Bagian 9

1012 Kata
Pada saat seperti itu ada banyak hal yang dicurigai oleh Mutia. Ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya, Mutia terus memperhatikan Bayu dengan pandangan yang ragu. Sesekali dia akan menatap pria tersebut sebelum kembali mengalihkan pandangannya, sama sekali tidak mau sampai Bayu menyadari tindakannya tersebut. Jelas Mutia merasa sangat penasaran, bahkan dia merasa kalau seharusnya dia langsung mempertanyakan maksud dari kedatangan Bayu. Padahal, dia hanya meminta pria itu untuk mendatangi ibunya. Apa sesuatu benar-benar terjadi dan Bayu ke sini untuk menghentikan Mutia agar tidak pulang? Kemungkinan yang ada itu membuat Mutia merinding. "Ada apa?" tanya Bayu ketika menyadari Mutia yang merasa sedikit merinding. "Apa kamu sedang tidak enak badan? Maaf aku datang terlalu tiba-tiba." Bayu yang merasa tidak enak itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dan mengalihkan pandangannya. Sebuah helaan napas terdengar dari pria itu. Melihat perubahan ekspresi yang cukup drastis dari Bayu, Mutia segera menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menjelaskan kepada Bayu. "Bukan itu, hanya sedang memikirkan sesuatu saja." Di akhir ucapan, Mutia memberikan senyuman kecil, berharap dengan begitu bisa membuat Bayu lebih tenang dan percaya kepadanya. "Memikirkan apa? Apakah ada masalah? Kalau iya, katakan saja padaku! Aku akan selalu berusaha untuk membantumu dan ada di sisimu!" Mendengar ucapan Bayu anehnya berhasil membuat Mutia merasa tenang. Memang, Bayu sendiri sudah bersumpah kepada ibu Mutia kalau dia akan melindungi dan juga menjaga Mutia apapun yang terjadi. Karena itulah Bayu saat ini berusaha dengan keras dan penuh harap. "Tentu saja, aku tau itu," jawab Mutia yang memberikan pandangan senang kepada Bayu. Melihat ekspresi dan senyuman dari Mutia berhasil membuat Bayu terdiam untuk waktu yang lama. Sedangkan degup jantungnya jadi semakin cepat. Memang tidak bisa dipungkiri lagi, Bayu benar-benar mencintai Mutia dan tidak akan berpaling kepada wanita lain selain Mutia. Dengan perasaan tersebut yang semakin kuat di dalam hatinya, bahkan Bayu berjanji kepada dirinya sendiri terlepas dari janjinya dengan sang ibu untuk terus berada di samping Mutia dan selalu ada untuk wanita tersebut kapan pun dia membutuhkan. Bahkan ketika masalah terlalu berat untuk dilalui oleh Mutia, dia yang akan berjuang dan membuat wanita tersebut kembali senang. Apa pun akan dia lakukan demi Mutia tersenyum. Masih dengan senyuman di bibirnya, mereka akhirnya sampai di mana Mutia sekarang tinggal. Ketika dia akan membuka pintunya, terlihat wanita tersebut sedikit ragu. Tentu saja ini membuat Bayu mengerutkan keningnya, mengira kalau ada sesuatu yang terjadi. Karena tidak tahu akan bertanya apa, Bayu hanya bisa memiringkan kepalanya untuk bertanya. Mutia yang masih melongo itu melirik ke arah Bayu sekilas sebelum menggelengkan kepalanya dan membuka pintu, mempersilahkan Bayu untuk masuk. Pria tersebut tentunya masuk dengan ragu-ragu, bahkan menolak untuk duduk ketika Mutia memerintahkannya. Dia memilih untuk mengikuti kemanapun Mutia pergi. Karena itu, wanita tersebut hanya bisa menghela napas panjang. "Mau makan apa?" tanya Mutia akhirnya. "Apa saja yang kamu siapkan akan aku makan." Bayu yang berucap seperti itu membuat Mutia memukul pundak sahabatnya dari kecil. "Jadi kalau ada ulat atau makanan aneh lainnya, kamu akan makan, begitu?" Selama beberapa saat Bayu terdiam sebelum dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ekspresi wajahnya juga terlihat horor, seperti seseorang yang baru saja melihat setan di hadapannya. Dengan suara lantang dan tegas, Bayu menolak ucapan itu. "Masak apa saja yang mudah saja." Ucapan Bayu dibarengi dengan sebuah senyuman malu-malu, seperti sadar akan kesalahannya yang sebelumnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Mutia mulai memasak. "Apa ada yang bisa aku bantu?" "Tidak ada, tunggu saja di luar. Kalau sudah selesai nanti aku akan panggil." Mutia terdengar seperti tidak ingin diganggu, tetapi Bayu masih tidak berpindah dari tempat dia berada. Justru pria tersebut sengaja berdiri di belakang Mutia untuk melihat apa yang dimasak wanita tersebut. Merasakan napas Bayu di atas kepalanya, Mutia segera membalikkan tubuhnya dan menatap tajam kepada sahabatnya. "Apa yang kamu lakukan?! Cepat pergi dari sini dan jangan ganggu aku memasak!" Bayu memasang ekspresi memelas kepada Mutia, berusaha untuk membujuknya. "Ayolah, jangan seperti itu. Berikan aku pekerjaan dan akan aku selesaikan dengan cepat!" Mutia awalnya masih berusaha untuk menolak tawaran yang diberikan oleh Bayu, tau kalau dia sendiri bisa menyelesaikannya dan penambahan tangan hanya akan membuatnya kerepotan. Tetapi, ketika melihat pria tersebut yang memasang ekspresi memelas dan penuh harap, akhirnya Mutia tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya dan membiarkan Bayu membantu. Sorakan pelan keluar dari bibir pria tersebut, membuat Mutiara sendiri terkekeh sebelum fokus kembali dengan masakan yang ada di hadapannya. Jelas kalau Mutia sangat ingin masakan tersebut berakhir dengan baik, salah satunya karena dia ingin memamerkannya kepada Bayu. Memang pria itu sendiri merasa terpukau. Setelah beberapa saat dan setelah berhasil membuat Mutia memberikannya pekerjaan, akhirnya masakan untuk Bayu sudah selesai. Dia segera membawanya ke meja untuk dimakan bersama-sama. Mutia sendiri sama sekali tidak menyangka kalau dengan bantuan Bayu dia akan menjadi lebih cepat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan dia sama sekali tidak butuh mencuci piring kembali. Senyuman kecil muncul di bibir Mutia sebelum dia mengalihkan pandangan kepada Bayu yang makan dengan lahap. Awalnya dia sama sekali tidak menyadari ada yang aneh, tetapi setelah beberapa saat dia akhirnya melihat bagaimana Bayu makan dengan lahap, bahkan hanya butuh beberapa saat sebelum piringnya kosong dan terlihat sangat licin. "Apa kamu sangat lapar?" tanya Mutia yang memperhatikan piring Bayu. Kerutan di keningnya muncul sebelum dia menggelengkan kepalanya. "Daripada itu, apa kamu mau tambah lagi? Sepertinya kamu sangat kelaparan, seperti orang yang tidak makan berhari-hari." "Sebenarnya tidak begitu," ujar Bayu yang merasa malu. Dia menggaruk tengkuknya dan menghela napas panjang. Dia jelas terlihat seperti seseorang yang bodoh di hadapan Mutia dan itu memalukan dirinya. Untungnya Mutia hanya menggelengkan kepala dan memberikan porsi lainnya. "Terima kasih banyak! Aku memang sedikit kekurangan makan." "Daripada itu, kenapa kamu datang ke sini? Tolong jelaskan kepadaku." Bayu yang mengunyah makanannya terlihat terdiam selama beberapa saat, berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat. Begitu dia sudah menelan makanannya, dia memberikan tatapan tajam dan serius kepada Mutia. Jelas ini membuat Mutiara sendiri merasa terkejut sehingga dia mundur sedikit. "Apa kamu tidak ada tempat untuk tinggal? Kenapa harus ke tempatku? Atau hanya untuk satu hari ini saja?" Bayu menggelengkan kepalanya dan meletakkan peralatan makan di piringnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di kota ini, aku akan berada di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN