Hana berdiri di dapur, menatap kosong ke arah wastafel sementara air dari keran mengalir membasahi piring di tangannya. Pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. Ketika Sandy yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Waktu itu, tangan Sandy menarik pergelangan tangannya kuat. Menjauhkannya dari uap panas yang mengepul dari panci. Benar-benar masih terasa genggaman Sandy yang ingin menolongnya.
Hana juga masih ingat jelas, tatapan suaminya itu. Meski terasa dekat, tapi tidak lagi dingin seperti sebelumnya. Entah kenapa, setiap kali mengingat kejadian itu, dadanya berdebar aneh? Hana bahkan bisa merasakan sensasi hangat dari genggaman Sandy seolah masih membekas di kulitnya.
Sekian detik, Hana pun menggeleng cepat. Mencoba menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.
"Aku kenapa sih? Itu cuma reaksi spontan. Tidak ada artinya!" kata Hana pelan berbicara sendiri.
Hana tersadar kalau ia masih mencuci piring. Sehingga ia segera menyelesaikannya. Setelah selesai, Hana menghela napas panjang dan mematikan keran. Ia mengeringkan tangannya dengan lap, lalu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Sudah malam begini, kenapa belum pulang juga? Apa hari ini dia juga lembur seperti kemarin?" gumamnya pelan berbicara sendiri.
Hana lalu mengambil ponselnya yang ada di meja dapur. Ia membuka pesan, melihat pesan terakhir yang ia kirim pada Sandy.
[Apa kamu suka makanannya?]
Sandy memang membaca pesan Hana, tapi tidak membalas. Membuat Hana jadi menautkan kedua alis berpikir dan mencoba menebak-nebak sendiri. Mungkin saja Sandy tidak suka dan tidak memakannya? Atau mungkin justru makanan itu tidak sampai ke kantor Sandy?!
Tiba-tiba ia mendengar suara pintu ruang tamu terbuka. Membuat Hana tersentak kaget. Itu pasti Sandy. Pikirnya.
Refleks, ia segera melangkah keluar dari dapur dan ingin menyapa suaminya begitu masuk. Namun, begitu Hana baru keluar, ia langsung melihat Sandy yang sudah keburu masuk kamar dan membanting pintu dengan sangat kencang. Membuat Hana sampai terhenyak dibuatnya.
Hana sempat melihat Sandy sesaat tadi. Raut wajahnya dingin dan tegang. Mata gelapnya lurus ke depan, tidak melirik ke mana pun. Kesempatan untuk menyapa suaminya hilang begitu saja.
Hana lalu keluar dari dapur dan menuju ruang tengah. Dari sana ia melihat pintu Sandy yang sudah tertutup dari dalam. Bahkan, Hana belum sempat bertatap muka dengan suaminya itu.
"Kenapa dia? Apa dia sedang marah? Tapi ... marah karena apa?" gumam Hana menebak-nebak sendiri dalam hati.
Hana menggigit bibirnya, ingin mengetuk pintu kamar Sandy, tapi ia mengurungkan niatnya. Mungkin memang lebih baik tidak mengganggunya.
Dengan napas panjang, Hana berbalik dan bersiap menuju kamarnya sendiri. Tapi baru beberapa langkah, pandangannya menangkap sesuatu di atas meja ruang tamu.
Namun, ia terhenti ketika melihat sebuah bungkusan yang terletak di atas meja ruang tamu. Hana berjalan mendekatinya. Ia melihat bungkusan yang nampak familiar.
Hana terpaku melihat bungkusan tersebut. Tunggu! Ia menyadari sesuatu. Bungkusan ini adalah bungkus wadah tempat makanan yang dibelinya untuk Sandy tadi siang. Dan ... kotak makan itu kosong! Hana menatapnya lama.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Rupanya Sandy memakannya! Hana pun jadi merasa lega. Ia lalu menolehkan kepala melihat ke arah kamar Sandy yang sudah tertutup itu.
"Dia ... tidak sekejam yang aku bayangkan," gumam Hana dalam hati.
Hana tidak tahu kalau kenyataannya jauh berbeda. Bahwa Sandy sebenarnya melempar kotak itu ke tempat sampah sebelum akhirnya diambil oleh Davin dan diletakkan kembali di meja. Sebuah kesalahpahaman kecil yang nantinya berujung rumit.
***
Davin baru saja kembali dari rapat dan akan kembali ke ruangannya. Saat itu, ada seorang pegawai bagian resepsionis mendekatinya dengan membawa kantong kertas berisi makanan.
"Permisi, Pak Davin!" panggil pegawai itu. Davin terhenti dan menoleh pada pegawai yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Davin.
"Tadi baru saja ada kiriman makanan untuk Pak Sandy," kata pegawai itu sambil menyerahkan kantong tersebut.
Davin menatap kantong itu dengan alis terangkat. "Dari siapa?" tanyanya.
"Saya tidak tahu, Pak. Tadi tidak diberitahu siapa pengirimnya," jawab pegawai itu.
Davin menghela napas. Ini sudah kedua kalinya seseorang mengirim makanan untuk Sandy. Namun, Davin tidak tahu siapa pengirimnya? Ia juga tidak berani bertanya pada Sandy.
"Terima kasih. Aku akan memberikannya pada pak Sandy," kata Davin meraih kantung berisi kotak makan tersebut.
Pegawai itu mengangguk sopan. Setelah itu ia berbalik dan berjalan pergi menjauh. Sedangkan Davin, membawa kantung berisi makanan tersebut dan berjalan menuju ruangan Sandy.
Davin mengetuk pintu ruangan Sandy dan masuk setelah mendengar perintahnya. Begitu memasuki ruangan, Davin melihat Sandy tengah sibuk menatap layar laptopnya, ekspresi pria itu seperti biasa. Selalu dingin dan fokus.
"Permisi, Pak. Ada kiriman makanan untuk Anda lagi hari ini, Pak," ujar Davin sembari meletakkan kantung berisi makanan itu di atas meja Sandy.
Sandy menoleh sekilas, menatap kantong kertas itu dengan tatapan dingin. Ia tidak segera merespon, hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Davin menunggu sejenak, tapi Sandy malah mengalihkan pandangan kembali ke laptopnya, seolah makanan itu sama sekali tidak penting.
"Buang saja!" pinta Sandy tiba-tiba. Davin mengerutkan kening mendengarnya.
"Dibuang lagi, Pak? Tapi, sepertinya ini baru matang, Pak. Masih terasa hangat dan—"
"Aku bilang buang saja!" potong Sandy menatap Davin tajam.
Davin pun terhenti berbicara. Ia menatap kantong makanan itu dengan ragu. Ia tahu bosnya adalah pria yang perfeksionis dan sulit ditebak, tetapi membuang makanan seperti ini ... benar-benar tidak masuk akal.
Namun, tentu saja Davin tidak ingin memperdebatkan hal ini dengan Sandy. Akhirnya, Davin mengangguk pelan dan mengambil kembali kembali kantong kertas itu.
"Baik, Pak," katanya sebelum keluar dari ruangan.
Begitu berada di luar, Davin menatap kantong itu dengan ekspresi tidak percaya. Membuang makanan yang masih hangat? Itu terlalu berlebihan.
Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di benak Davin. Kalau Sandy tidak menginginkannya, kenapa ia tidak memakannya saja? Lagipula, ini jam waktu makan siang dan ia sangat lapar setelah rapat selesai tadi.
Davin akhirnya berjalan ke pantry kantor. Ia sengaja tidak mengambil jatah makannya di kantor dan berniat memakan makanannya itu. Davin lalu membuka bungkusan makanan tersebut.
Begitu tutup kotak makanannya dibuka, aroma yang menggoda langsung menyeruak ke hidung.
Masakannya sederhana, tetapi terlihat dibuat dengan penuh perhatian. Davin mulai mengambil satu suap.
"Wah! Ini benar-benar enak sekali!" seru Davin setelah mengunyah satu suap. Matanya berbinar dan dan wajahnya langsung cerah.
Mendadak Davin terhenti dan berpikir untuk mulai menebak siapa pengirim makanan ini? Kenapa Sandy membuangnya? Apa mungkin ini dari musuh Sandy yang ingin meminta maaf?
"Atau jangan-jangan makanan ini diracun?! Jadi, pak Sandy ingin membuangnya?!" tebak Davin berbicara sendiri. Sekian detik kemudian, ia mengendurkan wajahnya.
"Ah ... konyol! Memang orang bodoh mana yang berani-berani mengirimkan makanan beracun secara terang-terangan seperti ini?" katanya lagi masih menebak.
"Atau jangan-jangan ... ini dari istri pak Sandy?!" Davin menautkan alis. "Mungkin mereka sedang bertengkar dan pak Sandy tidak mau memakannya? Meski begitu, bukankah pak Sandy keterlaluan kalau sampai membuangnya?" Davin terus berbicara sendiri.
"Ah! Itu urusan mereka! Dari pada dibuang, lebih baik aku makan saja!" Davin pun melanjutkan memakan makanan itu dengan sangat lahap.