Hana baru saja kembali ke kantor setelah istirahat siang. Waktu itu, Tia dan Erik yang ada di meja kerjanya masing-masing memperhatikan Hana yang baru saja duduk. Mereka berdua pun akhirnya berdiri dan mendekat ke arah meja Hana dengan ekspresi penasaran.
"Ada apa dengan kalian?" Hana bertanya dan bingung sendiri.
“Hana, kamu sekarang waktu istirahat selalu makan di luar, ya?” tanya Tia sambil melipat tangan di depan d**a. “Kenapa tidak makan di kantin kantor saja?”
“Iya, biasanya kamu selalu makan bareng kita. Tapi belakangan ini selalu kabur pas jam istirahat.” Erik ikut menimpali, matanya menyipit curiga.
Hana tersenyum kecil sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ia menyalakan komputernya. Membuat Erik dan Tia semakin curiga melihat tingkahnya.
"Eeemm… tidak apa-apa. Aku cuma ingin makan di rumah,” jawab Hana sembari menaikkan kedua bahu santai. Tia dan Erik langsung saling pandang.
“Di rumah?!” ulang Tia, kini semakin penasaran. “Bukannya rumah kamu agak jauh dari sini?”
“Iya, dan waktu istirahat kita cuma satu jam,” tambah Erik. “Kamu nggak capek telat balik ke kantor?”
Hana kembali tersenyum tanpa menjawab. Ia memang pulang ke rumah, tapi bukan hanya untuk makan. Ada alasan lain yang membuatnya rela bolak-balik setiap jam istirahat. Tentu saja karena dia ingin memasak dan mengirimkan makanan untuk Sandy. Entah kenapa Hana merasa puas setiap kali memikirkan Sandy memakan masakan buatannya?
“Ada yang kamu sembunyikan, ya?” goda Tia sambil mengangkat alis. Membuyarkan lamunan Hana sejenak soal Sandy. Hana hanya tersenyum kecil dan menggeleng.
"Ah! Apa jangan-jangan kamu pulang ke rumah karena janjian dengan suamimu?" tebak Erik.
"Tidak. Aku hanya memasak dan mengirimkan makan untuknya," jawab Hana. Tia dan Erik kembali saling pandang.
"Ya ampun romantis dan bahagia sekali pasangan baru!" kata Erik menggoda.
"Hmm ...! Kamu pamer karena sudah menikah, ya?!" ujar Tia.
"Pamer apanya? Bukankah tadi kalian yang bertanya lebih dulu?!" kata Hana.
"Hana!"
Tiba-tiba suara berat dan tegas terdengar dari belakang mereka. Membuat Hana menoleh ke belakang. Ia melihat pak Arman yang baru masuk dan berjalan menuju ke meja kerjanya.
"Iya, Pak? Ada apa?" tanya Hana.
“Hana, apa kamu sudah mulai untuk menghubungi pihak AF Group? Mencoba membujuk pak Sandy untuk wawancara lagi?" tanya pak Arman. Hana pun tercekat mendengar pertanyaan pak Arman.
"Sebenarnya ... belum, Pak," jawab Hana terdengar ragu. Pak Arman menghela napas panjang dan mengusap pelipisnya.
"Hana, ini berita besar. Kita tidak bisa terus menunda. Bukankah waktu itu aku sudah memberitahu resikonya kalau sampai wawancara ini tidak jadi?!"
"Sebenarnya saya tidak yakin kalau pak Sandy benar-benar akan mau diwawancarai, Pak."
"Itu karena kamu belum membujuknya. Coba sekali saja kamu pergi ke kantor AF Group dan menanyakan, mungkin saja pak Sandy berubah pikiran dan mau kita wawancarai?"
Hana terdiam sejenak berpikir. Kalau mengingat penolakan Sandy terakhir kali, sepertinya mustahil jika Sandy mau. Namun, kalau mengingat Sandy yang menerima makanan kiriman Hana dan menghabiskan makanannya itu, sepertinya masih ada kemungkinan. Pikir Hana. Ia lalu kembali menoleh cepat ke arah pak Arman.
“Saya mengerti, Pak,” kata Hana mantap. "Mungkin saya akan mencobanya lagi. Saya akan berangkat ke AF Group besok."
"Besok? Jangan besok! Sekarang juga pergilah!"
"Sekarang, Pak?!" Hana membelalakkan mata.
"Ya! Aku akan ikut menemanimu, dan memastikan sendiri. Kalau hanya mengandalkan telepon, aku yakin mereka juga akan menolaknya. Kita harus datang langsung.”
Tia dan Erik langsung bersiul pelan, seolah mengatakan bahwa keputusan itu tak bisa ditawar lagi. Karena menuruti atasannya, Hana akhirnya mengangguk, meski dalam hati ia merasa gugup, karena harus menemui Sandy secara langsung di kantornya.
"Baik, Pak,” katanya akhirnya.
"Siapkan semua draft pertanyaanmu dan kita berangkat sekarang!"
***
Hana dan Pak Arman akhirnya tiba di gedung AF Group. Bangunan megah itu menjulang tinggi dengan desain modern dan elegan. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi, suasana dingin dan profesional langsung terasa. Beberapa karyawan berlalu lalang dengan wajah serius, sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mereka berdua berjalan menuju meja resepsionis, di mana seorang wanita muda dengan seragam rapi tersenyum menyambut mereka.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.
"Kami dari Nexus Press. Kami ingin bertemu dengan Pak Sandy Anggara untuk membicarakan wawancara eksklusif," jawab pak Arman memperkenalkan diri.
"Apa sebelumnya sudah membuat janji?"
"Memang belum. Tapi, sebelumnya saya sudah menghubungi asisten pak Sandy."
“Mohon maaf sebelumnya. Sayangnya, saat ini Pak Sandy dan asisten beliau sedang berada di luar. Saya sendiri tidak tahu kapan beliau kembali, Pak," jawab resepsionis tersebut. Pak Arman dan Hana nampak saling pandang sejenak. Sekian detik kemudian, pak Arman kembali melihat ke arah resepsionis itu.
"Apa kita bisa menunggu?" tanyanya.
"Tentu saja. Silahkan menunggu di ruang tunggu," tunjuk resepsionis tersebut.
Hana dan Pak Arman lalu berjalan menuju ke arah ruang tunggu. Mereka berdua duduk di area lounge yang disediakan di lobi. Sambil menunggu, Hana memperhatikan sekeliling. Ia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Ini pertama kalinya ia datang ke kantor Sandy.
Setengah jam telah berlalu. Keduanya menunggu sambil melihat ponsel masing-masing. Sampai akhirnya, suara derap langkah terdengar mendekat. Hana dan pak Arman menoleh dan melihat sosok tinggi dengan jas rapi masuk ke dalam gedung. Itu dia Sandy. Sandy datang sendirian. Hana dan pak Arman pun segera berdiri.
Sandy berjalan memasuki gedung dengan ekspresi dingin seperti biasanya. Ketika ia melewati lobi, langkahnya sedikit melambat karena ia melihat Hana ada di perusahaannya. Sandy menautkan kedua alis berpikir, kenapa kira-kira Hana bisa ada di kantornya. Matanya bertemu dengan mata Hana.
Sandy terus berjalan masuk. Namun, begitu sudah lebih dekat ia baru tahu kalau Hana tidak sendirian. Istrinya itu bersama dengan pak Arman, di mana Sandy tahu kalau pak Arman adalah atasan Hana yang bekerja di Nexus Press.
Seketika itu, ekspresinya langsung berubah menjadi lebih tajam. Sandy sudah tahu tanpa bertanya apa maksud Hana datang ke perusahaannya. Ia melanjutkan langkah, sampai akhirnya Hana dan Pak Arman berjalan mendekat menghadangnya. Sehingga Sandy menghentikan langkahnya di depan mereka.
"Siang, Pak Sandy,” sapa Pak Arman sambil berdiri, memasang senyum profesionalnya. “Mohon maaf, mengganggu waktu Anda sebentar. Kami dari Nexus Press ingin berbicara sebentar mengenai wawancara yang sebelumnya kami ajukan.”
Sandy diam sebentar dan tidak segera menjawab. Pandangannya beralih ke Hana sejenak. Setelah itu kembali lagi ke Pak Arman.
“Maaf, jawabanku tetap sama. Aku tidak tertarik,” katanya datar. Pak Arman masih berusaha tersenyum.
“Pak Sandy, wawancara ini bisa menjadi peluang bagus untuk—”
“Aku tidak punya waktu untuk mendengar ceramah tentang keuntungan jurnalis,” potong Sandy dingin. Ia melirik Hana, lalu menambahkan dengan nada mengejek, “Dan kalau yang dikirim untuk membujukku hanya seorang jurnalis yang bahkan tidak bisa membuatku tertarik untuk bicara, sebaiknya jangan buang waktuku sia-sia!"
Sandy lalu melanjutkan jalan dan meninggalkan Hana dan Pak Arman begitu saja. Pak Arman melebarkan mata mendengar ungkapan Sandy yang kasar itu. Hana hanya terdiam tanpa bisa mencegahnya. Ia sudah menduga kalau Sandy akan menolaknya.
"Astaga! Benar-benar sangat sombong! Aku memang pernah dengar pak Sandy orang yang dingin, tapi tidak pernah melihat langsung kalau dia ternyata sekejam itu! Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku!" gerutu pak Arman setelah mengetahui Sandy berbelok ke arah koridor. Hana menoleh melihat atasannya.
"Sabar, Pak. Mungkin pak Sandy sedang buru-buru," kata Hana.
"Memangnya di dunia ini, dia sendiri yang buru-buru?! Kita sudah menunggu lama dan itu juga membuang waktu kita di sini!" sanggah pak Arman yang terlihat masih kesal. "Aku tidak habis pikir bagaimana orang seperti dia bisa berada di posisi itu. Sikapnya kasar, arogan, dan tidak sopan!" tambahnya.
"Aku rasa dia hanya sedang tidak bisa mengkondisikan hatinya, Pak," kata Hana lagi. Membuat pak Arman kembali melihat ke arahnya.
"Apa maksudmu?"
"Pak Arman tahu, kan? Kalau belum lama ini pak Sandy kehilangan kakeknya? Mungkin, sikapnya saat ini karena dia tidak bisa mengontrol rasa sedihnya. Dan mungkin saja pak Sandy menolak wawancara karena dia tidak ingin jurnalis menginginkan berita tentang kehidupan pribadinya yang membuatnya mengingat almarhum kakeknya," kata Hana. Pak Arman pun menoleh ke arah Hana sembari menautkan kedua alis heran.
"Hana? Kenapa sepertinya kamu sangat tahu tentang pak Sandy?" tanya pak Arman.
"Ah! Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca artikel tentang Pak Sandy. Jadi, saya hanya merasa sedikit tahu saja," jawab Hana. Pak Arman pun hanya mengangguk-anggukkan kepala pelan tanda mengerti.
"Ah! Bagaimana kalau begini saja, Pak! Pak Arman kembali saja ke kantor. Biarkan saya sendiri yang menunggu pak Sandy di sini. Mungkin saja dia nanti keluar dan saya akan mencoba membujuknya lagi."
"Apa kamu benar-benar tidak apa-apa seperti itu?"
"Tentu saja tidak apa-apa, Pak! Dari awal, memang saya yang ditugaskan untuk mewawancarai pak Sandy. Jadi, saya juga harus bertanggung jawab menyelesaikannya," kata Hana.
"Baiklah kalau kamu bicara begitu. Aku minta tolong ya, Hana. Ini benar-benar berhubungan dengan kontrak dan nama baik perusahaan kita!" ujar pak Arman.
"Iya, Pak. Saya akan mencobanya lagi," kata Hana.
Pak Arman pun akhirnya berpamitan dan ia berjalan meninggalkan Hana sendirian. Sedangkan Hana kembali duduk di ruang tunggu menunggu suaminya keluar lagi. Ia harap, ada kesempatan baginya untuk bicara dengan Sandy hari ini.
Tanpa Hana sadari, tidak jauh dari sana, Sandy masih berdiri di balik pilar besar dekat lorong menuju lift. Sebenarnya, tadi ia masih belum benar-benar pergi. Sudah tentu kalau Sandy mendengar semua percakapan antara Hana dan pak Arman tentangnya.
Sandy juga bisa mendengar kalau tadi Hana membela dirinya di depan atasannya. Seolah-olah hanya Hana yang bisa mengerti dirinya. Sandy diam-diam mengintip Hana yang menunggunya. Ia tidak menyangka, kalau Hana sepeduli itu padanya?