BAGIAN-4. FOREIGNERS.

1296 Kata
BAGIAN-4. FOREIGNERS. Kelara menggeleng kuat-kuat. Bagaimana bisa hal itu terjadi pada ayahnya? Bagaimana bisa ayahnya melewati semuanya sendirian? Tanpa ada siapa pun di sisinya? Seolah bisa membaca isi pikiran Kelara, Landon buru-buru berkata, “Jangan khawatir,” pria itu kembali menepuk-nepuk bahu mungil Kelara. “Selama ayahmu melewati masa-masa itu, aku dan istriku selalu ada untuknya. Kami merawat Theo dengan sangat baik. Jadi bisa kupastikan dia tidak sendirian. Theo memiliki support sistem yang baik selama ini. Tapi kamu tahu, dia terus membicarakanmu. Tak peduli seberapa besar kami berkorban untuknya, dia tidak pernah berterima kasih. Sebaliknya, dia selalu membanggakan dirimu. Astaga, teman macam itu!” Harusnya Kelara tertawa mendengar candaan itu. Sialnya, tangisnya justru semakin menjadi. Bahkan saat dia sama sekali tidak berguna bagi sang ayah, pria tua itu masih terus membanggakan dirinya. Astaga, anak macam apa kamu, Kelara? “Theo hanya ingin melihatmu bahagia, Nak. Aku selalu tahu kalau dia sangat mencintaimu. Kepergian ibumu pasti meninggalkan luka yang amat dalam bagimu. Maka dari itu, dia tidak ingin meninggalkan bekas luka lain untukmu. Theo tidak mau kamu melihatnya kesakitan. Theo hanya ingin kamu mengenangnya di saat-saat terbaiknya. Itu saja. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi saat ini. Semua ini sama sekali bukan salahmu. Ini pilihan yang dibuat ayahmu. Tidak larut dalam kesedihan adalah salah satu cara menghormati pilihannya. Semoga kamu bisa mengerti.” Tangan kanan Kelara menepuk-nepuk dadanya dengan keras. Tangis yang sejak berhari-hari lalu diredam akhirnya pecah juga. Semua yang dikatakan Landon membuat rasa bersalanya semakin memuncak. Kelara tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia terus menangis di sisi Landon hingga berjam-jam kemudian. Setelah merasa lebih baik, Kelara kembali menegakkan punggung. Ia menyeka sisa air mata yang ada di wajah dengak memakai tissue pemberian Landon. “Lebih baik?” tanya Landon saat mereka kembali bertatapan. Kelara mengangguk mantap. “Apa Papa benar-benar tidak bisa diselamatkan?” Landon menggeleng tegas. “Kami sudah berusaha. Bukan dokter tidak bisa, bukan ayahmu tidak mau berusaha, tetapi sepertinya Tuhan hanya memberinya umur hingga sekarang. Maaf.” Air mata Kelara hampir jatuh lagi tetapi dia menahannya kuat-kuat. “Om, apa keinginan terakhir Papa?” Landon memalingkan wajah. Pria itu bahkan tidak sanggup mengatakan apa yang paling diinginkan oleh sahabatnya. “Entahlah.” “Selama ini Om dan Tante telah menjaga Papa. Aku tahu Papa ingin aku menikah dengan anak kalian karena Papa percaya kalian akan menjadi orangtua yang baik untukku juga. Tapi bagaimana jika aku tidak ingin menerima perjodohan ini? Bagaimana jika aku tidak mau menikah? Aku bahkan tidak bisa memikirkan pernikahan di saat kondisi Papa seperti ini.” Kata-kata yang diucapkan Kelara menerbitkan senyum simpul di wajah Landon. “Aku dan istriku sama sekali tidak menginginkan pernikahan itu. Kami pun menolak ide ayahmu, Nak. Abaikan saja permintaan ayahmu dan lanjutkan hidupmu setelah dia tiada. Hiduplah seperti sedia kala, seperti saat ayahmu masih hidup. Kejar karirmu, kejar bahagiamu, sembuhkan luka akibat kepergian kedua orangtuamu, jika kamu merasa kesepian, datanglah pada kami. Kami akan selalu siap menjadi orangtuamu meskipun kamu tidak pernah menikah dengan anak kami. Setuju?” Hati Kelara seketika menghangat mendengar ucapan dari Landon. Dia memang mengenal Landon dan istrinya sejak masih kanak-kanak. Keluarga mereka kerap kali bertemu tetapi Kelara hampir tidak pernah bertemu dengan putra mereka karena dia bukanlah tipe yang ingin mengikuti orangtuanya kemana pun mereka pergi. Berbeda dengan Kelara yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, dunianya hanya berpusat pada ayah dan ibunya. Kini dunianya yang indah itu hampir musnah. Kelara bertanya-tanya dalam hati, bagaimana dia bisa melewati semua ini? Dengan besar hati, Kelara mengangguk. “Terima kasih, Om.” “Theo adalah sahabatku sejak lama. Tidak perlu berterima kasih seperti itu.” Landon menepuk puncak kepala Kelara dengan sayang. “Karena kamu tidak menginginkan pernikahan ini, maka Om akan membatalkannya dan mengatakan pada anakku kalau-” “Boleh beri aku waktu untuk berpikir?” “Untuk?” “Aku…” Kelara menimbang kembali ucapannya. “Aku tidak tahu apakah aku ingin benar-benar membatalkannya atau melanjutkan pernikahan ini. Aku butuh waktu untuk memikirkannya.” “Keputusan ada di tanganmu, Nak. Kapan pun kamu berubah pikiran, hubungi kami. Kami akan selalu mendukung semua keputusan yang kamu buat.” Kelara mengangguk lega. Awalnya dia pikir harus melanjutkan pernikahan itu karena merasa berhutang budi pada keluarga Landon. Namun ternyata semua tidak seburuk itu. Landon sama sekali tidak menuntut apa pun darinya. Dan Kelar bersyuku untuk itu. “Malam ini pulanglah ke rumah. Om akan di sini untuk menjaga ayahmu.” “Tapi, Om-” “Kamu juga butuh istirahat, Kelara. Jika terjadi sesuatu, Om akan menghubungi kamu secepat mungkin. Percayalah pada kami.” Awalnya Kelara ragu karena ini pertama kalinya dia melihat ayahnya dalam kondisi yang cukup buruk. Tetapi apa yang dikatakan oleh Landon benar. Sudah berhari-hari dia tidak istirahat. Tubuhnya kelelahan dan dia memang membutuhkan tidur yang cukup demi bisa membersamai ayahnya lebih lama lagi. Rasanya pasti konyol jika Kelara jatuh sakit di saat seperti ini. “Maaf karena selalu merepotkan Om dan Tante.” Landon menggeleng lembut. Ia melambai pada seseorang yang saat ini tengah berjalan ke arah mereka. “Di sini!” ucapnya antusias. Kelara ikut menoleh, penasaran dengan siapa yang datang. Ia bangkit dari duduknya begitu istri Landon hampir sampai ke tempat mereka. “Tante.” sapa Kelara saat jarak mereka hanya beberapa langkah saja. “Kelara,” Jenna memeluk Kelara dengan sayang. “Oh, maafkan Tante. Ada hal yang harus aku urus sehingga aku tidak bisa datang lebih cepat.” ucapnya penuh penyesalan sembari mengurai pelukan mereka. “Bagaimana kondisi Theo?” “Dia berada di ICU.” Landon menimpali. “Kelara akan pulang. Aku menyuruhnya istirahat. Kita yang akan berjaga di sini malam ini.” “Itu ide yang bagus.” Jenna merasa cukup lega. “Suamiku benar, kamu harus pulang dan istirahat. Malam ini biar kami yang menjaga Theo.” Air mata Kelara kembali berkumpul di pelupuk matanya. Hampir jatuh. “Kelara,” Jenna mengusap lembut punggung tangan gadis itu. “Kami sungguh tidak masalah. Ayahmu akan baik-baik saja.” “Terima kasih.” ucap Kelara tulus di sela isakannya. “Kalian sungguh baik padaku.” “Sekarang pulanglah!” Pinta Jenna dengan suara lembut. “Kamu harus beristirahat di rumah dengan nyaman.” Jenna memberikan beberapa kotak makanan padanya. “Bawa ini dan makan di rumah. Meski kamu tidak lapar, makanlah semuanya. Tubuhmu juga butuh asupan makanan untuk tetap sehat.” “Sekali lagi,” Kelara meremas jemari Jenna, nyaris tidak bias melanjutkan kata-katanya. “Terima kasih untuk kebaikan kalian.” “Jangan pikirkan apa pun. Supir kami akan mengantarmu.” Kelara mengangguk, setelah berpamitan pada sepasang suami istri itu, dia akhirnya memutar tubuh dengan gontai. Meninggalkan koridor ICU dengan berat hati. Meski rasanya berat meninggalkan tempat tersebut, Kelara memaksakan diri untuk terus berjalan. Tidak peduli seberapa sakit hatinya, untuk saat ini dia hanya ingin makan dan tidur dengan nyaman di rumahnya yang sepi. Setibanya di loby, Kelara melihat seseorang yang tidak terlalu asing. Meski baru pertama kali bertemu, Kelara yakin kalau pria itu adalah pria yang tadi siang dia temui. Kening Kelara berkerut dalam. Ia bertanya-tanya, apa yang pria itu lakukan di sini? Jarak di antara mereka hampir mendekati 0. Pria itu berjalan ke arahnya sementara Kelara berjalan ke arah pria itu. Seharusnya mereka berpapasan dan saling menyapa layaknya calon pengantin pada umumnnya. Namun, pria itu melewatinya. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Kelara bahkan untuk sekali pun. Kelara cukup terkejut dengan fakta itu. Dia berhenti berjalan, hanya untuk melihat reaksi pria itu. Apa dia sengaja mengabaikanku? Tanya dalam hati. Kini Kelara benar-benar menghentikan langkahnya. Ia bahkan berbalik, memastikan pandangannya tidak keliru. Pria itu menoleh ke samping, melambai pada seseorang. Kelara mengikuti arah pandangnya dan menemukan Landon berjalan ke arah pria itu. Seharusnya dia benar putra Om Landon. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN