"Kok kamu disini?"
Mutiara terkejut saat mengetahui kalau Bayu sedang ada di kota, dan saat ini sedsng berada di terminal. Sebelumnya Muti sudah merasa tenang saat mengetahui kabar kalau ibunya baik-baik saja, informasi yang dia dapatkan dari Bayu–kemarin.
Namun sekarang, Mutia harus dikejutkan dengan telepon dari Bayu yang mengatakan kalau dirinya sedang berada di terminal kota.
"Panjang ceritanya. Sebaiknya kamu jemput aku kesini, kalau tidak, aku bisa mati kelaparan disini. Aku sangat lapar, belum makan dari pagi tadi."
"Oke, kamu tunggu di sana. Aku akan segera kesana. Ingat, jangan pergi kemana-mana, aku tak ingin mencarimu seperti orang gila."
"Iya,bawel … aku tunggu disini, tapi jangan lama-lama, aku lapar."
Sambungan telepon terputus. Seperti apa yang diperintahkan oleh Mutia, Bayu pun melakukannya.
Ada setitik harapan bagi Bayu setelah dia tiba di kota ini, lebih tepatnya setelah dia selesai berbicara dengan ibu Mutia.
***
"Kenapa kamu ingin menjaga Mutia? Maksud ibu, kamu ingin menjaga Mutia karena kamu ini sahabatnya?"
Bayu terdiam, hati ingin mengatakan tidak, tapi bibir sangat sulit untuk diajak berucap. Keberanian itu sama sekali tidak dia miliki, apalagi untuk mengutarakan perasaannya kepada Mutia di depan Maria.
"Kenapa kamu tak menjawab ibu, Bayu? Apakah kamu ingin menjaga Mutia karena dia adalah sahabat kamu? Karena kamu tak ingin kalau sampai sahabat kamu terluka? Atau …,"
"Karena saya mencintai Mutia, Bu."
Terlihat binar kebahagiaan di wajah Maria. Meskipun dia tahu Bayu bukanlah orang berada, setidaknya dia lebih mempercayakan Mutia kepada Bayu daripada kepada keponakannya itu. Ditambah lagi Bayu selalu memperlakukan Mutia dengan sangat baik, jadi Maria yakin kalau Bayu akan menjaga Mutia dengan sangat baik.
Bahkan, sebelum Bayu mengatakan hal ini, Maria pernah berharap kalau Bayu adalah kekasih Mutia. Sayangnya, apa yang menjadi harapannya tidak benar, mereka hanyalah sahabat dekat sejak mereka masih kecil.
"Kenapa tidak mengatakannya dari dulu, Bayu? Kenapa tidak langsung mengatakannya di depan ibu dan Bapak? Kalau kamu langsung mengatakannya, ibu pasti akan merestui kalian. Bahkan, ibu juga akan mengizinkanmu jika langsung menikahi Mutia."
"Benarkah, Bu?"
"Tentu saja. Dari kalian masih orok, ibu sudah tahu betul bagaimana kamu, jadi ibu yakin kalau kamu bisa menjaga Mutia."
"Iya, Bu. Saya berjanji akan menjaga Mutia. Ini juga saya berencana untuk pergi ke kota, kalau bisa bekerja di sana, di tempat yang tidak jauh dari Mutia, dengan begitu saya bisa menjaga Mutia dengan baik."
"Syukurlah. Terima kasih, Bayu. Dengan kamu mengatakan seperti ini, ibu merasa lega."
"Sayangnya aku tidak setuju akan hal itu."
Terdengar suara Ridwan dari luar. Entah apa yang membawanya kembali ke rumah, padahal dia sudah pergi hampir setengah jam yang lalu. Indra penciumannya sangat tajam jika setiap pembahasan menyangkut Mutia, pasti dia akan datang dan ikut campur dalam pembahasan itu.
"Setuju atau tidak setuju, itu hak mereka, Mas. Kalau mereka sudah saling mencintai, lalu kamu bisa apa, Mas? Jangan menghalangi cinta, jangan membuat mereka menderita karena keegoisanmu."
"Halah … persetan dengan cinta. Kamu pikir itu bisa membuat bahagia? Apa kamu tidak menjadikan dirimu sebagai cerminan atas apa yang kamu katakan? Dulu kita juga demikian, bukan? Kamu dan aku terus bersikeras untuk bisa menyatu dan menikah. Dan sekarang, semua tidak seindah yang kita bayangkan. Rumah ini terlalu kaku dan bisa dikatakan mati, aku sama sekali tidak menikmati hidup sejak menikah dengan kamu. Andai saja dulu,aku mendengar apa yang dikatakan oleh Bapakku, dan menikah dengan paribanku itu, mungkin aku tidak akan seperti ini. Lihatlah, sekarang Dahlia sudah bahagia, bahkan sangat bahagia dengan kekayaan yang dia miliki. Andai aku menikah dengannya, aku tidak mungkin merasakan penderitaan ini dan akan selalu memiliki uang. Tapi karena aku membantah orang tuaku dan memilih menikah denganmu, sekarang hidupku malah hancur dan bahkan aku memiliki anak yang pembangkang. Andai aku menikah dengan Dahlia, pasti anakku akan menjadi penurut seperti aku yang patuh dan nurut kepada orang tuaku. Kau telah menghasutku dan membuatku menjadi anak yang pembangkang dan durhaka, kau memang jelmaan ular."
Ridwan terus saja mengucapkan kalimat menyakitkan itu tanpa memikirkan perasaan Maria. Bukan sekali dua kali dia mengatakan hal itu, tapi berkali-kali. Apalagi membahas tentang Dahlia–paribannya yang dijodohkan oleh kakek Mutia dengan Ridwan, pasti dia akan terus membanggakan wanita itu dan selalu memojokkan Maria.
"Terserah kamu aja, Mas. Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah. Aku tidak akan pernah melarang kamu, dan aku harap kamu juga tidak pernah melarang apa yang ingin aku lakukan." Tegas Maria. "Pergilah, nak Bayu, tidak perlu kamu mendengarkan perdebatan konyol yang tidak penting ini."
"Baik, Bu."
Berat hati Bayu meninggalkan Maria, tapi dia juga tak ingin kalau sampai hal itu menjadi pemicu amarah Ridwan lagi. Dia tak sanggup jika harus melihat Ridwan memperlakukan Maria dengan kasar, yang ada dia bisa hilang kendali dan melakukan yang tidak-tidak kepada Ridwan, dan pastinya urusannya akan semakin panjang.
"Jangan pergi kamu anak sialan. Ingat ya, jangan pernah mendekati Mutia, atau aku akan membuat perhitungan denganmu. Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi menemui Mutia. Kalau sampai kamu menemui Mutia lagi, aku akan mendatangi rumahmu dan meminta Bapakmu untuk memperingatkanmu."
Kesal bercampur marah, tapi Bayu tak bisa melakukan apapun. Ditambah lagi Bayu melihat Maria yang seolah memberinya kode untuk segera pergi, jadi dia memilih untuk pergi.
***
"Meskipun aku tidak bisa memenangkan hati Bapakmu, setidaknya aku bisa mendapat restu dari ibumu. Aku yakin, lambat laun pak Ridwan pasti akan memberi restu itu. Sekarang yang terpenting, aku bisa meluluhkan hatimu dulu." Terlalu besar harapan Bayu untuk bisa mendapatkan hati dari cinta pertamanya itu, cinta pertama yang entah kapan bisa dia miliki, atau justru sama sekali tidak akan pernah dia miliki.
"Bayu!" Teriak Mutia dari kejauhan.
Bayu melambaikan tangannya, pikirannya kembali konyol dan menggila. Dalam khayalannya, kini dia adalah pria yang sedang berjuang di rantau orang untuk mendapatkan banyak uang. Dan sekarang, dia telah kembali untuk melamar pujaan hatinya, paket komplit karena pujaan hatinyalah yang menjemputnya ke terminal itu.
Sialnya, semua itu hanyalah khayalan, dia sama sekali tidak bisa merasakan hal itu. Namun, meskipun itu hanyalah khayalan, Bayu tetap bisa tersenyum untuk membayangkannya.
"Kenapa kamu kemari? Bukankah kamu mengatakan kalau keadaan disana baik-baik saja? Atau jangan-jangan kamu berbohong padaku? Apakah ibu sedang tidak baik-baik saja? Apakah Bapak melakukan sesuatu kepada ibu?"
"Tidak Mutiara, tidak terjadi apa-apa kepada ibu dan semua baik-baik saja. Aku kesini karena aku yang menginginkannya, bukan karena ada hal lain."
"Maksud kamu?"
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini setelah kita tiba di rumahmu dan kita makan dulu. Aku sudah sangat lapar, aku harap kamu mengerti itu gadis mengerikan."
"Dan aku harap kamu tidak macem-macem, Bay."
Mutiara sedikit panik, dia takut kalau sampai apa yang ada di dalam pikirannya akan terjadi. Sementara Bayu, dia justru berharap Mutia menerimanya. Kalaupun tidak, dia harus berusaha keras supaya Mutia mau menerimanya.