Bagian 7

1131 Kata
Ponsel itu tak kunjung berdering, bahkan saat Mutia sudah tiba di kontrakannya. Rasa panik semakin membuatnya tak fokus untuk melakukan apapun, bahkan dia hampir lupa waktu. "Astaga … aku hampir telat." Mutia bergegas membereskan apa yang perlu dia bawa untuk segera pergi ke cafe karena waktu sudah semakin mepet. Setibanya di cafe, Mutia langsung meletakkan tasnya dan merogoh ponselnya. Rasa takut masih saja menggerogoti dirinya, dia tak ingin kalau sampai terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. "Aduh … Bayu, kamu dimana sih? Kenapa kamu nggak kasih kabar? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa kamu berbohong padaku?" Ucap Mutia bertanya-tanya. Baru saja dia ingin menghubungi Bayu, tiba-tiba Eva–manajer di restoran itu menemuinya. "Muti, tolong langsung gantiin Dina ya, dia lagi sakit, jadi langsung pulang." "Baik, Bu." Mutia tak jadi menghubungi Bayu. Meskipun sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada ibunya, tapi pekerjaan ini sudah menjadi tanggung jawabnya yang harus dia selesaikan. "Bay, setidaknya kamu memberi kabar padaku tentang ibuku. Semoga saja nanti kamu mengirimkan pesan singkat kepadaku tentang ibuku, meskipun aku tidak bisa membacanya sekarang, setidaknya saat aku membuka ponsel ini, kalimat penenang itu sudah masuk ke ponselku." Sedang itu, Maria sedang duduk di kursi. Air mata terus saja membasahi pipinya, membayangkan kembali bagaimana perlakuan suaminya kepada dirinya. Padahal, dulu Ridwan tak pernah memperlakukan dirinya dengan kasar. Berbeda dengan sekarang, setiap perlakuannya tak lagi lembut seperti dulu, bahkan terhadap putri semata wayangnya itu. Sebelumnya Maria berpikir kalau Ridwan sudah pergi, sialnya dompetnya yang tak pernah ada isinya itu ketinggalan. Entah untuk apa Ridwan kembali untuk mengambil dompet kosong itu, hingga dia mendengarkan pembicaraan Maria dengan Mutia. "Sebelumnya kau sudah membuatku marah, sekarang juga kau melakukannya. Jangan sampai hal itu terjadi lagi Maria, atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu." Kalimat itulah yang diucapkan oleh Ridwan sebelum dia pergi meninggalkan Maria. Kalimat yang mampu membuat Maria terpaku dan bungkam. Sebenarnya dia sama sekali tidak takut dengan ancaman Ridwan, hanya saja dia takut kalau sampai Ridwan berbuat nekat dan pada akhirnya mengakhiri hidupnya, lalu bagaimana dengan nasib Mutia? Itulah yang selalu Maria pikirkan. Dengan adanya dirinya, setidaknya masih bisa menjadi pelindung bagi Mutia meskipun harus mengorbankan dirinya. Sesuai janjinya kepada Maria, Bayu pergi ke rumah itu, untuk memastikan kalau ibu Mutia tidak apa-apa. Belum juga Bayu mengucapkan salah, dia sudah terlebih dahulu terkejut melihat ibu Mutia yang duduk di kursi sambil menangis. "Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?" tanya Bayu yang langsung nyelonong masuk, membuat Maria terkejut dan langsung menyeka air matanya. "Maaf karena saya langsung masuk, tapi saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya terkejut melihat ibu menangis dan spontan masuk ke sini. Apa yang terjadi, Bu?" Pertanyaan itu masih saja tak ada jawaban. Maria masih memilih bungkam, karena memang sangat sulit baginya untuk menceritakan apa yang terjadi kepada orang asing, apalagi yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan dirinya. Dan lagi, orang itu adalah seorang pria yang masih sepantaran anaknya, sangat sulit untuk melakukan hal itu. "Maaf, Bu. Sebenarnya, saya kesini atas perintah Mutia. Saat ibu sedang berbicara di telepon, saya mendengar pembicaraan kalian. Mutia juga sangat terkejut mendengarnya, sebab itulah dia memintaku untuk datang kemari." "Kamu bersama dengan Mutia? Apa kau mengantarnya ke terminal?" "Tidak, Bu. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Mutia, makanya saya menemuinya ke terminal. Sebenarnya saya sangat khawatir dengan keadaannya disana, tapi dia juga sangat mengkhawatirkan ibu." Tangis Maria kembali pecah, dia tak menyangka kalau Mutia sangat mengkhawatirkan keadaannya sementara Mutia lah yang saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Perasaannya hancur, dan pikirannya kacau mengingat setiap pembahasan yang dilakukan oleh Bapaknya. "Ibu juga tidak tahu nak Bayu. Setiap kali Mutia pulang, pasti mas Ridwan akan membahas tentang perjodohannya. Ibu tidak tahu apa motifnya melakukan itu, sampai-sampai dia tidak memikirkan perasaan Mutia. Mutia itu sudah dewasa, ibu yakin kalau Mutia bisa dan ingin memilih pasangan hidupnya sendiri. Tapi mas Ridwan selalu saja ingin menjodohkan Mutia dengan sepupunya." "Mutia sudah mengatakan hal itu padaku, Bu,dan dia sangat menolak hal itu. Namun mau bagaimana lagi, Bu, Mutia juga tak ingin menjadi anak yang pembangkang. Meskipun sebenarnya Mutia ingin membantah, tetap saja dia harus menjadi anak yang patuh dan menuruti apa yang dikatakan oleh Bapak." "Andai saja Mutia memiliki kekasih, ibu lebih suka Mutia menikah meskipun tanpa restu dari mas Ridwan, yang penting pria itu menjadi pilihan hatinya. Daripada dia harus menikah dengan pria yang bahkan ibu sendiri tidak tahu bagaimana orangnya. Meskipun Irvan itu sepupu Mutia, tapi tetap saja, hal itu tak bisa dijadikan sebagai tolak ukur kalau sepupunya itu pria yang terbaik untuknya." Mendengar hal itu, Bayu merasa kalau Maria sedang memberikan lampu hijau untuknya. Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, setidaknya Maria lebih setuju jika Maria bersama dengan pria pilihannya daripada pria yang akan dijodohkan oleh Ridwan. Itu artinya Bayu memiliki kesempatan, dia hanya perlu memenangkan hati Mutia, dengan begitu dia bisa langsung memiliki Mutia seutuhnya dan menikahinya. Hal yang paling ditakuti oleh Bayu adalah berhadapan dengan Ridwan. Jangankan untuk meminta restunya, sali beradu tatap saja dengan Ridwan sudah membuat Bayu bergidik ngeri, apalagi harus membahas tentang hati dan meminta restu, sangat mustahil bagi Bayu untuk melakukan hal itu, kecuali dia sedang dipengaruhi alkohol hingga dia tak sadar dengan apa yang dia ucapkan, barulah hal itu terjadi. "Benarkah ibu akan mengizinkan dan merestui Mutia jika dia menikah dengan pria yang dia sukai? Meskipun pria itu tidak tergolong orang kaya!" "Iya, karena aku tidak ingin membiarkan putriku menderita. Biarlah dia meraih kebahagiaannya sendiri, dan kalaupun dia harus menyesal, biarlah dia menyesal atas pilihannya sendiri, bukan karena pilihan orang lain." Bukan tanpa alasan Maria melakukannya, dia hanya tak ingin kalau sampai Mutia benar-benar menikah dengan sepupunya itu. Maria tahu betul bagaimana sifat Ridwan, entah mengapa dia sangat yakin kalau sifat Ridwan sama dengan sifat keponakannya itu. Firasat seorang ibu biasanya tak pernah meleset, sebab itulah Maria bersikeras dengan pendiriannya dan pilihan Mutia. "Andai saja ibu mengetahui siapa pria yang kini menjadi pemilik hati Mutia, maka ibu akan meminta Mutia untuk mempertemukannya dengan ibu dan memintanya untuk menjaga Mutia. Tapi sampai saat ini, Mutia tak pernah mengatakan apapun, dia tak pernah mengenalkan pria manapun kepada ibu." "Mungkin Mutia belum memiliki pria yang bisa memenangkan hatinya, Bu." "Itulah yang Ibu takutkan. Ibu takut kalau sampai Mutia tak kunjung menemukannya dan tidak mempertemukan pria itu kepada Ibu, jadi ibu tak sempat menyampaikan pesan itu. Ibu sedikit khawatir, takut-takut ibu tak memiliki banyak waktu untuk menyampaikannya." "Jangan bicara seperti itu, Bu. Bayu yakin ibu pasti memiliki banyak waktu untuk itu dan memiliki banyak waktu untuk melihat Mutia bahagia." "Semoga saja, nak Bayu. Tapi yang terpenting, ibu berharap bisa bertemu orang yang akan menjaga putri Ibu." Semua seolah tak terkendali, bahkan bibir itu berucap seolah tak tahu kepada siapa sedang berucap. Kalimat itu terucap dengan sangat cepat, bahkan seperti angin lalu yang tak diketahui oleh pemiliknya. "Izinkan saya menjaga Mutia, Bu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN