Aerin terdiam membisu mendengar pertanyaan wanita patuh baya itu. Wanita itu adalah mantan mertuanya yang dulu juga mengusirnya tanpa perasaan. Masih, teringat begitu jelas kata-kata yang terlontar seolah menguak luka lama.
"Saya hanya mengantar tuan Alan yang sedang mabuk!" jawab Aerin dingin.
Wanita itu menatap Aerin dengan sinis dan seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mantan menantunya tersebut.
"Yakin kamu?" Wanita itu menatap Aerin penuh curiga. "Bukan alasan kamu mau kembali ke kehidupan Alan, kan?" tudingnya.
Aerin tak menggubris. Ia yang dulu lemah, suka menangis dan gampang dibully, sekarang jauh berbeda. Ia tidak mau membuat kepalanya pusing dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang seperti keluarga mantan suaminya itu.
"Astaga, Kak Alan!" Datang seorang gadis menghampiri mereka, tetapi saat melihat Aerin wajahnya langsung berubah.
"Di mana kamar tuan Alan? Saya ingin mengantarnya," tanya Aerin dingin. Nada bicaranya pun tak ramah dan lemah seperti dulu.
"Biar aku saja!" Gadis itu hendak merebut Alan dari Aerin.
"Tidak mau! Aku mau sama Aerin!" racau Alan menepis tubuh gadis itu hingga terejembab jatuh ke lantai.
"ALAN!" sentak wanita paruh baya itu.
Aerin menghela napas panjang, ternyata drama keluarga ini masih seperti dulu, sungguh membosankan. Wanita itu membawa Alan ke kamarnya atas petunjuk salah satu pelayan di sana.
Ternyata masih sama, kamar yang dulu. Kamar mewah yang sempat menjadi saksi malam-malam hangat ranjang Alan dan Aerin. Langkah kaki Aerin terasa berat masuk ke dalam sana. Semua kenangan seolah terulang kembali, kata-kata yang menusuk pun tak kalah menyiksa. Rasa sakit yang tertinggal di kamar ini kembali membasahi luka yang belum sembuh.
Aerin meletakan tubuh Alan di atas ranjang king size miliknya. Sejenak dia terdiam menatap foto pernikahan mereka yang masih terpampang rapi di dinding kamar Alan. Foto itu masih terlihat bagus dan terawat. Entah maksud Alan yang masih menyimpan semuanya, bukankah lelaki itu yang mengusirnya tanpa sebab dan juga alsan hanya karena sudah mendapatkan apa yang dirinya inginkan?
"Kenapa kamu masih menyimpan semuanya, Alan? Bukankah kamu yang mengakhiri semua ini?" Sial, air mata malah menetes di pipi Aerin. Secepatnya wanita itu menyeka dan menyapu pipinya. Ia tidak mau terlihat lemah, ia bukan Aerin yang dulu.
Dulu Alan dan Aerin menikah begitu mewah, seolah mereka adalah pemilik kebahagiaan sesungguhnya. Namun, setelah lima bulan pernikahan dan Aerin menggandung benih cinta mereka, Alan justru mengungkapkan alasan menikah dengan Aerin. Hancur, terluka, kecewa, marah, semua menjadi satu. Tak hanya diceraikan dan dibuang tak berharga, Aerin juga menjauh dari keluarga kandungnya karena tak mau membuat mereka malu atas pernikahan palsu yang selama ini ia jalani.
"Aerin!" racau Alan.
"Aaaaaaa!"
Brugh!
Aerin terdiam saat Alan menariknya, hingga membuat ia terjatuh ke atas d**a bidang wanita itu.
"Lepas, Alan!" Aerin memberontak dan meminta agar Alan melepaskannya, tetapi lelaki itu malah mengeratkan pelukannya.
"Aerin, jangan pergi!" ucap Alan. "Aku tidak mau kehilangan kamu lagi, jangan pergi!"
Aerin langsung terdiam, wajahnya tepat berada di dapat wajah Alan yang terpejam. Aroma alkohol menyeruak jelas dari mulut pria itu. Apakah Alan sadar atas apa yang dia lakukan saat ini?
"Aku mencintaimu, Aerin!"
* * *
"Tante, kenapa Aerin bisa kembali?" tanya Mella, gadis itu masih mendengkus kesal ketika Alan mendorongnya.
"Tante juga tidak tahu, Mel." Lisa menarik napas sedalam mungkin — ibu kandung Alan.
Mella mendengkus kesal, bibir gadis itu mengerucut. Selama ini ia berusaha menarik perhatian Alan agar tertarik padanya, tetapi wanita di masa lalu lelaki itu malah datang sesuka hati dan merebut Alan kembali dari pelukannya.
"Tante, bagaimana kalau kak Alan malah kembali sama Aerin?" Mella terlihat gelisah dan juga ada rasa takut yang mencekam di dalam dadanya.
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Mel. Alan itu sama sekali tidak mencintai Aerin. Dia juga menikahi Aerin dulu karena balas dendam," jelas Lisa yang berusaha menenangkan gadis yang dia ingin jodohkan dengan putranya itu. "Jadi, kamu tenang saja. Tante yakin, kamu pasti bisa menarik hati Alan!"
Mella menghembuskan napas dengan berat, lalu menatap sendu wanita paruh baya itu.
"Sudah enam tahun aku berusaha merebut hati kak Alan. Tapi, sampai sekarang kak Alan tidak tertarik sama aku, Tante!" ungkap Mella seraya tersenyum miris.
Berbagai cara ia lakukan agar lelaki itu melihatnya sebagai seorang wanita, bukan seorang adik. Namun, apapun yang ia lakukan, tetap saja bagi Alan dirinya hanya mahkluk tak kasat mata.
"Hem, kamu tenang saja. Tante akan bantu kamu dan lakukan apa saja agar Alan mau menikah sama kamu," tukas Lisa merebahkan kepala Mella di d**a bidangnya. "Dan Tante tidak akan biarkan Aerin kembali pada Alan. Tante akan singkirkan wanita bodoh itu!"
* * *
Alan membuka mata dengan kepala yang terasa begitu berat. Lelaki itu terduduk di ranjang king size miliknya.
"Aku di mana?" tanyanya.
Alan menelisik kamarnya, lalu terdengar helaan napas panjang dan juga berat.
"Aerin?" gumamnya. Nama wanita itu ternyata masih melekat di kepalanya.
Alan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena setelah ini ia harus segera ke kantor bertemu dengan Aerin, bukan maksudnya untuk bekerja, Alan mencoba mencoba menepis perasaannya.
"Tidak mungkin. Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri. Aerin itu hanya alat balas dendamku, tidak mungkin aku mencintainya?" Lagi-lagi Alan menggeleng, mengenyahkan pikirannya yang tidak beres.
Alan keluar dari kamar dengan stelan jas yang lengkap. Tak lupa tangannya menenteng tas kerja miliknya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Cody yang sudah berdiri seperti manekin di depan pintu kamar Alan.
"Hem!" Alan memberikan tas kerjanya pada Cody, meminta agar asistennya itu yang mengantarnya. "Siapa yang antar aku pulang semalam?" tanyanya.
"Ibu Aerin, Tuan," jawab Cody.
"Hah?!" Wajah Alan langsung memerah. Berarti semalam ia memang tidak bermimpi jika Aerin yang mengantarnya. "Kenapa bisa Aerin yang antar?" tanyanya mencoba menghilangkan kegugupan yang terlihat jelas dari sorot matanya.
"Bukankah Anda yang meminta diantar oleh ibu Aerin, Tuan," sahut Cody, tak lupa membungkuk hormat dan sopan.
"Aku?!" Lagi-lagi Alan terkejut sambil menunjuk dirinya. "Kenapa bisa aku meminta Aerin menjemput ku?" Alan tampak berpikir keras, seingatnya ia tidak meminta dijemput oleh wanita itu.
"Benar, Tuan. Anda menghubungi saya dan meminta agar ibu Aerin saya yang menjemput dan mengantar Anda pulang," jelas Cody sabar, orang dalam keadaan pengaruh alkohol jelas tidak ingat apa yang ia alami saat dalam keadaan mabuk.
"Ck, ini pasti salah. Mana mungkin aku minta jemput sama Aerin? Ini pasti karanganmu saja 'kan, Cody?"