"Bu!" panggil Cody berjalan ke arah meja Aerin.
"Iya, Pak Cody?" tanya Aerin berdiri sembari tersenyum menyambut pria itu.
Cody menarik napasnya dengan dalam sebelum mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya.
"Bu, Ibu diminta menjemput tuan Alan," ucap Cody.
Kening Aerin mengerut mendengar ucapan Cody.
"Menjemput?" ulangnya. "Ke mana?" Terdengar helaan napas panjang.
"Di alamat ini, Bu!" Cody menunjukkan alamat di layar ponselnya.
Aerin menghela napas panjang. Sebenarnya ia ingin menjauh dari Alan, tetapi takdir seolah mendekatkan mereka kembali. Padahal, dalam hidup Aerin ia meminta pada Sang Pencipta takdir agar ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Namun, siapa yang bisa menolak jika Sang Pencipta sudah berkehendak? Faktanya mereka dipertemukan setelah sekian lama berpisah.
"Baik, Pak," sahut Aerin.
"Ini kunci mobilnya, Bu," ujar Cody memberikan kunci pada wanita itu.
Aerin berjalan menuju mobil. Sebenarnya ia tak habis pikir dengan Alan, kenapa harus ia yang jemput? Tadi saja lelaki itu keluar sendiri bisa? Terus kenapa pulang tidak bisa? Apakah lelaki ini sengaja mengerjai dirinya? Pasalnya, setelah Aerin tidak masuk beberapa hari karena harus menjaga Ar yang sakit, sifat Alan jadi tempramental dan suka marah-marah tidak jelas. Bahkan lelaki itu dengan tegas mengatakan ingin bertemu dengan suami Aerin. Entah apa maksud Alan yang berusaha mengungkit kehidupannya? Bukankah mereka memang sudah tak ada hubungan setelah enam tahun yang lalu?
Aerin menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya sembari melihat google maps di ponsel diberikan oleh Cody tadi. Sejenak, Aerin kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu, rasa sakit yang lelaki itu tinggalkan, hingga kini masih membekas. Jika ditanya apakah Aerin sudah berdamai dengan masa lalu? Jelas tidak, bekerja di perusahaan Alan dan mencari sesuap nasi hanya demi menghidupi sang putra tunggalnya.
Mobil yang Aerin kendarai berhenti tepat di depan sebuah bar. Wanita cantik itu turun, meski ada beberapa keraguan dan ketakutan karena Aerin belum pernah berada di tempat asing seperti ini.
Wanita itu berjalan masuk ke dalam sana dengan wajah pucat. Tak berani, tetapi demi pekerjaan ia melawan segala rasa takut yang ada di dalam dadanya.
"Kamu Aerin?" tebak seorang pria yang sejak tadi duduk di samping Alan yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang terlungkup di atas meja.
"Iya, Tuan," jawab Aerin.
"Bawa mantan suamimu pulang, dia mabuk berat," ucap Dion — sahabat sekaligus rekan bisnis dan pemilik bar tersebut.
Aerin membalas dengan anggukan kepala. Dalam hati ia bertanya, dari mana lelaki ini tahu kalau dirinya adalah mantan istri dari lelaki itu.
"Ayo, Tuan!" Aerin mengangkat tangan Alan, lalu menyangkutkan di lehernya.
Alan mengeliat sambil meracau tidak jelas. Hampir saja mereka jatuh terjerembab, untung saja Aerin dengan sigap mengangkat tubuh lelaki itu.
"Ayo masuk, Tuan!" ucap Aerin saat membuka pintu mobil dengan susah payah. Tubuh Alan yang kekar dan tinggi serta berisi, membuat Aerin kewalahan mengangkat tubuh pria.
"Aerin, maafkan aku. Maafkan aku!" Sejenak Aerin terdiam mendengar suara Alan saat dirinya hendak memasang sealbeat di tubuh pria itu. Mata Alan terpejam, tetapi mulutnya masih memanggil nama Aerin. "Aku menyesal sudah meninggalkan kamu dan calon anak kita!"
Aerin menatap dingin lelaki yang terus meracau tidak jelas itu. Beberapa kali ia menghela napas panjang. Rasanya setiap kali melihat lelaki ini, ada rasa sakit yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Dadanya berdebar sakit, bukan karena Aerin dendam, tetapi karena ia manusia biasa.
Aerin masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bar tersebut.
"Aerin!" panggil Alan lagi. "Di mana anak kita?"
Aerin sama sekali tak menggubris. Ia terlihat tak peduli mendengar Alan yang terus memanggil dirinya. Hingga mobil Aerin memasuki pekarangan rumah mewah bertingkat. Rumah Alan, rumah yang dulu pernah menjadi saksi perjalanan cinta Aerin yang kandas di tengah jalan. Aerin masih mengingat ia yang menangis seperti pengemis, meminta agar Alan tak mengusirnya. Namun, lelaki itu malah meminta para pengawal agar menyeret Aerin keluar dari rumah mewah tersebut.
Aerin tampak ragu ketika hendak keluar dari mobil, tetapi melihat Alan yang berada di sampingnya mau tak mau ia harus keluar dan mengantar lelaki itu sampai ke kamar. Sejenak ia terdiam, mencoba menetralisir detak jantung yang beraturan. Jujur ada rasa marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu, tetapi Aerin berusaha berdamai dan melanjutkan sisa-sisa puing kehidupannya.
Aerin keluar, tidak lama kemudian datang dua pria berbaju hitam membantu ia mengeluarkan tubuh kekar Alan. Sialnya, lelaki itu malah menolak dipapah oleh yang lain.
"Aku mau Aerin!" tukasnya sembari merangkul bahu wanita itu.
"Tapi, Tua–"
"Tidak apa-apa, biar saya saja!"
Aerin memapah Alan masuk ke dalam rumah mewah itu. Masih saja, seperti enam tahun yang lalu. Interior rumah ini sama sekali tak berubah, suasananya yang dingin dan hambar seolah menyeruak masuk ke dalam rongga d**a Aerin.
Enam tahun Aerin masih ingat, ia berdiri kaku ketika Alan melemparkan surat cerai di depannya. Tak hanya itu, keluarga mantan suaminya itu menatap Aerin tak berharga, seolah ia adalah sampah dan hama yang meracuni keluarga itu.
"Siapa kamu?" Langkah Aerin terhenti ketika mendengar suara menahannya.
Aerin menoleh dengan susah payah karena menopang tubuh Alan yang kekar itu.
"Aerin?" ujar wanita paruh baya itu. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Alan?"
* * *
"Mommy!" panggil seorang anak kecil mencari ibunya.
"Ar!" Nicko langsung duduk di kursi samping anak kecil itu.
"Ayah!" Mata Ar berkaca-kaca menatap pria yang memakai jas putih khas kedokteran itu. "Mana Mommy?" tanyanya mencari keberadaan sang ibu.
Nicko tersenyum sembari mengusap kepala Ar dengan sayang. Dokter tampan itu adalah sosok malaikat yang selalu ada untuk Aerin dan Ar.
"Mommy sebentar lagi datang ya, Son. Jangan nangis!" bujuk Nicko.
Ar memeluk Nicko erat. Pria kecil ini memang manja pada dokter muda tersebut, apalagi Nicko memang sudah lama menemani Aerin dan Ar, tentu hal itu membuat dirinya mulai ketergantungan pada sosok Nicko.
"Ayah, sakit!" renggek Ar menunjukkan tangannya yang membengkak akibat saluran infuse tersebut.
"Sebentar ya, Son. Biar Ayah, lepaskan dulu!"
Nicko melepaskan infuse yang ada di tangan Ar. Saking sudah terlalu lama, tangannya sampai membengkak.
Ar menatap dokter itu dengan senyum. Ia masih beranggapan bahwa Nicko adalah ayah kandungnya. Ar terlihat bahagia memiliki seorang ayah yang lemah lembut dan perhatian padanya dan sang ibu.
"Hem, jangan menatap Ayah seperti itu, Son. Nanti kamu tertarik!" goda Nicko seraya mencolek dagu pria kecil itu dengan gemasnya.
Ar tertawa pelan, seolah tawanya mampu menghilangkan segala rasa sakit yang sekarang tengah menggerogoti tubuhnya.
Lagi-lagi Ar memperhatikan wajah Nicko, mereka berdua memang berbeda. Tak ada yang mirip, hanya saja Nicko baik dan selalu memanjakan dirinya. Namun, Ar merasa tidak ada kehangatan saat dekat dengan lelaki yang dia panggil ayah tersebut.
"Apa Ayah, ayah kandungnya Ar?"