BAGIAN-3. THE REJECTED.
Selamat sore,
Bisa kita bertemu malam ini?
Siapa?
Kaelan.
Maaf sepertinya Anda salah sambung.
Kamu serius tidak ingat nama saya?
Kita bertemu tadis siang.
Tidak.
Kita bertemu di coffe shop tadi siang. Apa kamu tidak mendengarkan saat saya memperkenalkan diri?
Tidak. Saya sibuk. Bye!
Tunggu!
Ini saya Kaelan! Calon suami kamu!
Pak, maaf ya. Saya benar-benar tidak bisa meladeni orang seperti Anda.
Tolong berhenti mengganggu saya!
Kelara! Ini saya calon suami kamu!
Saya tidak punya calon suami.
Kamu….!
Saya perempuan single yang bebas dan tidak tertarik dengan pernikahan.
Ohh!
Baiklah kalau itu mau kamu!
Tunggu satu jam dari sekarang!
Kaelan menatap layar ponselnya sambil menganga. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan balasan pesan yang dikirim Kelara-calon istrinya. Calon istri? Gadis itu bahkan tidak berminat menikah dengannya. Tidak. Dia bahkan tidak tertarik dengan pernikahan. Bagaimana mungkin tadi dia setuju untuk menikah dengannya? Suasana Kaelan mendadak buruk setelah membaca pesan itu. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Lalu kenapa dia sekarang justru kesal hanya karena anak kecil itu?
Ah! Kelara bahkan tidak bisa dianggap anak kecil. Dia terlalu tinggi untuk dipanggil dengan sebutan itu.
“El!” Kaelan memanggil Elias yang hendak keluar dari ruangannya.
“Apakah nomor yang kamu berikan benar-benar nomornya?”
“Nomor?”
“Kelara.”
“Oh, calon istri.” Elias mengambil ponsel di saku lalu memeriksanya. “Seharusnya benar. Aku mendapatkannya dari ayahmu. Kenapa?”
Kaelan menggeleng. Ia enggan mengungkapkan apa yang baru saja menimpanya. Seandainya Elias tahu Kelara baru saja mempermainkannya, pria itu pasti akan menertawakannya habis-habisan. “Tidak ada.”
“Jadi, apa kalian akan bertemu lagi malam ini?”
“Entah. Nomornya tidak aktif.” Kaelan melihat sekilas layar ponselnya. Pesan yang dia kirim pada Kelara tidak terkirim. Dia diblokir. Namun dia tidak akan membiarkan Elias mengetahui hal itu. Harga dirinya akan terluka jika ditolak oleh gadis seperti Kelara.
“Benarkah?”
“Hmmm…”
“Haruskah aku saja yang menghubunginya?”
“Tidak.” Tolak Kaelan cepat-cepat. “Biar aku saja.” ia memperbaiki posisi duduknya. “Setelah dia membalas pesanku, aku akan segera tahu apakah kami bisa bertemu malam ini atau tidak.”
Bahu Elias melorot. “Sejujurnya, kalau aku boleh berpendapat,”ia berhenti, menggantung kata-katanya di udara-membuat Kaelan cukup penasaran.
“Apa?”
“Bertemu lebih dari satu kali di hari yang sama sedikit berlebihan. Apalagi untuk kalian yang baru kenal.”
“Benarkah?”
“Apalagi untukmu.” Elias kembali menegakkan bahu. Bersiap meninggalkan ruangan. “Kamu terlalu sibuk untuk pertemuan-pertemuan seperti ini. Hei, bukankah itu berlebihan?”
Kini giliran Kaelan yang tampak canggung. “Benar juga.”
“Aku akan pergi. Semoga sukses dengan gadis biasa saja itu. Aku punya pekerjaan yang tidak bisa kutunda.” Elias membungkuk sekilas lalu benar-benar meninggalkan ruang kerja Kaelan.
Sepeninggal Elias, Kaelan kembali menatap layar ponselnya. Pesan yang dikirim kepada Kelara belum juga terkirim. Itu artinya nomornya benar-benar diblokir.
Haruskah aku membeli ponsel baru untuk menghubunginya?
Meski sempat mempertimbangkan keinginannya, Kaelan cepat-cepat menepis jauh-jauh pemikiran tersebut. Mungkin sebaiknya aku bertemu langsung dengannya.
**
Kelara menguap lebar seiring dengan langkahnya yang semakain gontai. Rasa kantuk menggelayut manja di pelupuk matanya. Seluruh tubuhnya terasa sakit akibat terlalu lama berjalan mondar-mandir dan bahkan berlari. Kondisi ayahnya kembali memburuk sejak dia kembali ke rumah sakit. Kini ayahnya berada di ruang perawatan intensif. Pertemuan dengan laki-laki itu benar-benar membuat hidupnya kacau. Andai mereka tidak bertemu, Kelara tidak akan meratapi hidupnya terlalu lama di rumah. Dia mungkin bisa bertemu dengan ayahnya lebih cepat.
Saat Kelara tiba di rumah sakit sore tadi, dokter lebih dulu menemuinya. “Kondisi pasien mengalami penurunan. Sel-sel kankernya sudah menyebar ke beberapa organ penting, dan saat ini fungsi tubuhnya mulai menurun. Kami juga menemukan tanda-tanda gagal organ, terutama pada bagian ginjal. Untuk saat ini, kami perlu memindahkan pasien ke ruang ICU agar bisa dipantau secara ketat. Tekanan darahnya tidak stabil dan kadar oksigennya menurun. Di sana, tim akan memberikan bantuan pernapasan dan terapi suportif agar kondisinya tidak semakin memburuk. Kami akan berusaha menjaga kondisinya seoptimal mungkin, tapi mengingat penyakitnya sudah berada di tahap lanjut, kami perlu mempersiapkan kemungkinan terburuk.”
Penjelasan dokter cukup membuat Kelara terkejut. Dia bahkan nyaris pingsan saat itu juga. Beruntung para perawat di sana bergegas membantu menenangkannya sehingga Kelara bisa menghadapi situasi lebih bijak dan tenang.
Tak lama kemudian Landon datang. Dia telah menerima kabar dari salah satu tenaga kesehatan di sana. Selama ini pria itulah yang mengurus ayah Kelara saat dia sedang sakit. Landon yang mendaftarkan pengobatan ayahnya selama beberapa bulan terakhir. Juga membiayai pengobatan ayah Kelara. Sebagai anak tunggal, Kelara justru tidak tahu kondisi ayahnya bisa seburuk itu.
“Bagaimana keadaaan Theodore?” tanyanya begitu tiba di hadapan Kelara.
Kelara hanya bisa menggeleng sedih. Dia sama sekali tidak menyangka akan berhadapan dengan situasi seperti sekarang.
Melihat reaksi Kelara, Landon buru-buru meraih bahu gadis itu dan menenangkannya. Pria paruh baya itu membawa Kelara menuju kursi terdekat. Keduanya duduk dalam diam. Landon berkali-kali mengusap bahu Kelara, memperlakukan gadis itu layaknya anaknya sendiri.
Keduanya terdiam cukup lama. Kelara menyandarkan kepala di tembok. Tanpa ia sadari air matanya mengalir cukup banyak. Ia sengaja menutup mata, menolak orang lain melihat kesedihannya.
Beruntung Landon memahami hal itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia segera meletakkan tissu di telapa tangan Kelara. Dengan tissue itu, Kelara menangis lebih lama dan dalam lalu menyeka air matanya. Hingga beberapa menit kemudian, setelah perasaannya membaik dia berani membuka mata.
“Terima kasih,” ujar Kelara penuh sopan santun.
Landon mengangguk singkat. “Bagaimana perasaanmu?”
“Tidak pernah seburuk ini.” Kelara mengakui. “Kenapa bisa seperti ini?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.
Landon hanya bisa mengambil napas panjang. “Wajar jika kamu merasa sedih melihat keadaan ayahmu. Tapi apa pun yang terjadi pada Theo saat ini sama sekali bukan salahmu. Jadi, jangan pernah sekali pun salahkan dirimu sendiri.”
“Om,” mata Kelara tertuju pada kaca besar yang berada di hadapannya. Di balik kaca itu, ayahnya tengah berjuang antara hidup dan mati. “Sejak kapan Papa seperti ini?”
Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke tembok. Mengikuti Kelara. “Aku lupa kapan tepatnya Theo seperti ini. Mungkin tahun kedua setelah kamu masuk kuliah. Dia tinggal sendiri setelah kematian ibumu. Theo mulai mudah lelah, batuk, nyeri di d**a, dan bahkan sempat beberapa kali pingsan. Karena kondisinya tak kunjung membaik selama beberapa minggu, dia memutuskan untuk ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan menyeluruh. Theo akhirnya tahu kalau ada kanker di tubuhnya. Dia bertekad ingin melawan penyakit tersebut karena dia tahu betul hanya dia lah yang kamu miliki.Theo menjalani lobectomy dan dilanjut dengan Kemoterapi adjuvan selama kurang lebih 4 bulan. Kondisinya sempat membaik saat itu. Dia menjalani aktifits seperti biasa. Namun setelah lebih dari satu tahun, kondisinya mulai memburuk. Meski begitu, dia tidak ingin menyerah terlalu cepat.
Theo kembali menjalani kemotherapi lini kedua dan radioteraphy. Tekadnya melawan penyakit tersebut sangat kuat. Meski kesakitan dan berefek cukup buruk pada kondisinya setelah kemotherapy, dia tetap semangat melewati semuanya. Kamu lah penyemangatnya, Kelara. Kamu yang membuat ayahmu bisa bertahan sampai sejauh ini.”