Bab 9. Perasaan Aneh

1105 Kata
Sandy keluar dari kamarnya setelah bangun tidur. Matanya masih sedikit berat karena pulang dini hari tadi malam. Saat ia berjalan menuju ruang makan, langkahnya terhenti sejenak. Dari tempat Sandy berdiri, ia melihat sesuatu yang tidak biasa di dapur. Hana sedang sibuk di sana. Ia berdiri di depan kompor, memegang sendok kayu sambil mengaduk sesuatu di dalam panci. Aroma kopi yang hangat tercium di udara, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak. Sandy tidak mengatakan apa pun, hanya berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikannya dalam diam. Ia tidak terbiasa melihat seseorang berada di dapurnya seperti ini. Pagi ini berbeda. "Ah!" Tiba-tiba Sandy melihat Hana tersentak bersamaan dengan suara mendesis dari panci di atas kompor. Ia juga melihat ada uap panas tiba-tiba mengepul dari panci yang diaduk Hana. Refleks, Hana mundur sedikit, tetapi tangannya hampir menyentuh permukaan panci yang panas. Sebelum Hana sempat bereaksi lebih jauh, sebuah tangan dengan cepat menarik pergelangan tangannya, menjauhkan kulit Hana dari bahaya. Hana mendongak terkejut. Sandy berdiri di dekatnya. Menggenggam pergelangan tangan Hana dengan kuat. Hana terpaku, merasakan kehangatan di kulitnya dari sentuhan Sandy. Mereka saling tatap dalam waktu sekian detik. Dengan jarak sedekat itu, mendadak gemuruh debaran jantung mulai terasa berdetak lebih keras. Keduanya hanya sama-sama diam. Sampai akhirnya Hana merasa kalau harus mengatakan sesuatu. "Kamu sudah bangun?" tanya Hana yang terdengar ragu. Mendengar suara Hana, Sandy pun juga jadi mengalihkan pandangannya. Ia melepaskan genggamannya seolah baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Dasar ceroboh!" ujar Sandy dengan ekspresi dingin dan datar. Hana memegangi pergelangan tangannya yang baru digenggam Sandy sembari menunduk. Sandy sudah sering menggenggam pergelangan tangannya. Terlebih ketika Sandy memaksanya. Namun, entah kenapa pagi ini terasa berbeda? Terasa ada sedikit kehangatan di sana. Hana lalu segera mematikan kompornya. Setelah itu ia melihat ke arah Sandy yang masih berdiri di sampingnya. "Apa kamu akan bekerja pagi ini? Aku sudah membuatkan kopi untukmu," kata Hana menunjuk ke arah kopi yang sudah tersedia di meja area dapur. Sandy melihat kopi yang ditunjuk Hana. Ia lalu kembali melihat ke arah Hana yang menatapnya dengan mata polosnya. Ada sesuatu yang aneh saat Sandy melihat gadis itu. Sandy tiba-tiba tersadar dan ia segera mengalihkan pandangan dari Hana. Ia tidak menanggapi kalimat Hana, dan justru berjalan ke arah lemari es. Hana menatapnya dengan bingung. Sandy membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya hingga setengah botol. Baru setelah itu, ia menoleh ke arah Hana. "Aku tidak suka kopi di pagi hari!" ujarnya tanpa ekspresi. Setelah itu Sandy segera berjalan menjauh meninggalkan Hana sendirian di dapur. Hana menatap punggung Sandy hingga ia masuk ke dalam kamar mandi. Sejujurnya, Hana merasa kecewa. Tapi, ia jadi berpikir, paling tidak Sandy sudah tidak kasar padanya. Sementara itu, Sandy yang berada di dalam kamar mandi, merasa sedikit terganggu. Bukan karena Hana membuatkan kopi, tetapi karena refleksnya tadi. Bukankah seharusnya ia tidak peduli kalau Hana terluka atau tidak? Lantas kenapa dirinya repot-repot menolong Hana? Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sandy merasa aneh dengan dirinya dan ia tidak menyukai hal itu. *** Di dalam ruangannya, Sandy sedang serius menatap layar komputer. Angka-angka laporan keuangan melintas di pikirannya, tetapi pagi ini ada sesuatu yang sedikit mengganggu konsentrasi. Bukan soal pekerjaan, melainkan kejadian tadi pagi di dapur. Ia tidak mengerti kenapa dirinya sampai refleks menolong Hana? Seharusnya ia tidak peduli, bahkan harusnya ia justru senang melihat Hana yang terluka. Tapi entah bagaimana, bayangan wajah istrinya yang terlihat polos dan sedikit kecewa saat ia menolak kopi, terus berputar di kepala. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu masuk. Membuyarkan pikiran Sandy yang tengah merenung. Sandy menegakkan punggung dan kembali ke ekspresi dinginnya. "Masuk!” ucap Sandy tegas. Pintu terbuka, memperlihatkan Davin yang melangkah masuk dengan membawa kantong kertas di tangannya. Sandy memperhatikan kantung yang dibawa Sandy. "Permisi, Pak, ini ada makanan yang diantar untuk Anda.” Sandy mengerutkan kening. “Aku tidak pesan makanan.” "Bukan dari restoran biasanya, Pak. Ini kiriman dari seseorang," jawab Davin memberikan kantung berisi makanan itu di meja Sandy. Belum sempat Sandy membuka, tiba-tiba ponselnya yang di atas meja bergetar menandakan notifikasi pesan masuk. Sandy meraih ponsel miliknya dan melihat ada pesan masuk dari Hana. [Aku baru saja mengirimkan makanan untukmu. Apa sekarang sudah sampai?] Setelah membaca pesan itu, tatapan Sandy sedikit berubah. Matanya menatap kantung berisi makanan di depannya, lalu kembali ke layar ponsel. Sejenak, ia tidak mengatakan apa-apa. Sandy lalu mendengus pelan. Kemudian, ia perlahan membuka isi kantung makanan tersebut. Ada makanan yang masih hangat, aroma masakan yang akrab menusuk hidungnya. Entah kenapa, melihat itu membuat Sandy teringat wajah Hana saat pagi tadi. Tatapan lugu, ekspresi penuh perhatian ... dan suara lembutnya yang menawarkan kopi. Untuk pertama kalinya, Sandy merasa hatinya sedikit melunak. Jari-jarinya terulur, hampir saja mengambil sendok untuk mencicipi makanan itu. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, suara Davin kembali terdengar. “Oh, iya Pak. Ngomong-ngomong, minggu depan ada peringatan tahunan perusahaan. Saya baru saja diberi tahu kalau acara itu jatuh di tanggal yang sama dengan kecelakaan kakek Anda dulu," kata Sandy. Sandy yang akan mengambil sendok pun terhenti. Ia terdiam. Mendengar tentang sang kakek, mendadak membuat dadanya terasa sesak. "Untuk peringatan Minggu depan, Anda akan menggantikan Kakek Anda untuk membuka acara tersebut," lanjut Davin. Sandy terdiam tidak menjawab. Bukan karena ia tidak mau, tapi begitu mendengar soal kakeknya, Sandy merasa hatinya kembali kacau. Perasaannya remuk redam. Kesedihan kembali menyeruak di dalam hati. "Aku tahu!" kata Sandy yang kembali berwajah dingin. Sandy mengepalkan tangannya di atas meja. Matanya yang tadi sempat melembut, kini kembali dipenuhi kegelapan. Ingatan tentang kecelakaan itu kembali mengitari benaknya. Darah, ambulans, wajah kakeknya yang lemah ... dan tentu saja ayah Hana yang menjadi penyebab semua itu. Tiba-tiba, ia merasa mual melihat makanan yang ada di depannya. Semua perasaan aneh yang tadi ia rasakan seakan lenyap dalam sekejap. Rasa marah, sedih dan kecewa kini kembali menyelimuti seluruh tubuh. Dengan gerakan kasar, ia meraih kantong makanan itu, lalu tanpa ragu, ia melemparkannya ke tempat sampah. Davin yang masih di sana terkejut melihatnya. “Pak? Kenapa Anda membuang makanannya?" tanya Davin bingung. "Bukan urusanmu!" jawab Sandy dingin. "Tapi, bukankah sayang kalau dibuang? Seharusnya—" "Keluar dan siapkan laporan!" potong Sandy tidak sadar meninggikan intonasi bicaranya. Davin pun tercekat. Antara bingung dan heran melihat bosnya yang mendadak marah tanpa alasan. Namun, sebagai bawahan, ia hanya bisa menuruti perintah Sandy. Davin menundukkan kepala dan akhirnya ia keluar ruangan. Sandy masih terdiam. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Di meja, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan baru masuk. Sandy melihat Hana kembali mengiriminya pesan. [Aku harap kamu suka makanannya] Sandy menatap layar itu lama. Kali ini, bukan perasaan tertegun. Namun, ia sangat kesal melihat pesan itu. Sandy menutup ponsel, tidak berniat membalas dan melempar ponsel di meja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN