Bab 8. Tak Terasa Sepi Lagi

1003 Kata
Hana terbangun dan menyadari dirinya sedang tertidur di depan laptop yang masih menyala di dalam kamarnya. Ia menegakkan punggung sembari meregangkan otot-ototnya. Dari jendela terdengar suara angin dingin bertiup lembut. Hana melihat ke layar laptop. Dilihatnya pukul sepuluh malam. "Ya ampun, aku ketiduran!" serunya berbicara sendiri. Hana kembali membaca artikelnya yang belum selesai. Tentu saja ia masih mencoba menulis artikel tentang Sandy. Teringat jika pak Arman belum melepaskan tugas untuknya. Namun, Hana mendesah kasar. Bagaimana ia akan menulis kalau ia sama sekali tidak memilik informasi apa pun?! Hana pun menyerah dan mematikan laptop. Hana merasa tenggorokannya kering. Ia pun berdiri dan berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum. Saat ia menuju ke dapur, ia melihat kamar Sandy yang nampak masih gelap. Hana juga melihat ruang kerja Sandy juga sama gelapnya. Hana menautkan kedua alis heran. Karena penasaran, ia berjalan mendekat untuk memeriksa. Ternyata memang Sandy tidak ada. Seisi rumah juga nampak sepi. Tumben sekali? Padahal sudah pukul sepuluh malam. Biasanya menjelang jam enam sore, Sandy sudah ada di rumah. Sepertinya Sandy memang belum pulang malam ini. Tiba-tiba Hana teringat akan perintah pak Arman padanya. Saat itu terpikir bagi Hana untuk masuk ke dalam kamar Sandy dan ingin melihat informasi apa pun yang bisa ia dapat. "Tidak masalah kalau hanya melihat prestasinya, bukan?" gumam Hana pelan berbicara sendiri. Akhirnya dengan memberanikan diri, Hana berjalan mendekati kamar Sandy. Begitu sudah berada di dalam, Hana menyalakan kamar Sandy yang gelap. Ia melihat meja besar di sudut ruangan tampak tertata rapi, tetapi ada satu laci yang sedikit terbuka. Hana berjalan mendekati laci tersebut. Pandangan Hana tertuju pada beberapa bingkai foto yang tersandar di dalamnya. Ada rasa penasaran yang mendorongnya untuk mendekat. Dengan hati-hati, ia menarik salah satu foto dari dalam laci. Di sana, terlihat seorang anak laki-laki kecil dengan wajah ceria, berdiri di samping seorang pria tua yang tersenyum hangat. Tatapan mata pria tua itu penuh kasih sayang, sedangkan bocah kecil itu, yang tak lain adalah Sandy, terlihat begitu bahagia. Hana menatap foto itu lekat-lekat. Baru pertama kalinya ia melihat ekspresi Sandy yang begitu tulus dan penuh kebahagiaan. Tidak ada kesan dingin atau penuh dendam seperti sekarang. Tangan Hana bergerak lagi, menarik beberapa foto lainnya. Ada foto Sandy kecil duduk di pangkuan sang kakek, mendengarkan cerita dari sebuah buku. Ada juga foto Sandy yang lebih besar, mungkin remaja, mengenakan seragam sekolah dengan sang kakek menepuk bahunya dengan bangga. Hana merasakan sesuatu menghimpit dadanya. Jadi, seperti ini hubungan mereka? Kakeknya benar-benar mencintai Sandy. Hana kembali meletakkan foto-foto itu di tempatnya dengan hati-hati, tetapi matanya tertumbuk pada sesuatu yang lain. Sebuah buku harian tua dengan sampul kulit yang sudah sedikit lusuh. Ia ragu sejenak, tetapi akhirnya membuka lembar pertama. Tulisan tangan yang rapi namun sedikit bergetar memenuhi halaman. "Untuk cucuku tercinta, Sandy. Tidak peduli apa pun yang terjadi di dunia ini, kau adalah kebanggaan terbesar dalam hidup Kakek." Hana membaca buku tersebut, dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa dadanya sesak. Hana baru menyadari betapa dalamnya rasa kehilangan Sandy terhadap kakeknya. Betapa ia tidak hanya kehilangan sosok yang menyayanginya, tetapi juga satu-satunya keluarga yang benar-benar peduli padanya. Tanpa sadar, Hana mengepalkan tangannya di d**a. Ia melihat Sandy dari sisi yang berbeda. Sandy bukan hanya pria dingin yang penuh dendam, tetapi seseorang yang pernah merasakan kehilangan mendalam. Saat itu juga, ia menyadari sesuatu. Di balik sosoknya yang kasar dan penuh kontrol, ada luka yang amat menyedihkan. Malam semakin larut, tetapi Hana masih duduk diam, menatap album foto itu. Untuk pertama kalinya, ia merasakan simpati yang dalam kepada laki-laki yang selama ini hanya ia anggap sebagai musuh. *** Sandy baru saja tiba di rumah setelah seharian bekerja tanpa henti. Waktu di jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia menghela napas panjang sebelum membuka pintu. Rasa lelah menjalar ke seluruh tubuhnya. Begitu ia baru memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti. Waktu itu, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang tertidur di sofa ruang tamu. Siapa lagi kalau bukan Hana, istrinya. Gadis itu meringkuk dalam posisi duduk, dengan kepala bersandar pada lengan sofa. Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang meskipun ada sedikit kerutan di dahinya, seolah ia masih membawa kekhawatiran bahkan dalam tidurnya. Di atas meja, ada segelas air yang sudah hampir kosong, mungkin miliknya. Sandy berdiri diam, hanya memperhatikan. Sejenak ia berpikir, untuk apa Hana masih terjaga di jam selarut ini? Sandy berjalan mendekatinya. Tiba-tiba Hana melakukan sedikit pergerakan. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Sejenak, ia tampak linglung sebelum akhirnya melihat Sandy yang berdiri di sampingnya. Hana pun langsung terbangun dan duduk. "Kamu sudah pulang?" tanya Hana terdengar serak karena baru bangun. "Kenapa kamu tidur di sini?" Sandy justru balik bertanya dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku ... menunggumu pulang," jawab Hana. Sandy tercekat mendengarnya. Untuk sesaat, ia tidak tahu bagaimana harus merespon jawaban itu. Sebuah perasaan aneh tiba-tiba muncul di dadanya. Sesuatu yang membuatnya nyaris kehilangan kata-kata. "Kenapa malam ini kamu pulang sangat malam sekali? Apa kamu lembur?" tanya Hana lagi. Sandy semakin terdiam. Tidak menyangka akan pertanyaan kedua yang semakin membuatnya membeku. Ia lalu berdehem pelan, mengalihkan pandangan ke arah lain, seolah tidak ingin terlalu lama memikirkan ucapan istrinya barusan. "Kenapa?! Apa kamu ingin mewawancaraiku?! Aku sudah bilang aku tidak mau melakukan wawancara!" Sayangnya Sandy masih tidak memberikan kesempatan untuk hatinya. Setelah berbicara seperti itu, Sandy langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Hana di ruang tamu. Ia menuju kamarnya dan menutup pintu kamar. Namun, begitu sudah memasuki kamar, Sandy tidak langsung beranjak ke ranjang tidurnya. Ia masih berdiam berdiri di balik pintu yang tertutup tersebut. Mengingat wajah Hana yang polos sembari tatapannya yang lugu ke arahnya tadi. Dada Sandy terasa sedikit bergetar oleh kesadaran itu. Ia tidak menyangka bahwa ada seseorang yang benar-benar menantinya pulang. Selama ini, rumah hanyalah tempatnya kembali setelah seharian bekerja, tanpa ada yang peduli apakah ia pulang cepat atau tidak. Namun malam ini, ada sosok yang diam-diam menantinya. Wajah istrinya yang biasanya penuh perlawanan kini terlihat begitu polos dan damai dalam tidurnya. Sandy menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti dengan perempuan itu. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa pulang ke rumah tidak terasa begitu sepi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN