Bab 5. Kebencian yang Mendalam

1286 Kata
Hana termenung di meja kerjanya menghadap layar komputer yang masih menyala. Meski menatap layar, namun pikirannya sedang tidak di sana. Di dalam kepalanya sekarang, sedang terlintas kejadian tadi malam saat Sandy tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Hana masih ingat dengan jelas bagaimana tatapan Sandy padanya saat ia baru saja mengatakan maaf. Waktu itu matanya yang menyiratkan rasa benci jadi langsung berubah menjadi kesedihan. Sandy seharusnya bisa memaksanya tadi malam. Tapi, Sandy tidak melakukannya. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa Sandy adalah pria yang dingin, penuh dendam, dan tidak segan memperlakukannya dengan kasar. Tapi, tadi malam …. "Kenapa dia tidak memaksaku?" gumam Hana dalam hati. Hana menggigit bibir bawah dan memutar bola matanya. Ia tidak ingin mengakui bahwa hatinya mulai menaruh perhatian pada laki-laki itu. Tapi semakin ia berusaha menepis, semakin kuat rasa ingin tahunya. Hana yang penasaran akhirnya kembali mencari informasi tentang Sandy. Ia mengetikkan sesuatu di keyboard komputer bertuliskan Sandy Anggara. Berharap menemukan sesuatu yang belum ia ketahui. Hana mencari artikel yang ia baca terakhir kali waktu itu. Tidak membutuhkan waktu lama dan ia sudah langsung menemukan artikelnya. Hana sekali lagi membaca hal yang sama. Jika Sandy sejak kecil mengalami tekanan karena perpecahan keluarganya. "Tidak ada informasi selain ini?" gumam Hana pelan berbicara sendiri. "Maksudmu pak Sandy?" Hana terjingkat begitu mendengar suara Tia dari arah belakangnya. Ia menoleh ke arah belakang dan sudah melihat Tia tepat berdiri setengah membungkuk melihat komputernya. "Tia?! Mengagetkanku saja!" kata Hana sembari memegangi dadanya. "Kamu mencari informasi pak Sandy?" tanya Tia. "Y ... ya, begitulah," jawab Hana kikuk. "Ini bukankah berita dulu? Lihat! Waktu di beritanya sudah menunjukkan dua tahun yang lalu." "Memang iya. Tapi hanya ini artikel yang bisa aku temukan. Aku tidak menemukan artikel lain." "Tentu saja! Pak Sandy orang yang paling anti dengan jurnalis. Dia tidak mau diwawancarai oleh jurnalis meski itu hanya sekedar bercerita tentang pengalaman bisnisnya. Alasan yang aku tahu, sekali setelah pak Sandy diwawancarai waktu itu, si jurnalis justru menulis tentang kehidupan pribadi pak Sandy yang membuat pak Sandy tidak setuju. Setelah wawancara itu, tidak ada lagi yang berhasil mewawancarai pak Sandy." "Lalu, kenapa tiba-tiba pak Sandy mau diwawancarai sekarang?" "Nah! Itu tanda tanya yang besar juga untuk pak Arman. Jujur saja, pak Arman sendiri juga kaget karena pihak pak Sandy menerima tawaran wawancaranya," ujar Tia. Hana pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, Han! Bagaimana? Apa kamu sudah menyiapkan pertanyaan untuk pak Sandy?" tanya Tia lagi. Hana kembali diam dan tidak segera menjawab. Ia kembali berpikir. Kalau menurutnya, sikap Sandy tadi malam pun juga tidak mencerminkan jika ia juga akan mau diwawancarai. Bahkan, sepertinya Sandy tidak tahu mengenai wawancara itu. "Hana!" panggil Tia yang membuyarkan lamunan Hana. Membuatnya tersentak dan melihat ke arah Tia. "Kenapa kamu malah melamun?! Apa kamu sudah membuat daftar pertanyaannya?" Tia mengulangi kalimat sebelumnya. "Tia, sebenarnya aku tidak yakin kalau pak Sandy mau diajak interview. Bukankah dari dulu dia anti bertemu jurnalis seperti kita?" "Memang aneh. Tapi, nyatanya pak Arman sudah berhasil mendapat jadwalnya. Jadi, bukankah itu merupakan sebuah keberuntungan untuk perusahaan ini?!" ujar Tia lagi. "Tapi—" "Hana!" Suara pak Arman yang tiba-tiba datang membuat Hana tidak jadi menjawab Tia. "Jadwal untuk wawancara pak Sandy sudah ditentukan Minggu depan! Mulai sekarang mulailah untuk menyusun kerangka pertanyaannya!" pintanya. Hana pun hanya terdiam menautkan kedua alis tidak segera menjawab. "Hana?! Kamu mendengarku, kan?!" tanya pak Arman lagi. "Benarkan pak Sandy benar-benar mau untuk diwawancarai, Pak? Maksud saya apa benar-benar pak Sandy sendiri yang menyetujuinya?" "Sebenarnya asisten pak Sandy yang sudah mengijinkan wawancara itu." "Jadi, bukan pak Sandy sendiri yang menyetujuinya?" "Apa yang kamu bicarakan? Asisten pak Sandy bukankah sama saja dengan pak Sandy? Sudahlah, Hana! Ini kesempatan emas! Jangan sampai gagal, ya! Ini berhubungan dengan citra baik perusahaan ini!" ujar pak Arman yang kemudian langsung berjalan pergi. "Tapi, Pak—" Sayangnya, sebelum sempat Hana menolak, pak Arman sudah pergi menjauh. Hana pun hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat lebih jauh dengan suaminya sendiri. Tapi, keadaan yang memaksanya. *** Sandy bersandar di kursi kerjanya, kepalanya sedikit menengadah, sementara matanya terpejam. Di dalam pikirannya, bayangan masa lalu kembali menyeruak. Sosok lelaki tua dengan senyum hangat itu seolah masih berdiri di hadapannya. Mengajarinya bermain sepeda saat ia masih berusia enam tahun. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. "Kau harus tumbuh menjadi pria yang kuat, Sandy. Tapi jangan pernah kehilangan hatimu." Suara berat kakeknya terdengar jelas dalam memorinya. Begitu mendengar suara sang kakek, ada kehangatan di dan kebahagiaan yang tak tergantikan. Namun, kenangan itu mendadak berganti menjadi kegelapan. Sosok yang sama kini terbaring di brankar rumah sakit. Tertutup kain putih yang terdapat bercak darah. Masih terasa sangat jelas, tubuh Sandy bergetar saat melihat cairan merah kental menyelimuti wajah kakeknya. Memori hangat yang penuh kasih itu, mendadak berubah jadi biru. Sangat dingin dan senyap. Perasaan cinta hilang sudah. Yang tersisa hanya rasa amarah yang begitu besar. Sandy merasa tidak adil. Perlahan ia membuka kedua matanya. Begitu baru membuka mata, ia melihat Hana sedang berdiri di hadapannya, sedang memperhatikannya. Sandy menegakkan tubuh dari sandaran kursi kerja dan memperhatikan Hana dengan menautkan kedua alis heran. "Maaf, apa aku mengganggu?" tanya Hana dengan suara ragu-ragu. Sandy melihat Hana sedang membawa nampan berisi makanan. "Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Sandy dingin. "Aku ... ingin mengantarkan makanan untukmu," jawab Hana ragu-ragu. Sandy tidak segera menjawab. Ada raut curiga saat melihat nampan yang dibawa Hana itu. Sedangkan Hana, hanya berdiri dengan sikap salah tingkah. Sandy lalu tersenyum miring nampak meremehkan. "Jangan pernah berpikir aku akan menyentuh makanan yang dibuat oleh anak seorang pembunuh sepertimu!" ujar Sandy. Hana pun mengepalkan tangan mendengarnya. Ia mencoba untuk bersabar. "Aku akan meninggalkannya di sini," kata Hana yang meletakkan nampak itu di meja kerja Sandy. Sandy masih memperhatikannya. "Apa maumu?! Aku tidak akan mengijinkan kalau kamu ingin menemui laki-laki itu!" ujar Sandy yang langsung menebaknya. Mendengarnya, Hana merasa sedikit kecewa. Sandy masih tidak memberikannya ijin untuk menemui ayahnya. Namun, memang bukan itu maksud menemui Sandy. "Aku ingin bertanya, apa kamu bersedia diwawancarai oleh jurnalis?" tanya Hana yang memberanikan diri. Mendengarnya Sandy pun langsung mendengkus remeh. "Jadi kamu akhirnya ingin mengambil untung atas pernikahan ini, ya?" "Tidak! Bukan begitu! Aku hanya menerima perintah!" "Kamu ingin mewawancaraiku? Sebagai siapa? Jurnalis atau anak dari pria yang membunuh kakekku?” tanya Sandy masih dengan nada meremehkan. Hana menggertakkan giginya masih bisa menahan rasa amarahnya. "Aku bukan ayahku! Seharusnya kamu tahu kalau aku tidak bersalah!" "Tidak bersalah? Kamu membawa darah pria pembunuh itu dalam tubuhmu!" "Berhentilah menyebut ayahku pembunuh!" seru Hana yang juga terbawa emosi ingin melindungi ayahnya. Sandy pun juga ikut tersulut emosi lebih kencang. "Diamlah!" Sandy tiba-tiba berdiri sambil menggebrak meja dengan suara kencang. Membuat Hana tersentak dan seketika diam. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah membela laki-laki itu di depanku!" bentak Sandy yang langsung menumpahkan nampan berisi makanan, sehingga semuanya jatuh ke lantai. Hana lebih terkejut tidak menyangka kalau Sandy akan semarah itu. Ia menutup mulut, shock dengan perlakuan Sandy terhadapnya. Sandy masih berdiri dan nampak mengatur nafasnya yang terdengar tidak beraturan. "Dengar!" ucap Sandy yang terdengar menahan amarah. "Jangan pernah mencoba mengambil hati atau simpati dariku. Aku menikahimu bukan untuk itu. Dan, makanan ini sama menjijikkannya dengan ayahmu," kata Sandy sembari memperhatikan makanan yang jatuh di lantai. Setelah itu Sandy berjalan keluar ruangan kerjanya dan membanting pintu dengan suara amat kencang. Meninggalkan Hana yang berdiri sendirian di sana. Hana lalu melihat makanan buatannya yang sudah jatuh ke lantai. Mendadak, hatinya terasa begitu sakit dan pedih. Bukan karena makanan yang dibuang Sandy, tapi karena kenyataan bahwa hingga saat ini, Sandy masih menyimpan kebencian mendalam terhadap ayahnya. Hana terjatuh, mengambrukkan dirinya di lantai, tepat di samping makanan yang kini berserakan. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Dengan suara lirih dan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, ia bergumam, "Apa yang harus aku lakukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN