Bagian 4

1024 Kata
Mutiara tiba di depan rumahnya, tanpa menawarkan Bayu mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Karena Mutia tau itu hal yang tidak mungkin, karena papah Mutia sudah menunggunya di dalam. "Dari mana kamu jam segini baru pulang Mutiara"? tanya papah Mutia sambil melihat tajam mutiara. Mutia tidak ingin di posisi ini, kalau ada pilihan, dia tidak ingin bertemu dengan papah nya. Bukan berarti Mutia benci sama papah, bukan! Namun Mutia tidak ingin selalu berdebat dengan Papah masalah perjodohan ini, sesuatu yang sangat membosankan baginya. Bahkan, itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, karena terkadang dia harus mendapatkan perlakuan kasar dari papanya karena hal itu. "Mutia tadi habis reunian sama teman sekolah pah," jawab Mutia lembut. "Terus yang bonceng kamu tadi siapa?" tanya papah lagi, seolah-olah papah seorang detektif dan membuatku seorang terdakwa. "Bayu," jawab Mutia simpel. "Bayu? Tetangga sebelah kan?" Nada suara papah Mutia mulai meninggi, membuat Jantung Mutia serasa mau copot. "Kamu ada hubungan apa sama Bayu?" lanjutnya. Pertanyaan papah Mutia membuat Mutia tiba-tiba terdiam, tanpa dia sadari air matanya terjatuh. "Papah kenapa sih, Pah? Emang salah aku pergi sama Bayu? Bayu itu teman aku Pah, teman Muti, hanya teman," tegas Muti seakan tidak ingin menentang papahnya. Lagi-lagi papanya mengabaikan perasaan Muti. "Bagaimana yang papa bicarakan semalam, apa jawaban kamu? Kalau memang kamu tidak ada hubungan sama Bayu berarti kamu mau kan dijodohkan sama pariban (sepupu) kamu. Lagi pula, mau ada atau tidak sekalipun hubungan kamu sama Bayu, papah tidak peduli," ucap papah Mutia. Tanpa disadari oleh papah Mutia, perkataannya barusan membuat hati Mutia sangat sakit. Papa sama sekali tidak memikirkan perasaannya. Dia tidak tahu kenapa dia selalu saja dijodohkan dengan sepupunya itu, pria yang tidak dia ketahui apa kelebihannya hingga membuat papanya seperti ini. Seegois itukah papa? Setega itukah papa?, batinnya. Tanpa berpikir panjang, dengan spontan Mutia menjawab papahnya, "Tidak pah, tidak, Mutia tidak akan mau dijodohkan sama siapapun, walau dengan pilihan papah sekalipun," jawab Mutia kasar. Tanpa disadari tangan papah Mutia melayang ke pipi tembem Mutia. Tamparan yang sudah sering kali Mutia dapatkan, sesuatu yang tidak dia inginkan tapi harus dia terima hanya karena keegoisan sang papa. "Dasar anak pembangkang, mau jadi apa kau tidak mau mendengarkan omongan orang tua?" ucap papah nya marah. Mutia menangis sambil memegang pipinya yang memerah, dia berlari ke kamarnya sambil terisak Isak. Kenapa papah sejahat ini sama ku, kenapa? batinnya sambil meluk bantal gulingnya. Tiba-tiba ponselnya Muti berdering, sambil mengusap air mata dari pipinya dia mengangkat ponselnya. "Halo, ada apa Bay?" tanya Mutia dengan nada sedih. "Kamu kenapa Muti? Hei … kamu kenapa?" tanya Bayu berulang kali. Bayu cemas dengan keadaan Muti, bagaimana tidak, dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya bersedih. Walau sebenarnya Bayu tau, kalau Muti belum tentu menyukai dirinya. Namun itulah perasaannya, dia tak bisa membohongi itu dan tidak bisa membuang rasa itu, rasa cinta yang sangat tulus yang sampai saat ini belum bisa dia berikan kepada wanita lain. Lagi-lagi Mutia menangis, seolah-olah dirinya lagi bersandar di pundak Bayu. Mutia merasa nyaman bersama dengan Bayu, tapi kenyamanan itu sirna karena ulang sang papa yang selalu melarangnya untuk dekat dengan Bayu. "Ada apa Muti, cerita sama aku," ucap Bayu menenangkan Mutia. "Papah ternyata seegois itu Bay, Terus saja papah jodohin aku Bay. Sejahat itukah papa, sampai-sampai papah tega tampar aku? Apa iya aku harus menerima perjodohan itu Bay? Apa iya aku harus menuruti semua perkataan papah? Namun aku sama sekali tidak menginginkannya, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku kenal, aja ingin menikah dengan pria yang aku sukai." Tiba-tiba Bayu terdiam, di satu sisi Bayu kecewa dengan kalimat Mutiara yang mulai putus asa, karena dia ingin Mutiara menolak perjodohan itu. Namun, disisi lain dia tidak memiliki keberanian untuk meminta Mutia menolak perjodohan itu, karena dia tahu kalau pada akhirnya itu akan berdampak pada keselamatan Mutia. "Bay!" teriak Muti membuyarkan lamunan Bayu. "Kamu dengar aku nggak sih, Bay"? tanya Mutia begitu kencang membuat telinga Bayu kesakitan. "Iya Mutiara cantik, aku selalu siap dengarkan kamu sayang," gombal Bayu. "Nggak usah manggil sayang deh Bay, geli tau dengarnya," jawab Mutia kesal. "Geli atau nyaman?" gombal Bayu lagi membuat Mutia tambah kesal. Ah … sebenarnya dia tidak kesal, lebih tepatnya dia hanya berusaha untuk menahan dirinya yang kini sudah tersipu malu. "Apaan sih Bay," ucap Mutia. "Iya maaf, bercanda doang Mut," jawab Bayu. "Sabar yah Mutiara cantik, semua pasti ada jalannya. Jodoh, maut, rezeki, sudah diatur sama yang diatas, sekeras apapun pun yang papah kamu lakukan, kalau yang diatas tidak merestui, semua nggak bakalan terjadi Mutiara cantik," ucap Bayu menenangkan Mutiara". Tiba-tiba mutiara tertawa mendengarkan tuturan Bayu. "Copy paste dari mana kamu Bay? Tumben pikiran kamu encer," ledek Mutia. "Memang selama ini kamu tidak mengakui kepintaran aku yah, Mut?" canda Bayu percaya diri". "Hahaha, biasanya kan ngobrol sama kamu kayak ngomong dalam air Bay," canda Muti. "Syukur deh kamu sudah ketawa," jawab Bayu. Dia sama sekali tidak peduli dengan kalimat Mutia yang terakhir, dia hanya peduli dengan kebahagiaan Mutia. Dengan mendengar tawa Mutia, itu sudah lebih dari cukup untuknya. "Terima kasih yah Bay, kamu memang sahabat aku, is the best deh,":gombal Muti. "Kamu baru menyadari itu yah Mut?" tanya Bayu, mereka pun tertawa bersama. Sambil melihat jam dinding kamarnya, Mutia pun mengakhiri obrolannya dengan Bayu. Dia tidak ingin kalau sampai papanya mendengar hal itu, yang pada akhirnya akan membuat Bayu terluka. Mutia yakin, kalau sampai papanya mengetahui dirinya sedang berbicara dengan Bayu, papanya pasti akan melakukan sesuatu kepada Bayu. Mutia tidak ingin kalau sampai hal itu terjadi, dia tak ingin kalau Bayu mendapatkan masalah karena dirinya. "Ya sudah, Bay, aku tutup teleponnya dulu, ya, aku takut papa mendengar kita sedang telponan, yang ada pada akan marah dan masalahnya akan semakin panjang, dan pastinya itu akan melibatkanmu dalam masalah besar. Aku tidak ingin kalau sampai hal itu terjadi, aku tak ingin melibatkanmu dalam masalah yang kuhadapi." "Yasudah, kalau begitu. Besok aku akan mengantarmu ke terminal, setidaknya aku ingin melihatmu sebelum kamu pergi." "Yaelah, Bay, kayak mau pergi kemana saja. Ya sudah, udah dulu, ya, bye." Sambungan telepon terputus, aku bahagia karena bisa menenangkan hatiku bersama dengan Bayu. Setidaknya, karena dia menghubungiku, aku bisa membuat hati dan pikiranku lebih tenang untuk saat ini, dan mulai melupakan perdebatan dengan papa tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN