaget.
Dinda menggelengkan kepalanya. "Tadi dia ngajak kok. Tapi pas aku tanya apa dia gak bisa sendiri, dia malah gak jawab. Habis itu pas aku tanya lagi dia bilang gak usah, takut kamu entar cariin aku. Ya udah, aku langsung ke kelas aja," jelas Dinda.
Heni mengangguk-angguk, paham. 'Tuh anak masih aja mau modus. Dasar buaya b******k!' bathin Heni kesal.
oOo
Jam istirahat tiba, Zahara langsung menghampiri Dinda dan Heni yang duduk diam di meja mereka, tidak ada niat mau keluar kelas.
"Kalian gak bawa bekal?" tanya Zahara heran. Tidak melihat kotal bekal di kedua sahabatnya itu.
Heni menggeleng. "Lupa."
Dinda tersenyum tipis. "Aku memang jarang bawa bekal, jadi gak sempat ingatin Heni juga. Lupa. Haha." Dinda menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum canggung.
Zahara menghela nafas lelah. "Ya udah, makan sama aku aja."
"Memangnya cukup?" tanya Heni, menyelidik.
"Hmmm... enggak. Hehe." Zahara tertawa kecil, kini dia yang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dinda dan Heni saling tatap, ikut tertawa.
"Ya udah Ra, kamu makan sini aja, kita temani. Aku malas keluar kelas soalnya." Heni memberi ide.
"Eh? Kamu gak lapar?" heran Zahara.
"Enggak, aku udah sarapan tadi, gak masalah. Lagian masih jam 10," jawab Heni.
"Hmmm ya udah deh, aku makan ya." Zahara menarik satu kursi ke meja Heni, duduk. Membuka kotak bekalnya, berdoa, langsung makan.
Zahara asik mengunyah makanannya, Dinda asik bermenung, Heni asik memikirkan cara memberi Fauzi pelajaran agar tidak mendekati Dinda lagi. Walau mereka bertiga berada di satu meja yang sama, fokus mereka masing-masing berbeda.
Sampai bel istirahat berakhir, tidak ada obrolan penting di antara ketiga sahabat itu. Guru mata pelajaran selanjutnya masuk kelas, menyapa, langsung memberi tugas.
3 jam kemudian jam pelajaran berakhir, bel pulang berbunyi, semua murid keluar dari kelas, kecuali 4 orang yang jadwal piketnya hari ini.
"Dinda, aku tungguin kamu piket ya," ucap Heni sambil menyandang tasnya. Zahara baru melangkah ke meja Dinda dan Heni, ingin menyampaikan kata yang sama dengan Heni.
10 menit berlalu, piket kelas sudah selesai. Kelas nampak lebih bersih dari sebelumnya. Dinda memperbaiki posisi tasnya, melangkah ke depan pintu. "Ayo!"
Heni yang sedang sibuk dengan ponselnya tadi langsung mematikan ponsel, mengangguk. Zahara yang dari tadi hanya melihat apa yang dibuka Heni di ponsel langsung berdiri, memperbaiki kerudung dan posisi tasnya.
Heni memimpin jalan, meninggalkan Dinda dan Zahara satu langkah di belakangnya.
'Tumbenan si Fauzi habis bel pulang langsung minggat,' bathin Heni. Heni masih bertanya-tanya kenapa Fauzi tidak menghampiri Dinda saat kelas selesai. Tapi... ya sudahlah, itu bagus untuk Heni.
Nenek Dinda dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya, jadi mereka bertiga hanya perlu berjalan sepanjang 800 meter. Walau cukup jauh, tapi kalau rame-rame tidak akan terasa lelah.
Zahara sepanjang jalan mengobrol dengan Dinda, sedangkan Heni asik melirik-lirik setiap kedai dan toko yang mereka lewati, memperhatikan keripiknya yang ada di beberapa kedai dan toko di jalan.
Sampai di belokan g**g kuburan, Dinda, Heni dan Zahara membeli bunga terlebih dahulu, baru melangkah kembali ke makam neneknya.
"Assalamu Alaikum Ahlad-Diyaar Minal Mu miniina Wal Muslimiin. Yarhamulloohul Mustaqdimiina Minnaa Wal Musta khiriin. Wa Inna Insyaa Alloohu Bikum La-Laahiquun. Wa As Alullooha Lanaa Walakumul ‘Aafiyah.” Zahara melangkah lebih dulu, mengucap salam dengan nada pelan.
"Artinya apa Ra?" bisik Heni di belakang.
"Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami in sya' Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian," jawab Zahara, berbisik.
"Oooh." Heni menganguk-angguk, paham.
Dinda hanya diam menatap 2 sahabatnya yang tengah berbisik di kuburan ini. Di kuburan saja mereka sempatin berbisik, Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya, terheran-heran dengan kedua sahabatnya itu.
Mereka langsung melangkah ke makam nenek Dinda, berjalan pelan dan memperhatikan setiap batu nisan yang ada, agar tidak ada yang terinjak karena rata-rata banyak rumput di kuburan ini.
Dinda merasa langkah kakinya semakin lama semakin berat saat hampir mendekati makam neneknya. Awalnya Dinda sudah berniat untuk pulang saja, tapi melihat Heni dan Zahara yang antusias, Dinda mengurungkan niatnya. Memang seharusnya dia mengunjungi neneknya, sudah 3 hari ini Dinda tak kunjung menghampiri neneknya.
Dinda menatap sekilas makam ibunya yang tepat berada di sebelah makan nenek Dinda.
Heni dan Zahara saling tatap, mengangguk.
Selesai mereka mendoakan nenek Dinda, Dinda nampak sudah niat untuk pulang, tak peduli pada makam ibunya.
Zahara langsung menarik tangan Dinda yang sudah berbalik, tersenyum tipis. Heni sudah menekukkan lututnya di sebelah makan ibu Dinda, ikut tersenyum, mengangkat sekantong plastik bunga.
Pupil mata Dinda langsung membesar, ternyata Heni dan Zahara sudah merencanakan hal ini dari tadi, agar Dinda ikut mendoakan ibunya, menaburkan bunga di atas makam ibunya.
"Untuk apa?" tanya Dinda, tidak tertarik.
Heni menghela nafas, Zahara mengenggam tangan Dinda.
"Din, maaafkan lah ibumu." Zahara berkata dengan nada yang lembut dan pelan, takut menyakiti hati Dinda. Karena Zahara tau, tidak semudah itu untuk Dinda memaafkan ibunya, apalagi beliau sudah tiada di dunia ini.
Dinda diam. Menatap datar Zahara, berpaling ke Heni.
"Aku tau niat kalian baik. Tapi... aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa. Maaf..." Dinda langsung menepis tangan Zahara, melangkah duluan meninggalkan kuburan.
Zahara langsung mengejar Dinda, memperhatikan langkahnya agar tidak terjatuh sampai mendarat di batu nisan orang lain.
Heni tetap menaburkan bunga ke atas makam ibu Dinda, berdoa, lalu pamit pada ibu dan nenek Dinda.
Dinda dan Zahara sudah berada 100 meter dari Heni yang masih berlari kecil mengejar kedua sahabatnya itu.
"Dinda! Dinda!" seru Zahara. Nafasnya tersengal-sengal mengejar Dinda. Fisik Zahara dari kecil memang lemah, oleh karena itu Zahara terus diantar jemput ke sekolah, karena alasan fisiknya juga lah orangtua Zahara tidak mengizinkan Zahara merantau, sekolah di pesantren kota sebelah dalam perkampungannya yang jauh dari batas kota.
Heni menghentikan langkah kakinya, menarik nafas. Langsung berlari secepat yang dia bisa, Heni punya firasat buruk.
Firasat Heni ternyata benar, 10 meter di depannya kini, Zahara jatuh pingsan, dia kehabisan tenaga untuk menyusul Dinda.