Bab 4. Luka Terdalam

1190 Kata
Malam datang begitu cepat. Hana masih terjaga di depan laptopnya. Cahaya layar laptop memantulkan siluet wajahnya yang penuh kegelisahan. Ia kebingungan soal perintah dari atasannya di kantor tadi. "Bagaimana ini? Jelas-jelas Sandy pasti akan menolak untuk wawancara. Tapi, pak Arman pasti akan terus memaksaku melakukan wawancara itu. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Hana yang merasa kebingungan sendiri. Hana terus berpikir serius. Sekian detik kemudian, terlintas di kepalanya untuk mencari profil tentang Sandy. Ia pun mulai mencondongkan tubuhnya ke arah depan mendekati laptop dan mulai mengetik melalui keyboard. Hana mengetik mencari informasi lebih dalam tentang AFG, Anggara Financial Group, perusahaan yang dipimpin oleh suaminya. Selama ini, perusahaan milik Sandy memang sudah mencuri perhatian publik. Banyak prestasi yang telah didapat, tapi tidak ada yang pernah berhasil melakukan wawancara dengannya. "Aku tidak ingin pernikahan ini diketahui oleh siapa pun, terutama oleh dunia luar! Apalagi dengan pekerjaanmu sebagai jurnalis, lingkungan sekitarmu dipenuhi orang-orang yang selalu haus berita. Jika pernikahan ini sampai terungkap, kamu pasti tahu konsekuensinya, bukan?" Lagi-lagi Hana teringat kalimat ancaman Sandy, untuk menyuruhnya diam. Waktu itu Sandy sudah jelas mengungkapkan kalau ia benci dengan para jurnalis yang ingin mengkorek berita tentangnya. "Lalu kenapa tiba-tiba dia mau untuk wawancara?" gumam Hana pelan berbicara sendiri. Hana kembali fokus pada layar laptop. Tidak lama, ia menemukan sebuah artikel berita lama yang memuat profil lengkap Sandy. Matanya melebar membuatnya penasaran. Ia pun mengklik artikel tersebut. Hana membacanya dengan menyusuri baris demi baris informasi yang tersaji. Ia sudah tahu Sandy adalah pria berpengaruh di dunia keuangan, tapi ada satu hal yang mengejutkannya. Di artikel tersebut menyebutkan tentang latar belakang keluarga pria itu. Ia benar-benar meletakkan seratus persen fokusnya di sana. 'Sandy Anggara, CEO muda berbakat yang dikenal tanpa kompromi dan penuh ambisi, menyimpan luka yang tidak banyak diketahui orang. Di balik kesuksesannya dalam dunia bisnis, ia berasal dari keluarga yang berantakan. Sejak kecil, Sandy hidup dalam tekanan akibat perpecahan keluarganya. Hubungan orang tuanya yang dingin dan penuh perselisihan membuatnya tumbuh tanpa pondasi keluarga yang utuh. Ia tidak pernah merasakan kehangatan rumah yang sebenarnya.' Hana terhenti sejenak. Artikel ini cukup kontroversial. Apa benar yang diberitakan seperti itu? Karena memang selama ini Sandy selalu menolak untuk diwawancara jurnalis. Tapi, Hana baru ingat kalau selama ini ia belum pernah bertemu orang tua Sandy. Bahkan saat mereka menikah, orang tua Sandy juga tidak datang. Apa mereka memang benar-benar hidup sendiri-sendiri? Hana lalu melanjutkan membaca. 'Satu-satunya sosok yang dianggap Sandy sebagai rumah adalah kakeknya, Baskara Anggara, seorang pebisnis yang memiliki pengaruh besar di bidang firma keuangan. Semasa kecil, ia memang sudah terlihat sangat dekat dengan kakeknya. Namun, sebuah insiden tiba-tiba mengubah segalanya. Kakeknya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil yang misterius. Awalnya, insiden itu dianggap sebagai kecelakaan biasa. Namun, setelah diselidiki, kecelakaan tersebut ternyata milik perusahaan logistik yang dikelola oleh Surya Nugraha. Bahkan, hal yang sangat mengejutkan adalah, Surya juga ada di dalam truk tersebut.' Hana langsung membeku setelah membaca artikel tersebut. Jadi, mungkin karena itulah Sandy menyatakan jika ayah Hana adalah tersangka? Hana menjauhkan diri dari laptopnya. Sandy sangat membenci ayahnya. Karena ia kehilangan satu-satunya orang yang ia cintai. "Tapi, aku yakin ayah tidak akan pernah berbuat hal sekejam itu. Bagaimana cara membuatnya percaya, kalau ayahku bukan orang jahat?" Hana kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, pikirannya kacau. Ia mulai memahami luka di balik tatapan tajam Sandy. Tapi, apa ini cukup untuk membenarkan semua perlakuan Sandy terhadapnya? Tiba-tiba pintu kamar Hana terbuka dari arah luar. Hana terkejut dan menoleh ke arah pintu, ada Sandy berdiri, baru membuka pintunya. Hana terperanjat kaget dan langsung menutup laptopnya. Sandy sempat melihatnya menutup laptop dengan tergesa. Membuat Sandy menautkan kedua alis curiga. Sandy melangkah perlahan mendekatinya. Hana merasa gugup dan berdiri dengan takut-takut. "Apa yang baru saja kamu lihat?" tanya Sandy dengan suara rendah dan tatapan tajam. "Bu ... bukan apa-apa," jawab Hana terbata karena setengah panik. "Kenapa ketakutan begitu? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" "Ke–kenapa kamu masuk kamarku?" tanya Hana. Sandy tidak menjawab. Namun, tatapan Sandy tajam, meneliti wajahnya yang terlihat panik. Ia melangkah mendekat, membuat Hana semakin terpojok. "Perlihatkan padaku!" pinta Sandy lagi. "Benar-benar bukan apa-apa! Aku hanya meneliti hasil artikel yang baru aku tulis," jawab Hana yang terdengar gemetar. Sandy tidak percaya begitu saja. Dengan cepat, ia meraih pergelangan tangan Hana, menariknya hingga mereka semakin dekat. Napasnya yang berat menerpa wajah Hana, menciptakan ketegangan yang hampir tak tertahankan. "Jangan bohong padaku, Hana," gumamnya rendah. "Apa yang kamu sembunyikan?" Hana mencoba menghindari tatapannya, tapi Sandy tak membiarkannya pergi. Ia semakin mendekat, menekan tubuh Hana ke dinding, membuat gadis itu kehilangan tempat untuk mundur. "Kamu masih diam?" Sandy menaikkan salah satu alisnya. Jarak Sandy semakin dekat. Hana menundukkan kepala nampak ketakutan. Membuat Sandy merasa semakin tertantang. Melihatnya, Sandy justru merasa adrenalinnya meningkat dan nafsunya semakin sulit untuk dikendalikan. Dengan nafsu yang mulai membara, Sandy segera mengungkung kedua tangan Hana sehingga Hana tidak bisa bergerak. "Kamu sudah berani bohong padaku, ya? Rasakan hukumanmu!" ancam Sandy pada Hana. "Jangan ... aku mohon jangan lakukan hari ini ...!" Hana memohon dengan suara gemetar. "Jangan berani-berani mengaturku!" bentak Sandy yang membuat Hana semakin menciut. "Aku menginginkannya sekarang!" Sandy mulai menyibak rambut Hana yang menutupi lehernya. Hana memejamkan mata dan jantungnya semakin berdebar kencang dan badannya semakin menggigil. Hana benar-benar tidak menginginkannya. Sedangkan Sandy, mengincar leher Hana dan ia akan menerjangnya. "Aku akan jujur!" pekik Hana sebelum sempat Sandy melayangkan bibirnya pada leher Hana. Sandy terhenti dan ia melihat Hana. Hana memberanikan diri membuka mata dan menatap Sandy. "Aku membaca artikel tentangmu ...," kata Hana yang akhirnya berbicara jujur. Masih dengan suara gemetar. Sandy menautkan kedua alis memperhatikan istrinya. "Kenapa membaca artikel tentangku? Apa kamu juga mau menulis berita tentangku?! Kamu mau menyebarkan kehidupan pribadiku?!" Suara Sandy kembali membentak. "Tidak!" seru Hana menyanggah cepat. Hana lalu mengangkat kepala dan menatap mata Sandy. Hana bisa melihat dengan jelas sirat mata Sandy. Mata itu dipenuhi amarah, tapi di baliknya, ada sesuatu yang lain. Luka. Kesedihan yang terpendam. Saat itu, tanpa sadar, Hana berbisik, "Maaf ...," ucap Hana kembali menundukkan pandangan. Sandy tercekat mendengarnya. Ia mengkerutkan kening tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan Hana. Ia terdiam. Rahangnya mengatup rapat, seolah sedang menahan sesuatu. "Aku … aku minta maaf atas apa yang dilakukan ayahku," lanjut Hana dengan suara bergetar. "Aku tahu kamu membencinya. Aku minta maaf, kalau perbuatan ayahku membuatmu sangat menderita," lanjut Hana lagi. Sandy menatapnya lama. Napasnya terdengar kasar, pertanda emosi yang bergolak dalam dirinya. Sesaat, Hana yakin ia akan memaksanya lagi seperti malam-malam sebelumnya. Namun, tiba-tiba genggaman Sandy mengendur. Ia menatap Hana seakan melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya terdiam. "Jangan pernah membahasnya lagi di depanku!" tegas Sandy yang sudah tidak lagi membentak. Setelah itu, Sandy melepaskan Hana dan berbalik. Dengan kasar, ia membuka pintu dan keluar, membantingnya dengan keras hingga bergema di seluruh ruangan. Hana berdiri mematung. Kelegaan hadir meski kakinya masih lemas. Ia heran melihat suaminya yang baru pergi meninggalkannya. "Dia ... tidak memaksaku lagi?" gumam Hana pelan dan bingung sendiri. Hana ingat jelas tatapan mata Sandy sebelum meninggalkannya. Ada perubahan yang tersirat dari amarah menjadi sebuah kesedihan. Saat itu, Hana berpikir jika Sandy tidak sekejam yang dia pikirkan. Ia hanyalah seseorang yang hancur dan menyimpan luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN