Mutia yang mendengar ucapan Bayu hanya bisa terdiam, jelas kalau dia sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang dibicarakan pria tersebut. Tinggal di sini? Secara tiba-tiba? Atau mungkin dia sudah membuat rencana terlebih dahulu? Berbagai pertanyaan memenuhi diri Mutia, tetapi jelas dia sama sekali tidak bisa asal bertanya kepada pria tersebut. Matanya terpicing ke arah Bayu, berusaha untuk membaca ekspresi wajahnya. Sayang, ekspresi wajah pria tersebut terlihat begitu santai sampai-sampai Mutia tidak bisa memahami apa yang ada di pikirannya. Padahal dulu dia sama sekali tidak memiliki masalah untuk melakukan hal tersebut.
“Apa maksudnya tinggal di sini? Memangnya kamu sudah menghitung segala kemungkinan dan apa saja yang harus dipersiapkan?” Ucapan Mutia berhasil membuat Bayu terdiam sebelum menggelengkan kepalanya dengan polos. “Terlebih biaya, uang di sini tidak akan dengan mudahnya bisa didapatkan dan dengan cepat hilang, tidak seperti di kampung.”
“Iya, aku sudah menyadari itu,” lirih Bayu yang menundukkan kepalanya seperti seseorang yang sangat sedih.
“Kalau kamu paham dan mengerti, segera kembali ke kampung saja. Aku sudah percaya kepada kamu untuk menjaga ibu, kan?” Bayu menganggukkan kepalanya kembali dengan sedih, akan tetapi setelah beberapa saat dia segera mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Mutia dengan tidak percaya. Apa dia baru saja diusir oleh wanita itu? “Kenapa menatapku begitu? Aku tidak melakukan sebuah kesalahan.”
“Apa kamu baru saja menyuruhku untuk pergi saja?” Nada bicara Bayu terdengar sedikit tajam dan panic, membuat Mutia juga merasakan hal yang sama. Apa dia baru saja salah bicara? “Jadi kamu tidak senang melihat aku di sini?” Buru-buru Mutia menggaruk tengkuknya dengan canggung, tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan dari Bayu tersebut.
Helaan napas keluar dari bibir Mutia sebelum dia memainkan jarinya. “Aku hanya merasa khawatir. Memangnya sekarang kamu sudah tau akan tinggal di mana? Apa kamu juga ada uang untuk tinggal di tempat tersebut? Berapa lama kamu akan bertahan di tempat tersebut tanpa perasaan takut akan dikeluarkan?”
Ucapan Mutia yang semua memiliki maksud tersendiri berhasil membuat Bayu terdiam. Tentu Bayu kini sangat paham dengan apa yang dikatakan oleh Mutia, tetapi jelas kalau dia sama sekali tidak mau untuk kembali ke kampungnya, dia tidak akan meninggalkan Mutia, terlebih ketika dia sudah berjanji kepada ibunya akan menjaga wanita tersebut. Bagaimana mungkin dia menyerah saat dia sama sekali belum berjuang dengan keras? Karena itulah Bayu segera kembali menatap Mutia, berharap untuk menunjukkan perasaannya yang tulus. Mutia yang menatap mata Bayu sempat terkejut selama beberapa saat.
Keduanya kini saling bertatapan tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka masing-masing. Pandangan yang ada di wajah mereka menunjukkan bagaimana perasaan mereka masing-masing, karena itu juga Mutia bisa menyadari bagaimana kalau pemikiran Bayu saat ini tidak ada pada fakta kalau dia sedang berada dalam masalah karena tidak memiliki tempat tinggal. Helaan napas keluar dari bibir Mutia sebelum dia mengusap keningnya, berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya dia menatap ke arah sahabatnya itu dengan serius.
“Jadi, kamu memang ingin tinggal di sini, kan?” Sebuah anggukkan kepala antusias diberikan oleh Bayu, dia juga memberikan pandangan yang menunjukkan kepada Mutia kalau dia tidak akan mundur. “Kalau begitu, kamu harus mulai memikirkan seluruh pengeluaran dan juga pendapatan yang harus diatur nantinya. Pekerjaan apa yang sudah kamu dapatkan sehingga kam berani ke sini?”
Bayu yang mendengar itu mengalihkan pandangannya, berhasil membuat Mutia mengerutkan kening ke arah pria tersebut. Apa mungkin ini sesuai dengan apa yang ada di dalam benaknya? “Aku belum menemukan pekerjaan,” jujur Bayu.
“Bagaimana bisa kamu melakukan hal yang begitu ceroboh?!” omel Mutia. Omelan wanita tersebut berhasil membuat Bayu mengernyit dan mengalihkan pandangannya lagi. Jelas kalau dia sama sekali tidak suka dimarahi oleh Mutia. “Lalu, memangnya kamu sangka akan mudah mendapatkan sebuah pekerjaan di sini? Bagaimana kalau kamu justru gagal sebelum mendapatkan apa-apa?”
“Kan ada kamu,” ujar Bayu enteng, seperti tidak mempermasalahkan apa-apa. Ekspresi melongo kembali diberikan oleh Mutia, jelas kalau dia sama sekali tidak bisa memahami apa yang diinginkan pria tersebut. Tetapi jelas Mutia sama sekali tidak akan membiarkan ini terus berlanjut sehingga dia menggelengkan kepalanya, merasa sedikit tertekan.
Kini mereka berdua kembali terdiam kembali, tidak ada dari mereka yang mengatakan apa-apa. Bayu sendiri sangat tau dan sadar bahwa akan lebih baik kalau dia tidak mengatakan hal yang bisa membuat Mutiara marah di saat seperti ini. Hanya dari wajah dan ekspresinya saja dia sudah tahu kemungkinan tersebut sangat besar. Karena itu Bayu memutuskan untuk menghabiskan makanannya yang sudah tidak panas lagi, menandakan kalau dia tidak akan bicara kembali. Mutia sendiri menunggu sampai makanannya habis sebelum dia mulai membicarakan masalah ini kembali.
Sayang, niatan Mutia tersebut sama sekali tidak bisa dia lakukan karena suaranya tercekat di tenggorokan, seperti ini adalah hal yang tidak bisa dia bicarakan sama sekali. Perasaan frustasi di dalam diri Mutia semakin menumpuk sehingga dia menghela napas panjang dan menempelkan kepalanya di meja. Dia juga menutup matanya, berusaha untuk menenangkan dirinya. Apa mungkin dia tidak bisa membantu Bayu? Kalaupun bisa, bantuan seperti apa yang bisa dia berikan? Jelas kalau dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk menampung pria tersebut. Apa yang akan dikatakan oleh orang lain kalau sampai tau mereka tinggal bersama? Kemungkinan buruk mulai muncul di benak Mutia sehingga dia menggelengkan kepalanya.
“Apa aku melakukan kesalahan yang sangat besar?” lirih Bayu, dia berusaha untuk menatap Mutia. Wanita yang mendengar suara Bayu segera mendongakkan kepalanya, memberikan tatapan maut kepada pria tersebut sebelum memicingkan matanya. “A-ada apa? Kenapa kamu memberikan tatapan seperti itu? Jangan menakutiku.”
“Apa benar kamu tidak memiliki rencana sama sekali? Memangnya kamu berniat untuk hidup di sini dan mati tanpa memberikan hasil apa-apa?” Ucapan Mutia yang terdengar sedikit seram membuat Bayu menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menjelaskan situasi yang ada kepada Mutia.
“Bukan, bukan! Aku memang memiliki sebuah rencana, tetapi jelas aku akan membutuhkan bantuanmu dalam masalah ini. Maaf, sepertinya ketika aku datang aku justru merepotkanmu.”
Satu alis Mutia naik ketika mendengar ucapan Bayu, merasa ada yang janggal dengan ucapan pria tersebut. “Katakan terlebih dahulu apa rencanamu, baru saat itu aku akan memutuskan apakah aku bisa membantu atau tidak.”
“Kalau begitu!” seru Bayu yang tersenyum dengan sangat lebar, ekspresi wajahnya terlihat sangat senang berbeda dengan sebelumnya. Dengan tarikan napas panjang, akhirnya Bayu menatap ke arah Mutia dan menganggukkan kepalanya. “Biarkan aku bekerja di restoran tempat kamu bekerja juga.”