Pagi itu, gedung AF Group terasa sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu lalang, menyapa satu sama lain. Namun, suasana itu sama sekali tidak menarik perhatian Sandy. Begitu keluar dari lift menuju ruangannya, ekspresi wajahnya tetap dingin dan tak terbaca.
Ia melangkah masuk ke dalam kantor eksekutifnya, melepaskan jas yang dikenakannya, lalu duduk di kursi, dan segera menyalakan komputernya. Selagi menunggu layar komputer menyala, tiba-tiba pikiran Sandy melayang pada satu kalimat yang diucapkan Hana tadi pagi sebelum ia berangkat.
"Bukankah kamu sendiri yang menyetujui wawancaranya?"
Dahi Sandy berkerut. Ia tahu betul bahwa dirinya tidak pernah memberikan persetujuan semacam itu. AF Group memang sering menolak wawancara, terlebih yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya. Jadi bagaimana mungkin permintaan itu bisa disetujui tanpa sepengetahuannya?
Tidak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk. Membuyarkan lamunan Sandy sejenak. Pintu terbuka dari arah luar dan terlihat Davin, asisten Sandy yang masuk sambil membawa tablet.
"Pagi, Pak," sapa Davin sopan.
"Hm! Apa ada perubahan dalam jadwal?" tanya Sandy langsung tanpa basa-basi. Davin membuka dan melihat tablet di tangannya.
"Jadwal rapat dengan tim investasi tetap pukul sepuluh. Setelah makan siang, Anda memiliki pertemuan dengan dewan direksi."
"Hanya itu? Baiklah! Kau boleh pergi!" pinta Sandy. Davin menurunkan tabletnya dan melihat Sandy.
"Eee ... sebenarnya saya ingin bilang kalau beberapa hari kemarin, saya menerima tawaran wawancara oleh salah satu media bernama Nexus Press, Pak. Jadwalnya sekitar satu Minggu lagi," kata Davin. Mata Sandy yang awalnya fokus pada layar komputer tiba-tiba berpaling menatap Davin tajam.
"Apa?!" tanya Sandy masih memberikan tatapan yang sama. Davin mengerjap gugup.
"Wawancara, Pak. Tim dari Nexus Press akan datang untuk—"
"Jadi, kau yang sudah menyetujui wawancara itu?!" potong Sandy yang membuat Davin terhenti seketika.
"I ... iya, Pak," jawab Davin ragu-ragu.
"Kenapa kau menyetujuinya tanpa memberitahuku dulu?!"
"Ma ... maafkan saya, Pak. Saya pikir saya menyetujuinya karena akhir-akhir ini jadwal Anda sudah sangat senggang, Pak. Saya pikir tidak akan ada masalah karena pertanyaan-pertanyaan media itu hanya tentang perusahaan." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan ragu, "Lagipula, wawancara ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang kehidupan pernikahan Anda."
Mata Sandy langsung memberikan sorot dingin ke arah Davin. Davin langsung merasa ada yang salah. Ia gugup dan menelan ludah.
"Batalkan!" pinta Sandy tegas. Davin pun mengerjap bingung.
"Batal, Pak? Tapi saya sudah terlanjur mengkonfirmasi, Pak. Mungkin dalam waktu satu Minggu ke depan, wawancara Anda bisa dijadwalkan," jelas Davin lagi.
"Sejak kapan aku mengizinkan siapa pun menerima jurnalis masuk?!"
"Maafkan saya, Pak." Davin menundukkan pandangan.
"Aku tidak ingin lagi ada pembicaraan soal wawancara media! Batalkan sekarang juga!" pinta Sandy dengan nada lebih tegas dari sebelumnya.
"Baik, Pak. Saya akan segera mengurus pembatalannya."
Davin sekali lagi menganggukkan kepala sopan. Setelah itu ia berbalik dan berjalan keluar. Sandy terdiam dan berpikir sejenak mengingat istrinya.
"Jadi ini yang gadis itu bicarakan?" gumamnya pelan. "Kalau begitu, siap-siaplah bermain denganku istriku, aku pastikan tidak akan pernah bisa membuatmu berhasil!" lanjutnya dengan sorot mata dinginnya.
***
Sedangkan Davin yang sudah berada di luar ruangan Sandy itu, terhenti dan berpikir. Rasanya baru kali ini ia melihat tatapan Sandy yang sangat garang seperti itu.
Davin pun mengambil ponsel dari dalam saku. Kemarin, ia sempat mendapat nomor kontak orang yang akan melakukan wawancara dengan Sandy dari pak Arman. Sandy pun mengetikkan pesan dan berniat membatalkannya.
Sedangkan di tempat Hana, ia sedang fokus untuk menyiapkan draft pertanyaan yang akan diajukan untuk Sandy. Hana harus menyusunnya dengan baik dan jangan pernah ada pertanyaan soal pernikahannya dengan Sandy.
Tiba-tiba ponsel Hana memberikan notifikasi pesan masuk. Hana meraih ponsel dan melihat layar ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Membuatnya menautkan kedua alis heran. Hana pun membacanya.
[Selamat pagi, saya adalah asisten pak Sandy Anggara, dari AF Group. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya terpaksa membatalkan rencana wawancaranya. Karena pak Sandy menolak untuk wawancara. Mohon maaf atas Miss komunikasi yang terjadi]
Hana membacanya dengan ekspresi datar, tetapi dalam hatinya, ia menghela napas panjang. Sejujurnya, ia sudah menduga sesuatu seperti ini bisa terjadi. Hana pun mulai mengetik dan membalasnya.
[Selamat pagi. Terima kasih atas informasinya. Saya akan menyampaikan kabar ini pada atasan saya, pak Arman]
Setelah selesai mengirimnya, Hana berdiri dari tempat kerjanya. Ia berjalan menuju ke arah ruangan pak Arman. Ketika sampai, ia mengetuk pintu lalu masuk setelah mendengar izin dari dalam.
"Ada apa, Hana?" tanya Pak Arman, yang sedang sibuk menatap layar komputer di mejanya.
"Maaf, Pak. Saya menunjukkan pesan saya dengan pihak AF Group." Hana menyerahkan ponselnya, menunjukkan layarnya dan pak Arman membacanya. "Wawancara dengan Sandy Anggara dibatalkan, Pak. Saya baru saja menerima pesan dari asistennya," jelas Hana sembari pak Arman membaca.
Pak Arman membaca dan wajahnya berubah pias. Ia nampak mengernyit dan memberi ekspresi wajah panik. Hana memperhatikan atasannya dan membuatnya penasaran.
"Tidak bisa batal, Hana!" ujar pak Arman yang wajahnya menandakan kegelisahan. Hana pun heran mendengarnya.
"Kenapa tidak bisa, Pak?"
"Aku sudah tanda tangan kontrak dengan pihak penerbit majalah bisnis ternama dan kontraknya eksklusif. Bahkan, majalah itu sudah menjadwalkan edisi khusus yang membahas tokoh-tokoh berpengaruh di dunia bisnis. Kata mereka Sandy adalah salah satu pengaruh yang cukup besar, makannya mereka langsung menyiapkan kontraknya."
"Apa?!" Hana pun ikut panik. Pak Arman lalu menoleh ke arah Hana. "Kalau kontraknya dibatalkan apa jadinya, Pak?"
"Kalau sampai batal, maka Nexus Press akan membayar penalti dalam jumlah besar. Selain itu, akan merusak reputasi perusahaan ini. Bukan hanya itu. Mereka bisa saja memutuskan kerja sama dengan proyek sebelumnya," jelas pak Arman. Hana bahkan tidak tahu kalau dampaknya akan begitu besar.
"Hana, aku tanda tangan kontrak lebih dulu memang salahku. Tapi, kita masih ada waktu. Masih satu Minggu ke depan supaya kamu bisa mewawancarai pak Sandy."
"Apa maksudnya, Pak?"
"Aku minta tolong, meski pak Sandy menolak, usahakanlah secara pribadi. Bujuklah pak Sandy supaya dia mau," ujar pak Arman menatap Hana penuh harap. Hana terdiam dan ia tenggelam dalam kebimbangan.
"Tapi, saya—"
"Tolonglah aku, Hana," potong pak Arman. "Tolong tetap usahakan wawancara ini. Aku percaya dengan kemampuanmu, kamu pasti berhasil mewawancarai pak Sandy."
Hana mengatupkan bibir, lalu menghela napas. Ia tahu menolak perintah ini bukan pilihan. Ia juga sangat ingin menolong pak Arman. Namun, orang yang harus ia wawancarai adalah suaminya sendiri, yang bahkan di rumah pun nyaris tak pernah bersikap baik padanya. Lantas, apa yang harus ia lakukan?!