Sandy duduk di kursi kerja, matanya menatap layar laptop. Tangannya memegang pena, mengetuk-ngetukkan ujung pena di atas meja secara tak sadar. Dari luar, ia tampak fokus pada laporan yang terbuka di layar, tapi pikirannya justru tidak berada di sana.
"Belum lama ini, pak Sandy kehilangan kakeknya. Mungkin, sikapnya saat ini karena dia tidak bisa mengontrol rasa sedihnya. Dan mungkin saja pak Sandy menolak wawancara karena dia tidak ingin jurnalis menginginkan berita tentang kehidupan pribadinya yang membuatnya mengingat almarhum kakeknya."
Sandy masih bisa mendengar suara Hana dalam benaknya. Entah kenapa suara istrinya itu masih terngiang dan terus berputar-putar di kepala?
Sandy tahu Hana tidak punya alasan untuk peduli. Sejak awal, ia telah memastikan bahwa perempuan itu tidak akan memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Tapi tadi… jelas-jelas Hana tidak marah saat ia menolaknya dengan kasar. Bahkan, Hana justru terkesan membela dan ada di pihaknya.
"Apa yang aku pikirkan?! Kenapa aku peduli?! Benar-benar konyol!" gumam Sandy yang berusaha menepis pikirannya. Sandy kemudian kembali menatap laptop dan berusaha untuk fokus pada pekerjaannya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Mengalihkan fokusnya sejenak.
"Masuk!" pintanya tegas.
Seorang wanita dengan seragam resepsionis masuk dengan membawa sebuah map. Ia berjalan mendekat dan menyerahkan dokumen itu ke meja Sandy.
“Permisi, Pak. Ini laporan yang Anda minta,” kata resepsionis itu sopan.
"Hm!" Sandy mengangguk tanpa banyak bicara. "Apa Davin sudah kembali?"
"Belum, Pak. Saya belum melihat pak Davin datang," jawab resepsionis tersebut.
"Ya sudah," kata Sandy akhirnya.
Si resepsionis pun berniat untuk kembali keluar. Namun, tiba-tiba Sandy teringat sesuatu hal penting yang sangat membuatnya penasaran.
"Tunggu!" panggil Sandy pada resepsionis tersebut, membuat langkahnya terhenti.
"Iya, Pak?"
"Eee ... apa di bawah masih ada jurnalis perempuan yang menungguku?” tanya Sandy dengan nada ragu-ragu. Wanita itu memutar bola mata dan nampak berpikir sebentar.
"Tadi, saya lihat dia masih duduk di ruang tunggu, Pak," jawabnya setelah sekian detik.
Dahi Sandy berkerut. Ia melihat waktu di laptopnya. Sudah lebih dari dua jam berlalu sejak ia meninggalkan lobi, tapi Hana masih menunggu? Kenapa dia tidak menyerah dan pergi saja?! Pikir Sandy.
"Pak? Apa ada lagi yang ingin Pak Sandy tanyakan?" ujar resepsionis membuyarkan lamunan Sandy. Sandy kembali melihat resepsionis dengan tatapan ragu.
"Berikan kopi untuk jurnalis itu!" pinta Sandy lagi.
"Baik, Pak," jawab resepsionis.
Resepsionis berbalik dan meninggalkan kantor Sandy. Setelah si resepsionis pergi, Sandy kembali menghadap laptop. Namun, pikirannya kembali menggelayut tidak karuan.
Sekian menit berlalu, Sandy menyerah! Ia tidak tahan lagi! Akhirnya ia berdiri beranjak dari kursi kerja dan berjalan keluar ruangannya.
***
Di lantai bawah, Hana masih duduk di ruang tunggu. Ia melihat waktu di layar ponsel yang sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore. Artinya sudah dua jam dia menunggu Sandy sendirian di sini. Dari tadi bolak-balik ia menguap karena lelah menunggu.
"Baiklah! Sebentar lagi jam kerja selesai. Sekalian saja aku menunggunya pulang," gumam Hana pelan berbicara sendiri.
Hana lalu kembali fokus pada pekerjaan yang bisa ia kerjakan melalui ponselnya. Ia tahu pasti akan sangat sulit membujuk Sandy. Namun, entah kenapa ia tetap bertahan. Mungkin karena ini tanggung jawabnya? Atau mungkin juga karena ... ada bagian dalam dirinya yang ingin melihat Sandy lagi?
“Permisi, Nona Hana.”
Suara seorang perempuan memanggilnya dan mengalihkan fokus. Hana menoleh dan melihat resepsionis yang tadi, mendekatinya dengan membawa nampan kecil berisi secangkir kopi.
“Silakan, Nona," kata resepsionis itu sopan, meletakkan nampan di meja kecil yang ada di depan Hana.
"Terima kasih. Sebenarnya tidak perlu repot-repot," jawab Hana.
"Tadi Pak Sandy yang menyuruh saya untuk memberikan kopi ini untuk Anda, Nona," ujar resepsionis tersebut. Hana sedikit terkejut mendengarnya.
"Pak Sandy yang menyuruh memberikan kopi untukku?" ulang Hana yang setengah tidak percaya.
"Betul, Nona."
Hana kemudian melihat ke arah kopi itu lagi. Ia terdiam sejenak tidak segera menanggapi. Masih mencerna dalam kepalanya, apa benar seorang Sandy yang mengiriminya kopi?
"Kalau begitu saya permisi, Nona," kata sang resepsionis yang membuyarkan lamunan Hana.
"Ah, Maaf!" panggil Hana yang kembali menghentikan langkah resepsionis tersebut.
"Iya, Nona?"
"Apa pak Sandy masih belum bisa ditemui?” tanya Hana terdengar ragu.
"Beliau tadi berpesan kalau masih sibuk, Nona."
"Baiklah. Terima kasih."
Resepsionis pun tersenyum dan mengangguk sopan berpamitan sebelum pergi. Setelah resepsionis itu berjalan menjauh, Hana kembali duduk dan melihat kopi itu.
Hana mengambil cangkir kopi itu, meniup uapnya pelan, lalu menyeruputnya sedikit. Meski kopinya tidak terlalu manis, tapi bagi Hana rasanya sudah sangat manis sekali. Kopinya juga terasa hangat sama seperti hatinya.
Hana tersenyum kecil setelah meminumnya. Ia meletakkan kembali kopi tersebut di meja. Setelah itu ia meraih ponsel dan berniat untuk mengetikkan sesuatu pada suaminya.
Apa kira-kira yang ingin diketikkan, ya? Apa Hana akan bertanya untuk memastikan kopi itu benar-benar untuknya? Atau mungkin bertanya kapan suaminya itu keluar?
"Ah! Lebih baik aku akan mengucapkan terima kasih untuk kopinya," gumam Hana pelan dan kemudian langsung mulai mengetik.
"Hana?"
Hana yang fokus mengetik itu tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara seorang laki-laki memanggil namanya. Sehingga ia tidak jadi mengirim pesan. Ia menoleh ke asal suara laki-laki tersebut. Begitu tahu siapa yang memanggil, Hana pun terkejut dan melebarkan kedua mata sembari langsung berdiri.
"Hana Anindya!"
Laki-laki itu tersenyum lebar dan melangkah mendekat dengan antusias. Hana butuh beberapa detik untuk memproses kehadiran pria yang sudah lama tak ditemuinya.
"Davin?!" seru Hana membalas sapaannya.
"Dari jauh aku tidak yakin apa itu kamu? Setelah aku perhatikan ternyata memang benar, kamu, Hana!" ujar Davin dengan mata yang berbinar. Hana tersenyum mendengarnya.
"Ah! Bagaimana kabarmu?!" tanya Davin lagi sembari menyodorkan tangan.
"Baik," jawab Hana yang akhirnya membalas jabat tangan Davin. "Bagaimana denganmu?"
"Sama, baik juga. Tapi aku lebih senang lagi karena akhirnya bisa bertemu denganmu," ujar Davin dengan tatapan berbinar.
"Lama kita tidak bertemu."
"Ya! Sudah empat tahun kita tidak bertemu. Kamu tidak berubah. Masih cantik seperti dulu," ujar Davin dengan masih saling berjabat tangan.
Hana tertawa kecil, tersipu mendengar pujian itu. Mereka masih berjabat tangan beberapa detik lebih lama, seolah menikmati momen reuni tak terduga ini.
Sedangkan dari arah koridor, seseorang diam-diam menyaksikan interaksi itu dengan tatapan tajam. Orang itu adalah Sandy. Sandy berdiri memperhatikan mereka. Sandy juga mengamati wajah Hana yang terus tersenyum ke arah Davin. Begitu juga sebaliknya.
Sandy menautkan kedua alis memperhatikan istrinya. Wajah Hana yang penuh senyum, suara tawanya yang terdengar ringan. Semua itu entah kenapa membuatnya merasa terganggu. Serasa ada yang mengganjal di dadanya.