Bab 6. Dipandang Rendah

1202 Kata
"Permisi, Pak?" Hana muncul dari balik pintu masuk ruangan kerja pak Arman. Pak Arman yang saat itu sedang fokus di depan layar laptop pun jadi melihat ke arah pintu dan beliau mengangkat kedua alis. “Masuklah!" pinta pak Arman mengalihkan fokus. Hana membuka pintu sepenuhnya dan melangkah masuk dengan hati-hati. Pak Arman duduk di balik meja kerja, matanya langsung tertuju ke arah Hana dengan ekspresi serius. "Maaf, Pak. Anda mencariku?" “Duduklah dulu, Hana." Hana mengangguk dan duduk berhadapan. Pak Arman bersandar ke kursinya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja. Hana bisa menebak, kira-kira apa yang akan dibicarakan pak Arman padanya. "Hana, ini sudah lebih dari tiga hari sejak aku memberikan perintah. Kenapa sampai sekarang kamu masih belum menyetorkan kerangka pertanyaan untuk Sandy Anggara? Aku lihat kamu juga masih belum melakukan janji dengan pihak AF Group," kata pak Arman tanpa basa-basi. Hana menggigit bibirnya ragu-ragu. “Maaf, Pak. Saya pikir saya tidak bisa melakukan wawancara dengan Pak Sandy," jawab Hana sembari menundukkan pandangan. Membuat pak Arman mengkerutkan kening mendengarnya. “Apa? Kenapa?" “Saya rasa Erik atau Tia yang lebih pantas melakukan wawancara itu,” jawab Hana dengan suara pelan. Pak Arman mendesah berat. “Hana, kamu tahu itu tidak mungkin. Aku sudah bilang padamu jadwal mereka sudah padat. Hanya kamu yang jadwalnya masih kosong setelah cuti menikah. Wawancara ini sudah diatur dan pihak AF Group sudah menyetujuinya. Sekarang, kamu malah ingin mundur?” "Saya hanya merasa bahwa orang lain bisa melakukannya dengan lebih baik,” kata Hana, mencoba mempertahankan pendapatnya. “Lagipula, Pak Sandy tidak pernah terbuka kepada media. Saya rasa dia juga tidak akan nyaman diwawancarai.” Pak Arman menatapnya serius, lalu menyilangkan tangannya di d**a. “Justru karena kamu adalah jurnalis terbaik yang kita miliki saat ini, Hana. Ini bukan soal siapa yang lebih pantas. Ini soal profesionalisme. Jika kamu mundur hanya karena alasan pribadi, itu akan menjadi catatan buruk untuk kariermu.” Hana terdiam. Ia ingin membantah, tapi tahu bahwa Pak Arman punya poin yang kuat. Hana pun jadi semakin bingung dan hanya bisa menundukkan kepala. Pak Arman kembali menegakkan punggung dan memperhatikan Hana sembari mengamatinya. "Sekarang, katakan dengan jujur! Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?" tanya pak Arman curiga. Membuat Hana mengangkat kepala dan melihatnya. "Apa maksud pak Arman?" "Baru kali ini aku melihatmu tidak yakin saat akan mewawancarai orang. Biasanya kamu sangat cepat dan tangkas selesai diberi tugas. Ada apa sebenarnya?" tanya pak Arman. Hana meremas kedua tangannya sendiri. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Sandy adalah suami kejamnya, bukan?! Jangankan wawancara, menatapnya saja sudah sangat melelahkan. "Saya hanya tidak yakin apakah saya bisa menghadapi pak Sandy dengan baik? Beliau punya reputasi yang cukup keras dalam berbicara, dan saya khawatir justru akan merusak kesepakatan ini," jawab Hana masih dengan menundukkan pandangan dan terdengar ragu. Pak Arman nampak kembali menghela nafas. “Hana, perusahaan ini sudah mendapatkan kesempatan besar. Ini wawancara pertama untuk Sandy setelah bertahun-tahun menolak jurnalis. Jika kita gagal, citra perusahaan akan dipertanyakan. Apa kamu ingin bertanggung jawab untuk itu?” Hana masih menundukkan kepala. Ia bisa semakin bingung akan menjawab apa lagi? Karena semua alasan sebenarnya hanya ada pada dirinya sendiri. "Aku tidak peduli bagaimana hasilnya. Yang penting sekarang lakukan tugasmu dengan baik dan hadapi secara profesional!" pinta pak Arman lagi. Hana menggigit bibirnya semakin dalam. Ia menghela napas panjang dan tahu tidak ada jalan keluar dari ini. Hanya bisa menuruti atasannya. “Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Hana yang tidak ada pilihan lain. Pak Arman nampak lega dan mengangguk pelan. “Bagus! Kalau begitu, aku ingin draf pertanyaan ada di mejaku besok pagi. Mengerti?” "Iya, Pak." Hana mengangguk lemah. “Sekarang, saya akan kembali bekerja!" Hana berdiri dan keluar dari ruangan dengan perasaan berat. Mau bagaimana lagi? Ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain menghadapi Sandy. *** Pagi itu Sandy sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia yang sudah memakai setelan jas rapi, keluar kamar. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Hana sedang berdiri di depan pintu, seolah sedang menunggunya keluar. Sandy menatapnya heran. "Apa kamu sudah akan berangkat kerja?" Hana memberanikan diri untuk bertanya. Sandy masih memberikan tatapan curiga. "Apa maumu?!" "Aku sudah membuatkanmu sarapan," jawab Hana sembari menunjuk ke arah meja makan. Sandy menoleh ke arah meja makan dan memang sudah tersedia hidangan di sana. Membuatnya semakin heran. "Aku sudah bilang! Aku tidak mau makan makanan buatanmu!" jawab Sandy dengan nada garang. Setelah itu ia membalikkan badan dan berjalan menjauh. Hana pun mengkerutkan kening dan berusaha menyusul suaminya. “Aku ingin membicarakan sesuatu!" seru Hana. Sandy pun terhenti berjalan. Ia membalikkan badan dan kembali menghadap Hana. Karena Sandy sudah melihatnya, Hana menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk bicara. "Kantorku menjadwalkan wawancara dengan CEO AF Group," kata Hana. Mendengarnya, Sandy pun menautkan kedua alis heran tapi masih belum memberikan tanggapan. "Dan ... kebetulan akulah jurnalis yang ditugaskan untuk mewawancaraimu," lanjut Hana dengan penuh keraguan masih setengah menunduk. "Jadi—" "Aku kamu lupa?" potong Sandy yang membuat Hana mengangkat kepala melihat Sandy. "Bukankah aku sudah bilang aku tidak akan pernah menerima siapa pun jurnalis untuk masuk?!" ujar Sandy. Mendengarnya, Hana pun jadi merasa janggal dan bingung sendiri. “Tapi, kata atasanku, pihak perusahaanmu sudah setuju. Bukankah kamu sendiri yang menyetujuinya?” "Apa kalimatku kurang jelas?! Aku sama sekali tidak akan pernah memberikan ruang pada para jurnalis yang hanya bisa mencari uang dengan memberitakan kehidupan pribadi seseorang!" Sandy terhenti, kemudian ia menoleh ke arah Hana dengan pandangan meremehkan. "Apalagi jurnalis sepertimu," kata Sandy dengan nada yang merendahkan. Hana pun menautkan kedua alis mendengarnya. "Apa maksudmu sepertiku? Memangnya apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Hana kesal. Sandy pun kembali melihat ke arah Hana sembari memiringkan senyum menyepelekan. Ia kemudian perlahan berjalan mendekat ke arah Hana. Hana pun jadi langsung gugup dan ia mundur perlahan. Hingga Sandy sudah benar-benar tepat berdiri di depannya. Mereka berhadapan dengan jarak sangat dekat. Hana menundukkan pandangan setengah takut dengan tatapan suaminya. Sandy mengambil rambut Hana dan menyusurinya dengan membawa ke arah depan. Sentuhannya begitu ringan, tapi Hana tahu betul, ini bukan sikap yang penuh kelembutan. Ini cara Sandy bermain dengan pikirannya. "Selain cantik, kamu pikir kamu bisa melakukan apa?" ujar Sandy sembari menaikkan salah satu alis dan masih dengan nada yang sama. Hana membelalakkan mata, menatapnya dengan ekspresi tersinggung. Sandy tertawa kecil, menikmati reaksi istrinya. Lalu, dengan gerakan cepat, ia mencengkeram dagu Hana, membuat wajah mereka semakin dekat. Sandy lalu menaikkan dagu Hana sehingga wajah Hana mendekat dengannya. Ia mengukir senyum jahat dan menyusuri kedua bola mata Hana yang menatapnya tajam. "Mau mewawancaraiku? Jangan mimpi! Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu! Terlebih jika kamu orangnya!" ujar Sandy yang kemudian mengusap bibir Hana dan ujung ke ujung dengan gerakan yang nyaris sensual. Tapi di balik sentuhan itu, Hana tahu, ada penghinaan yang lebih dalam. Setelah itu Sandy melepaskan pegangannya dari Hana. Kemudian, ia berbalik dan berjalan meninggalkan Hana begitu saja. Melihat perlakuan Sandy terhadapnya, Hana berdiri diam, dadanya naik turun menahan amarah yang mulai membuncah. Hatinya terasa seperti diremas. Tidak hanya karena penolakan Sandy, tapi juga karena bagaimana pria itu memandangnya. Seolah Hana tidak lebih dari sekadar pemuas hasratnya. Jari-jari Hana mengepal kuat. “Dasar b******k,” gumamnya lirih. “Lihat saja nanti. Aku tidak akan menyerah semudah itu. Aku pastikan kamu akhirnya akan menyetujuinya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN