"Ar!"
"Mommy!"
Aerin berhamburan memeluk anaknya itu. Tadi Nicko memberitahunya bahwa sang anak memang sudah terbangun dari komanya.
"Terima kasih sudah bangun kembali, Nak." Tak bisa Aerin pungkiri bahwa ada rasa takut yang terselip di antara rongga dadanya, membayangkan bahwa dirinya hidup tanpa sang anak.
"Mommy kenapa menangis?" Pria kecil itu melepaskan pelukannya dan mengusap pipi basah Aerin.
"Mommy bahagia, Nak," sahut Aerin tersenyum. "Mommy sayang Ar," sambungnya kemudian.
"Ar juga sayang Mommy!" sahut lelaki berusia lima tahun itu dengan antusias.
Nicko yang melihat kedekatan ibu dan anak itu, hanya tersenyum tipis. Ada rasa haru di dalam hatinya melihat betapa manisnya senyuman keduanya. Dirinya jadi membayangkan jika suatu saat nanti memiliki keluarga kecil, apakah akan bahagia seperti Aerin dan Ar?
"Ar mau makan?" tawar Aerin.
"Mau," sahutnya antuasias. "Tapi Ar mau makan bubur ayam buatan Mommy," pintanya.
Aerin tersenyum dan mengangguk. Apapun yang diminta oleh sang anak akan diberikan selagi ia mampu.
"Iya, Nak. Nanti Mommy buatkan untuk Ar ya," ucapnya sambil tersenyum. "Kalau begitu Ar istirahat dulu, ada yang mau Mommy bicarakan sama Ayah," timpalnya sembari melirik Nicko yang sejak tadi tampak menikmati obrolan ibu dan anak itu.
"Iya, Mom."
Aerin menaikan selimut di tubuh sang anak hingga sampai d**a.
"Selamat tidur, Anak Mommy!" Tak lupa satu kecupan ia sematkan di kening Ar dengan sayang.
Arshaka Jacksonville adalah buah hati Aerin. Buah hati yang kehadirannya tak diterima oleh sang mantan suami. Namun, tak apa, Aerin bersyukur karena Tuhan mengirimkan Ar dalam hidupnya. Setidaknya, putra kecilnya itu bisa menjadi sosok ternyaman untuk ia pulang. Ar adalah alasan Aerin mampu menjalani rumitnya jalan hidupnya. Setelah berpisah dari suaminya, Aerin mengalami banyak hal, bahkan ia pun diusir dari keluarga kandungnya sendiri. Sang kakak yang bermasalah, tetapi dirinya yang menjadi pelampiasan dendam. Padahal dirinya tak tahu apa-apa, ia pun hanya korban.
Satu hal, setelah Ar berusia lima tahun, pria kecil itu didianogsa menderita leukemia stadium lanjut. Hal itu mengharuskan dirinya berada dan tinggal di rumah sakit untuk memantau perkembangan Ar. Hati Aerin hancur bak remuk dan dicabik-cabik oleh ribuan pisau. Tak bisa ia pungkiri bahwa ada rasa takut yang menjelma menjadi rasa yang tak bisa ia kendalikan. Oleh sebab itu, Aerin akan melakukan apa saja asal putranya bisa sembuh dan sehat kembali.
Nicko dan Aerin keluar dari ruang rawat Ar dan memberi ruang pada pria kecil itu untuk menikmati istirahatnya.
"Ayo masuk!" ajak Nicko membuka pintu ruangannya.
Nicko adalah dokter muda dan tampan, selain itu ia juga memiliki segudang prestasi yang menjadikan ia direktur rumah sakit ini. Nicko bertemu Aerin lima tahun yang lalu, saat wanita itu hendak melahirkan dan tidak ada satu keluarga pun yang mengantarnya ke rumah sakit. Sejak saat itu keduanya dekat, bahkan Nicko memberikan tumpangan Aerin untuk tinggal dan merawat anaknya, meskipun semua itu Aerin anggap hutang karena ia tidak mau merepotkan Nicko yang sudah banyak membantunya selama ini.
Keduanya masuk ke dalam ruangan Nicko yang tampak mewah dengan banyak fasilitas karena ia menjabat sebagai direktur rumah sakit.
"Kenapa kamu pulang tengah malam?" tanya Nicko, ada rasa panik saat Aerin pulang malam tak seperti biasanya.
Aerin tersenyum melihat lelaki yang sudah menemaninya selama kurang lebih enam tahun itu.
"Tadi aku mengantar bos ku ke rumahnya, Kak," jawab Aerin tak bohong karena memang itu yang terjadi.
Nicko menarik napas lega, tadinya ia berpikir bahwa terjadi sesuatu pada wanita itu karena memang tak biasanya Aerin pulang malam dan tak memberi kabar padanya.
Lelaki itu memeluk Aerin dengan perasaan cemas.
"Kakak khawatir sama kamu," ucapnya terdengar lirih, tetapi tidak bohong.
Aerin melingkarkan tangannya di pinggang Nicko. Ia tak bohong, bahwa saat ini memang membutuhkan pelukan hangat dari seseorang.
"Kak!" panggilnya. Mata Aerin mulai berkaca-kaca.
"Kenapa, Rin?" tanya Nicko tanpa melepaskan pelukan wanita itu.
"Aku bertemu Alan!"
"Hah?!"
* * *
Wajah Alan memerah mendengar penjelasan Cody. Benarkah bahwa selama ia meminta Aerin untuk menjemput sampai mengantarnya di kamarnya? Ah, rasanya tidak mungkin ia begitu.
Pria itu tampak duduk tidak tenang, lebih tepatnya ia malu. Apalagi di kantor akan bertemu dengan Aerin. Pasti wanita itu nanti akan mengejek dan mengoloknya karena dulu Alan lah yang meminta Aerin pergi dari hidupnya.
Sementara Cody menahan senyum sembari menggelengkan kepala. Cody adalah asisten baru yang bekerja dengan Alan selama tiga tahun belakangan ini. Hal itu membuat dirinya tidak tahu masa lalu tuannya itu. Namun, entah kenapa melihat cara Alan memperlakukan Aerin rasanya ada sedikit sesuatu yang menjanggal di hatinya.
Selama bekerja dengan Alan, tak pernah sekalipun lelaki itu peduli pada siapapun, bahkan termasuk pada wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya pada Alan. Lelaki itu tak hanya arogan dan sombong, tetapi ia juga dingin tak tersentuh. Banyak wanita mengejar cinta lelaki tersebut, tetapi ia masih enggan membuka hati dan betah dalam kesendirian.
Mobil yang dikendarai oleh Cody berhenti di depan gedung pencakar langit. Segera asisten berkacamata tebal itu turun duluan dan membuka pintu agar sang tuan keluar dari sana.
Alan menghembuskan napas kasar seraya memperbaiki dasinya yang setengah bergeser. Jantungnya berdebar saat hendak bertemu dengan Aerin, ia ingat sekali saat memeluk wanita itu dan meminta Aerin menemaninya. Bodoh, makinya pada diri sendiri. Namun, alkohol terkadang mampu mengontrol daya pikir seseorang.
Lelaki itu berjalan dengan langkah gontai, sembari diikuti oleh Cody. Sejenak langkahnya terhenti ketika melihat sebuah mobil mewah menyusul dan berhenti tepat di depan gedung, lalu Aerin keluar dari sana setelah seorang pria berjas putih membuka pintu untuknya.
Tanpa sadar tangan Alan mengepal kuat, rahangnya terlihat mengeras hingga membuat urat-urat lehernya bermunculan.
Sementara Aerin melambaikan tangan saat mobil Nicko menjauh. Wanita itu memaksakan senyum ketika melihat bosnya berdiri tidak jauh dari tempatnya berpijak.
"Selamat pagi, Tuan," sapanya ramah dan tak lupa membungkuk hormat.
"Siapa dia? Suami kamu?" tuding Alan. Nada bicaranya tampak tak suka.
Cody yang mendengar pertanyaan tersebut bisa menangkap sesuatu, bahwa tuannya tengah cemburu. Dalam hati Cody bertanya-tanya, apakah Alan menyukai Aerin? Sudah lama ia mengikuti tuannya itu, baru kali ini Cody melihat akan memperlakukan wanita dengan emosi.
Aerin membalas dengan anggukan kepala. Ia malas menjelaskan, lagian ia dan Alan adalah bos dan anak buah, tidak seharusnya ia terlalu dekat dengan lelaki itu.
Alan tampak kesal, ia berjalan duluan dengan wajah merah padam. Cemburu? Tidak, mana mungkin ia cemburu? Bukankah ia memang tidak pernah menginginkan Aerin dari dulu? Ia bahkan tak menganggap wanita itu adalah, menikah dengan Aerin karena ia ingin membalaskan semua rasa sakitnya. Namun, tidak mungkin 'kan setelah waktu berlalu cukup lama dirinya tiba-tiba menyukai wanita itu? Pasti Aerin sudah menggunakan pelet, supaya dirinya bisa tertarik pada wanita itu. Alan tahu bahwa dulu Aerin sangat mencintainya.
"Kamu ke ruangan saya!" titahnya pada Aerin.