Bab 9. Heboh

1014 Kata
"Sudah enam tahun, tapi Bunda belum juga bertemu kamu, Aerin!" ucap seorang wanita paruh baya memeluk seusang foto yang sudah hampir memudar. "Maafkan Bunda yang saat itu ikut mengusirmu, tanpa mendengar penjelasan kamu!" Ada ungkapan penyesalan dari kata-kata yang keluar dari bibirnya. "Bun!" Seorang pria paruh baya masuk sembari membawakan nampan berisi makanan untuk sang istri. "Ayah!" Mata sang wanita langsung berkaca-kaca. Pria paruh baya itu meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di samping sang istri. "Bunda menyesal karena sudah mengusir Aerin. Padahal dia tidak tahu apa-apa," jelasnya. Sang suami terdiam menatap sang istri dengan sendu dan teduh. Ia pun merasa bersalah atas apa yang dialami oleh sang istri. Hening menyelimuti ruangan setelah permohonan itu terlontar dari bibir wanita paruh baya yang kini menggenggam erat tangan suaminya. Sorot matanya penuh harap, bercampur dengan penyesalan yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Pria paruh baya di hadapannya menarik napas panjang, mengembuskan udara dengan berat. Ia menatap sang istri yang tengah menunduk, jemarinya sedikit bergetar. Sudah enam tahun berlalu sejak hari itu—hari ketika mereka membuat keputusan tergesa-gesa, didorong oleh emosi dan prasangka. "Ayah juga menyesal, Bun!" Suara sang suami terdengar lirih, serak oleh beban yang selama ini ia pendam. "Setiap malam, Ayah selalu bertanya-tanya... bagaimana keadaan Aerin sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia masih mengingat kita sebagai orang tuanya?" Matanya menerawang, memikirkan putri mereka yang entah berada di mana. Dulu, mereka menganggapnya sebagai anak durhaka, seorang gadis yang telah mencoreng nama baik keluarga. Tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan, mereka mengusirnya begitu saja—dan sejak saat itu, Aerin tak pernah kembali. "Ayah...!" Suara wanita itu bergetar. "Bunda takut... takut jika kita tidak akan pernah menemukan Aerin lagi. Bagaimana jika dia membenci kita? Bagaimana jika dia tidak ingin kembali?" Pria itu meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. "Bunda, kita harus tetap mencarinya. Tidak peduli seberapa marahnya dia, kita harus meminta maaf. Kita harus menebus kesalahan kita." Wanita itu mengangguk pelan, air matanya jatuh membasahi pipi. Enam tahun adalah waktu yang lama. Apakah putrinya masih seperti dulu? Apakah dia masih menyimpan kenangan tentang mereka? "Iya sudah Bunda makan dulu!" ucapnya. Wanita paruh baya itu mengangguk dan menurut, lalu meletakkan foto tersebut di tempatnya kembali. Ia menyambut suapan dari tangan suaminya dengan pelan. "Makan yang banyak, supaya Bunda sehat dan kita bisa mencari keberadaan Aerin!" ujar sang suami. Lagi-lagi ia mengangguk dan menurut saja. Ia begitu semangat ketika mendengar nama putrinya, berharap bahwa ia akan diberikan satu kesempatan untuk bertemu kembali. "Sekarang minum obatnya, Bun!" Sang suami dengan sabar dan telaten merawat istrinya. Setelah wanita itu makan dan minum obat, sang suami segera meminta agar sang istri beristirahat. Sebab kurang lebih lima tahun ini, istrinya itu larut dalam kesedihan. Pria paruh baya itu keluar dari kamarnya. Tak sengaja ia melihat putranya berada di ruang tamu duduk dengan tenang sembari memangku laptop di pahanya. "Alden!" tegurnya. Pria tampan itu menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada laptop di pangkuannya. "Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali atas kepergian adikmu?" Wajah pria paruh baya itu tampak memerah, amarahnya terlihat menggebu-gebu. Sang anak masih terlihat tenang, seolah tak menggubris pertanyaan sang ayah. Ia masih asyik dengan angka-angka uang yang tertera di sana. "Adikmu sudah banyak menderita selama ini, apa kamu belum puas?" ujar sang ayah lagi, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Pria itu menatap ayahnya dengan tajam. Ia seolah hendak membalas amarah sang ayah lewat tatapan matanya yang nyalang. "Dia bukan adikku!" jawabnya tegas. "Dia hanya benalu keluarga, seharusnya kalian bersyukur karena parasit seperti dia tidak menempel lagi di keluarga kita," sahutnya menjawab dengan sorot mata tajam. "Satu lagi, Ayah, aku tidak membunuh Anne. Dia meninggal karena kecelakaan tunggal, bukan aku yang menabraknya. Alan menikah dengan Aerin bukan kesalahanku, itu semua karena kebodohannya yang tidak mencari tahu kebenaran!" * * * "Rin!" panggil seorang wanita cantik. "Eh iya, Va?" Aerin tersenyum pada sahabat barunya itu. Satu-satunya orang di kantor hanya Eva yang mau berteman dengan Aerin. Semua karyawan menjauhi dirinya, lebih tepatnya iri karena hanya Aerin yang bisa dekat dengan Alan. "Makan siang yuk!" ajaknya. Aerin membalas dengan anggukan kepala. Lalu kedua wanita cantik itu berjalan menuju kantin perusahaan. Di sana tampak banyak manusia saling mengantri karena memang jam makan siang. "Duduk sini saja, Rin!" ajak Eva. Lagi-lagi Aerin menurut dan duduk di kursi yang Eva tunjukan padanya. Eva memesan makanan untuk mereka nikmati berdua. "Eh, Rin, yang antar kamu pagi tadi, suami kamu?" tanya Eva penasaran. "Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya Aerin tenang, sambil tersenyum. Banyak yang mengira bahwa Nicko adalah suaminya. "Hem, soalnya kalian selain cocok juga romantis," jawab Eva. Aerin terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang kantor dihebohkan kemarin karena dirinya diantar oleh Nicko, sebenarnya bukan itu yang menjadi sorotan. Namun, Alan yang terlihat emosi dan marah. "Dia bukan suami aku, Va," sahut Aerin jujur. "Hah?!" Eva tampak terkejut. "Serius?" Aerin mengangguk. "Lalu, dia siapa?" tanyanya lagi. "Dia kakakku," jawab Aerin. "Kandung?" Aerin membalas dengan gelengan kepala. Ia dan Nicko bahkan tak memiliki ikatan darah sedikitpun. Mereka kenal enam tahun yang lalu saat Aerin hendak melahirkan Ar. Nicko lah yang menolong dan membantu Aerin, sampai hari ini. "Bukan, Va," sahut Aerin lagi seraya menuangkan saus pada bakso pesanannya yang sudah datang. "Kalau bukan kakak kandung, lalu kakak apa?" Eva tampak berpikir keras. "Dia hanya teman yang sudah aku anggap sebagai kakak," jelas Aerin. Tampaknya Eva tak puas dengan penjelasan Aerin. Masalahnya, tadi pagi sempat heboh karena melihat Aerin yang diantar oleh seorang pria. Banyak yang menduga bahwa pria itu adalah suami Aerin. Namun, faktanya Aerin belum menikah dan ia seorang janda anak satu. "Ah, sudahlah, ayo makan!" tukas Aerin. Seketika suasana terdengar riuh, banyak para karyawan yang langsung berdiri. Entah siapa yang datang sehingga mereka menyambut dengan antusias. "Ada apa sih?" tanya Aerin. Eva juga ikut berdiri dan membungkuk hormat. Semangat Aerin malah asyik makan tanpa peduli. "Rin!" Eva menyenggol lengan sahabatnya itu. "Hem, apa sih, Va? Aku lagi makan!" Aerin memang terlihat lapar karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan, selain semalam pulang tengah malam, ia juga kesiangan. "Ehem!" Hingga suara deheman membuat Aerin menoleh. Pupil matanya hampir saja melompat ketika melihat siapa yang datang. "Tuan Alan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN