Bab 8. Berbohong

1005 Kata
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Aerin seraya membungkuk hormat. Alan menatap wanita itu jenggah, entahlah kenapa pagi ini emosinya terasa memuncak apalagi tadi ketika melihat wanita itu diantar oleh pria lain. "Soal semalam..." Alan melirik wanita itu. "Kamu jangan salah paham!" sambungnya kemudian. Aerin membalas dengan anggukan kepala. Ia bahkan sama sekali tak mengingat kejadian semalam karena memang ia tidak tertarik untuk mengingat kejadian tidak penting itu. Bagi Aerin, apapun yang berhubungan dengan Alan sudah tidak penting lagi baginya. Melihat reaksi Aerin yang biasa saja semakin membuat Alan kesal bukan main. Apakah wanita itu sama sekali tidak terbawa perasaan karena kejadian semalam. "Lagian mana mungkin aku mencintai wanita seperti kamu?" ketusnya kembali mengulang apa yang ingin ia katakan dan ingin melihat reaksi Aerin. Lagi-lagi Aerin hanya membalas dengan anggukan kepala. Ia tahu bahwa sampai kapanpun lelaki di depannya ini tidak akan pernah mencintai dirinya. "Apakah ada lagi yang ingin Anda bahas, Tuan?" tanya Aerin. "Hem..." Sejenak Alan berdehem, lalu menatap wanita yang berdiri di depan mejanya itu. "Di mana anak itu?" Sudah lama Alan ingin menanyakan soal anak yang dibahas oleh sahabatnya kemarin. Aerin tampak terkejut ketika Alan menanyakan anak yang sempat ia sia-siakan dulu. Namun, wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan santai, ia tidak mau membuat Alan mencurigainya. "Anak yang mana, Tuan?" tanya Aerin pura-pura tidak paham. "Hem, aku rasa kapasitas otakmu tidak terlalu kecil untuk mencerna pertanyaanku," sindir Alan. Lagi, Aerin hanya terdiam membisu dan enggan menjawab pertanyaan dari lelaki itu. "Kenapa diam?" Alan melirik wanita itu dengan jengkel. "Di mana anak kita?" Aerin berdecih dalam hati ketika Alan menyebut nama anak mereka. Bukankah dulu lelaki itu sama sekali tidak peduli dengan buah hatinya? Bahkan saat Aerin mengatakan dirinya hamil, Alan tetap melayangkan surat cerai padanya. "Aerin!" Alan tampak tak sabar mendengar jawaban dari mantan istrinya itu. "Di mana anakku?" "Maaf, Tuan, setelah kita berpisah, saya sengaja mengugurkan kandungan saya!" Deg * * * "Aerin kembali?!" Pria paruh baya itu menatap ke arah istrinya. "Iya, Dad, Aerin kembali lagi," jawab sang istri dengan malas. Ia masih kesal karena Alan malah menepis tangan Mella ketika hendak menolaknya dan memilih merangkul bahu Aerin. Sejenak lelaki paruh baya itu terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Wajahnya seperti terkejut mendengar kabar tersebut. Pasalnya sudah enam tahun Aerin menghilang setelah berpisah dari putranya. Namun, tiba-tiba wanita itu muncul lagi. "Terus bagaimana ceritanya dia bisa jadi sekertaris Alan?" tanya Jackson — ayah kandung Alan. "Mana Mommy tahu, Dad," jawab Lisa. "Pokoknya Mommy tidak mau Alan kembali pada wanita itu lagi!" Jackson menghela napas panjang. Ia adalah satu-satunya orang yang merestui hubungan Alan dan Aerin. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa putranya menikahi wanita itu karena balas dendam. Padahal menurut Jackson, Aerin adalah wanita baik yang tidak tahu apa-apa. "Aerin berasal dari keluarga pembunuh!" ucap Lisa dengan menggebu-gebu. "Mom!" Jackson menggelengkan kepalanya. "Aerin itu tidak tahu apa-apa, justru salah jika Alan malah balas dendam padanya," jelas Jackson berusaha memberi pengertian pada wanita paruh baya itu. "Huh, Daddy dari dulu memang selalu membela wanita itu. Apa hebatnya Aerin?" Emosi Lisa semakin menggebu saat mendengar sang suami malah membela wanita itu. "Bukan membela, Mom. Tapi, Aerin memang tidak tahu apa-apa," jelas Jackson tersenyum. "Tahu ah, Mommy kesal sama Daddy!" Wanita itu berdiri seraya menghentakkan kakinya kesal, lalu melenggang pergi. Sementara Jackson tersenyum tipis. Sudah tidak heran lagi jika istrinya begitu. Apalagi sejak dulu, Lisa memang tidak menyukai Aerin, entah apa alasannya. Padahal menurut Jackson, Aerin wanita yang baik dan juga pintar, sopan serta cerdas. Sejenak Jackson terdiam, seolah dirinya juga sedang berpikir keras. "Apa benar Aerin kembali lagi?" gumam Jackson. Segera lelaki itu berdiri dari duduknya, ia mengambil kunci mobil lalu keluar dari mansion. Jackson masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas. Sepanjang perjalanan lelaki paruh baya itu seperti berpikir keras. Hingga akhirnya mobil yang ia kendarai berhenti tepat di depan gedung pencakar langit, segera ia keluar dari sana dengan langkah tergesa-gesa. Kedatangannya juga disambut hangat oleh para karyawan yang ada di kantor mewah tersebut. "Alan!" Alan yang tampak melamun di dalam ruangannya, sontak menoleh ke arah sang ayah. "Alan, kamu kenapa?" tanya Jackson melihat putranya yang hanya diam saja. "Dad." Suara Alan terdengar lirih. Jackson duduk di samping putranya itu dan menatap Alan dengan kasihan. Selama enam tahun ini, ia tahu bagaimana sang putra berjuang melanjutkan hidupnya setelah berpisah dari Aerin. "Aerin kembali, Dad," ucap Alan dengan suara yang hampir tidak tembus. "Iya Daddy tahu," jawab Jackson. Hanya Jackson yang memahami bagaimana Alan hidup setelah ia memutuskan pisah dari Aerin. Mungkin bagi sebagian orang Alan adalah sosok yang dingin, kejam, arogan dan tak memiliki perasaan. Namun, jauh dari itu ia hanya seonggok hati rapuh yang patah berulang kali. Kehilangan adik yang ia cintai sepenuh hati, lalu menikahi Aerin dengan maksud balas dendam. "Aku tidak bisa membencinya seperti yang aku katakan, Dad," jelas Alan. Tanpa sadar, setetes butiran bening lolos di pelupuk matanya. "Aku juga tidak bisa mencintainya!" sambungnya kemudian. Jackson hanya mengangguk dan terus mengusap bahu anaknya itu, seakan menyalurkan kekuatan melalui usapan tangannya. "Tapi, saat dia bilang sudah mengugurkan darah dagingku, hatiku remuk, hancur dan pecah berkeping-keping, Dad!" * * * Aerin menarik napas dalam sembari duduk di kursinya. Wanita itu mengelus dadanya dengan pelan seolah mencoba mentralisir detak jantung yang tak beraturan. "Kamu kuat, Aerin!" ucapnya menyemangati diri sendiri dan berusaha untuk tetap tenang. Selama kurang lebih enam tahun, hidup Aerin tak pernah baik-baik saja. Tak hanya kehilangan suami, tetapi ia juga kehilangan keluarga yang ia cintai sepenuh hati. Semua orang menganggap dirinya hanya sebagai alat balas dendam padahal ia tidak tahu apa-apa, terhadap apa yang terjadi. Lalu Aerin menoleh ke arah ruangan Alan. Tadi ia melihat mantan ayah mertuanya masuk ke dalam sana, sengaja ia menghindar karena memang tidak mau bertemu dengan siapapun yang bersangkutan dengan mantan suaminya. Bukan Aerin membenci mereka, tetapi rasa sakit yang telah tercipta karena keluarga itu membuat hidupnya tak tentu arah. "Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil anakku, Alan. Tidak akan! Dulu kamu tidak peduli sama sekali, bahkan meminta aku membunuh anak itu, sekarang kamu malah seperti orang yang menginginkan kembali!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN