Hana meringkuk duduk sembari memeluk kedua lutut di ranjang kamarnya. Setelah mendengar kenyataan pahit tentang Sandy tadi, Hana langsung mengurung diri untuk mencoba memahami perasaannya sendiri. Betapa hancur hatinya saat ini. Sandy tidak hanya menghina profesi Hana. Tapi juga menghina dirinya. Ia merendahkan apa yang selama ini ia perjuangkan, seakan-akan segala kerja kerasnya, segala kebanggaan yang ia miliki sebagai seorang jurnalis, tidak lebih dari sekadar sampah di mata pria itu. Ditambah lagi soal kiriman makanan dari Hana. Selama ini, Hana selalu berupaya keras membuat makanan sepenuh hati untuk Sandy. Bahkan, ia rela untuk bolak balik dari rumah ke kantornya dan menyisakan waktu sedikit untuknya saat istirahat hanya demi makanan itu. Siapa sangka, jika bahkan Sandy tidak p

