Bab 2. Aku Ingin Menghancurkanmu

1113 Kata
Hana duduk di sebelah ayahnya yang terbaring koma pada sebuah rumah sakit. Sudah sekitar satu jam yang lalu, ia terus saja duduk memandangi ayahnya sembari terisak. "Aku di sini, Yah. Kenapa Ayah tidak bangun?" kata Hana berbicara dengan ayahnya. Hana memperhatikan ayahnya yang masih memejamkan mata dan memakai selang infus di tangannya. Waktu itu Hana sedang menunggu kepulangan ayahnya. Tapi, ia justru mendengar bahwa ayahnya mengalami kecelakaan. Hana yang juga ikut ke rumah sakit dan disuruh membayar tagihan, kaget karena rekening milik ayahnya benar-benar kosong tak bersisa. Bahkan sertifikat rumahnya juga tidak ada. Saat itulah ia mendapat tawaran menikah dengan Sandy. Sandy bilang, bahwa ayah Hana dan kakeknya adalah rekan bisnis. Karena itu, Sandy ingin membantu pengobatan ayahnya, jika Hana menikahinya. Waktu itu Hana pikir, Sandy hanya ingin menolong. Namun, kenyataan pahit justru ia dengar di malam pertama. Hana memegangi tangan ayahnya lembut. "Bohong, bukan? Aku tidak percaya kalau Ayah benar-benar membunuh kakek Sandy. Sejak aku kecil Ayah selalu berusaha membahagiakanku. Aku tidak percaya padanya. Tapi, aku yakin kalau Ayah tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!" Hana mulai menitikkan air mata kembali. "Hanya Ayah satu-satunya keluarga yang aku punya. Bangunlah demi aku, Yah ...! Selamatkan aku dari laki-laki kejam itu ...!" Hana semakin erat menggenggam tangan ayahnya dan isaknya semakin deras. Tiba-tiba pintu rumah sakit terbuka dari arah luar. Hana yang tadinya menunduk pun langsung mengangkat kepala untuk melihat siapa yang masuk. Rupanya Sandy yang baru membuka pintu dengan wajah garang. Membuat Hana terperanjat. Sandy hanya diam melihat Hana dengan tatapan dinginnya. Hana tidak bisa mengartikan tatapan suaminya itu. Sandy kemudian berjalan mendekat ke arah Hana. "Kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku?!" tanya Sandy pada Hana dengan nada dingin. "Ponselku ketinggalan," jawab Hana datar. Melihat reaksi Hana, membuat Sandy menjadi kesal. "Pulang kamu!" pinta Sandy dingin. Hana tidak segera menjawab. Hanya memberikan raut wajah kecut sembari mengalihkan pandangan dari Sandy. "Aku masih ingin bersama ayahku!" "Cepat masuk mobil, sekarang!" Lagi-lagi Sandy memerintah dan terdengar galak. "Tidak mau!" sanggah Hana bersikukuh. Sandy pun semakin kesal dan merasa tertantang. "Kalau kamu tidak pulang sekarang, aku akan menghentikan pengobatan ayahmu!" ujar Sandy. Hana menoleh cepat menatap Sandy sembari menautkan kedua alis. Rasa marah dan cemas bercampur jadi satu. Namun, apa lagi yang bisa ia perbuat? Ia pun hanya bisa menuruti perintah laki-laki yang berstatus suaminya itu. Hana akhirnya berdiri dan berjalan keluar ruang tempat ayahnya dirawat. Meninggalkan ayahnya dan Sandy berdua saja di dalam. Setelah Hana sudah di luar, Sandy memandangi ayah Hana dengan tatapan penuh dendam. "Kau telah merenggut nyawa kakekku! Tapi apa kau tahu, kenapa aku tidak membiarkanmu mati begitu saja dalam keadaan koma ini? Karena aku ingin, saat kau membuka matamu, kau menyaksikan sendiri bagaimana putri kesayanganmu menderita dan itu akan menjadi hukuman terberat bagimu!" Sandy seolah-olah sedang berbicara langsung pada ayah Hana. Meski ia tidak tahu, apa ayah Hana bisa mendengar atau tidak? Setelah itu, Sandy berjalan keluar ruangan dengan membawa dendam berapi-api. *** Sandy menyeret tangan Hana dan memaksanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Hana, hanya bisa mengikuti pergerakan Sandy. Setelah berada di dalam kamar, Sandy melepaskan genggamannya dari tangan Hana. "Kenapa kamu keluar tanpa ijin dariku?! Kamu pikir bisa pergi sesukamu tanpa ijinku?” tanya Sandy dingin. "Ijin?! Aku hanya merindukan dan ingin menemui ayahku yang koma! Kenapa aku harus minta ijin darimu?!" jawab Hana. Sandy menatap Hana tajam, langkahnya perlahan mendekat. “Kenapa?” ulang Sandy terkekeh sinis. “Karena kamu adalah istriku. Dan kamu harus patuh padaku!" Hana mengepalkan tangan, rahangnya mengeras membalas tatapan Sandy. “Aku bukan tahananmu! Aku berhak menemui ayahku kapan pun aku mau!” Sandy tidak terima mendengar bantahan istrinya. Ia tiba-tiba menarik pergelangan tangan Hana, mendekatkan wajahnya hingga napas panasnya terasa di kulit Hana. “Berhak?” bisiknya dingin. “Kamu kehilangan hak itu sejak hari kamu menyandang nama belakangku. Ingatlah! Namamu sekarang bukan lagi Hana Anindya, tapi sudah berubah jadi Hana Anggara setelah menikah denganku!" Hana melihat mata Sandy. Tatapannya bukan sekadar sorot mata biasa. Ada kobaran api yang tak bisa padam, campuran luka, penghinaan, dan kebencian yang mendalam. Matanya yang dulu penuh kelembutan, kini hanya menyimpan kegelapan. Hana menatap Sandy seakan lelaki itu adalah badai yang menghancurkan hidupnya, merenggut kebebasannya, dan meremukkan harga dirinya. Setiap helaan napasnya terasa berat, penuh dengan kemarahan yang tak bisa terucap. Di balik tatapan bencinya, ada satu hal yang lebih menyesakkan, yaitu rasa sakit yang tak bisa ia hindari, rasa terkhianati yang membuat dadanya semakin sesak. Namun, Sandy hanya tersenyum sinis, menikmati kemarahan Hana seolah itu adalah kemenangan baginya. Dan itu semakin membuat Hana ingin membenci lelaki itu lebih dari apa pun di dunia ini. Sandy melangkah lebih dekat ke arah istrinya. "Aku suka tatapanmu yang penuh kebencian seperti itu." Sandy mengusap pipi Hana dengan punggung jarinya lembut, menyentuhnya tipis-tipis. Karena sentuhan Sandy, Hana jadi gugup dan setengah takut-takut dibuatnya. Sandy mengukir seringai senyum miring di wajahnya. "Lihat! Kamu sudah mulai takut sekarang?" ujar Sandy membuat Hana semakin melangkah mundur perlahan. Sandy menarik Hana ke dalam pelukannya, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan paksa. Hana menundukkan kepala. Sandy mendekatkan mulut ke telinga Hana. "Aku juga menyukaimu saat ketakutan dan kamu mulai gelisah seperti ini." Suara Sandy rendah, nyaris seperti desisan ular berbisa. Hana kesusahan menelan ludah. Badannya semakin menggigil dan takut Sandy akan memaksanya untuk melakukannya lagi. "Ja ... jangan lakukan itu padaku lagi," kata Hana dengan suara pelan dan gemetar. Sandy mengulas senyumnya. Ia semakin ingin mengintimidasi istrinya itu. "Kamu milikku, Hana,” bisiknya dingin di dekat telinga Hana. “Kamu akan membayar setiap dosa ayahmu dengan caraku.” "Itu hanya kecelakaan. Ayahku tidak pernah membunuh orang," bantah Hana. Mendengar kalimat Hana yang mengingatkan kakeknya, membuat senyum di wajah Sandy memudar. Ia pun mendorong tubuh Hana hingga sampai terpojok di dinding, lalu mengunci kedua tangan Hana dengan paksa. Hana terhenyak dibuatnya. "Jangan berharap belas kasih dariku! Aku akan membuatmu merasakan separuh dari penderitaan yang ayahmu timpakan padaku!" kata Sandy yang sedikit meninggikan nada bicaranya. Sandy lalu menjauh sebentar untuk melepas kancing bajunya. Membuat Hana semakin ketakutan. Setelah melepas bajunya, Sandy kembali menahan kedua tangan Hana. "Jangan ... kumohon ...!" kata Hana dengan nada memelas. Namun, Sandy mana mau mendengarnya? Ia kembali mendekat sehingga Hana mengalihkan pandangannya sembari memejamkan mata gemetar. Sandy melabuhkan ciumannya di leher Hana dan sedikit menggigitnya untuk memberi bekas di sana. Hana menaikkan kedua bahu merasakan gigitan Sandy dan jantungnya berdebar tidak karuan. Ia merasa dunianya berputar. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhnya kaku dalam ketakutan. “Aku akan mengajarimu bagaimana cara tunduk padaku,” desak Sandy. Di saat itulah, untuk pertama kalinya, Hana benar-benar sadar. Sandy tidak hanya ingin membalas dendam pada ayahnya. Pria itu juga ingin menghancurkannya, sedikit demi sedikit, hingga tak tersisa lagi seorang Hana yang dulu ia kenal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN