Bab 3. Kembali Bekerja

1297 Kata
Di ruang makan rumah Sandy, Hana duduk diam di kursinya. Piring di hadapannya masih utuh, nyaris tak tersentuh. Aroma kopi yang mengepul dan roti panggang yang renyah seharusnya menggugah selera, tapi tidak baginya. Sandy yang duduk di seberangnya mengetuk sendok ke piring dengan ritme lambat, seolah menikmati ketegangan yang menggantung di antara mereka. Matanya yang tajam mengawasi Hana, penuh otoritas. "Kenapa tidak makan?" tanya Sandy tanpa ekspresi. "Aku tidak lapar," jawab Hana setengah menunduk. "Aku tidak peduli kamu mau makan atau tidak! Asalkan jangan pernah sakit dan merepotkanku!" Sandy kemudian melanjutkan makannya. Hana mengepalkan tangan di atas pangkuan, menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Hana lalu menghela napas, memberanikan diri menatap pria yang berstatus suaminya itu. Ada hal penting yang ingin disampaikannya. "Aku ingin kembali bekerja!" ujar Hana setelah sekian detik. Sandy yang akan menyesap kopi, terhenti mendengar kalimat Hana. Ia menatap istrinya sembari menautkan kedua alis. "Kenapa?" "Aku sudah cuti selama seminggu setelah menikah. Sekarang waktunya aku kembali." "Kenapa kamu minta ijinku?" "Bukankah kemarin kamu bilang aku harus meminta ijin jika ingin keluar rumah?" tanya Hana dengan polosnya. Sandy mendengkus remeh. "Jangan salah sangka! Bekerjalah sesukamu. Aku tidak peduli sama sekali. Asalkan tidak menemui laki-laki jahat itu!" kata Sandy. Hana mengkerutkan kening tidak terima. "Ayahku tidak jahat! Ayahku—" "Diam!" Suara Sandy bergema di ruangan, membuat Hana tersentak. Matanya membelalak menatap Hana tajam, seolah menantang Hana untuk tidak membantah lagi. Sandy lalu mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Hana, menciptakan aura d******i yang semakin menyesakkan. "Jangan pernah membelanya di hadapanku! Jika kamu berani melanggarnya, kamu tahu akibatnya!" ancam Sandy. Hana hanya bisa menggigit bibirnya, menahan protes yang ingin meluncur dari bibirnya. Ia tidak bisa menang melawan pria ini. Setidaknya belum. Sedangkan Sandy, kembali bersandar, matanya masih mengunci Hana. "Jangan buat aku menyesal mengijinkanmu keluar!" ujar Sandy lagi. Setelah itu, Sandy membanting sendok yang tadi dipegangnya. Ia kehilangan nafsu makan seketika. Dengan itu, ia bangkit dari kursinya, meninggalkan Hana dengan napas tersengal dan hati yang semakin kacau. Hana hanya bisa menatap punggung Sandy dengan perasaan campur aduk. Hana pikir, dengan berkomunikasi ia bisa menemukan secercah harapan di balik sikap dingin suaminya itu. Tapi yang ia temukan hanyalah dinding kokoh yang sulit ditembus. Hana bisa bekerja kembali. Yang artinya, ia mendapat kebebasan. Tapi di saat yang sama, ia juga kehilangan sesuatu yang penting baginya. Dan ia tahu, ini baru permulaan dari semua penderitaan yang harus ia hadapi. *** Hana melangkah memasuki gedung dengan plang bertuliskan Nexus Press, tempat di mana ia bekerja. Ia menarik napas dalam sebelum berjalan menuju lift, naik ke lantai tempat ruangannya berada. Setelah satu minggu cuti, ia merasa sedikit gugup. Bagaimana reaksi teman-temannya saat melihatnya kembali? Begitu sampai di ruangan, suara riuh percakapan segera menyambutnya. Belum sempat ia benar-benar masuk, dua sosok familiar langsung menghampirinya. Erik dan Tia, teman akrabnya. "Wah, lihat! Hana sudah kembali bekerja!" seru Erik. Hana tersenyum sembari melambaikan tangan. Ia berjalan ke tempat kerjanya, lalu duduk di sana. Sedangkan Erik dan Tia, langsung berdiri dari tempat kerjanya masing-masing dan segera berjalan cepat ke arah Hana. "Selamat atas pernikahanmu ya, Hana! Sayangnya kami tidak diundang," kata Tia. "Kenapa kamu diam-diam cuti menikah dan tidak mengundang kami?!" Erik ikut bertanya. Hana masih terdiam berpikir. "Aku tidak ingin pernikahan ini diketahui oleh siapa pun, terutama oleh dunia luar! Apalagi dengan pekerjaanmu sebagai jurnalis, lingkungan sekitarmu dipenuhi orang-orang yang selalu haus berita. Jika pernikahan ini sampai terungkap, kamu pasti tahu konsekuensinya, bukan?" Terlintas kalimat Sandy di memori Hana beberapa waktu yang lalu setelah Sandy mengijinkannya bekerja. Inilah alasan kenapa dari awal, Sandy tidak mengijinkan dunia luar tahu soal pernikahannya. Membuat Hana jadi serba salah dan bingung menjawab. Apalagi mereka teman akrab yang selalu saling berbagi cerita. Hana tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Maafkan aku. Suamiku ingin pernikahan yang sederhana di luar negeri. Jadi, aku tidak bisa mengundang kalian. Bagaimana kalau aku traktir makan saja?" "Tapi, paling tidak tunjukkan foto suamimu pada kita! Pasti dia sangat tampan, kan?" kata Tia. Hana menelan ludah. Ia tidak mungkin menunjukkan foto Sandy. Sandy seorang CEO di perusahaan keuangan yang sangat ternama. Anggara Financial Group. Tentu saja semua pasti mengenalinya. Apalagi mereka semua memang bekerja sebagai jurnalis untuk mengumpulkan berita tentang biodata para pengusaha. "Eee ... wajah suamiku jelek," jawab Hana tidak yakin. "Sebenarnya dia sudah berumur. Makanya aku malu kalau kalian melihatnya," tambahnya. "Kamu bercanda, kan? Jangan-jangan suamimu pejabat atau bos besar?" "Ah, tidak. Dia hanya … pria biasa," elak Hana sambil pura-pura sibuk membuka laptopnya. "Apa pekerjaannya?" Tia masih nampak terus mengulik. Hana berpikir sejenak. "Dia ... karyawan biasa di sebuah perusahaan," jawab Hana berbohong supaya tidak ketahuan. "Perusahaan apa?! Apa dia juga seorang jurnalis sama seperti kita?!" Tia justru terus memaksa Hana berkomentar. Membuat Hana semakin kebingungan mencari alasan. Seharusnya dia sudah memikirkannya tadi malam. "Hana?!" Tiba-tiba suara laki-laki memanggilnya. Hana menoleh melihat atasannya yang baru datang. Membuat semua karyawan lain terhenyak dan langsung kembali ke tempat masing-masing. Membuatnya bisa bernafas lega menghindari pertanyaan teman-temannya. Hana lalu berdiri menyambut atasannya. "Pak Arman?" sapa Hana sopan. "Kamu sudah kembali bekerja rupanya. Selamat atas pernikahanmu." "Terima kasih banyak, Pak," jawab Hana. "Kebetulan sekali kamu sudah kembali. "Aku punya tugas penting untukmu!" "Tugas penting, Pak?" "Kamu tahu perusahaan keuangan yang sedang naik daun saat ini? Mereka setuju kita melakukan wawancara." "Perusahaan keuangan yang sedang naik daun yang mana, Pak?" tanya Tia ikut penasaran. "AF Group! Anggara Financial Group yang dipimpin oleh Sandy Anggara," jawab pak Arman. Mendengarnya, Hana langsung terhenyak seketika. Matanya melebar dan tenggorokannya berubah kering dalam sekejap. Lidahnya mendadak kaku tidak bisa digerakkan. "Aku tahu! Pimpinannya bernama Sandy Anggara, bukan?!" tambah Erik. Hana semakin diam membeku. "Ya!" jawab pak Arman. "Dia sangat sulit ditemui. Tapi kita sudah mendapatkan kesempatan eksklusif. Aku ingin Hana yang menangani ini. Berbulan-bulan aku berusaha untuk mengatur jadwal wawancara dengannya, tapi dia selalu tidak mau. Entah kenapa tiba-tiba kemarin asistennya setuju," jelas pak Arman. "Bukankah itu ide bagus!" seru Tia. "Aku dengar pak Sandy baru saja menikahi dalam waktu dekat ini," sahut Erik. Hana langsung merasa terkena serangan jantung mendadak mendengarnya. "Ya! Pernikahannya dilakukan secara privasi dan hanya dihadiri keluarga dekat saja. Makannya, selain profil kesuksesannya, sekalian kita juga bertanya soal pernikahannya," kata pak Arman. "Wah! Kalau kita tahu siapa istrinya, beritanya pasti akan gempar. Perusahaan kita juga akan naik pesat!" ungkap Erik. "Ngomong-ngomong, kenapa sekelas pak Sandy melakukan pernikahan secara privat, ya?" tanya Tia. "Mungkin karena dia memang tidak mau urusan pribadinya diketahui publik. Kira-kira seperti apa istri pak Sandy, ya? Pasti dia perempuan yang pintar, berkelas dan juga berpenampilan glamor," ujar Erik sembari ikut menebak-nebak. "Kalian tidak akan menyangka kalau istrinya adalah aku!" gumam Hana dalam hati. "Hana! Kenapa kamu diam saja?! Apa jangan-jangan ... kamu sudah tahu istri pak Sandy?!" tanya Tia yang membuat Hana kesusahan menelan ludah. "Ma ... mana mungkin aku tahu?" jawab Hana kikuk salah tingkah. "Aku saja tidak kenal pak Sandy sama sekali," lanjutnya. "Kalau begitu, segera lakukan riset ya, Hana!" pinta pak Arman mengembalikan fokus semuanya. "Tapi, Pak, saya baru kembali bekerja setelah cuti menikah. Saya ingin fokus menyelesaikan tugas-tugas yang tertunda dulu. Saya rasa ada Tia dan Erik lebih cocok melakukan wawancara itu." Hana mencoba menolaknya. "Hana, kita berdua sudah sangat sibuk. Apalagi kamu cuti satu Minggu kemarin, membuat pekerjaan kita dua kali lipat. Kita juga ada jadwal untuk wawancara di tempat lain!" Tia langsung menyanggahnya. "Iya, Hana! Bukankah biasanya kamu yang paling semangat dan paling pintar saat mewawancarai seorang tokoh?" tambah Erik. Hana pun kembali terdiam sembari menggigit bibir. "Hana, ini kesempatan besar. Jangan menolak tugas yang bisa mengangkat namamu sebagai jurnalis. Datanglah ke kantorku untuk mendiskusikan jadwalnya!" pinta pak Arman yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Kemudian beliau langsung berjalan menjauh. Hana menautkan kedua alis linglung. Ia kebingungan sendiri dan tidak bisa menjelaskan apa pun pada teman yang lain untuk menolongnya. Kali ini, tamatlah riwayatnya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN